14/06/2010 | Oleh: Arri Wahyudi Edimar, S.IP, M.Si

Buta

Jakarta, 17.05 WIB sewaktu menumpang mobil seorang kawan, dalam perjalanan menuju Kelapa Gading-Jakarta Utara, diperempatan lampu merah Pulo Mas dan ketika lampu sedang merah mendekatlah seorang tuna netra sembari menjajakan air mineral dalam kemasan botol. Melangkah secara perlahan dengan meraba-raba mobil yang tengah berhenti ia menawarkan dagangannya kepada para pengendara yang dipaksa secara sadar untuk berhenti oleh lampu merah.

Sedikit tertawa dan sinis saya menyaksikan pemandangan itu, hati saya berkata bahwa ini adalah salah satu model kapitalisasi kekurangan atau eksploitasi kesedihan yang memang kerap menjadi bahan yang cukup efektif untuk menggugah rasa iba dari para penderma, dan dengan cara tersebut maka peluang “orang buta” untuk mendapatkan uang baik dari sisi kualitas dan kuantitas tentu akan semakin besar dibandingkan jika ia hanya meminta sedekah sebagaimana yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kekurangan fisik sepertinya. Inilah salah satu bentuk komunikasi, sebagaimana arti komunikasi menurut Lasswell “who says what, to whom, in what channel and with what effect” bahwa orang cacat melakukan komunikasi kepada orang ber-uang melalui media kecacatannya dengan efek mengharapkan pemberian.

Akhirnya sampailah ia ke mobil yang saya tumpangi, dan seperti yang telah saya duga tergeraklah hati teman saya untuk membeli barang dagangan orang buta tadi, entah didorong oleh kebutuhan terhadap air dikarenakan kehausan atau kepiawaian metode komunikasi penjual yang berefek pada rasa iba teman saya tadi. Berikut dialog singkat diantara mereka :
    
     Teman        : Minta air mineralnya 1 botol Pak, Berapa?
     Penjual    : 3.000 rupiah Pak.
     Teman        : Ini uang 5.000 rupiah, kembaliannya ambil saja.
     Penjual    : Jangan Pak, ini kembaliannya 2000 kan Pak?
     Teman        : Tidak apa-apa, ambil saja.
     Penjual    : Jangan Pak, Berat saya, Berat.

Akhirnya teman saya-pun mengambil uang 2000 rupiah tadi, dan penjual air mineral yang buta itu-pun berlalu seiring dengan lampu lalu lintas yang telah berubah menjadi hijau. Lama saya terdiam, terkejut atas fenomena yang baru saya alami, sembari menyumpahi dan mengutuk hati saya yang begitu jahat telah berprasangka buruk kepada si Bapak Buta Penjual Air Mineral. Saya menyesalinya dan semoga Tuhan mengampuni saya karenanya.

Baris kalimat yang diucapkan si Bapak seakan selalu terngiang di telinga saya, terutama pada bagian “berat saya berat”. Saya seakan menemukan bentuk lain yang patut dibanggakan dari orang-orang yang selama ini dianggap sebagai beban bahkan tidak mendapatkan perhatian yang layak sebagaimana seharusnya, saya mengaguminya, ya saya mengaguminya.

Secara tidak sadar perlahan saya melakukan dialog imajinatif, mendefinisikan diri dan jiwanya serta apa yang menjadi pegangan prinsip dalam hidupnya. Ia tidak mau menjadi beban bagi lingkungannya hanya karena ketidaklengkapan indera penglihatannya, selama masih ada kaki untuk dia melangkah dan tangan untuk memikul barang dagangannya maka akan dimamfaatkan untuk mencari nafkah, bahkan mungkin jika tangan atau kaki-pun tidak dimilikinya maka pastilah ada metode lain yang dilakukannya untuk mengais rezeki demi menjaga harga diri dan mensyukuri apapun yang telah diberikan Tuhan olehnya.

Lalu, terasa berat baginya menerima pemberian orang lain dikarenakan hanya ia buta atau cacat. Ia hanya mau mengambil apa yang menjadi haknya setelah menjual satu botol air mineral, diluar itu bukan hak-nya dan mengambil yang bukan hak-nya adalah beban berat yang ditanggung oleh jiwanya. Luar biasa, sebagaimana cerita kehidupan Helen Keller dalam buku “story of my life”, yang menceritakan perjuangannya sebagai gadis yang buta, tuli dan bisu namun melalui perjuangan yang gigih akhirnya ia dapat melampaui segenap hal yang mungkin tidak akan pernah dicapai oleh orang yang memiliki kesempurnaan fisik, hingga kisah kehidupannya mengguncang dunia. Salah satu catatannya
“Walaupun dunia sarat dengan derita, ia pun sarat dengan perjuangan untuk melampaui derita tersebut, segala hal memiliki keajaiban, termasuk kegelapan dan kesunyian, dan aku belajar bahwa bagaimanapun keadaanku pasti ada kepuasan didalamnya (Helen Keller).”

