25/03/2010 | Oleh: Rahini Ridwan

KATAKAN SEJUJURNYA


    “Katakan Sejujurnya”. Itu judul lagu pop tempo-dulu yang dinyanyikan oleh entah siapa. Saya cuma pinjam judulnya saja untuk mengungkap ikhwal jujur dan kejujuran, yang dalam fenomena keseharian kita pantas direnung-renungi.

    Mari kita simak berbagai pembicaraan atau dialog di sekitar kita. Seringkali seseorang mengungkapkan sesuatu dengan terlebih dahulu memberikan penekanan: “Kalau saya boleh jujur, saya harus katakan bahwa, bla bla bla…”. Atau: “Dengan jujur saya katakan, bla bla bla…”.

     Kejujuran yang begitu luhur dan mulia, tetapi seringkali disampaikan dengan berat-hati, seolah untuk mengungkapkannya seseorang memerlukan permisi dan permakluman. Kontradiktif dengan --   bahwa --- dalam banyak hal, kejujuran justru sangat didamba. 
    
    Ada banyak pameo, ungkapan, slogan dan seloroh tentang kejujuran. Pameo dagang berkata: “Kalau jujur, hancur”. Tapi ungkapan bijak berbunyi: “Siapa jujur, mujur”. Dan sebuah slogan bercuap-cuap: “Kita harus tempatkan kejujuran diatas segalanya”. Selain itu, yang pasti selalu baku adalah dalam setiap naskah sumpah --- baik sumpah pejabat negara maupun sumpah kesaksian perkara --- kata “jujur” selalu dimasukkan sebagai point utama.

    Maka, ”mahluk” apakah sesungguhnya kejujuran itu?

                                                    ***

    Menurut kamus, jujur berarti: lurus hati, tidak curang. Itu sifat yang sangat terpuji. Mengungkapkan sesuatu dengan jujur berarti berkata lurus apa-adanya dan tidak mengada-ada.

    Kenapa sikap luhur dan mulia seperti itu harus dibumbui dengan basa-basi permisi dan permakluman? Itu semata-mata soal etika. Karena yang akan diungkap dengan jujur itu belum tentu hal yang menyenangkan belaka. Ada kalanya kejujuran memaksa kita untuk mengungkap hal-hal buruk. Maka sebagian orang merasa, kejujuran kadang terasa pahit.

    Karena itu orang bijak selalu berhati-hati menyampaikan kejujuran dalam kritik. Etika-kritik menghendaki kejujuran dijunjung tinggi, tetapi pengungkapannya diperhalus biar tidak vulgar. Seumpama membungkus kepahitan dengan kembang-gula. Atau menyampaikan kemarahan dengan senyuman.

     Namun soalnya, terkadang banyak manusia yang kurang pandai memahami  bahasa  bijak-bestari. Pengungkapan   yang  santun  sering dianggap  kurang  lugas  dan  kurang tegas.  Tingkat  kepekaan  pada  tiap
orang tidak selalu sama. Maka pada level kepekaan yang kedodoran, kritik halus dan santun tidak dirasa sebagai kritik.

    Mestinya, sepahit apapun, kritik yang jujur haruslah disampaikan apa-adanya, tanpa bumbu dan gincu. Sifat luhur dan mulia dari sebuah kejujuran itu sendiri sudah melampaui kemestian ber-etika dan basa-basi. Kepahitan yang jujur lebih mulia daripada kembang-gula yang menipu. Kemarahan yang jujur lebih mulia ketimbang senyuman yang palsu.

                       ***

    Dalam pemaknaan sehari-hari, kejujuran sering dipersandingkan secara paralel --- atau kadang dirasa inheren --- dengan keterbukaan, keterusterangan, keadilan, dan sifat-sifat lain sesuai konteksnya. Ketika seseorang dinilai tidak terbuka, tidak terus terang, atau tidak adil, maka otomatis kejujurannya diragukan.

