14/06/2010 | Oleh: Arri Wahyudi Edimar, S.IP, M.Si

Desakralisasi Politik

Politik adalah sebuah seni. Selayaknya seni maka dalam perjalanan politik tentu saja ada kewajiban untuk memenuhi unsur etika dan estetika. Politik pada akhirnya selalu dikaitkan dengan bagaimana cara mengatur jalannya sebuah kekuasaan sehingga memberikan keuntungan dan kebaikan bagi individu-individu yang bernaung dibawahnya. Politik sangat terikat kepada sebuah sistem yang berlaku, nilai tambah dari sistem tersebut tidak akan terlepas dari bagaimana kepiawaian dan kemampuan orang-orang yang menjalankan sistem tersebut, pada akhirnya pandangan tentang politik akan sangat ditentukan oleh orang-orang yang bernaung dalam wadah kekuasaan tersebut.

Kepiawaian para aktor-aktor dalam menjalankan sistem politik yang syarat dengan kaidah etika dan estetika tentulah dimiliki oleh seseorang yang memiliki modal keyakinan ideologi atau pemahaman yang dilandasi oleh pikiran yang cerdas dan jiwa yang sehat, dan yang terpenting adalah niat yang tulus semata-mata demi kebaikan bangsanya. Etika dan estetika hanya dapat dipenuhi oleh otak yang cerdas dan jiwa yang bersih. Kolaborasi dua unsur yang memanusiakan kemanusiaan politisi tersebut, akan menghadirkan pemimpin-pemimpin pilihan yang akan mampu memberikan nilai tambah dari keberadaanya atau mampu memberi mamfaat kepada orang banyak, karena sejatinya kebaikan hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya bukan sebaliknya.

Indonesia pernah mengalami masa keemasan politik tersebut. Paparan-paparan mengenai catatan keseharian para pemimpin tempo dulu, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, sangat menarik dan menyenangkan untuk diikuti perjalanannya. Pembedaan-pembedaan cara pandang ideologi yang mereka yakini akan mampu membawa Indonesia lepas dari belenggu penjajahan, atau konsep-konsep mendasar yang mereka miliki untuk menghantarkan bangsa ini menuju tujuan ber-Indonesia sebagaimana yang digariskan dalam pembukaan UUD-45 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sangat kental mewarnai “pertarungan” diantara mereka. Paling tidak sejarah mencatat, tiga golongan kelompok ideologi yaitu nasionalis, agama dan komunis yang mewarnai perjalanan politik Indonesia pada masa itu, dan catatan berikutnya pembedaannya sangat kentara alias tidak kabur antara satu ideologi dengan ideologi lainnya.

Selain hasil, proses dalam menuju dunia politik juga wajib dilalui oleh bakal calon politikus. Ia tidak serta merta hadir begitu saja (sim salabim) tanpa melalui jalan terjal dan berliku penuh perjuangan demi perjuangan untuk menggapainya. Contoh proses perjalanan tersebut yang sangat dekat dengan ingatan kita adalah sebagaimana yang pernah dilalui oleh dua Proklamator kemerdekaan Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta sebelum memproklamirkan kemerdekaan dan memimpin Negara ini sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pergulatan pemikiran dan jiwa, serta benturan kepentingan syarat mewarnai  perjalanan kehidupan mereka.

Dari Blitar Jawa Timur, Soekarno menuntut ilmu ke Jawa Barat sedangkan Hatta yang berasal dari Sumatera Barat bercerai badan dengan keluarga dan tanah airnya untuk menuntut ilmu ke negeri Belanda. Pasca menyelesaikan pendidikan, tidak serta merta mereka beroleh kenikmatan. Mengajar dikampus-kampus exelent, menjadi pembicara diberagam diskusi dengan bayaran yang tinggi atau hadir sebagai pembicara pada acara-acara talkshow di televisi nyaris tak pernah mereka dapatkan, akan tetapi penjara dan pembuangan kenegeri-negeri yang jauh ketika itu, seperti Boven Digul, Banda Neira, Pulau Bunga Ende, Bengkulu dan lain sebagainyalah yang justru mereka terima dan merupakan akibat dari perjuangan yang mereka lakukan yang dianggap mengganggu keberlangsungan kehidupan para penjajah. Menyesal? Saya kira tidak. Karena hidup adalah pilihan dan mereka memilih jalan yang bagi kaum-kaum oportunis dan kapitalis dianggap sebagai sebuah kebodohan belaka.

