15/06/2010 | Oleh:

Komunikasi Intrapersonal = Instrospeksi Diri

Berbicara pada diri sendiri, seberapa seringkah kita melakukannya? Pernahkah kita menghitung berapa kali dalam sehari kita berbicara dan berinteraksi pada orang lain? Dan pernahkah juga kita menghitung berapa kali kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri dalam sehari, seminggu, sebulan atau bahkan setahun? Melakukan komunikasi dengan orang lain sangatlah perlu karena kita sebagai mahluk sosial dan mahluk komunikasi wajib melakukan hal tersebut karena kita tidak dapat menyampaikan pesan kepada orang lain bila tidak melakukan komunikasi. Berbicara atau melakukan komunikasi adalah media untuk menyampaikan sesuatu  pesan kepada orang lain begitu pun sebaliknya dengan harapan untuk mendapatkan respon dari komunikan tersebut. Sebagai makhluk yang berpikir dan, karenanya berbicara, komunikasi bagi manusia merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Komunikasi adalah sarana untuk berinteraksi dengan ”yang  diluar dirinya”. Terlebih saat ini, dengan percepatan teknologi tanpa henti, utamanya teknologi informasi, komunikasi adalah sebuah keniscayaan.
Dalam pengertian sederhana, komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian ”sesuatu yang sama” dari ”satu pihak” kepada ”pihak lain”. Dari sini, setidaknya, ada empat hal yang dibutuhkan dalam komunikasi; penyampaian atau yang dapat dipahami sebagai proses komunikasi; sesuatu yang sama atau pesan yang ingin disampaikan; pihak pertama (komunikator) yang berkepentingan untuk menyampaikan pesan dimaksud; dan pihak kedua (komunikan) yang menjadi tujuan penyampaian pesan. Dengan analisis yang lebih mendalam dapat diketahui bahwa pesan yang merupakan inti komunikasi terdiri dari dua aspek; isi pesan yang ingin disampaikan (the content of the message) dan lambang yang dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan tersebut (symbol).

Berbicara pada orang lain dalam ilmu komunikasi dikategorikan dalam kelompok komunikasi interpersonal. Tetapi ada pula komunikasi yang kita lakukan pada diri kita sendiri, Hal ini dapat disebut sebagai komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Menurut pakar ilmu komunikasi, komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi. Proses ini melewati empat tahap; sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Proses pertama dari komunikasi intrapersonal terjadi pada saat sensasi terjadi. Sensasi, yang berasal dari kata sense, berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk menyerap segala hal yang diinformasikan oleh pancaindera. Informasi yang diserap oleh pancaindera disebut stimuli yang kemudian melahirkan proses sensasi. Dengan demikian sensasi adalah proses menangkap stimuli.

Kapasitas indrawi yang dimiliki setiap orang berbeda-beda yang, karenanya, memungkinkan terjadinya perbedaan sensasi. Namun secara umum ada ambang batas tertentu yang didalamnya pancaindera manusia dapat menyerap informasi. Mata hanya dapat menyerap gelombang cahaya antara 380 sampai 780 nanometer. Telinga hanya mampu menerima getaran suara dalam frekuensi antara 20 hertz sampai 20 kilohertz. Tubuh manusia hanya sanggup bertahan dengan normal pada suhu udara antara 10 derajat celcius sampai 45 derajat celcius . Rangsangan dari luar ini yang diserap sensasi disebut sebagai stimuli eksternal yang merupakan faktor situasional yang berpengaruh pada sensasi. Disamping itu juga terdapat faktor internal yang dapat pula mempengaruhi sensasi yaitu faktor personal. Dalam hal ini, faktor personal adalah pengalaman, lingkungan budaya, dan kapasitas indrawi masing-masing individu yang berbeda .

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Secara sederhana persepsi adalah memberikan makna pada hasil serapan panca indera. Selain dipengaruhi oleh sensasi yang merupakan hasil serapan panca indera, persepsi dipengaruhi juga oleh perhatian (attention), harapan (expectation), motivasi dan ingatan.

Secara umum tiga hal yang disebut pertama terbagi menjadi dua faktor personal dan faktor situasional. Penarik perhatian yang bersifat situasional merupakan penarik perhatian yang ada di luar diri seseorang (eksternal), seperti intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. Secara internal, ada yang dinamakan perhatian selektif (selective attention) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis.
Penyimpanan informasi yang dihasilkan dan pemanggilan kembali (recalling) dilakukan dalam memori. Dalam melakukan fungsinya memori melakukan tiga hal: perekaman (encoding), penyimpanan (storage) dan pemanggilan (retrieval). Tahap pertama adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan saraf internal. Tahap kedua terbagi terbagi menjadi dua: penyimpanan aktif (dengan memberi informasi pada apa yang telah kita terima) dan penyimpanan aktif. Tahap terakhir terjadi ketika kita membutuhkan ingatan yang telah tersimpan dengan mengingat kembali hal itu.

