22/12/2008 | Oleh:

Adat Istiadat Urang Belitong

Sebelum negeri ini menjadi negara yang berdaulat seperti sekarang ini, adat istiadat dijadikan satu-satunya sumber hukum bagi mereka yang hidup di Pulau Belitong, Begitupun sebelum Islam masuk ke Pulau Belitong adat istiadat sudah berkembang. Ketika Islam menjadi keyakinan hidup urang Belitong, adat istiadat yang ditinggalkan oleh dari nenek moyang masih saja diterapkan. Karena itu banyak adat yang bernuansa Islam begitupun sebaliknya. Islam identik dengan Urang Melayu, menjadi melayu berarti menjadi seorang muslim.

Datangnya bangsa asing yang bermotif usahawan di bidang pertambangan mempengaruhi dinamika sosial ekonomi masyarakat. Dinamika itu pun turut mewarnai hukum adat. Tidak heran kalau ada adat istiadat urang Belitong memiliki kemiripan dengan adat-adat lain di Indonesia. Dalam adat Belitong masyarakat meyakini bagi mereka yang melanggar adat akan terkena sanksi, petaka seperti sakit-penyakit, bencana alam, cemoohan masyarakat atau denda dari Lurah (sekarang Kepala Desa)

PENGGAWE ADAT
Pada umumnya masyarakat desa memiliki penggawe adat atau perangkat adat yang terdiri dari Dukun Kampong, Lurah (Kades), Pengulu,Lebai dan Pengguling (Bidan Desa. Kelima orang inilah keselamatan atau ketentraman warga dan wilayah diserahkan dan masing-masing dari mereka memiliki kewenangan tersendiri. Namun dalam memutuskan suatu perkara kelima orang ini lebih dulu bermufakat .

Begitu hormatnya masyarakat kepada penggawe adat, hingga bila sekelompok pemburu rusa mendapatkan hasil buruannya, penggawe adat selalu diprioritaskan lebih dulu bagiannya, baru kemudian kepala rusa diberikan untuk pemilik jaring, sedangkan daging sepanjang tulang belakang (isik panjang) diberikan kepada mereka yang menemukan atau menunjukkan lokasi rusa (tukang tulat). Sementara pinggul rusa (tungking) diberikan kepada mereka yang mengejar rusa . Sisanya baru dibagikan kepad semua peserta yang ikut dalam perburuan. Adat berburu rusa ini adalah contoh sebuah kesepakatan dan menunjukkan penghormatan kepada penggawe adat yang berlaku sampai saat ini.

Peranan Dukun Kampong
Setiap kampong (desa) harus memiliki dukun kampong, yakni dukun kampong dan wakilnya yang biasa disebut dukun mudak. Dukun kampong diangkat berdasarkan keturunan. Fungsi utamanya sebagai tabib desa. Kepada dukun kamponglah masyarakat bertanya tentang hal ihwal sakit-penyakit. Fungsi kedua adalah menjaga kelestarian hutan. Hutan, air, gunung adalah sumber kehidupan manusia dan diyakini sebagai tempat bersemayam makhluk-mahkluk halus. Karena itu pemanfaatan hutan harus mempertimbangkan keseimbangan hubungan antara makhluk. Disinilah dukun kampong berperan. Jangan coba-coba menggarap areal hutan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Hutan lindung ini dikenal masyarakat adat dengan sebutan Utan Pemalik atau Tali Utan . Diluar hutan terlarang masyarakat boleh memanfaatkannya, tetapi tetap harus memenuhi persyaratan tertentu. Dukun harus mengetahui berapa orang yang terliba, berapa luas serta dimana lokasi hutan yang akan digarap.
Tradisi menggarap hutan diawali dengan menghadap dukun kampong. Bersama dukung kampong, penggarap menunjukkan titik awal serta luasan hutan yang akan digarap. Dukun akan meletakkan tempurung kelapa yang diberi mantra dan diletakkan pada sebatang kayu berbelah tiga. Jika dalam tiga hari terdapat tanda-tandan seperti jatuhnya daun hijau dan benda lain yang bukan masuk kedalam tempurung dengan sendirinya, berarti hutan tersebut dilarang untuk digarap. Dianggap ada seniang (makhluk halus penunggu hutan). Tetapi kalau tidak ada tanda-tanda yang dimaksud, berarti hutan boleh digarap. Pembagian kerja menggarap hutan dimulai dari umur termuda, mulai dari arah kanan. Sekarang penggarapan hutan tidak lagi mengindahkan adat istidat karena banyaknya produk hukum positif namun terkadang dijalankan dari sisi negatif.

Peranan Lurah atau Kades
Urang Belitong amat patuh dengan pemimpin termasuk dengan Lurah. Lurah adalah wakil pemerintah yang menjadi Ulul Amri. Masyarakat bisa patuh karena seorang lurah dianggap masyarakat memiliki kepribadian yang jujur dan membela warganya.