Hari demi hari yang mereka lalui dipenuhi dengan pergulatan antara pikiran dan hati dengan satu tujuan utama yaitu menjawab pertanyaan bagaimana membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan, karena bagi mereka penjajahan hanya akan berkorelasi dengan kebodohan dan kemiskinan. Rasa cinta akan republik beserta seluruh isinya dan semangat patriotik yang mengalir dalam darah mereka seolah-olah memberi kewajiban dan mengharuskan dirinya untuk senantiasa bergerak dan berjuang, memimpin bangsa ini untuk menghadirkannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan bermartabat.

Fakta-fakta inilah yang kemudian membuat dunia politik adalah dunia yang sakral. Politik hanyalah milik segelintir kelompok manusia yang memang diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk memilikinya. Kepercayaan ini tumbuh secara alamiah karena sejarahlah yang melahirkan para pemimpin-pemimpin tersebut, bukan karena pemilihan melalui serangkaian metode kampanye yang menitik beratkan pada pencitraan atau penipuan. Sakralisasi politik membuat masyarakat berdecak kagum terhadap penggenggamnya, memuji kemampuan dan semangatnya, mengispirasi keberadaannya serta mendoakan keselamatan dan kebaikan bagi mereka.

Masa Terbalik
Ribuan hari telah dilalui, puluhan tahun telah dilewati sejatinya tentu pertambahan nilai-nilai menjadi wajib. Sebagai manusia yang diberikan akal fikiran maka hari ini tentu harus lebih baik dari kemarin agar kita tak beroleh kerugian. Jika dulu dengan segala keterbatasannya, bangsa ini mampu melahirkan manusia-manusia pilihan yang memimpin perjalanan bangsa ini, dimana dari mereka kita dapatkan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah, keringat dan air mata, maka seharusnya hari ini dengan berbagai modal materi dan immateri yang dimiliki dimana jumlahnya puluhan bahkan ratusan kali lipat dibandingkan masa lalu, maka secara matematis dan logika seharusnya kuantitas dan kualitas pemimpin yang dilahirkan oleh bangsa inipun bertambah baik dari masa sebelumnya.

Berharap emas loyang didapat, jauh panggang dari api. Peribahasa tersebut sepertinya mewakili fenomena politik dewasa ini. Alih-alih mendapatkan kualitas kepemimpinan seperti para pendahulu, ternyata yang didapatkan hanyalah para pejabat karir. Pemimpin selalu berfikir umat dan generasi berikutnya (next generation), sedangkan pejabat karir selalu berfikir kelompok dan pemilihan berikutnya (next election), akibatnya labelisasi pemimpin melekat kepada manusia yang bahkan memimpin dirinya saja tidak sanggup. Berbagai contoh yang menandakan fakta ini seperti korupsi yang melibatkan pejabat negara, Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, Anggota DPR dan lainnya. Prilaku amoral para politisi, perselingkuhan, perkelahian baik mulut maupun fisik sesama anggota dewan, debat-debat kusir yang dilandasi semangat ingin menjatuhkan menjadi tontonan sehari-hari yang hadir diranah publik.

Imbasnya, setiap hari diberbagai sudut lapisan masyarakat politik menjadi pembicaraan banyak orang, dari berbagai strata yang ada. Sayangnya yang menjadi inti pembicaraan tersebut adalah kejanggalan-kejanggalan prilaku para politikus. Bahkan dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata mengatakan “seperti kebanyakan Politisi jika ia bicara tatapan matanya dan gayanya sangat meyakinkan, walaupun dungunya minta ampun”.

Berbagai keburukan prilaku dan citra buruk mereka mengakibatkan tiada lagi doa dan pujian untuk para politisi dari masyarakat. Jika dulu para pemimpin seperti Soekarno dan Hatta beserta kawan-kawannya adalah sandaran harapan rakyat, yang dirindukan kehadirannya, dibicarakan kebaikannya, dicontoh semangatnya dan menginspirasi perjuangannya maka sebagian besar politisi hari ini adalah sumber cacian dan hujatan dari rakyatnya. Secara sadar saya menggunakan kalimat sebagian besar, karena tidak ingin juga menyepelekan peranan dari para politikus baik di eksekutif maupun legislatif yang memang memiliki kualitas kepemimpinan yang mumpuni dan syarat dengan kemampuan baik yang bersifat intelektual, moral maupun spiritual.