    Pemaknaan seperti itu tidak seluruhnya salah, karena jamaknya ketidakjujuran memang selalu disembunyikan. Setiap yang tersembunyi dianggap misteri, disikapi seperti teka-teki.

     Namun dalam beberapa hal, pemaknaan seperti itu bisa juga bias. Bila seseorang tidak terbuka tentang “kiat-sukses” perusahaannya, belum tentu bisa dinilai ia menyembunyikan ketidakjujuran. Ada banyak pertimbangan rasional dan etis yang mendasari sikap seseorang untuk tidak terus-terang. Seumpama saya menyembunyikan Kode Brankas atau Kode Pin ATM, itu tindak kemestian standar pengamanan, bukan perkara ketidakjujuran. 
    
     Karena itu ada yang disebut “rahasia perusahaan”, “rahasia jabatan”, “rahasia negara” dan --- hampir pada tiap orang --- ada “rahasia rumahtangga”, juga “rahasia pribadi”. Bukanlah suatu kejujuran bila seorang isteri punya hobby membeberkan berapa penghasilan suaminya kepada para tetangga. Bahkan pertanyaan “berapa usia anda” kepada seorang wanita, dalam strata pergaulan tertentu dianggap pertanyaan yang melanggar etika.
    
                        ***
    
      Tak kalah penting disimak, ikhwal kejujuran terhadap diri sendiri. Takut menerima kenyataan, itu pertanda ketidakjujuran. Fenomena ini terjadi di ranah mana saja dalam komunitas manusia.
    
     Di sekolah-sekolah, perilaku nyontek sudah terjadi turun-temurun sejak dahulu hingga hari-gene. Klimaksnya   adalah,  ketika   terungkapnya  beberapa  kasus  kecurangan  yang  dikoordinasi  oleh para
guru, dalam penyelenggaraan Ujian Nasional di beberapa tempat pada waktu yang lalu. 

     Kisahnya bagai gayung-bersambut. Para siswa takut menerima kenyataan tidak lulus ujian, para guru juga takut stratifikasi sekolahnya jadi kedodoran. Maka “bocoran soal” dan “kunci jawaban” disebar diam-diam oleh gurunya sendiri kepada para siswa.
    
     Bayangkan, membangun kredibilitas sekolah dengan mengoordinasi ketidakjujuran. Pantas direnungi, bagaimana jadinya kalau lembaga pendidikan tidak lagi mengajarkan keluhuran. Maka tidak heran, tawuran antar sekolah bisa terjadi kapan saja, dan geng para siswa merebak dimana-mana.
    
     Di ranah kehidupan sehari-hari, betapa banyak orang yang enggan menjadi dirinya sendiri, lalu bermimpi menjadi orang lain. Aktualitanya beraneka-rupa. Yang miskin berlagak kaya, dengan aneka cara dan tingkahnya. Yang bodoh berlagak pintar, juga dengan aneka ragam coraknya.
    
     Selain itu, betapa banyak orang yang rela melebur kepribadiannya sendiri menjadi kepribadian massal dengan karakter ikut-ikutan. Gampang terprovokasi oleh zaman dan lingkungan. “Kalau orang lain begitu, kenapa saya tidak?”. Lalu merebaklah falsafah sesat: “Biar salah, kalau beramai-ramai tak mengapa”. Di tengah belantara ketidakjujuran, seumpama dalam lingkungan-kerja yang korup, seseorang yang tampil jujur bisa digunjing sebagai sok, melawan arus, lalu disingkirkan dengan berbagai cara.
    
     Begitulah, kejujuran. Pada satu sisi ia didamba, pada sisi lain ia ditakuti. Pada sisi yang menyangkut hak, ia selalu dipertanyakan. Pada sisi kewajiban, ia sering dilenyapkan.
     Mestinya, di segala sisi, kejujuran haruslah dijunjung tinggi. Katakanlah sejujurnya, lakukanlah sejujurnya, maka imbalannya adalah sorga. Itu kata Tuhan, bukan kata saya. ###

                     --------------