Paling tidak ada dua hal yang bisa dijadikan pelajaran dari bapak buta penjual air mineral ini. Pertama, pemahaman akan pentingnya mengambil apa yang memang sudah menjadi hak untuk dapat dimiliki dan dimamfaatkannya. Kedua, harga diri dan prinsip hidup yang begitu tegas dipegangnya, buta dan cacat bukanlah menjadi alasan untuk ia memaksakan hukum alam kebertanggungjawaban orang-orang yang sempurna secara fisik dan berkecukupan dalam hal materi untuk menafkahinya, meskipun hal tersebut wajar dan halal menurut agama namun tidak baginya. Selama indera dan organ tubuhnya yang lain masih dapat menunjangnya untuk bekerja maka ia akan melakukan berbagai hal yang halal untuk meraih rezeki dari Tuhan diatas muka bumi ini.

Tidak jauh dari si Bapak buta hidup, masih dinegara yang sama kesedihan kerap menjadi modal untuk merengkuh sebanyak-banyaknya keuntungan atau menjadi metode untuk dapat menjawab berbagai kesulitan, dan gaya ini tidak hanya milik orang cacat dan miskin, bahkan orang yang sehat secara fisik, berkecukupan secara materi juga kerap memainkan emosi atau rasa iba dari khalayak untuk mewujudkan misi-misinya.

Mungkin benar bahwa kita adalah bangsa melayu dan menyenangi yang sendu-sendu. Tengok saja ke dalam kotak televisi, reality show yang khusus mencari orang-orang miskin sebagai tontonan dan hiburan. Alih-alih untuk menolong sesama yang kurang beruntung justru kita menempatkan kesedihan dan kekurangan sebagai tontonan yang menghibur. Ketika menyaksikan orang miskin diberikan uang yang selama ini tak mampu mereka dapatkan, jangan untuk mampu mendapatkan, bahkan berani memikirkanpun saya pikir mereka tidak akan yakin, namun dalam kejelian tim kreatifitas televisi kondisi ini adalah tayangan tersendiri yang diyakini akan mampu meraih banyak simpati dan berujung pada kontrak-kontrak ruang iklan bagi stasiun televisi yang bersangkutan.

Kita tentu saja gembira, bahwa acara tersebut memberikan mamfaat secara langsung kepada masyarakat yang memang membutuhkan uluran tangan untuk mengurangi sedikit beban dalam hidup mereka, maka ketika mereka menerima sejumlah uang yang cukup besar untuk dibelanjakan dalam kurun waktu tertentu, diperbaiki rumahnya, dilunasi hutangnya atau lantaran menolong seseorang dengan ikhlas lalu diberi imbalan uang, tetaplah sebuah makna positif yang dapat kita lihat.

Disisi lain, kita akan melihat segala macam ekspresi dan kegaduhan yang diciptakannya. Mulai dari air mata yang bercucuran, bibir yang gemetar, suara yang tergagap-gagap, nafas yang sesak. Belum lagi bagaimana mereka berlari untuk kemudian menghabiskan uang tersebut agar dalam waktu yang ditentukan dapat habis tanpa tersisa, tanpa tahu mamfaat dan kegunaan barang yang mereka beli atau bagaimana mereka sekeluarga menangis berpelukan, melakukan sujud syukur kepada Tuhan atas rezeki yang mereka tidak duga, mencium tangan host dari acara tersebut selayaknya mereka adalah dewa-dewa penolong dan sederet kegaduhan-kegaduhan lainnya.

Tidak hanya itu, pada acara-acara reality show lainnya yaitu ajang-ajang pencarian bakat, kesedihan juga kerap menjadi senjata yang ampuh untuk untuk mebuat juri meluluskan mereka ke babak berikutnya, menceritakan derita hidup mereka yang ditinggal orang tua atau kehidupan yang selama ini selalu meberi kesusahan kepada mereka dan keluarganya, lalu ingin menunjukkan bahwa mereka ingin berprestasi dan masuk kedalam dunia entertaiment untuk membuktikan kepada semua orang yang selama ini memandang sebelah mata kepada mereka bahwa merekapun dapat merubah nasibnya dengan cara yang singkat dan instant.

Selanjutnya, tim kreatifitas televisi akan menunjukkan kepada mereka kehidupan sehari-hari sang peserta dan menstimulus penonton untuk mengirimkan sms, mendukung peserta-peserta dari acara tersebut yang kita tidak kenal secara langsung melainkan lebih dari bagaimana pihak televisi menyajikan mereka kehadapan kita, padahal kita ketahui biaya untuk mengirimkan sms itu jauh lebih besar dari mengirim sms biasa, namun tetap saja banyak dari kita yang akan tergugah dan mengirimkan sms sebanyak-banyaknya.