Politik telah menjadi konsumsi banyak orang, tidak perduli status yang melekat kepadanya, miskin, kaya, tua, muda, semua menikmati fungsi barunya sebagai pengamat politik kecil-kecilan. Pembicaraan seputar dunia politik ini-pun berlaku disembarang tempat, kedai kopi, pasar, kantor dan berbagai tempat lainnya. Politik betul-betul telah menyeruak kedalam sendi kehidupan bangsa ini. Sekali lagi sayang seribu sayang, proses pengamatan yang berlangsung ditengah masyarakat ini kerap menggangu suasana kebatinan mereka. Berbagai kejanggalan prilaku politisi yang tidak mereka pahami dan dianggap sebatas retorika belaka yang bersifat oportunis diperparah dengan penggalangan dukungan dari berbagai kelompok masyarakat, seperti ormas, LSM, bahkan mahasiswa yang tidak jarang penggalangan dukungan tersebut dilandasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat dan syarat dengan motif ekonomi kelompok kelas menengah ini. Oleh karenanya makin kabur dan pudarlah tempat yang layak bagi masyarakat diakar rumput kepada siapa hendak menggantungkan aspirasi yang sesungguhnya, dan sekali lagi fakta ini semakin memperkeruh suasana kebatinan masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya sebagai warga negara.

Lalu?
Waktu adalah sebuah kodrat yang tak bisa dilawan. Namun berusaha yang terbaik disetiap waktu adalah wajib hukumnya. Paling tidak pesan pertama yang ingin disampaikan tulisan ini tertuju kepada para insan yang berambisi untuk terjun kedalam dunia politik. Kesadaran diri adalah modal dasar. Sadar sesadar-sadarnya, bahwa politikus bukanlah sebuah “pekerjaan” sebagaimana kerja-kerja lainnya. Dalam kajian filsafat Yunani, peranan politisi adalah pendelegasian wewenang ke-Tuhanan kepada umat manusia, oleh karenanya keberanian mengambil peranan tersebut tidak bisa jika dilandasi oleh sekedar “rasa” mampu akan tetapi betul-betul didasari oleh keyakinan akan kemampuan tersebut dan kebertanggungjawaban menyatakan diri sebagai manusia-manusia terpilih.

Proses adalah syarat mutlak, berbagai contoh telah ditunjukkan oleh para pendiri Republik ini, sebut saja misalnnya M. Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang mewakafkan dirinya demi perjuangan kemerdekaan bangsa ini, bukti nyatanya barulah Beliau menikah ketika Indonesia telah merdeka. Hasilnya, sebagaimana pepatah manusia mati meninggalkan kebesaran itulah yang ia peroleh, sanjungan pujian dan doa seakan tak pernah terhenti bagi Bapak Koperasi ini. Bahkan Iwan Fals, seorang musisi yang kerap dicap sebagai pengkritik sosial secara khusus membuat lagu pada saat kepergiannya, sebuah lagu yang sangat mengharukan dengan judul “Bung Hatta”,  sedikit penggalannya :

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu

Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...

Bernisan bangga dan berkafan doa, pencaharian terluhur seorang umat manusia.

Beyond the comfort zone adalah syarat ideal bagi seseorang untuk menjadi politikus. Melampaui zona kenyamanan berarti telah terpuaskan segala kebutuhan duniawi dalam hidup ini. Piramida Maslow menjelaskan ini sebagai lapisan terakhir dari kebutuhan manusia. Kesediaan berkorban bagi rakyat banyak sebagaimana yang dicontohkan Hatta adalah aplikasinya. Pendapatan yang diperoleh sebagai pejabat negara bukanlah menjadi tujuan utama, akan tetapi kufur pula hukumnya jika menolak. Proses pergulatan yang intens antara pikiran dengan batin, otak dengan nurani yang dilandasi nilai-nilai ke-Tuhanan akan menuntun seseorang menjadi pemimpin yang kaffah, dan pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan rakyat serta diberkahi Tuhan.

