22/06/2011 | Oleh: Zakina, S.Sos. M.Si.

RAMAH -TAMAH (OLEH-OLEH- Bagian I)

    Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah sehingga dijadikan salah satu item dari sapta pesona pariwisata Indonesia yang digagas sekian tahun lalu ketika era Bapak Pembangunan Suharto masih berkuasa. Senyum bersahabat terlukis di sudut bibir setiap orang Indonesia yang dijumpai di mana saja. “Smiling people dan friendly” adalah kesan wisatawan luar terhadap Indonesia.

    Tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang ramah. Orang-orang Indonesia juga dikenal sebagai orang yang sangat mencintai keluarganya dan jauh dari kesan individual. Karena itu, tak heran bila setiap berpergian jauh, keluar kota atau ke luar  negeri dengan senang hati yang melakukan perjalanan akan memberikan buah tangan atau oleh-oleh (ule-ule Bahasa Belitong, red) kepada rekan, sahabat, famili atau sanak keluarga dekat dan handai taulan. Bentuk kasih sayang dan keramahan ini adalah nilai yang tak terhingga harganya. Dan semakin sempurna nilainya bila terus terbalut sopan santun khas ketimuran.

    Berbicara tentang buah tangan bukanlah hal yang membahagiakan buat saya. Keterbatasan waktu dan biaya serta energi adalah alasan utama mengapa tidak setiap orang yang dikenal dapat diberi oleh-oleh sehingga hanya kata maaf yang terucap sepulang bepergian. Hal ini juga terjadi ketika baru-baru ini saya berkunjung ke Eropa (Jerman dan Paris) mendampingi Bupati Belitung yang melakukan berbagai kerjasama disana. Sesampai di Belitung, saya buat banyak muka kecewa karena tak kebagian oleh-oleh Walau demikian, saya tetap akan memberikan oleh-oleh, tidak berupa benda, cinderamata hanya kelakar, penuturan true story sekedar tukar pengalaman.

     Menjelang tengah malam saya menulis artikel ini kiranya dapat dijadikan “oleh-oleh” buat para sahabat, rekan, family dan setiap orang yang saya kenal atau mengenal saya dengan baik dan kerap saya jumpai di Kantor, Terminal Bis, Pasar, Kampus serta di mana saja. Tentunya oleh-oleh ini tanpa maksud gaya-gaya-an, pamer, ria apalagi menggurui. Sekedar cerita ringan yang saya anggap bermakna dan dapat dibagi bersama tanpa mengurangi makna keramahan dan kasih sayang milik kita semua.

    Kembali pada awal cerita. Terekam dalam ingatan saya, satu-satunya stasiun TV nasional dan pertama di Indonesia (TVRI) setiap satu kali seminggu menayangkan program wisata Indonesia yang menyungguhkan  keanekaragaman panorama alam serta objek wisata Indonesia dari setiap propinsi (27 propinsi termasuk Timur-Timur ketika masih bergabung dengan NKRI, red). Kala itu, Indonesia dengan Sapta Pesonanya mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisata mancanegara dan terbesar di Asia Tenggara.

    Bukan bermaksud untuk kembali ke era tatanan Orde Baru atau terkena sindrom romantik rendevous masa lalu namun pasca Reformasi banyak hal yang berubah. Dalam sekejap mata seakan bangsa kita menjadi gelap mata, sedikit saja ada bara api akan langsung berkobar menjadi kebakaran disusul letupan-letupan lain. Aksi anarkis, teror, demonstransi cacat sopan santun, kekerasan komunal dan sosial serta segudang degradasi moral lainnya menjadi bagian atau paling tidak menjadi tontonan hari-hari anak negeri khatulistiwa ini. Bahkan aksi teror bom yang dilakukan sekelompok orang tidak berperikemanusiaan mengancam kapan dan dimana saja. “Smiling people” berubah kesan menjadi pembunuh berdarah dingin. Apalagi setelah beberapa rangkaian bom meledak di beberapa kota besar di Indonesia yang menewaskan wisatawan mancanegara, seperti di Legian dan Jimbaran Bali selang beberapa tahun lalu.

    Kesan dan image negatif Indonesia dibingkai sedemikian rupa oleh media asing sehingga terbentuk opini publik secara pasti bahwa begitulah Indonesia, sebuah negeri “bar-bar” (suka kekerasan, red). Tak pelak, investasi dari luar sempat turut menurun ditambah lagi konflik politik antar elit yang tidak berkesudahan, dan korupsi yang merajalela membuat daftar negatifitas citra Indonesia semakin panjang.  Inilah opini publik luar terhadap Indonesia saat ini yang dirilis sejumlah media massa luar negeri.

