22/02/2010 | Oleh: Haril M Andersen

KEK TANJUNG BATU BELITUNG

“Persiapan Infrastruktur Mencapai 70%”

Keberanian Belitung menuju Kawasan Ekonomi Khusus lantaran persiapan infrastruktur penunjangnya sudah mencapai 70%. Bila terwujud, KEK akan memberikan nilai tambah bahan baku industri yang banyak tersedia didaerah ini. KEK Tanjung Batu Belitung kini tinggal menunggu political will dari Pemerintah Pusat.

Belitung kini tengah serius mempersiapkan sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Keberanian dan tingginya semangat kabupaten penghasil timah dan lada ini untuk menawarkan salah satu wilayahnya menjadi KEK memang beralasan. Setidaknya bila melihat infrastruktur kewilayahan dan potensi sumber daya alam yang dimilikinya.

Dari segi infrastruktur fisik, persiapan awal menuju KEK boleh dibilang mencapai 70%. Tak hanyak pelabuhan laut berskala Internasional, namun juga sarana jalan juga sudah dipersiapkan sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan Belitung kini sudah mendapatkan solusi ketersediaan energi listrik dengan pembangunan dua pembangkit listrik.

Begitupun sumber daya alam yang terdapat di bumi Beliutng cukup besar. Berbagai komoditi tambang dan pertanian bisa menjadi bahan baku yang potensial buat dikembangkan hingga industri hilir.

“Kami yakin, berbekal fakta kesiapan infrastruktur daerah yang memeadai dengan ditopang sumber daya alam bahan baku industri yang banyak terdapat di Belitung, membuat usulan Kawasan Ekonomi Khusus sangat realistis,” kata Bupati Belitung, Ir. H. Darmansyah Husein, optimis.

Infrastruktur Pelabuhan
Persiapan menuju KEK memang sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sejak tahun 2001 silam, Belitung sudah merencanakan membangun sebuah kawasan industri di Dusun Suge Kecamatan Badau Kabupaten Belitung. Dan tahun ini pula, sudah dibuat Peraturan Daerah mengenai Tata Ruang Kawasan Industri Suge.

Hanya saja, kondisi sarana pelabuhan laut yang mendukung kegiatan peti kemas belum tersedia saat itu membuat kawasan industri tidak bisa serta merta diwujudkan. Apalagi berbagai infrastruktur fisik kewilayahan seperti jalan dan sarana listrik di masa itu masih jauh dari memadai sehingga menjadi kendala masuknya investasi di sektor industri.

Keseriusan untuk menggarap pelabuhan Tanjung Batu mulai tampak sejak kepemimpinan Bupati Darmansyah Husein tahun 2004. Menurut Bupati Darmansyah, idealnya untuk membangun pelabuhan maritim yang bisa disandari kapal-kapal berbobot besar membutuhkan dana sekitar Rp. 110 miliar

Karena tidak muda bagi Belitung mengupayakan dana sebesar itu, pembangunan fisik pelabihan pun dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun, sejak 2004. Pada tahun 2006 dikucurkan dana Rp.10 miliar, lalu menyusul Rp. 10 miliar di tahun 2007 dan Rp.27,5 miliar pada tahun 2008. Dana pembangunan sendiri berasal dari tiga anggaran, APBD Kabupaten, APBD Propinsi,dan APBN

Sampai 2009, pemerintah telah menginvestasikan dana sekitar Rp.90 miliar, untuk menjadikan Tanjung Batu sebagai pelabuhan laut berskala internasional. Pelabuhan Tanjung Batu diharapkan bisa menjadi pintu gerbang Kawasan Ekonomi Khusus.

“Insya Allah mulai diuji coba tahun 2010. Rencananya sandar perdana kapal penumpang Pelni,” ucap Drs. Elly Rachman, Kepala Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kab. Belitung.

