25/03/2010 | Oleh: Rahini Ridwan

MENSYUKURI KEBURUKAN

Pasti kedengaran ganjil, “mensyukuri keburukan”. Kebanyakan manusia hanya mensyukuri kebaikan, dan sedapat-mungkin menolak keburukan. Buruk dan baik dipandang sebagai dikhotomi hitam-putih. Dengan demikian, moralitas kebaikan dan keburukan terdefinisikan dengan amat sederhana. Sesuatu dianggap baik bila itu menyenangkan dan sesuai harapan, sebaliknya dianggap buruk apabila mengecewakan dan tidak diharapkan.

Tapi dalam kenyataan kehidupan, ada kalanya baik dan buruk yang kita dapatkan tidak seirama dengan harapan. Mengutip penyair besar Taufik Ismail, “ Tidak setiap yang kita angankan bisa terjadi, dan tidak setiap yang terjadi pernah kita rancangkan”. Walau rumus alamiah mengatakan “menanam padi berbuah padi”, tapi ketika kita berharap panen segudang ternyata hanya segantang, maka itu sebuah keburukan.

Akal sehat mengatakan, masih banyak rumus-rumus lain yang harus diperhatikan sebagai kemestian untuk menggapai harapan. Tetapi selain akal sehat, kita juga menyakini ada yang disebut keberuntungan.
                                                      
***

Dalam dikhotomi baik-buruk, yang juga inheren dengan untung-rugi, kita punya seloroh: “orang Melayu selalu untung, tak pernah rugi”. Kalau dalam suatu kecelakaan kaki kita patah sebelah, maka kita masih berkata: “untung tidak patah dua-duanya”. Bahkan kalaupun patah dua-duanya, kita masih bilang: “untung tangan dan leher tidak ikut patah juga”. Dalam kasus yang lain, “untung cuma motornya yang hancur, orangnya tak cedera apa-apa”. Pokoknya seburuk apapun, kita masih bilang “untung” selagi masih ada yang tersisa.

Barangkali ini cara menyikapi keburukan dengan kelegawaan. Sebuah sikap pencerahan. Kita sadar walaupun ada rumus menepis keburukan dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, toh tetap saja hilaf dan lalai selalu mengintai.

Selain itu, dalam banyak hal, baik dan buruk tidak selalu gampang didefinisikan sesederhana dikhotomi hitam-putih saja. Diantara hitam dan putih, bila diurai dengan cermat dan seksama, ada seribu pecahan warna yang sulit dibedakan satu dengan lainnya.

Karena itu, seperti dikatakan  Profesor Sidney Hook (1976, Rekaman Diskusi), problem moral dalam konteks baik-buruk bukanlah pada ikhwal memilih “ini baik” dan “itu buruk”. Memilih “ini baik” dan “itu buruk” bukanlah masalah, karena beda keduanya sudah sangat jelas.

Problem yang sesungguhnya adalah, ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang “buruk”, “sedikit buruk”, dan atau “sedikit buruk lainnya”, yang samar-samar sulit dibedakan, sebagaimana kita dihadapkan pada uraian warna-warna kelabu antara hitam dan putih itu tadi.

***

Pada dimensinya yang lain, ada kalanya juga moralitas baik-buruk bukan merupakan sesuatu yang tunggal. Nilai baik-buruk tidak gampang hanya diukur dengan jenis perbuatan dan simbol kategori perlakuan.

Perbuatan “memberi” itu baik menurut kategori perlakuan, tetapi “apa” yang kita berikan dan kepada “siapa” itu kita berikan, bisa bernilai baik atau buruk tergantung ketepatan sasaran.

“Marah” itu buruk menurut kategori perilaku, tetapi “apa” yang kita marahkan, kepada “siapa” marah itu kita tujukan, dan “bagaimana” marah itu kita ekspresikan, bisa bernilai baik atau buruk tergantung ketepatan alasan.

Bahkan ekspresi “rasa sayang” --- yang notabene bercitra luhur dan sangat mulia --- bisa bernilai buruk bila itu tidak tepat dan berakibat kemanjaan, kecengengan dan ketergantungan. Maka orang Minang mengekspresikan rasa sayang dengan falsafah “anak disayang dibuang-buang”. Begitu baligh usia putranya, tidak lagi mendapat tempat di rumah untuk bermanja-manja. Tempat mereka di Surau atau Langgar, untuk proses pendewasaan dan kemandirian. Setelah itu merantau dan tidak pulang sebelum meraih keberhasilan.
            
***
    
Akan halnya berbagai keburukan yang menimpa kita, ada kalanya ia memberi penyadaran sesuai konteksnya. Sebuah penyakit menyadarkan kita betapa berharganya nilai kesehatan. Sebuah kecelakaan menyadarkan kita akan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian. Sebuah kerugian menyadarkan kita betapa perlunya kecermatan dan kematangan dalam perhitungan.

Maka, suatu keburukan yang dapat menggugah kesadaran seseorang untuk menuju kepada kebaikan sehingga selanjutnya orang itu menjadi baik, haruslah keburukan itu disyukuri sebagai kebaikan. ###