14/06/2010 | Oleh: Arri Wahyudi Edimar, S.IP, M.Si

Oeang

       Kasus Gayus Tambunan, pegawai negeri sipil DitJen Pajak golongan III A, yang dicurigai sebagai makelar kasus (markus) dilandasi kepemilikan atas rekeningnya yang memiliki saldo hingga 25 milyar rupiah, telah menyita perhatian khusus dari masyarakat Indonesia. Setidaknya durasi penayangan kasus ini oleh televisi, radio maupun koran bisa menjadi ukuran untuk itu. Berita terkahir ketika tulisan ini ditulis, Gayus dan keluarganya tidak lagi menempati rumah dikawasan Kelapa Gading Jakarta Utara, yang ditenggarai harga rumahnya tersebut mencapai angka milyaran. Entah dimana dia berada, tapi pasti beliau berada dalam keadaan yang kurang sehat saat ini, terumata secara mental dan psikologi (jika tidak percaya silahkan tanya yang bersangkutan).

Uang memang telah menjadi perkara yang cukup rumit, banyak orang yang bahagia karena memiliki uang, namun banyak juga orang yang mendapatkan bencana atau musibah karena mengejar uang. Tidak sedikit saudara kandung yang kemudian bermusuhan hanya karena masalah harta warisan, teman yang akhirnya saling bunuh juga karena uang, perempuan yang hidup melacur juga dengan alasan uang dan akhirnya betapa sesaknya penjara oleh para narapidana yang kejahatannya dilandasi oleh uang, baik dari yang kelas teri, seperti maling, pencopet ataupun perampok, bahkan sampai kelas kakap seperti politisi, birokrasi atau penegak hukum yang terjebak dalam kejahatan yang juga dilandasi oleh uang. Tak pandang bulu, dari yang berlatar belakang berpendidikan bahkan sampai yang tidak sekolah, perempuan ataupun laki-laki, uang telah menjebak mereka hingga hilangnya nikmat besar dalam hidup yaitu kebebasan.

Keserakahan dan ketamakan manusia atas harta benda, bukanlah merupakan sebuah fenomena yang baru, bahkan Rasulullah SAW telah memprediksi hal ini pada masa Beliau hidup.

”sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari)”

Jika membayangkan kalimat dua lembah emas, mungkin kesimpulan yang diperoleh harta tersebut tidak akan habis meski dimakan tujuh turunan kebawah, namun tetap saja Nabi menyatakan bahwa niscaya manusia akan mencari lembah yang ketiga.

Rasulullah SAW tidak pernah mengharamkan seseorang untuk menjadi kaya, bahkan dalam salah satu hadits-nya Beliau bersabda, "Kefakiran mendekatkan pada kekufuran". Oleh karenanya menjadi hartawan wajib hukumnya, untuk menjauhkan diri dari kekufuran yang dikhawatirkan mendekatkan kepada kekafiran, hanya saja yang kemudian menjadi pertanyaan adalah dengan cara apa kekayaan diperoleh serta untuk apa kekayaan dibelanjakan.

Sekali lagi, uang memang perkara yang tak akan pernag ada habisnya untuk didiskusikan. Jika dalam kasus Gayus, menceritakan betapa gampangnya menumpuk kekayaan meski sepertinya berujung dengan penderitaan, disatu sisi ada yang begitu sulit untuk mendapatkan uang seperti kisah berikut ini.

Disuatu senja, datanglah seorang kawan ketika kuliah dulu kepadaku. Dengan wajah yang lusuh dan intonasi suara yang cukup lemah selayaknya orang yang tak memiliki harapan hidup dia bertanya akan kabar dan aktifitasku. Panjang dan lebar dia memulai prolog yang kurang lebih mencoba menginventarisir daftar kegagalan hidup yang telah dilaluinya. Hingga dia sampai pada satu kesimpulan bahwa menurutnya Tuhan telah memusuhinya. Pada penutup silaturahmi ini, dia memohon kepadaku seandainya ada lowongan pekerjaan, proyek atau apapun selama menghasilkan uang, agar dapat diinformasikan atau direkomendasikan.
Teringatlah aku akan nasehat seorang bijak ditelevisi yang pernah kulihat dan akhirnya kusampaikan kepadanya. Hidup adalah misteri, tidak ada yang tahu bagaimana cerita perjalanan hidup ini pada kurun waktu tertentu dimasa depan. Sebagai manusia yang berkeyakinan akan adanya kuasa Tuhan maka mungkin saja, telah begitu banyak dosa yang dilakukan dimasa kemarin, sehingga Tuhan menuntut-nya harus menebus satu persatu dosa itu melalui kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, dalam suatu kisah, suatu ketika seseorang bertanya kepada Imam Ja'far Ash Shadiq, ”Apa sebabnya kita berdoa, tetapi tidak pernah dikabulkan? beliau menjawab, bagaimana anda menunggu terkabulnya doa, sedangkan anda telah menutup jalannya dengan melakukan dosa-dosa”.
Fakta lain juga mungkin Tuhan menganggap belum saatnya ia diberikan amanah beroleh pekerjaan atau memiliki kemudahan dalam mengumpulkan rizki-rizki yang ada dimuka bumi ini, sebagaimana Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 216:

"dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya" 

Oleh karenanya senantiaslah berkeyakinan bahwa Tuhan maha tahu, apa yang terbaik untuk hambanya, maka adalah sebuah keharusan pada Allah untuk selalu bersangka baik kepada-Nya, karena Dia maha mengetahui segala sesuatu.

Lebih lanjut dari pada itu, semangat dan keyakinan harus menjadi kunci utama dalam mengarungi hidup. Proses alam ini tidak akan pernah dilepaskan dari kaidah input, proses dan output. Input yang baik, jika mendapat sentuhan proses yang sempurna atau maksimal, pastilah akan menghasilkan output yang luar biasa. Sebaliknya jika kaidah-kaidah tersebut, terpotong disalah satu sisinya, semisal proses yang tidak maksimal atau memangnya input-nya yang kurang baik, maka dapat diterka apa hasilnya. Namun sekedar mengingatkan, bahwa Tuhan hanya menuntut kita untuk berusaha, sementara pada akhirnya kita tawakkal untuk menyerahkan hasil kepada-Nya.

Akhirnya dengan menggunakan petuah latin ”Ora et labora”. Siapapun anda, ketika tengah dirundung kemalangan, tersendatnya upaya untuk menggapai cita, tetaplah senantiasa berdoa dan berusaha, jangan pernah sekalipun berputus asa dari kekuasaan-Nya, berusahalah untuk terus menggapai cita tersebut dan berdoalah untuk menggapai cita itu juga, berusahalah untuk selalu menggunakan jalan yang baik dan benar untuk menggapai cita tersebut dan berdoalah untuk selalu mendapatkan jalan yang baik dan diridhoinya. Dilain sisi, kepada siapapun yang telah beroleh ni’mat dari-Nya, senantiasalah berusaha untuk menjaga ni’mat tersebut dan berdoalah agar ni’mat itu selalu dapat dini’mati, berusahalah untuk menggunakan kenikmatan itu pada hal-hal yang baik dan berdoalah untuk terlindung dari hal-hal yang dapat menghilangkan kenikmatan yang telah diperoleh. Kepada Tuhan kita bermohon petunjuk dan perlindungan.