Elly menjelaskan, bangunan fisik pelabuhan Tanjung Batu sudah mencapai 75%. Kontruksi pelabuhan berupa dermaga sandar sepanjang 204 meter, coast way dengan panjang 401 meter dan trestle sepanjang 635 meter. Dengan demikian, jarak tambat labuh kapal ke bibir pantai sejauh 1.036 meter. Pada 2010, akan diadakan pelebaran trestle sepanjang 1200 meter dari enam meter menjadi delapan meter, untuk jaringan pipa. Juga pemasangan suar dan rambu-rambu laut.
Untuk mendukung operasional pelabuhan, telah di-floatoing kawasan pelabuhan seluas 100 hektar. Lahan pelabuhan ini tentu saja tidak termasuk 500 hektar lahan peruntukkan KEK yang juga sudah di-floating area. Lahan pelabuhan 100 hektar itu dibuat keperluan kantor, sarana pergudangan, dan peti kemas. Dari luas itu, telah dibebaskan seluas 51,5 hektar pada tahun 2008 dan 25 hektar pada tahun 2009.

Sejauh ini Pemkab Belitung belum memutuskan pihak mana yang akan mengelola pelabuhan Tanjung Batu. Menurut seorang ‘Leader’ percepatan KEK Belitung, Drs. Sarfani Syamsudin,Ak.MM, urusan pengelolaan pelabuhan akan dikaji secara cerma karena memiliki potensi kuat sebagai sumber pendapatan terbesar bagi Daerah Belitung di masa mendatang.

Sarfani mengatakan, pengelolaan pelabuhan ini bisa ditangani sendiri oleh Pemerintah Daerah melalui BUMD. Kalaupun Pemkab belum siap, bisa pula kerjasamakan dengan pihak lain dengan pola bagi hasil. “kalau dikelola secara tepat, saya yakin kedepannya Belitung bisa memperoleh ratusan milliar rupiah dari hasil pajak bumi dan bangunan pada lahan 500 hektar dalam KEK dan pengelolaan pelabuhan, kata Sarfani yang juga Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Belitung

Untuk itulah ia berharap semua instansi terkait di Belitung bisa berupaya seoptimal mungkin melakukan langkah-langkah yang bisa ditangani Tupoksi masing-masing untuk mendorong pembangunan KEK

Jalan Nasional
Melihat besarnya peluang ekonomi yang bakal diraih Pulau Belitung di tahun-tahun mendatang Pemkab Belitung makin serius mewujudkan KEK Tanjung Batu di Desa Pegantungan Kecamatan Badau. Ini diperlihatkan dengan upaya pembenahan sejumlah akses jalan yang menghubungkan berbagai wilayah strategis penunjang KEK. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Belitung, Ir. Hasanudin,MM kepada FIVE menjelaskan, persiapan infrastruktur pendukung KEK saat ini sudah mencapai 70%. Dalam hal sarana jalan, Pulau Belitung memiliki jalan sepanjang 1.238,42 kilometer. Itu terdiri dari jalan kabupaten Belitung induk sepanjang 615,38 km, jalan kabupaten Belitung timur sepanjang 229,20 km, jalan Provinsi Babel sepanjang 275,60 km,dan jalan Nasional 118,24 km.
Di antara jalan tersebut kini tengah ditingkatkan kapasitasnya, sehingga layak untuk menopang pembangunan kawasan ekonomi khusus. Langkah ini sengaja ditempuh buat mengantisipasi melonjaknya aktivitas angkutan barang dan jasa. ”Baik lebar jalan maupun kekuatan pondasinya sedang kita tingkatkan. Idealnya empat lajur,”ujar Hasanudin.
Salah satu ruas jalan yang menjadi prioritas peningkatan kapasitas adalah jalan raya dari kota Tanjungpandan ke arah Tanjung Batu. Ruas jalan Tanjungpandan- petikan- Tanjung Ru (Pegantungan) sepanjang 42,2 km, kini sudah menjadi jalan negara alias jalan nasional. Hanya saja, kondisi jalan yang ada sekarang terbilang belum ideal sebagai jalan utama sebuah kawasan industri. Ini lantaran jalan tersebut hanya memiliki lebar enam meter dengan bahu jalan sisi kanan dan kiri masing-masing 1,5 meter.

