18/03/2010 | Oleh: Buletin Warta Praja Edisi Desember 2009

Karena Belitung Seperti Welington

Ketika naskah Laskar Pelangi dikirim teman penulisnya ke penerbit Bentang Pustaka, Yogayakarta, empat tahun yang lalu, novel ini beberapa hari tidak dibaca karena pikiran bahwa karyawan Telkom seperti Andrea Hirata, sang penulis novel, tidak biasa menulis buku.

Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi,” ujar Haidar Bagir, pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing, induk Bentang Pustaka, dalam wawancara dengan Harian Kompas edisi Minggu, 12 Oktober 2008. Terbitlah novel buah karya anak Belitung ini, September 2005, yang kemudian menjadi bestseller.

Menurut Haidar, sukses Laskar Pelangi didorong oleh gabungan faktor baku bagus, waktu yang pas, dan keberuntungan alias hoki. Dan mereka berhutang budi pada Kick Andy Metro TV. Setelah diangkat dengan sangat baik di acara itu pada 2007, buku itu meledak di pasaran dan mulai banyak sutradara menanyakan apakah novel ini akan difilmkan.

 “Kami jadi optimis,” tutur Haidar. Padahal, sebelumnya, ketika Andrea bertemu dengannya di Bandung membicarakan kemungkinan cerita ini difilmkan, dia tidak terlalu optimis. “Terus terang, waktu itu saya tidak terlalu optimis. Bukunya sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (sekarang Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?”

Dia pun mengontak Andrea Hirata dan dengan cepat memutuskan menyerahkan penggarapan film Laskar Pelangi kepada Mira Lesmana, produser Miles Film, dan sutradara Riri Riza, karena mereka sukses menggarap film Petualangan Sherina. Minggu, 25 Mei 2008, Laskar Pelangi syuting di Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Jumat, 26 September 2008, bertepatan dengan libur Lebaran, film ini dirilis.

Laskar Pembawa Berkah
Optimisme Haidar menjadi kenyataan. Seperti bukunya, film Laskar Pelangi sukses di pasaran. Selama beberapa bulan tayang di bioskop, film ini berhasil menyedot sekitar 4,6 juta penonton. Ketika di awal tahun 2009 diikut sertakan pada Berlinale International Film Festival, kualitas film ini juga diapresiasi secara internasional.

Sukses Laskar Pelangi tidak hanya membawa berkah bagi Andrea Hirata pribadi sebagai penulis novel, tapi juga membawa berkah bagi daerah kelahirannya yang menjadi setting cerita ini. Konon, selama syuting filmnya, dari  total biaya produksi Rp 11 miliar, hampir Rp 4 miliar dihabiskan di Belitung — antara lain  untuk honor kru lokal, katering, penginapan, dan rental mobil.

Selain melesat menjadi selebriti, anak-anak daerah ini, yang dipilih untuk memerankan tokoh-tokoh film ini bersama aktor dan aktris terkenal seperti Mathias Muchus, Cut Tari, dan Tora Sudiro, juga mendapat beasiswa pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Belitung sendiri, yang semula tak banyak dikenal kecuali sebagai daerah penghasil timah, tiba-tiba menjadi masyhur. Wisatawan dalam dan luar negeri berdatangan ke sini, ingin melihat “situs” Laskar Pelangi.

Itulah yang membuat Gubernur Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Ir H Eko Maulana Ali, S.IP, M.Sc, punya pikiran ingin mengganti semboyan propinsi ini dari “Negeri Serumpun Sebalai” menjadi “Negeri Laskar Pelangi”. Kalimat “Negeri Laskar Pelangi” muncul dimana-mana, termasuk di tagline Harian Pos Belitung: “Spirit Baru Negeri Laskar Pelangi”. Booming novel dan film Laskar Pelangi memberi harapan baru bagi kebangkitan Belitung, setelah harapan itu pudar seiring dengan surutnya kejayaan timah di pulau ini.

