18/03/2010 | Oleh: Buletin Warta Praja Edisi Desember 2009

Visit Babel Archi 2010

Dua peristiwa istimewa menutup tahun 2009 di Kabupaten Belitung. Senin pagi (28/12), Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir Jero Wacik, SE tiba di Bandara HAS Hanandjoeddin. Malam harinya, di Pantai Wisata Tanjung Pendam, ratusan kembang api meletus beterbangan mewarnai langit Tanjungpandan dengan cahaya gemerlapan.

Kedua peristiwa ini saling berkaitan. Menteri berkunjung ke daerah ini untuk menghadiri Grand Launching (puncak peluncuran) program Visit Babel Archipelago 2010, yang digelar Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) di Pantai Wisata Tanjung Pendam. Kembang api beterbangan itu menandai grand launching, setelah Pak Menteri, usai memberikan sambutan, didamping Gubernur Babel Ir H Eko Maulana Ali, S.IP, M.Sc dan Bupati Belitung Ir H Darmansyah Husein, menekan tombolnya.

Inilah atraksi kembang api paling “heboh” dalam sejarah perhelatan tutup tahun di Kabupaten Kabupaten Belitung. Ribuan masyarakat daerah ini tumpah ke Tanjung Pendam, ingin menyaksikan langsung kembang api spektakuler bernilai ratusan juta rupiah yang didatangkan khusus dari Yogyakarta itu. Jalan ke kawasan ini macet total, bahkan hingga ke kawasan Gereja Regina Pacis. Massa yang terjebak kemacetan terpaksa berjalan kaki. Tanjung Pendam dinyatakan bebas parkir, kecuali kendaraan panitia dan pejabat terkait.

Pak Menteri sendiri sangat terkesan dengan lautan massa yang memadati Tanjung Pendam, yang dia perkirakan mencapai ratusan ribu orang. “Ini pertama kalinya saya menghadiri pencanangan tahun kunjungan wisata ke suatu daerah yang dihadiri hampir ratusan ribu masyarakat. Sebelum berangkat ke Belitung, saya sempat melapor ke Bapak Presiden mengenai rencana peluncuran Visit Babel Archi 2010 ini. Perkiraan saya yang hadir hanya sekitar puluhan ribu massa. Ternyata hampir seratusan ribu orang,” katanya.

Perkiraan Pak Menteri barangkali lebih dimaksudkan untuk membesarkan hati. Massa yang hadir tidak sebanyak itu, kawasan wisata Pantai Tanjung Pendam tidak akan mampu menampung lebih dari separuh penduduk Kabupaten Belitung. Dan mereka, selain ingin menyaksikan kembang api spektakuler itu, sesungguhnya lebih ingin menyaksikan film Sang Pemimpi ketimbang peluncuran Visit Babel Archi. Jangan pula dilupakan, kru dan pemain film berbasis novel Andrea Hirata ini, hadir bersama Pak Menteri menyemarakkan grand launching. Ini yang diincar massa sehingga mereka tumpah ke kawasan wisata di bibir Kota Tanjungpandan itu.

Tapi itulah lihainya Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan panitia pendukung dari jajaran Pemerintah Kabupaten Belitung. Mereka jeli mencari magnet penarik massa, untuk meluncurkan sesuatu yang masih remang-remang dibenak awam. Visit Babel Archipelago 2010 — “hewan” apa pula ini?
   
Sektor Alternatif
Sederhana sebenarnya, dan ini bukan seratus persen gagasan anyar. Seiring dengan surutnya peran industri timah sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat Babel, mau tidak mau pemerintah dan masyarakat di wilayah ini harus mencari sektor alternatif yang dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan untuk menjamin dapur masyarakat di propinsi ini tetap ngebul.

Selain sektor kelautan dan perikanan, sektor pariwisata sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan Propinsi Bangka Belitung. Sebagai daerah kepulauan yang berada di jalur pelayaran internasional selama berabad-abad, Babel memiliki beragam objek wisata menarik, mulai wisata alam, wisata budaya, wisata bahari, wisata sejarah, sampai wisata kuliner.