Sebab itu Pihak Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, telah memprogramkan pelebaran jalan akses utama yang menghubungkan ibukota Belitung dengan lokasi peruntukkan KEK tersebut. Kapasitas jalan akan ditingkatkan dengan lebar 7 meter dan bahu jalan masing-masing 2 meter serta saluran air disampingnya dibikin selebar 1,5 meter. Ini masih ditambah ruas untuk utilitasm tiang listrik, pipa dan lainnya sehingga tidak mengganggu pengerasan jalan.

Pembebasan lahan untuk pelebaran jalan sepanjang 42,2 km tersebut telah dianggarkan pada tahun 2010. “Departemen PU menyambut baik. Detail Engineering Design (DED)-nya dilakukan 2009, sedang fisiknya dimulai 2011, “ kata Hasanudin

Sebagai jalan masuk dari jalan nasional menuju pintu Pelabuhan Tanjung Batu, ada jalan akses sepanjang 1,1 km.  Jalan akses ini telah dilebarkan dari 6 meter menajdi empat lajur oleh Dinas PU Kab. Belitung melalui Dana APBD Belitung 2007.

Jalan lainnya yang akan ditingkatkan status menjadi jalan nasional adalah jalan raya Tanjungpandan – Tanjung Kelayang – Tanjung Tinggi sejauh 42 km. sampai saat ini jalan utama menuju kawasan itu masih berstatus jalan provinsi. “Alhamudillah Dirjen Bina Marga sudah menyetujui menjadi jalan nasional, tinggal menunggu SK Pak Menteri. Kami berterima kasih pada pemerintah pusat atas dukungannya pada pembangunan Belitung, “kilah Hasanudin.

Penataan Kota
Dalam kaitan persiapan menuju KEK ini, pada tahun 2010 mendatang akan dilakukan penataan kawasan pusat kota Tanjungpandan sebagai sentra bisnis. Langkah penataan meliputi pembenahan tata ruang kota dan pelebaran jalan sudirman sebagai jalan nasional yang menghubungkan pusat kota dengan pelabuhan udara HAS Hanandjoeddin.
Peningkatan kualitas jalan dari bandara ke kota Tanjungpandan dilakukan secara bertahap dari dua lajur menjadi empat lajur. Tahun 2009 dilakukan pelebaran ruas sepanjang 4,7 km dari pertigaan jalan bandara ke Simpang Badau. Pembiayaan bersumber dari dana APBD Belitung sepanjang 2,2 km dan APBN sepanjang 2,5 km. untuk tahap berikutnya telah dilakukan pembebasan lahan buat pelebaran jalan sudirman sepanjang 5 km, dari simpang badau ke Air Raya, Perawas. Dana pembebasan ini sepenuhnya dari kantong APBD Belitung. “Alhamdulillah, untuk konstruksi pada 2010 sudah dianggarkan sebesar Rp.7,6 miliar dari APBN untuk melebar jalan sepanjang 1,5 km,” kilah Hasanudin
Selain itu, Belitung juga kebagian kucuran dana APBN sebesar Rp.2,4 miliar pada 2010, untuk membiayai pembangunan jembatan Air Bebulak dengan panjang 15 meter dan lebar 7 meter. Pembangunan jembatan baru dengan konstruksi beton tersebut direncanakan bersebelahan dengan jembatan yang sudah ada. Jembatan lama yang masih kokoh akan dipertahankan sebagai aset, sehingga bisa diberlakukan sistem transportasi empat lajur. Memang, pada 2010 ini, wajah pusat kota Tanjungpandan akan berubah drastis. Sebuah boulevard yang ditengahnya ada tugu batu satam dengan lima pilar berlapis timah akan dibangun di kawasan Simpang Lima, Kota Tanjungpandan. Terobosan membuat boulevard Batu Satam ini selain untuk mempercantik wajah kota, juga sekaligus menjadikan Batu Satam sebagai Icon Belitung. Bagaimanapun, diseluruh penjuru nusantara, meteorit unik itu hanya terdapat di Pulau Belitung.
Upaya penataan pusat kota ini sebagai kelanjutan dari program pelabaran jalan Sriwijaya dari 6 meter menjadi 12 meter sepanjang 3,7 km yang telah memberikan kesan positif bagi kemajuan kota Tanjungpandan. Kini kegiatan ekonomi sepanjang jalur jalan sriwijaya terasa meningkat dari sebelumnya. Sejumlah billboard promosi produk dagang dipajang melintas diatas ruas jalan, semakin menambah semarak suasana kota.
Demi mempercantik wajah kota, Pemkab sengaja mengajak para pemilik toko disekitar boulevard Simpang Lima untuk merubah penampilan bagian depan toko masing-masing. Di depan toko direncanakan akan dibuat pedestrian dan trotoar selebar 4 hingga 5 meter, lengkap dengan lampu dan pohon-pohon pelindung. Dengan begitu, masyarakat bisa santai berbelanja sambil rekreasi.
Program lain dari penataan kota Tanjungpandan untuk  menyambut KEK, yakni perluasan kawasan wisata tanjung pendam dengan membuat jalan baru sepanjang 1,2 km pada 2010. Di kawasan wisata ini akan dibangun water boom dan sarana permainan olahraga pantai. Dengan demikian kawasan Tanjungpendam didisain seperti kawasan ancol, Jakarta yang hanya dikhususkan sebagai kawasan wisata.
Kawasan Tanjungpendam pada pekan keempat Desember 2009, dikunjungi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik,SE. kunjungan Jero Wacik  boleh disebut sebagai satu-satunya kunjungan Menteri ke Belitung dalam seratus hari pertama Kabinet Indonesia Bersatu II. Kehadiran Jero Wacik dalam kaitan launching tahun kunjungan wisata Babel 2010 atau Visit Babel Archipelago 2010. Menbudpar menyatakan dukungannya terhadap pembangunan pariwisata Belitung terutama pendirian Museum Maritim Nasional yang disebut Billiton Ship Wreck  di Belitung. Ia menilai situs-situs peninggalan Barang  Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang diangkat dari perairan pulau Belitung bernilai sejarah tinggi yang berkait erat dengan masa-masa awal pelayaran dunia.
Menbudpar yakin kebangkitan pariwisata Bangka Belitung terutama Belitung akan mendorong laju perekonomian kawsan. Untuk itu, ia berharap infrastruktur pariwisata daerah ini terus dibenahi.
Tentu saja, harapan itu sejalan dengan upaya Pemkab Belitung dalam menata sarana dan prasarana kewilayahan terutama dalam persiapan menjadikan daerah ini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.