Peranan Pengulu
Pengulu difungsikan sebagai ulama desa. Urusan perkawinan adalah urusan pengulu termasuk segala macam ritual yang menyangkut keagamaan. Pengulu diangkat berdasarkan musyawarah penggawe adat dan orang-orang yang dituakan oleh masyarakat setempat.

Peranan Lebai
Lebai mengurusi orang yang baru saja meninggal dunia hingga jenazah dimakamkan ke liang kubur. Diluar itu, Lebai selalu diberi tugas membacakan doa pada setiap hajatan atau yang menyangkut kegiatan keagamaan seperti sedekah, bilang ari (hari-hari setelah seseorang meninggal dunia) untuk membacakan doa bagi sang arwah. Peran lebai semakin terasa pada musim rua (bulan Sya’ban) menjelang Ramadhan.

Peranan Pengguling
Pada dasarnya pengguling berperan membantu persalinan. Mulai janin berumur tiga bulan dalam kandungan sampai lahir, ibu hamil memeriksakan kehamilannya kepada pengguling. Pengguling akan didengarkan pendapatnya soal makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, terutama bagi wanita yang hamil pertama. Urang Belitong menyebut dengan istilah bunting daring.

MARAS TAUN
Ritual ini dilakukan setiap tahun dalam masyarakat yang mayoritas warganya bermatapencaharian sebagai petani. Karena petani kebanyakan bermukin di tengah daratan pulau Belitung, masyarakat sering menggunakan istilah urang darat bagi mereka yang bermatapencaharian sebagai petani ini. Dalam masyarakat perkotaan atau pesisir mereka melakukan selamatan laut. Kedua ritual ini sebenarnya memiliki kesamaan yakni bagaimana usaha yang dilakukan mendatangkan keselamatan sehingga hasil yang didapat sebanding dengan jerih payah.
Kedua ritual ini selalu dipimpin oleh dukun kampong sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil usaha bagi petani dan nelayan atau keamanan dan sakit penyakit bagi orang kota.

Namun kini baik urang darat maupun mereka yang tinggal dipesisir pun merayakan ritual Maras Taun. Tak jarang maras taun orang pesisir lebih meriah dibandingkan mereka yang sehari-harinya berprofesi sebagai penggarap ladang. Setidaknya ini menunjukkan budaya maras taun adalah budaya masyarakat Belitong yang tinggal di perkotaan, wilayah pertanian maupun wilayah pesisir

Pelaksanaan maras taun dilaksanakan setelah padi ladang usai dipanen. Kegiatan ini dipusatkan dirumah Dukun Kampong. Setiap petani membawa masing-masing lepat dari ketan atau beras baru (dipanen). Biasanya ritual ini ditutup dengan ceramah agama dan pembacaan doa oleh pemuka agama setempat.

ADAT PERKAWINAN
Seiring dengan perkembangan zaman, meluasnya komunikasi, maka tata cara perkawinan beragam. Menurut apa yang dituturkan oleh orang-orang yang berumur diatas 80-an tahun. Perkawinan terlaksana karena adanya paham (kesepakatan). Karena itulah saat merencanakan perkawinan diawali dengan mutuskan paham .

Pihak laki-laki akan mendatangi pihak calon perempuan dengan diwakilkan untuk menyampaikan hajat baik ini. Maksud dari si empunya hajat untuk diwakilkan adalah untuk menjaga hal-hal buruk yang menganggu tali silaturami kedua keluarga calon mempelai.
Tetapi jika diluar kebiasaan, dimana pihak perempuan melamar pihak laki-laki bisa menjadi pertanda telah terjadi perkawinan yang dipaksakan atau masih ada hubungan keluarga sehingga tidak seperti layaknya aturan adat dalam hal minang-meminang.

Saat itu pihak laki-laki membawa barang sebaga tanda ikatan pertunangan dan kedatangan pertama tentulah diterima dengan baik. Pada pertemuan kedua dibicarakan kapan perkawinan bisa dilangsungkan. Dan pertemuan ketiga dirundingkan tanggal dan hari pelaksanaan. Ini disebut mutuskan paham. Selanjutnya akad nikah dilangsungkan di rumah mempelai perempuan.

Perayaan perkawinan ini dipimpin oleh pengulu gawai yang ditentukan ketika berlangsung pembentukan panitia gawai. Pada hari itu, pengantin laki-laki dijemput utusan dari pihak mempelai perempuan yang diarak dengan kesenian hadra. Dalam adat perkawainan urang Belitung, pengantin laki-laki harus melewati tiga pintu (lawang).