Di Kabupaten Bangka, misalnya, setidaknya terdapat tujuh pantai menawan. Mulai dari Pantai Matras, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tikus, Pantai Teluk Uber, Pantai Romodong, sampai Pantai Air Anyir. Ini baru di Kabupaten Bangka, belum kabupaten lain di pulau ini, apalagi ditambah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur di Pulau Belitung. Dan ini baru objek wisata alam, belum objek wisata budaya, bahari, sejarah, kuliner.

Di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, ada objek wisata budaya berupa Perang Ketupat yang dilaksanakan setiap 1 Muharam. Tradisi ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di daratan. Konon, menurut para dukun, makhluk-makhluk halus ini bertabiat baik dan menjadi penjaga desa dari roh-roh jahat. Oleh Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa. Ini di Bangka Barat.

Di Kabupaten Belitung, selain ada upacara adat Maras Taun dan Selamatan Kampong masyarakat asli setempat, ada pula ritual selamatan laut Muang Jong (membuang miniatur perahu ke laut) masyarakat Suku Sawang. Ritual ini dilaksanakan pada bulan ke-7 (Juli) ketika bulan sedang naik (3,5,7,9,11,13,15,17,19, dan 21), sebagai bentuk persembahan kepada penguasa laut yang telah menyelamatkan nenek moyang mereka dari hantaman badai.

Nah, bila objek-objek wisata ini dikembangkan dengan sungguh-sungguh, niscaya akan menarik kunjungan wisata baik dalam maupun luar negeri. Industri pariwisata akan berkembang, lapangan kerja terbuka, usaha kecil dan menengah akan tumbuh, kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Pada gilirannya, sektor pariwisata akan menjadi sektor unggulan yang mampu menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di wilayah ini pasca kejayaan industri timah.

Kurang lebih, inilah dasar pemikiran yang melandasi program Visit Babel Archipelago 2010 Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang telah dicanangkan Gubernur Ir H Eko Maulana Ali, S.IP, M.Sc pada even Sail Indonesia Kabupaten Belitung di Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, pertengahan Oktober 2008 lalu.

Tahap Meracuni
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Visit Babel Archipelago 2010? Apakah tahun 2010 ditargetkan sebagai puncak kunjungan wisata ke propinsi ini, atau puncak kematangan kesiapan wilayah ini untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pasca memudarnya kejayaan industri timah?

Pertanyaan ini, misalnya, mengemuka pada diskusi terbatas Visit Babel Archi 2010 yang digelar Bangka Pos Group di Pangkalpinang pertengahan Juli 2009 lalu, dilontarkan akademisi Universitas Bangka Belitung (UBB), Ibrahim, yang hadir sebagai narasumber bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Babel Yan Megawandi, SH dan praktisi/pemerhati pariwisata Halim Santoso.

“Kalau dipahami sebagai satu masa orang berbondong-bondong berdatangan ke Babel, jadi apa yang akan dikerjakan pada saat itu. Jika dipahami sebagai peralihan dari ekonomi timah ke pariwisata, tentu banyak hal yang harus dikerjakan. Karena sektor pariwisata Babel masih tertinggal dari daerah lain yang lebih dulu eksis,” kata Ibrahim sebagaimana dikutip Bangka Pos edisi Kamis (16/7).

Menjawab pertanyaan itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Babel Yan Megawandi, SH mengatakan, yang dimaksud Visit Babel Archi 2010 bukan tahun 2010 sebagai puncak atau kulminasi kunjungan wisatawan ke Babel, melainkan langkah awal mempercepat kesiapan peralihan sektor unggulan dari industri timah ke pariwisata. ”Jadi, baru sebatas tahap meracuni orang untuk terlibat di pariwisata,” jelasnya.

Dengan demikian, bisa dipahami bila di sana sini masih banyak hal yang harus dibenahi. Sebagai propinsi baru yang lahir di tengah sisa-sisa kejayaan industri timah, persoalan pengembangan pariwisata di Babel bukan hanya persoalan infrastruktur seperti sarana transportasi, akomodasi, dan usaha jasa pariwisata, tapi juga perubahan pola pikir masyarakat industri pertambangan ke pola pikir dan masyarakat industri pariwisata.