Langkah Antisipasi
Dari tinjauan ekonomi, Sarfani Syamsuddin terungkap, bila KEK terbentuk perekonomian Belitung diprediksi akan melonjak tajam. KEK diyakini bakal memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan kawasan-kawasan sekitarnya. Tanjungpandan sebagai sentra bisnis dipastikan akan makin ramai. Imbasnya tentu akan berpengaruh pada kemajuan kawasan-kawasan wisata seperti Tanjungpendam, Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi.
Sebab itulah, kata Sarfani, butuh perencanaan yang tepat untuk mengantisipasi pertumbuhan kota di masa mendatang. Misalnya dalam penataan jalur transportasi kawasan bisnis dan wisata di kabupaten Belitung.

Pihak Dinas PU Kab Belitung juga menyadari pergerakan arus perdagangan dan jasa di ibukota Kabupaten Belitung yang semakin terasa. Karenanya, sebagian langkah antisipasi, mulai tahun ini sengaja di rintis upaya membuat jalan lingkar mengelilingi Kota Tanjungpandan yang panjang sekitar 20 km. ini sebagai jalan alternatif agar sistem transportasi tidak terpusat pada sentra bisnis di jalan Sriwijaya. Dengan sistem jalan lingkar ini, kawasan sentra bisnis nantinya tidak lagi dilewati trailer dan truk besar. “Jalan lingkar ini sebagai solusi untuk menghindari kemacetan dengan membagi arus transportasi sehingga tidak terpusat di satu tempat, “terang Hasanuddin.
Jalan lingkar sejauh 20 km itu dimulai dari persimpangan Desa Perawas menembus ke Jalan Sriwijaya melalui Desa Air Merbau. Lalu ada satu ruas lagi dari jalan Sriwijaya ke arah Tanjung Kelayang. Dua ruas jalan melingkar tersebut bertemu di satu titik yakni Dusun Terong, Sijuk.