Itu baru cerita mengenai orang miskin dan orang biasa-biasa saja, yang memamfaat komunikasi yang menyentuh perasaan dan mengharap iba dari orang lain. Ada lagi yang cukup aneh, yaitu para pemimpin di Republik ini. Gaya komunikasi melankolis juga adalah metode yang ampuh untuk merubah persepsi publik atas dirinya. Bercerita bahwa mereka adalah target pembunuhan dari teroris, mengaduh ketika massa berdemonstrasi dengan membawa kerbau, meng-iba ketika kritik datang bertubi-tubi atas kinerjanya atau jajaran pembantunya. Alih-alih untuk menjawab segala keluhan dan kritik masyarakat melalui kinerja yang semakin efektif dan keputusan yang berpihak kepada rakyat dilandasi oleh sikap tegas sebagaimana layaknya seorang pemimpin, memutar balikkan logika melalui sederet kemampuan komunikasi yang memuakkan dan sangat tidak berkualitas serta picisan adalah langkah yang ditempuh. Sungguh sangat melayu.

Padahal, dimasa sekarang ini, masyarakat Indonesia baik dari berbagai generasi dan lapisan kelas sosial membutuhkan inspirasi untuk dapat berjuang bersama-sama membangun kejayaan dan kebesaran negeri. Oleh karenanya cerita mengenai prinsip si Bapak buta penjual air mineral yang tetap ingin berdiri dikakinya sendiri, memaksimalisasi segenap potensi yang dimilikinya, melakukan berbagai hal yang ia bisa untuk dapat terus melangsungkan kehidupannya, dan tidak membiarkan sedikitpun wajah-wajah sendu yang memandangnya serta jiwa-jiwa iba yang mengasihaninya datang untuk mengulurkan tangan kepadanya, Ia menolak.

Prinsip ke-dua adalah bagaimana ia hanya mau mengambil yang memang sudah menjadi haknya dan mengembalikan yang memang bukan miliknya. Merantang beberapa fenomena di Republik ini, sudah menjadi rahasia umum banyak orang yang memiliki kecukupan fisik kekuatan intelektual dan kecakapan kemampuan justru melakukan hal-hal yang tercela yaitu mengambil hak yang bukan miliknya. Sebagian orang-orang berbadan besar, berfisik sehat, berotot kuat justru mencari rezeki dengan cara merampok, mencopet, memeras. Orang-orang dengan tampilan yang santun dan ramah justru menjadi penipu ulung. Parahnya lagi para pejabat publik yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk dapat mempberikan harapan akan hadirnya kehidupan yang lebih baik malah melakukan korupsi dan kejahatan lainnya untuk memperkaya diri sendiri. Inilah cerita mengenai orang-orang yang over sadar akan hak yang seharusnya menjadi miliknya, sehingga mengambil hak orang lain bagi mereka selagi ada kesempatan adalah hal yang biasa saja.

Kembali pada cerita si Bapak Buta Penjual air mineral, dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Berjuang dengan kepemilikan fisik yang sempurna adalah hal yang biasa, namun jika memiliki kekurangan fisik tentulah sangat sulit untuk dapat berjuang melewati berbagai aral dan rintangan yang mendera dalam menjalani proses kehidupan, namun jika semua itu berhasil dilalui maka hasilnya pastilah akan sangat luar biasa. Cerita mengenai keteguhan hati, penjagaan terhadap harga diri serta prinsip-prinsip hidup yang sangat kesatria seperti dicontohkan bapak tersebut adalah contoh yang sangat patut dipuji dan diteladani.

Tapi mungkin inilah proses kehidupan yang memang harus dilalui oleh bangsa kita, sebelum sampai kepada titik puncak kejayaan menemukan pola kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkarakter, bermartabat, berdaulat dan ber-identitas yang diketahui serta diintegrasikan kedalam relung-relung jiwa rakyatnya untuk senantiasa berbuat dan berbuat yang terbaik bagi dirinya, sesama, bangsa dan negara. Yakinlah.

Semoga Bapak tersebut berkenan dan ikhlas dijadikan bahan cerita dalam tulisan ini. Serta semoga Allah merahmati dan memberkahi kehidupannya dan memberikan kebahagiaan dan kedamaian hidup baginya, dan kita semua.
“Empat hal yang perlu dipelajari dalam hidup : berfikir tenang, mencintai dengan tulus, melakukan setiap perbuatan dengan niat mulia, mempercayai Tuhan tanpa keraguan (Helen Keller).”