DI lawang pertama, tukang tanak nasi menyambut wakil mempelai laki-laki dengan bersilat pantun. Mempelai laki-laki harus melewati tantangan di lawang pertama tetapi rombongan pengiringnya dipersilahkan masuk lebih dulu. Ini adalah simbol sebagai laki-laki harus melewati tantangan perkawinan untuk menafkahkan keluarga.
Di lawang kedua mempelai laki-laki dihadang oleh pengulu gawai. Simbol ini dimaksud agar pengantin laki-laki nantinya dapat melewati bahtera rumah dan memimpin biduk perkawinan. Dan di lawang ketiga, mempelai laki-laki di hadang oleh mak inang (juru rias) . Hal ini merupakan simbol bahwa mempelai laki-laki selain dapat menafkahkan dan memimpin keluarga juga harus mampu menghiasi rumah tangga dengan nuansa kegembiraan dan keindahan.

Setiap melewati lawang-lawang selalu disemarakkan dengan budaya berbalas pantun, memberi simbol tawar menawar, begitulah perkawinan hendaknya mampu mengatasi aral melintang mau menjawab tantangan.

Sebelum rombongan laki-laki meninggalkan rumah mempelai perempuan orang tua kedua belah pihak berseakat menentukan tanggal perayaan yang akan dilangsungkan di rumah pihak mempelai laki-laki yang disebut dengan istilah mulangek runut atau penganten beranjuk. Sekaligus ingin menunjukkan tanda suka cita, orang tua mempelai sedang berbahagia mendapatkan menantu. Oleh kedua orang tua laki-laki diperkenalkan menantu barunya ke keluarga terdekat. Ini dimaksudkan agar jalinan kekeluargaan anggota keluarga yang baru dapat lebih akrab. Menantupun tahu mana yang harus dipanggil Pak Long (tertua), Pak Andak, Pak Cik, Pak Busu dan sebagainya. Begitulah setiap malam selepas waktu sholat Isya acara kenal-mengenal dilakukan.

Adat hubungan keluarga
Pada dasarnya hubungan orangtua dengan anak dengan ajaran Islam. Namun dalam urusan panggil memanggil dalam adat Melayu Belitung tabu untuk dilanggar. Istri atau suami masing-masing tidak boleh memanggil nama, begitupun terhadap saudara istri/suami yang lebih tua walaupun sebelumnya adalah teman seumuran atau lebih mudah dan terbiasa dipanggil nama. Lewat didepan orang tua harus membungkukkan badan dengan sebelah tangan diulurkan kebawah.

MASALAH ADAT DAN LEMBAGANYA
Sebagaimana maksud dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2007 maupun peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 15 Tahun 2000, Lembaga Adat dimintakan untuk dapat membina, melestarikan adat yang tumbuh dalam masyarakat, maka timbul isu pokok atau permasalahan :
1. Adat yang mana yang perlu dilestarikan, atau yang harus dihilangkan ?
2. Apa kriteria adat yang perlu dikembangkan ?

Umumnya adat penuh dengan muatan nilai kearifan lokal yang memotivasi kehidupan bermasyarakat. Itulah pandangan yang perlu kita bangun sekarang ini. Adat berasal dari budi daya manusia yang memberikan penilaian yang baik terhadap suatu perbuatan, sikap dan pemikiran yang patut ditiru. Penilaian baik itu lahir dengan sendirinya sehingga menjadi adat. Karena banyak orang yang melakukannya, dari perbuatan sehari-hari hingga menjadi tradisi atau adat.
Kemudian seiring dengan perkembangan budaya manusia baik jalan pikiran atau masuknya ajaran agama. Lambat laun penilaian terhadap apa yang dulu dianggap biasa atau kebisaan menjadi berubah, menjadi kurang baik padahal itu sudah membuahkan adat. Adat lebih dulu berkembang dalam kehidupan masarakat dibandingkan dengan perkembangan pola pikir dan agama.

Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diingkari bahwa banyak anggota masyarakat yang lebih patuh terhadap adat dibandingkan dengan agama yang dianutnya. Seorang ibu mengingatkan anak menantunya “bulan Ramadhan tinggal tiga hari kenapa kalian belum sedekah ruah (ruahan).”. Sayang…..Ibu ini tidak mengingatkan, sudah lewat jam sebelas berarti waktu shalat Jum’at sudah dekat . Bila suatu waktu anda diundang Ketua Panitia Upacara Buang Jong sebagai Ketua Lembaga Adat lalu dengan segala hormat diminta memutuskan tali jong yang didalamnya berisi sesajen sebagai persembahan bagi hantu laut, sedangkan anda adalah seorang muslim. Apakah kata hati kecil anda terhadap penghormatan ini.

Memang, banyak adat yang bernuansa Islam atau Islam yang bernuansakan adat, tetapi tidak ada Sunnah Rasulullah yang membenarkannya.

Untuk menjawab kedua permasalahan diatas maka pertemuan yang bertema “ Revitalisasi Lembaga Adat Bangka Belitung di Pangkalpinang, Jum’at 19 Desember 2008 menjadi strategis agar kita memiliki persamaan persepsi dalam menindaklanjuti apa yang menjadi kekayaan budaya kita sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2007.

Oleh H.Sjachroelsiman
Ketua Lembaga Adat Belitung