Wartawan Kompas Ilham Khoiri, dalam tulisannya di harian itu edisi Minggu (2/8) lalu mengatakan, Belitung pasca Laskar Pelangi mirip Welington, Selandia Baru, setelah kota itu menjadi lokasi dan markas utama film trilogy The Lord of The Ring. Kota ini tumbuh cepat dan masyhur, menjadi tempat tujuan wisata dunia.

Grand Launching
Antara lain, itulah jawaban mengapa Grand Launching program Visit Babel Archipelago 2010 digelar di Belitung. Selain memiliki potensi dan kesiapan menyongsong era pariwisata, daerah ini sudah menjadi magnet kunjungan wisata. Setidaknya, itulah keterangan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir Jero Wacik, SE, kepada wartawan usai mengunjungi Museum Tanjungpandan, Senin siang (28/12).

“Mengapa Belitung yang saya jadikan tempat (grand launching — Red), sebab di sini sudah diangkat oleh film Laskar Pelangi, film Sang Pemimpi, dan sudah mulai terkenal sekarang daerah ini,” kata Pak Menteri. Karenanya dia berencana mengajak maskapai Garuda Indonesia membuka rute penerbangan ke Belitung, agar akses transportasi udara ke daerah ini semakin luas.

Selain itu, bersama Gubernur Babel, Pak Menteri sedang mempertimbangkan posisi bandara internasional yang cocok agar penerbangan dari luar negeri bisa langsung ke wilayah ini. “Ini perjuangan kita di tahun-tahun berikut agar kedatangan wisatawan asing bisa langsung ke tempatnya. Tidak usah ke Jakarta dulu. Dari Kuala Lumpur melalui Singapura langsung ke Belitung,” kata Pak Menteri disambut tepuk tangan rombongan.

Karenanya Pak Menteri berpesan agar masyarakat di wilayah ini menjaga kondisi kamtibmas dan kerukunan antar umat bergama yang kondusif. “Tidak akan ada turis mau datang ke Belitung dan Bangka kalau daerah ini
Waktu dan Flu
Ternyata magnet Laskar Pelangi juga mengundang penasaran Ny Triesna Wacik, istri Menteri Kebudayaan  dan Pariwisata Ir Jero Wacik, SE. Hadir mendampingi Pak Menteri bersama putra dan putrinya, Selasa (29/12) Bu Menteri bersemangat melihat tempat syuting film ini Pantai Tanjung Tinggi, Kecamatan Sijuk. Sayangnya mereka tak bisa berlama-lama karena harus segera bertolak ke Jakarta.

Keterbatasan waktu juga membuat Pak Menteri tidak dapat memenuhi undangan berkunjung ke Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Dusun Balitung, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk. Kepada empat tokoh transmigran asal Bali yang datang menemuinya di Vila Lor In, Tanjung Tinggi, Pak Menteri berjanji akan menyempatkan diri ke Balitung bila dia berkunjung lagi ke Belitung.

Sebenarnya, kemarinnya Pak Menteri sekeluarga punya cukup waktu untuk menjadi turis domestik di daerah ini. Usai mengunjungi Museum Tanjungpandan dan melihat koleksi barang antik milik dr Hendro, ahli THT Rumah Sakit Yayasan Bhakti Timah, di rumah pribadinya di Tanjung Pendam, Pak Menteri sekeluarga langsung bertolak ke Lor In.

Namun Pak Menteri sedang terkena flu. Dia harus banyak istirahat, karena nanti malamnya harus menghadiri ramah tamah di rumah dinas Bupati Belitung dan Grand Launching program Visit Babel Archipelago 2010.

Meski menderita flu, Pak Menteri tetap bersemangat menghadiri Grand Launching program Visit Babel Archipelago 2010. “Dengan ridho Tuhan, kita canangkan Visit Bangka Belitung Acrhipelago 2010. Semoga turis mancanegara, turis Indonesia datang banyak-banyak ke Bangka dan Belitung. Membelanjakan uangnya banyak-banyak supaya ekonomi masyarakat sejahtera,” kata Pak Menteri.?syafei