18/03/2010 | Oleh: Zakina, S.Sos, M.Si

DRAMATURGI DIBALIK RENCANA KEDATANGAN OBAMA KE INDONESIA

“Jangan Samakan Obama dengan Bush”, demikian tajuk headline Kompas hari ini, Kamis 18 Maret 2010 yang dilansir dari www. Kompas. com. Singkatnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada seluruh masyarakat untuk menghormati rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 23 Maret mendatang. Presiden juga meminta untuk tidak menyamakan Barack Obama dengan mantan Presiden AS sebelumnya, George.W.Bush.

Pernyataan Presiden ini disampaikan oleh Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Azyumardi Azra bersama pengurus ICMI lainnya seusai bertemu Presiden di Kantor Presiden, Kamis (18/3/2010), selama lebih kurang satu setengah-jam.

"Berkaitan dengan kunjungan Obama, Presiden mengimbau, tidak memperlakukan Obama sama dengan Presiden Bush. Obama sangat-sangat mencintai Indonesia, sangat menghargai Indonesia. Oleh karena itu, Presiden menyesalkan demo-demo yang berlebihan menolak Obama," kata AzyumardiAzra.

"Siapa pun tamu yang datang secara baik-baik, harus disambut secara baik-baik. ICMI juga menekankan, menghadapi tamu dan yang lainnya, harus diawali dengan pikiran yang bersih, prasangka yang baik. Apalagi Islam juga menekankan berdialog," tuturnya.

Kutipan berita tersebut diangkat sebagai pamungkas berita-berita seputar rencana kedatangan Obama ke tanah air. Dalam sepekan media cetak dan elektronik marak memberitakan rencana ini. Banyak hal yang dikupas mengenai seluk beluk Obama. Saya ingat betul, Seputar Indonesia, juga sempat mengulas rapi dalam soft newsnya tentang masa kecil Obama di Indonesia beberapa hari yang lalu, termasuk cerita singkat tentang sepak terjang Ibunda Obama di Indonesia ketika melakukan riset antropologi dalam meraih gelar masternya di sejumlah daerah puluhan tahun silam. Tak pelak, untuk memperkuat bukti ini, Seputar Indonesia juga membeberkan kesaksian masyarakat yang pernah berhubungan langsung atau melakukan komunikasi dengan ibunda Obama serta kesaksian dari Maya Soetoro, adik Obama akan kebenaran hal tersebut.

Yang terakhir ini, lebih menarik ketimbang berita-berita pro-kontra seputar rencana kedatangan Obama. Banyak sisi informatif dan edukatif yang ditawarkan media kepada masyarakat. Pertimbangannya, kita sudah jenuh dengan berita-berita demo sekalipun demo pro Obama, seperti yang dilakukan oleh sekitar 35 perwakilan mahasiswa dan masyarakat asal Papua, Rabu 17 Maret yang lalu ketika berunjuk rasa di depan kedutaan Besar Amerika Serikat dan Istana Negara di Jakarta. Mereka bukannya menolak kedatangan Obama, melainkan meminta bantuan kepada Obama untuk mengatasi kondisi buruk yang dialami rakyat Papua.

Luar biasa, begitu besarnya kekuatan yang dimiliki Obama hingga banyak maslah diyakini publik  dapat diatasi melalui kehadiran dirinya. Satu hal yang pasti, dan kiranya patut kita sepakati bersama bahwa sebagai tuan rumah yang baik kita harus memberikan pelayanan terbaik untuk siapapun tamu yang berkunjung ke Indonesia. Kalau perlu, bukan hanya persoalan Papua yang mampu diatas namun semua persoalan haruslah dituntaskan.

Pro-Kontra rencana kedatangan Obama ke Indonesia dalam perspektif komunikasi politik, lazim disebut dengan panggung depan dan belakang perspektif teoritikal Dramaturgi sebagaimana yang digagas oleg Erving Goffmann(1959). Sisi pandang kita terhadap suatu hal dan dalam cara kita menampilkan hal apapun hendaknya selalu dibedakan kedalam dua bagian atau wilayah, yaitu Froni Depan dan Front Belakang. Layaknya seorang aktris/aktor yang akan bermain drama. Di panggung belakang mungkin penampilannnya tidak secantik dan segemerlap ketika beraksi di atas panggung. Berbagai atribut dan hiasan digunakan untuk membuat penampilan sang aktris menjadi menarik. Pakaian yang digunakan ketika berada di panggung hias tentulah sangat berbeda dibandingkan pada saat sang aktris muncul di atas pentas.

Dramaturgi seperti inilah yang diminta SBY sama-sama dimainkan rakyat Indonesia. Setidaknya, kita harus mampu menampilkan panggung depan sandiwara bertajuk ”Kunjungan Obama ke Indonesia”, dengan sebaik-baiknya, dengan manis, anggun, berwibawa layaknya Garuda yang menjadi perlambang bangsa kita. Di panggung belakang, sebelum kunjungan Obama ke Indonesia berbagai permakluman kita buat tentang aksi-aksi demo yang menolak kedatangannnya. Yang penting di panggung depan sepekan lagi kita sepakat melakukan drama terbaik berbalut senyum manis dan ramah, atas nama harkat dan martabat Bangsa Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan. ***(Zakina)