Air Bersih
Menurut Hasanuddin, sarana pendukung KEK yang tak kalah pentingnya adalah ketersediaan air bersih. Diakuinya, saat ini air bersih masih menjadi persoalan serius bagi Belitung terutama saat musim kemarau. Salah satu sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Belitung, yakni tiga buah kolong (danau) Air Serkuk, kini menjadi prioritas pembenahan. Melalaui sepucuk surat, beberapa waktu lalu Bupati Belitung telah meminta bantuan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Departemen PU buat peningkatan kualitas sumber air bersih di Belitung. Dirje SDA meresponsnya dengan memberikan bantuan sebesar Rp.5 miliar lewat pos APBN 2010. Bantuan itu diperuntukkan buat pengerukan dan juga pemasangan proteksi keliling kolong. Selain itu pihak provinsi Babel mengucurkan Rp.2,8 miliar, juga untuk pembenahan instalasi dan sumber air di kolong air serkuk yang lain.
Air bersih di Belitung bisa dibilang masih jauh dari harapan publik baik dari segi volume maupun kualitasnya, karena itu sempat terbetik kabar, pelanggan PDAM disini merosot drastis. Hanya saja, Hasanuddin menyebut pihaknya kini berupaya membenahi mutu air baku ini, sehingga PDAM bisa beroperasi sebagaimana layaknya.
Upaya penataan sumber air ini juga dengan merevitalisasi kolong keramik yang terletak di tengah kota. Rencananya, lumpur yang memenuhi kolong ini akan dikeruk dan ditabur bibit ikan tawar. Walaupun bukan untuk keperluan air minum, nantinya keberadaan kolong keramik bisa bermanfaat sebagai lokasi wisata pemancingan.
Selain persiapan menuju KEK, revitalisasi kolong keramik juga dalam kaitan Babel Archipelago 2010 yang telah digaungkan Provinsi Bangka Belitung.
Untuk melengkapi sarana fasilitas publik di Belitung pihak Dinas PU setempat juga sedang menambah sarana tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang berada di Desa Juru Seberang Tanjungpandan. Sebuah unit pengelolaan  sampah akan dibangun unit pengelolaan sampah akan dibangun pada lahan seluas 10 hektar. Instalasi pengelolaan sampah itu nantinya dilengkapi dengan teknologi modern daur ulang yang mampu memisahkan sampah organik dan non organik. Juga dibangun sebuah instalasi pengelolaan limbah tinja (IPLT)
Pemkab Belitung sengaja menyiapkan 10 hektar lahan TPA agar bisa menampung sampah dalam kurun yang cukup lama, 15 tahun hingga 20 tahun kedepan.
Pembanguan fasilitas pengolahan sampah tersbebut dinilai penting buat mengantisipasi pertambahan penduduk dan lingkungan pemukiman yang makin padat akibat berkembangnya kegiatan sektor industri dan jasa di Belitung.