Celakanya kemudian, seiring dengan kebebasan untuk dipilih dalam konteks pilkada berterjunanlah secara bebas insan-insan yang tidak jelas asal usul kehidupannya. Politik tidak lebih dianalogikan sebagaimana dramaturgi dalam kontek drama. Erving Goffman memperkenalkan dramaturgi sebagai segala macam perilaku interaksi yang dilakukan dalam pertunjukan kehidupan sehari-hari, menampilkan keberadaan diri baik sikap, gaya maupun polah lainnya dihadapan publik dengan seolah-olah sebagaimana cara seorang aktor menampilkan karakter tertentu dalam sebuah pertunjukan drama. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan tentu saja mencoba untuk memanipulasi penonton agar masuk kedalam alur cerita yang ingin dibawakan, secara konkret dalam kajian kampanye maka dramaturgi adalah upaya untuk meyakinkan konstituen bahwa dirinya layak untuk dipilih dan diberika amanah kepemimpinan tersebut.

Hasilnya kemudian, tidak mengherankan jika hari ini bermuncullan para calon-calon politisi yang dipaksa berubah 180 derajat mengikuti arus publik. Contoh politisi dari kalangan artis wanita yang dulunya kerap tampil dihadapan publik berbusana setengah bertelanjang, tiba-tiba sim salabim mendadak menjadi sangat bermartabat dengan balutan pakaian yang menutupi seluruh aurat. Mereka yang terbiasa berbicara dan berprilaku secara sembarangan yang kadang bertentangan dengan azaz kepatutan orang timur, mendadak menjadi sangat santun dan terpelajar. Dilain sisi calon politisi dari kalangan para pengusaha-pengusaha yang terkenal kikir secara total berubah menjadi sangat dermawan. Jika dulu untuk mendapatkan sumbangan darinya dirasa seperti memutihkan gagak yang hitam, maka ketika proses suksesi kepemimpinan dimana ia menjadi salah satu calon, maka tanpa dimintapun uangnya mengalir dengan sangat mudah. Dan banyak lagi cerita lainnya perubahan-perubahan sikap yang semata-mata memenuhi kebutuhan dramaturgi untuk memanipulasi pemilih.

Pertanyaan yang muncul demikian, sejauh apa sebetulnya para calon pemimpin dengan mental pembohong seperti ini akan mampu membawa kebaikan dan memberi nilai tambah kepada masyarakat?. Sistem politik bukanlah sebuah sistem sederhana, ketika pemimpin hanya dituntut untuk memenuhi “aspirasi” masyarakatnya, vox populi vox Dei adalah kalimat yang seolah-olah ampuh untuk menarik dukungan terhadap mereka. Padahal lebih jauh dari pada itu, seorang pemimpin adalah seorang yang visioner dan tau apa yang terbaik bagi yang dipimpinnya. Oleh karenanya politik bukanlah kerja mekanik yang bekerja berdasarkan kaidah-kaidah sains yang jelas rumusannya, dan kecerdasan yang dilandasi kesucian hati, keikhlasan mengabdilah yang akan mampu membawa seorang pemimpin untuk dapat membaca yang tersirat dan memahami yang tersurat.

Catatan terpenting adalah ketika politik dibangun oleh aktor-aktor yang penuh akal busuk, pikiran kotor, rencana jahat dan hasrat yang tak terbendung inilah cikal bakal hadirnya politik yang menakutkan, namun sebaliknya, jika politik dibangun oleh aktor-aktor yang penuh pengabdian, keluhuran cita, kesucian jiwa dan mencerahkan dilandasi kerendahan hati serta kesederhaan hidup inilah cikal bakal kepahlawanan politik. Yang terakhirlah yang akan mempertahankan sakralisasi dunia politik. Kesakralan yang akan selalu membawa doa, pujian dan kerinduan dari rakyat bagi para penggengamnya, akan tetapi yang paling terpenting sebagai umat yang beragama tentu saja berkah dan balasan yang setimpal dari Tuhan YME, karena hidup pasti akan berujung dan ujungnya adalah kembali menghadap pada-Nya. Sedangkan yang pertama, tentu saja terpenuhi atas gemah ripah kehidupan yang akan anda nikmati selama menjabat, tapi yakinlah itu tidak akan abadi, tidak ada satu kejahatanpun yang tidak menuntut balas, para pejabat yang duduk dikursi pesakitan diruang-ruang pengadilan dan menunggu hukuman adalah contoh terbaik untuk kita renungkan. Andaipun selamat dari hukum dunia, masih ada satu hukum yang adil seadil-adilnya, yaitu hukum Tuhan ketika kita berpulang nanti. Tidak akan ada doa, simpati ataupun pertolongan bagi mereka melainkan umpatan, cacian dan makian serta sumpah serapah yang mereka terima. Dan karakter kepemimpinan seperti inilah yang berimbas kepada desakralisasi politik.