Dari tiga tahap memori, hanya tahap terakhir yang dapat diketahui dan, karenanya, dapat diklasifikasi. Pada tahap terakhir ini memori terbagi menjadi empat jenis. Pertama, pengingatan (recall) yaitu proses menghasilkan kembali fakta dan informasi secara apa adanya, seperti ketika seseorang ditanya, ”Apa saja jenis ikan laut yang termasuk mamalia”. Kedua, pengenalan (recognition) adalah mengenal kembali sebagian informasi yang sebagiannya telah dikenal, seperti pertanyaan yang disajikan dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice). Ketiga, pembelajaran ulang (relearning) adalah mempelajari kembali sesuatu yang pernah dipelajari. Seseorang yang pernah mempernah mempelajari suatu hal dan kemudian mempelajarinya kembali dua puluh lima persen lebih cepat menghafal. Keempat, redintegrasi (redintegration) adalah rekonstrusi masa lalu dari satu petunjuk memori kecil, seperti kenangan yang muncul saat anda melewati satu tempat yang biasa dilewati teman anda.

Intinya komunikasi intrapersonal adalah berkomunikasi dengan  diri sendiri. Didalam keseharian seseorang secara sadar atau tidak sadar pasti melakukan komunikasi intrapersonal, baik dalam bentuk bertanya pada diri sendiri (berkata dalam hati) maupun dalam bentuk instrospeksi diri. Berdoa kepada tuhan adalah salah satu bentuk nyata dari komunikasi intrapersonal dimana pada saat seseorang berdoa dan meminta, secara tidak sadar orang tersebut mengajak dirinya sendiri untuk dapat mewujudkan doa-doa tersebut dengan harapan doanya akan terkabul. Kemudian ada yang disebut dengan instrospeksi diri atau bertanya pada diri sendiri tentang hal-hal yang telah dilakukan pada masa lampau. Hal-hal yang perlu dipertanyakan pada diri sendiri yang berkaitan dengan tingkah laku dan pola sikap kita pada saat berinteraksi dengan orang lain. Melakukan komunikasi intrapersonal dalam wujudnya sebagai instropeksi diri sangatlah penting untuk dijadikan media kontrol pada diri sendiri. Ibarat tim audit yang menanyakan tentang hal-hal yang telah kita lakukan selama proses berjalan, apakah sesuai dengan standar prosedur yang telah ditetapkan atau tidak. Tim audit dalam kehidupan nyata adalah tim yang  mengawasi bagaimana kinerja kita dalam konteks tanggung jawab pekerjaan supaya tetap pada jalurnya dan tidak menyimpang dari koridor yang telah ditetapkan.
Begitu juga dengan instrospeksi diri, instrospeksi diri ibarat pengendalian diri dan evaluasi diri pribadi. Kontrol diri dengan melakukan komunikasi intrapersonal dapat manjauhkan kita dari hal-hal negatif. Banyak hal positif yang menjadi efek dari komunikasi intrapersonal. Bukankah kita hidup ditengah-tengah orang lain dan ruang lingkup lingkungan yang berbeda-beda. Lingkungan rumah dan keluarga, lingkungan kantor dan sahabat, bahkan lingkungan sosial yang lebih kompleks dan lebih luas lagi yang biasa disebut dengan lingkungan masyarakat. Didalam ruang lingkup lingkungan tersebut pasti ada hal-hal positif dan negatif yang dihasilkan oleh diri kita sendiri. Tidak semua yang kita lakukan dapat diterima oleh orang lain dan apa-apa yang dilakukan orang tidak semuanya dapat kita respon positif. Salah berbicara dan bersikap seringkali terjadi pada setiap individu manusia. Tetapi yang sadar akan hal tersebut kemudian berusaha untuk merubahnya sangatlah sedikit. Kabanyakan dari kita tidak peduli dengan apa yang telah kita lakukan pada orang lain pada hari ini, dan kebanyakan dari kita juga tidak peduli untuk merenungkan kembali pada diri sendiri. Tidak mau instropeksi diri. Kita sebagai manusia cenderung melimpahkan kesalahan pada orang lain tanpa menyadari bahwa kesalahan tersebut sebenarnya berasal dari diri kita, tetapi sekali lagi, kita terlalu sombong untuk mengakui kesalahan tersebut. Kita berpendapat bahwa diri kitalah yang paling benar, paling adil, dan paling baik. Padahal semua sikap kita dinilai oleh orang lain. Yang lebih parah lagi kita tidak mau instrospeksi diri. Tidak mau berkomunikasi pada diri sendiri dalam kapasitas melakukan evaluasi sikap keseharian kita. Rela mengabaikan hati kecil yang menjerit dan berteriak bahwa apa yang kita lakukan adalah salah. Menutup telinga dari kebenaran yang berasal dari dalam hati sesungguhnya adalah hal yang tidak baik.