Dua Pembangkit
Namun demikian, baik Sarfani Syamsuddin maupun Hasanuddin, mengakui semua infrastruktur fisik yang sedang dalam pembenahan itu, tak lah memberi arti banyak bagi kehadiran invenstasi bila saja ketersediaan listrik masih langka.
Dalam urusan energi listrik, Belitung termasuk beruntung. Saat ini daerah ini memang tidak mengalami pemadaman bergilir seperti yang dialami banyak tempat di Pulau Jawa. Namun untuk keperluan industri, daya listrik yang ada saat ini masih jauh dari  memadai.
Menurut Suparyanto, Manajer PT. PLN Cabang Tanjungpandan, beban puncak listrik di seluruh pulau Belitung yang terjadi pada pukul 19.00 wib sampai 20.00 wib adalah sebesar 19 MW. Ini sudah bisa di atasi oleh pembangkit diesel milik  PLN di Tanjungpandan dan Manggar – Beltim yang terhubung secara interkoneksi.
Namun dalam hal permintaan ribuan sambungan listrik baru, diakui Suparyanto, pihaknya hingga kini belum dapat melayani. Meski begitu persoalan menumpuknya waiting list untuk keperluan listrik rumah tangga dan perkantoran sudah menemukan solusi. Dalam program jangka pendek Belitung akan memiliki pembangkit 2 x 15 MW. Pembangunan PLTU berbahan bakar batubara di Desa Pegantungan yang kini sedang dikerjakan perusahaan kontraktor listrik dari Jakarta ini sebagai bagian dari program pembangunan 10.000 MW yang dilakukan pemerintah pusat.
Selain itu, sebuah pembangkit milik swasta berkapasitas 7 MW di Desa Mempaya Belitung Timur sudah ancang-ancang melakukan uji coba. Bila nantinya PLN membeli listrik dari pembangkit berbahan bakar cangkang sawit tersebut, berarti akan ada tambahan pasoka daya 7 MW untuk melayani konsumen listrik di Pulau Belitung. Apalagi bila PLTU Pegantungan sudah beroperasi, tentulah ada space 3 MW hingga 18 MW untuk cadangan energi listrik. Setidaknya bagi konsumen rumah tangga dan industri pariwisata sudah bisa terlayani. Awal yang baik untuk menggerakkan infrastruktur lain dan industri perintis pendukung KEK.
Tapi bagaimana keperluan listrik bagi industri dalam KEK?”Saya rasa, untuk ukuran pelaku usaha dalam KEK nanti, ketersediaan listrik dikawasan bukan hal yang perlu dirisaukan,”kilah Suparyanto. Ia yakin, banyak invenstor yang sanggung mengadakan listrik untuk kebutuhan sendiri. “Apalagi bila bea masuk mesin modal di bebaskan dalam KEK, “imbuhnya.
Suparyanto menyebut contoh sejumlah industri pabrik kelapa sawit yang ada di Pulau Belitung bisa beroperasi dengan listrik sendiri. Mereka mendatangkan mesin pembangkit tenaga uap, dan kini justru sebaliknya, menawarkan listrik kepada PLN.
Di masa lalu, Pulau Belitung pernah memiliki pembangkit terbesar se-Asia Tenggara, yakni Electrical Center (EC) Manggar milik PN Timah. Pembangkit iini bahkan mampu menggerakkan seluruh kapal keruk laut dan darat yang dulu tersebar di di berbagai penjuru Belitung.