Akan tetapi sebagaimana kalimat awal, bahwa waktu adalah kodrat yang tidak dapat dilawan, maka ketimbang kita resah dan marah karenanya, maka sebaiknya fahami saja fenomena ini sebagai perjalanan sejarah yang harus dilalui bangsa ini sebelum kembali hadir dipuncak kejayaannya. Hidup adalah sebuah proses perjalan dinamis, dengan karakter manusia yang selalu cenderung kepada kebenaran maka yakinlah disuatu titik nanti akan kita temukan apa yang terbaik bagi bangsa ini.

Hidup adalah perbuatan. Mendampingi penantian perubahan positif bangsa ini, maka masyarakat, sebagai komponen terpenting bangsa ini juga harus berbuat sesuatu yang terbaik. Paling tidak ada dua hal yang harus dilakukan oleh masyarakat dengan beragam profesinya. Pertama kembali kepada peranannya masing-masing. Sebagai bagian dari masyarakat, proses hingar bingar politik sejatinya tidak membuat kita larut secara kejiwaan untuk juga terjerumus lebih jauh kedalamnya. Kembali kepada peranan masing-masing adalah salah satu kunci percepatan perubahan dinegeri ini. Seorang petani fungsinya adalah bertani, maka laksanakan peranan sebagai petani, yaitu menghasilkan tanaman yang berkualitas untuk dikonsumsi, menjaga kesuburan dan kelestarian tanah sebagai sumberdaya yang diberikan Tuhan. Para nelayan yang berfungsi sebagai pencari ikan, maka peranan yang harus diamalkan adalah, bagaimana menghasilkan ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem laut, memanen ikan yang memang layak untuk dikonsumsi. Kepada para orang tua yang berfungsi membesarkan anak-anak mereka, berperanlah dalam melahirkan dan menumbuhkembangkan insan-insan baru yang kuat badannya dan sehat mentalnya, bekalilah mereka dengan kesiapan jiwa dan raga untuk menantang setiap arus kehidupan yang akan membawa mereka sebagai pribadi yang tangguh. Kepada para penegak hukum, Polisi dan Jaksa, berfungsilah memberantas kejahatan dan memberikan keamanan kepada masyarakat, tapi berperanlah dalam memberikan kesadaran kepada masyarakat, agar kriminalitas dapat diminimalisir.

Hal kedua yang harus dilakukan oleh masyarakat adalah mengkanalisasi pikiran dan energi. Ketidakmampuan dalam mengkanalisasi pikiran dan energi ini yang diakibatkan oleh kemarahan, kemurkaan atau kesedihan melihat prilaku “pemimpin” dinegeri ini tentu saja akan berimbas buruk pada suasana kejiwaan masyarakat. Oleh karenanya, pasca melakukan kewajiban sebagai warga negara dalam momentum politik, yaitu memilih pada setiap prosesi suksesi kepemimpinan baik lokal maupun nasional, baik eksekutif maupun yudikatif, segeralah batasi diri dengan hingar dunia politik tersebut. Jangan biarkan energi terbuang percuma untuk ikut serta terpengaruh akan polah dan tingkah para politikus tersebut. Dunia yang mereka ciptakan sendiri bukanlah dunia kita, meskipun kitalah yang memfasilitasi keberadaan mereka. Jaga diri dan jaga hati adalah kata kunci dalam menyikapi fenomena tersebut.

Dengan senantiasa menghayati peranan masing-masing sebagai warga negara, dan juga mengkanalisasi energi dan pikiran atau membatasi diri dan jiwa terhadap berbagai hal yang memang dirasa layak atau tidak, maka percepatan kebaikan bangsa ini mudah-mudahan akan tiba pada waktu yang tepat.