Intinya, industri pariwisata mengajak wisatawan berkunjung untuk menyaksikan dan menikmati keindahan alam, keunikan budaya, situs sejarah, dan citarasa kuliner yang dimiliki suatu daerah. Agar wisatawan mau berkunjung, yang diperlukan bukan hanya kemudahan, kenyamanan, dan kehematan biaya transportasi, akomodasi, dan jasa pariwisata lainnya, tapi juga sikap mental melayani sebagai salah satu cermin pola pikir pedagang.

Persoalan terbesar dan paling substansial yang dihadapi pengembangan pariwisata Babel terletak di sini. Turun temurun hidup di tengah industri pertambangan timah dengan segala fasilitas, privalise, dan kemakmuran yang diberikan perusahaan, masyarakat di wilayah ini pada dasarnya tidak disiapkan untuk menjadi pedagang — apalagi pedagang objek wisata dengan segenap ramuannya termasuk resep Sapta Pesona.

Karenanya, perubahan sektor unggulan dari industri timah ke pariwisata, juga berarti perubahan pola pikir masyarakat di wilayah ini dari pola pikir buruh dan tuan ke pola pikir pedagang. Dan itu memerlukan waktu yang panjang, tidak akan selesai satu dua tahun seperti membangun bandara, pelabuhan, atau hotel berbintang.

Sail Indonesia
Sesungguhnya, itulah salah satu dampak positif program Sail Indonesia Pemerintah Kabupaten Belitung yang dilaksanakan sejak 2007 lalu. Melalui program ini, secara bertahap pemerintah daerah ini mendorong perubahan pola pikir buruh dan tuan warisan kejayaan indsutri timah kearah pola pikir pedagang objek wisata — sambil mempercepat pembangunan infrastruktur dan mendorong pertumbuhan usaha jasa pariwisata.

Wakil Bupati Belitung Sahani Saleh, S. Sos, pada rapat persiapan Sail Indonesia 2009 di Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung, Kamis (1/10) lalu mengungkapkan, salah satu keluhan peserta Sail Indonesia di daerah ini tahun 2008 adalah terganggunya kenyamanan mereka oleh “turis lokal” yang hilir mudik di pusat destinasi, Pantai Tanjung Kelayang. Karena itu wabup menginstruksikan agar pada pelaksanaan Sail Indonesia tahun 2009 dibuat pemisahan yang tegas antara area publik dan area privat para yachter.

Pembelajaran yang bisa dipetik dari sini adalah, salah satu faktor penting yang menunjang keberhasilan industri pariwisata adalah kenyamanan para wisatawan. Sepanjang para turis masih dipandang sebagai objek tontonan, atau pemalakan, apalagi mahluk asing yang harus dibasmi karena dianggap mengancam akhlak masyarakat setempat, jangan berharap banyak industri pariwisata akan berkembang. Bahkan, dijadikan objek tontonan pun, mereka risih.

Itulah sebabnya Bupati Belitung Ir H Darmasyah Husein, di sela pelaksanaan Sail Indonesia di daerah ini Oktober 2009 lalu, memanfaatkan momentum sholat Jumat di Masjid Dusun Kampung Baru, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Jumat (23/10), untuk mengajak pemuka agama dan tokoh masyarakat memahami bahwa tujuan Sail bukan untuk “membulekan” masyarakat Kabupaten Belitung, melainkan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah ini melalui pengembangan pariwisata.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Ir H Mulgani, pada rapat yang sama, menekankan perlunya panitia menyiapkan fasilitas laundry untuk mencegah terulangnya peristiwa tahun 2008. Peristiwa yang dimaksudkan sekda adalah kagetnya seorang yachter terhadap biaya cuci pakaian yang dikenakan masyarakat setempat. “Bayangkan, pakaiannya cuma satu plastik jinjingan, mintanya satu juta. Kan sudah diluar batas kewajaran. Keberatanlah dia. Ya sudahlah, dia bilang. Ambil aja pakaiannya,” tutur Pak Sekda.