Siap Bahan Baku
Apa yang diungkapkan Suparyanto boleh jadi benar. Listrik memang penting, namun bukan satu-satunya penentu kehadiran invenstasi terutama dalam KEK. Titik tawar paling besar bagi Belitung adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah. Sebut saja komiditi pertambangan, pertanian, dan perikanan. Bila infrastruktur pelabuhan memadai, peluang hadirnya investasi industri di tiga sektor itu kian besar lantaran tersediannya bahan baku yang diperlukan.
Seperti di ungkapkan Ir. Ubaidilah, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Belitung, bahwa bahan baku di sektor pertambangan masih sangat besar. Bukan hanya biji timah tapi juga kaolin dan pasir kwarsa.
Industri tambang di Belitung dari zaman Belanda hingga menjelang 65 tahun Indonesia merdeka baru sebatas pemurnian. Biji timah di olah melalui peleburan hingga menjadi timah balok, lalu di ekspor. Tapi itupun bersyukur, masih ada swasta yang berinventasi di industri peleburan sehingga sedikit memberikan nilai tambah pada serapan tenaga kerja  di Pulau Belitung.
Padahal, industri balok timah masih bisa dikembangkan menjadi kawat solder, panel, solar cell, bahkan kerajinan fewter. Ubaidillah mengatakan, sebuah perusahaan smelter pernah mencoba merintis industri hilir timah dengan produksi akhir kawat solder.
Tak hanya timah, kaolin dan pasir kwarsa pun sampai kini baru sebatas pemurnian bahan baku. Padahal dengan ketersediaan dua komoditi ini, di Belitung bisa dibangun pabrik keramik, cat , farmasi, serta pabrik gelas. Karena kaolin adalah bahan baku keramik, cat, obat-obatan, pulp, kosmetik serta ban. Sedangkan pasir kwarsa bisa dibikin gelas gumpal. Ubaidillah bahkan menyebut 80% bahan baku pabrik gelas di Jakarta dan Surabaya berasal dari bumi Belitung.
Memang, sejauh ini tidak dapat dipastikan berapa cadangan bahan tambang yang masih tersisa di bumi Belitung, setelah di gali ratusan tahun. Biji timah yang digali sejak tahun 1825 pernah diisukan habis, yakni sewaktu PT. Timah hengkang dari Belitung pada tahun 1990 an.
Namun ternyata, setelah 19 tahun kemudian, kegiatan tambang masih terus berjalan bahkan berdiri sejumlah smelter yang memproduksi balok timah di Pulau Belitung. Rata-rata perusahaan tambang termasuk PT. Timah yang tidak mendirikan smelter di Pulau Belitung namun memiliki lahan kuasa pertambangan (KP) sekitar 84.000 hektar di pulau ini, saat ini mengandalkan mitra swasta dan tambang rakyat sebagai motor produksinya. “ jadi untuk deposit biji timah memang sulit memprediksinya. Besar kecilnya hasil tambang itu tergantung teknologi yang digunakan,”ungkap Ubaidillah
Begitupun kaolin. Sekitar sepuluh perusahaan pemurniaan kaolin kini masih eksis di Kabupaten Belitung dengan menyerap diatas seribu orang pekerja.
Keberadaan perusahaan-perusahaan tambang harus diakui memiliki arti penting bagi Belitung. Bukan hanya dalam hal penyerapan lapangan kerja, namun perusahaan itu ikut memberikan kontribusi terhadapat Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Belitung.
Bagi Belitung, kehadiran industri olahan hasil bumi ini sudah tidak asing lagi. Dan dulu, pernah ada pabrik KIA di Tanjungpandan dan hanya mengolah kaolin menjadi keramik. Hanya saja, lantaran kesulitan pengiriman hasil produksi, pabrik keramik pun ditutup.
“Mereka menginginkan ada pelabuhan peti kemas untuk memudahkan pengiriman. Bagaimanapun, barang keramik harus dipaket dalam kondisi safety,” kata Ubaidillah
Ubaidillah menyebutkan minat pelaku usaha pertimahan untuk berinvestasi di Belitung masih tinggi. Itu artinya, mereka yakin timah masih memberikan harapan hingga 10 tahun ke muka. Hanya saja, persoalannya, mereka masih menunggu kepastian hukum dari aturan pelaksanaan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.

Dukungan DPD
Untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil bumi Pulau Belitung yang melimpah memang membutuhkan keseriusan dan kesungguhan arti dari pemerintah pusat maupun daerah. Paradigma mencari sumber pendapatan daerah yang instant dengan pola eksploitasi “menjual tanah air” sudah saatnya digeser karena pola pengembangan industri hilir. Alternatif terbaik untuk merubah paradigma itu adalah membangun industri olahan dari bahan tambang maupun hasil pertanian di tempat asalnya. Momentum perubahan itu kini sudah tepat dengan hadirnya kebijakan pemerintah tentang Kawasan Ekonomi Khusus.
Pemkab Belitung kini berharap adanya Political Will dari pemerintah pusat untuk menetapkan Tanjung Batu Belitung sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia. Menurut Bupati Belitung Ir. Darmansyah Husein, pihaknya sudah dihubungi oleh banyak investor yang siap berpartisipasi membangun industri hilir dalam lokasi KEK tersebut. “Kami sangat serius, persiapan infrastruktur sudah mencapai 70%, tinggal menunggu kebijakan pusat,” kata Darmansyah
Perjuangan yang telah dilakukan Pemkab Belitung ini ikut disokong Dewan Perwakiln Daerah RI. Tellie Gozelie,SE, anggota DPD RI dari Bangka Belitung mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat resmi kepada Menko Perekonomian sebagai respon atas usulan KEK Tanjung Batu Belitung akan membawa sisi positif untuk memberikan nilai tambah sumber daya alam Pulau Belitung dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pemerintah pusat perlu mendengarkan sungguh-sungguh keinginan masyarakat Belitung agar daerahnya bisa lebih maju dan penduduknya sejahtera,” pungkas Tellie*