15/03/2010 | Oleh: Humas Setda Kab. Belitung

KASUS PERCERAIAN KIAN MARAK

Angka penceraian pasutri kian meningkat, itulah headline news yang terpampang di halaman depan harian pos Belitung beberapa waktu silam. Jumlah yang sangat mengagetkan disebutkan bahwa hingga pertengahan Februari ini, kasus perceraian yang sedang ditangani Pengadilan Agama Tanjungpandan tercatat sebanyak 125 kasus.

Ketua Majelis Umum Indonesia kabupaten Belitung merasa sangat prihatin dengan semakin meningkatnya angka perceraian di Belitung dari tahun ke tahun. Islam tidak pernah menganjurkan perceraian, disarankan untuk menyelesaikan permasalahan bukan dengan cerai, akan tetapi lihat dan teliti lebih dahulu permasalahanya agar ada titik temu dan amasalah dapat diselesaikan tanpa cerai, jelas Tusin yang kami lansir dari harian Pos Belitung edisi Selasa, 23 februari 2010.

Cukup memprihatikan memang mengapa semakin tahun angka perceraian pasutri kini kian meningkat. Jika ditelelusuri lebih lanjut mungkin beragam spekulasi bisa muncul, Kondisi inilah yang kini mungkin akan sangat menggangu pikiran para pasangan yang baru saja berencana untuk menikah. Wajar jika mereka sedikit terganggu dengan pernyataan tersebut. Toh ini adalah kenyataan bahwa fenomena yang terjadi saat ini, banyak diantara pasangan yang sudah menikah tak mampu melewati cobaan dan laju biduk rumah tangga yang mereka bina.

Menikah adalah ibadah, begitu ajaran agama islam mengajarkan kita akan sakralnya sebuah pernikahan. Pernyataan itu memang benar adanya tapi kenapa kata perceraian selalu saja terjadi dalam suatu pernikahan. Pernakahkan kita berpikir lebih jauh mengapa cerai kini seolah menjadi tren di kalangan masyarakat. Kita memang tak bisa saling menyalahkan mengapa kondisi memprihatinkan ini bisa terjadi??? Karena tak kan ada satu pihak pun yang ingin dipersalahkan dalam hal ini.

Dengarlah sedikit kutipan dari salah seorang pasutri yang baru saja menjanda yang sempat kami temui tanpa sengaja, “aku dak tahan kan laki aku, muji die malas kereja, ade duit gak gawe ke Cafe nyari perempuan, mun marah selalu kasar dan nampar aku, aku dak tahan agik, mending aku jadi jande daripada tersikse, ungkap M. Pernyataan ini mungkin terdengar klise dan biasa saja, tetapi dari raut muka dan pengucapnnya seakan begitu pilu. Hal ini mengisyaratkan seolah-olah menikah menjadi sebuah keterpaksaan yang menimbulkan penyesalan mendalam. Pernyataan mereka yang merasa teraniaya terdengar begitu miris, dan lagi-lagi wanita terkadang menjadi korban.

Tapi rasanya sangatlah tidak adil jika kita hanya membela atau menyalahkan salah satu pihak, ini hanya akan membuahkan kondisi yang tak imbang. Sesungguhnya dalam hal ini tidak ada pihak yang patut dipersalahkan, semuanya terjadi apa adanya dan mungkin memang harus begini, namun kini tak penting bagi kita untuk berlarut-larut memikirkan dan memperdebatkan mengapa dan mengapa, karena hal ini hanya akan membuat perdebatan panjang yang tak ada habisnya untuk dibahas, tapi yang harus kita cari tahu dan pelajari adalah bagaimana kita mengantisipasi keadaan ini agar tidak semakin parah.

Disinyalir kadang pertengkaran akibat perbedaan pendapat menjadi salah satu faktor pemicu percerian, keegoan kadang mengalahkan akal sehat dan segala tindakan yang diambil kadang tanpa pemikiran yang matang dan jernih. Dalam hal ini tak ada salah satu pihak pun yang mau mengalah ataupun sekedar bertahan, semua akan berbicara aku lelah dan capek dengan keadaan ini, aku terlanjur sakit hati dan bertahan dengan keegoisan masing-masing.

Padahal bukankah allah sangat membenci perceraian??? Dalam artian percerian yang terjadi karena kondisi yang tak wajar. Sayangnya Cerai kini menjadi kata yang sudah tak asing lagi didengar bahkan anak kecil sekalipun kini sangat akrab dengan kata cerai.

Jika kita telesuri lebih jauh perceraian yang terjadi umumnya akibat faktor yang tidak menyenangkan, entah itu masalah ekonomi yang berakibat pertengkaran ataupun KDRT sampai pada masalah perselingkuhan yang ditenggarai paling  menonjol.

Berbicara perselingkuhan mungkin akan menyinggung atau bahkan menyadarkan seseorang yang kini seringkali menyukai keadaan ini. Selingkuh memang indah, begitulah ungkapan yang seringkali terdengar dari ucapan seseorang yang tanpa sadar berujar padahal mungkin kekeliruan yang dilakukan bukanlah jalan terbaik yang harus ditempuh, selingkuh kadangkala terjadi karena ketidakpuasaan seseorang terhadap pasangannya sehingga ia tergoda untuk mencari ketidaksempurnaan itu dalam diri pasangan lain. Mungkinkah kondisi lingkungan dan pergaulan dapat terus dipersalahkan sebagai alibi yang paling kuat mendasari perselingkuhan yang bermuara pada perceraian.

Saat ini perkembangan zaman yang semakin maju sayangnya berimbas pada kondisi yang tak diinginkan. Maraknya teknologi digitalisasi yang serba cepat malah jadi pemicu menurunya moral masyarakat kita yang kian hedonis dengan kemajuan yang ada. Bisakah kita menyebut diri kita sebagai orang-orang yang cerdas dan pintar karena mampu mengusai beberapa teknologi canggih, namun sayang justru tak jarang kecanggihan telah membutakan mata dan hati kita yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah diberikan yang Maha Kuasa. Karena sesungguhnya tak ada satu manusia pun yang mampu mencapai kesempurnaan, maka jangan paksakan diri untuk menjadi sempurna jika memang kesempurnaan yang kita raih hanya akan menjadi tameng untuk menutupi ketidaksempurnaan diri.