Pembelajaran yang bisa dipetik dari sini adalah, jangan berharap terlalu banyak industri pariwisata akan maju dan berkembang kalau masyarakat bersikap aji mumpung dan memandang wisatawan sebagai objek pemerasan. Meski mereka berkunjung untuk berlibur dan membelanjakan uang, tidak berarti masyarakat setempat bisa mematok tarif semaunya. Sepanjang menyangkut tarif barang dan jasa, prinsipnya sebersaing mungkin.

BTCD
Selain mendorong secara bertahap perubahan pola pikir buruh dan tuan ke pola pikir pedagang di sektor pariwisata, Sail Indonesia juga berhasil mendorong pertumbuhan usaha akomodasi pariwisata di Kabupaten Belitung.

Seperti diberitakan majalah ini edisi Oktober 2009 lalu, bertepatan dengan pelaksanaan Sail Indonesia 2009, Kamis (22/10) Pemerintah Kabupaten Belitung menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pembangunan kembali kawasan wisata Billiton Tourism Development Consorsium (BT CD) di Tanjung Kelayang dengan tiga mitra konsorsium BTCD, yakni PT Buana Permata, PT Aero Wisata, dan PT Belitung Puri Lestari.

Penanda tanganan berlangsung pada acara ramah tamah di rumah dinas bupati, dihadari Wakil Gubernur Bangka Belitung H Syamsuddin Basari, Wakil Bupati Belitung Sahani Saleh, S.Sos, unsur muspida, Wakil Bupati Endeh Drs H Achmad Mochdar, Asisten II Kota Kupang Dra Ester Muhu, MM, dan Ketua YCBI Raymond T Lesmana. Bupati Belitung Ir H Darmasyah Husein bertindak atas nama dan untuk Pemerintah Kabupaten Belitung, PT Buana Permata diwakili Dudung Purwadi, PT Aerowisata diwakili Dody Virgianto, dan PT Belitung Puri Lestari diwakili Syahrul Syarif.

Pembangunan akan dimulai pada 2010, menggunakan konsep greenly eko tourism atau kawasan wisata yang hijau dan natural. Masing-masing mitra konsorsium akan membangun sendiri-sendiri, sesuai dengan lahan yang mereka miliki dari total lahan seluas 800 hektar. Sebagai tanda dimulainya pembangunan, PT Aerowisata (anak perusahaan Garuda Indonesia), yang memiliki lahan seluas 17,1 hektar, melakukan penanaman pohon di bibir Pantai Tanjung Kelayang.

Karenanya Pemerintah Kabupaten Belitung memandang perlu melanjutkan program ini pada tahun 2010, karena terbukti bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan daerah ini menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pasca kejayaan industri timah.
Keterpaduan
Karena pengembangan pariwisata memerlukan lebih dari sekadar destinasi, transportasi, dan akomodasi, sudah selayaknya Grand Launching Visit Babel Archipelago 2010 di Tanjung Pendam dijadikan starting point untuk melangkah bersama menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan di propinsi ini pasca kejayaan industri timah.

Namanya juga melangkah bersama, tentunya harus ada keterpaduan. Baik pada tingkat gagasan dan konsep serta penyusunan rencana dan tahapan pengembangan, maupun pada tingkat penentuan, sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi program. Dan itu tidak hanya terbatas di jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) seluruh kabupaten dan kota di propinsi ini, tapi juga melibatkan seluruh pihak terkait — mulai dari pelaku usaha jasa pariwisata sampai kalangan pers dan akademisi.

Inilah harapan yang patut disampaikan usai Grand Launching Visit Babel Archipelago 2010. Adanya ketidakakuratan data kunjungan wisatawan asing ke Babel seperti diberitakan babelprov.go.id edisi 5 Mei 2009 lalu, menunjukkan betapa pentingnya membangun keterpaduan pengembangan pariwisata di propinsi ini.?syafei


Dua peristiwa istimewa menutup tahun 2009 di Kabupaten anandjoeddin. Malam harinya, di Pantai Wisata Tanjung Pendam, ratusan kembang api meletus beterbangan mewarnai langit Tanjungpandan dengan cahaya gemerlapan.