23/03/2010 | Oleh: Rukanda, Komanda Regu Penangkis Serangan Udara

H. Achmad Sanusi Hananjuddin (1967-1972)

Dilahirkan di Mempiu, Kecamatan Membalong pada tanggal  8 Agustus 1910 anak pertama dari Judin dan Ibu Salamah (anak kedua : Hasri Judin, Anak kedua Dina), meninggal dunia  5 Februari 1995 dengan 13 putra-putri dikarenakan sakit.

 

Sikap militer yang berlebihan dari Pak Hananjuddin, Remasin seorang Guru SD pernah ditarik bajunya. Walau demikian pembangunan beliau dinilai cukup berhasil jika melihat sisa dana kas dari Bupati sebelumnya Wahab Azias Rp. 200 ribu yang dapat beliau kelola, hal ini juga didukung dengan kemampuan beliau melobi Gubernur Sumsel pada waktu itu (H.Asnawi Mangkualam). Beliau juga lewat Chiu Sie Pin bekerjasama dengan Ater dan atas Rekomendasi Wedana Pak Panjaitan dicarikan dana melalui pengusaha Barkui (ketika itu masih muda).

 

Dengan perawakan kecil,  Hananjudin memiliki karakter yang tegas, dimeja tugasnya terpampang tulisan “ Bitjara Seperlunja “. Beliau merupakan putra daerah Belitung, yang taat dengan agama. Beliau pernah menjabat penasehat rohani tentara dari Kesatuan Angkata Udara. Dibelakang rumah dinas beliau (sekarang tangsi), beliau  melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan agama anak-anak (mengajar mengaji).

 

Konon beliau memiliki kekuatan magis selain taat beribadah, ketika sedang sholat di Mesjid Malang, beliau ditembak tentara Belanda, baju jas bekas tembus peluru (konon masih disimpan di Belitung) namun beliau masih   tegar. Konon beliau dijaga oleh 2 jin yang pernah menolong ketika terjadi sebuah peristiwa di sebuah Jembatan di daerah Jawa.

 

Beliau pernah memiliki Senjata Trisula, ketika itu datang 10 orang untuk meminta Trisula, secara bergiliran mereka meminta benda tersebut,” Silahkan tapi saya akan menanyakan langsung ke trisulanya “. Satu persatu beliau tanyakan kesediaan Trisula ikut dengan mereka namun keris hanya diam dan akhirnya berdiri tanda tidak setujui.

 

Sifat rendah dan tidak aji mumpung ini juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya, untuk pergi sekolah mereka terbiasa tidak menggunakan fasilitas kedinasan (kendaraan dinas), beberapa anak-anak beliau bersekolah di SD Teladan.

 

Data Keluarga

Menikah dengan Istri pertama dengan   Anak

 

No

Nama

Kelamin

Keterangan

1

 

Khadijah

 

Perempuan

Jakarta

 

Menikah dengan H Musliah asal Malang sebagai Istri kedua dengan 10 Anak

 

No

Nama

Kelamin

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Herman

Imam Hanafi

Sri Wahyuningsih

Nurhaida

Farida Siswati

Indra Cahya

Ida Hoirani

Firman Alamsyah

Dian Sri Hastuti

Fitriani Fauziah

Laki-laki

Laki-Laki

Perempuan

Perempuan

Perempuan

Laki-Laki

Perempuan

Laki-Laki

Perempuan

Perempuan

 

 

Menikah dengan istri ketiga di Bandung dengan 3 orang anak

No

Nama

Kelamin

Keterangan

1

2

3

Ali Hanafiah

-

-

Laki-Laki

Perempuan

Perempuan

 

 

Istri beliau ( pernah juga menerima Bintang Tanda Jasa Kelas I, kuburan di Pemakaman Umum Nunok kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Satria Tumbang Ganti, setelah satu tahun kondisi kain kapan masih bagus. Dalam pandangan Islam hal ini mengindikasikan latar belakang almarhum ikhlas berjuang yang dapat dikategorikan sebagai seorang Syuhada

                       

Jenjang Karir

·         Pangkat Letnan Kolonel Purnawiranan-TNI AU (Nomor Pokok 462268)

·         Pendidikan Umum AC (Ambachtscursus) Manggar atau pendidikan mesin dan pendidikan Militer DIKPASGAT

·         Pada masa-masa awal, beliau sempat tinggal di Batam, sebelum akhirnya bekerja di pembuatan Peluru Cilandak Jakarta

·         Komandan Kopasgad di Palembang dengan pangkat Mayor tahun 1967

·         DanLanud di Malang pangkat Letkol tahun 1950

·         Pernah  menerbangkan pesawat JakartaMalang yang menggunakan mesin mobil Willis sebagai mesin pendukung pesawat dan sekaligus menjadi penerbang pertama yang dimiliki Indonesia ketika itu

 

Masa-masa Perjuangan

Beliau merupakan salah satu dari 7 perintis Angkatan Udara Republik Indonesia sejajar tokoh Angkatan Udara lain seperti Abdurahman Saleh, Halim Perdana Kusuma, Surayadharma). Catatan perjuangan beliau (biografinya) masih tersimpan di Museum Satya Mandala Jl.Gatot Subroto Jakarta sampai saat ini.

 

Lapangan Udara dan Operasi Udara

Buluh Tumbang merupakan lapangan udara komersil Belitung yang mengabadikan nama beliau menjadi Pelabuhan Udara H.AS Hananjudin. Pelabuhan udara memiliki keterkaitan sejarah pada masa pemerintah beliau, Pada masa Operasi Dwikora dengan panjang landasan pacu ± 1800 meter ini pernah dijadikan basis Komando operasi Dwikora sebagai markas :

-          Skuadron I ( Bomber)

-          Skuadron III (Mustang –Yagun)

-          Skuadron V (Amphibia –Catalina)

Pelabuhan udara ini juga didarati C47-Dakota, Semua armada operasi Dwikora kemudian dialihkan keluar Belitung setelah peristiwa Gerakan Oktober (Gestok).