    Saat Indonesia diframe oleh media asing dalam deret panjang citra negatif, kita seakan tak mampu berbicara banyak karena probilitas kebenarannya tidak mungkin nol bila mengacu pada realitas yang ada. Boleh jadi kita memang bukan lagi negeri yang orang-orangnya ramah. Fakta kecilnya, setiap diri kita boleh bertanya seberapa sering kita menyapa dengan senyum tulus pada setiap orang yang kita temui. Seberapa besar keramahan kita ketika berjumpa orang-orang baru ketika bertandang ke daerah kita. Seberapa ramahnya kita pada tamu-tamu yang datang ke kantor untuk menanyakan sesuatu, kepada masyarakat yang meminta pelayanan padahal sejatinya siapapun dan apapun profesinya, kita adalah pelayan.

    Ramah-tamah adalah hal yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Namun sebagai muslim, saya belum pernah disapa dengan ucapan “assalamu'alaikum” dengan hangat dan senyum ketika bertemu dengan sesama muslim yang tidak dikenal sebelumnya di jalan-jalan. Kalaupun itu terjadi biasanya saya yang mendahului untuk menegur. Itupun terbatas itensitasnya. Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

    Indahnya silaturahmi Islam, justru saya temukan di Jerman dan Paris. Muslim di Jerman dan Paris tentulah minoritas yang dipeluk keturunan Turki, Tunisia dan Persia. Ketika pertama kali keluar kamar hotel dan akan menyebrang jalan di Kota Neuwied, seorang muslimah dan keluarganya menyapa dengan ucapan assalamu'alaikum. Begitulah seterusnya setiap kali bertemu muslim kami saling menyapa “assalamu'alaikum”, dijawab “wa'alaikumsalam”. Ini adalah oase, pengalaman bathin yang membahagiakan tetang arti penting persaudaraan dari ajaran Islam yang mulia.

    Alhamdulillah, Islam telah menganjurkan banyak hal positif termasuk anjuran mengenakan jilbab, busana muslim bagi para muslimah. Jilbab (kerudung) adalah sebuah bentuk interaksi simbolik, simbolisasi identitas agama yang dianut muslim. Dengan jilbab, sesama muslim jadi saling mengenal bahkan saya sempat diajak bercengkrama dan makan ice cream nikmat di sebuah kafe di Jerman sesaat setelah kami saling menyapa dan berkenalan di trotoar. Cerita terus berlanjut, sampai akhirnya saya mendengar langsung  opini mereka tentang Islam di Indonesia serta pandangan mereka terhadap negara kita. Tak berbeda jauh dengan citra yang dibingkai media massa karena mereka juga tahu Indonesia dari media. Namun sekiranya atau diharapkan citra itu berkurang setelah mereka juga mendengar apa yang saya tuturkan tentang negara kita.

    Sebagai master di bidang komunikasi, tentu saja saya banyak belajar dan memperdalam  payung besar teori Interaksi Simbolik dan Identitas Sosial didalamnya yang digagas para ilmuwan Barat. Sebelum jadi Master, setiap mingggu saya ditugaskan oleh pembimbing, seorang profesor komunikasi Indonesia dan dikenal pula di kalangan akademisi komunikasi dunia (Prof Alwi Dahlan, mantan Menteri Penerangaan sesaat sebelum Suharto lengser) untuk membuat ringkasan teori-teori tersebut dari berbagai sudut pandang, minimal 25 halaman folio diketik satu spasi dengan font time new roman 12. Bahkan riset yang saya lakukan di daerah rawan konflik SARA Kalimantan Barat juga menggunakan teori tersebut sebagai pisau bedahnya.

    Tapi terus terang, kedalaman arti teori-teori tersebut baru dapat saya rasakan ketika saya menjadi kecil (minoritas) di tempat orang. Alangkah berharganya kerudung murah yang saya gunakan sebagai penguat identitas Islam yang saya miliki, agama yang dianut sejak kecil. Bersyukurnya saya karena telah mengenakannya. Islam, rahmatan lil alamin. Sampai-sampai ketika akan membayar taxi dan kehabisan receh dengan senang hati sopir muslimnya mau dibayar seadanya. Begitu pun ketika berbelanja di pertokoaan yang dimiliki muslim selalu ada diskon. Semuanya berawal dari kerudung, interaksi simbolik yang dibangun Islam.

    Proximity (kesamaan) dan kedekatan memang baru akan semakin terasa ketika kita berada dalam ruang yang besar sehingga tingkat peluang (probabilitas) semakin kecil. Ketika peluang itu muncul maka akan semakin bernilai harganya. Inilah kira-kira logika yang dapat digunakan untuk menerangkan peristiwa yang saya alami. Sebenarnya apapun ragam bentuk identitas yang kita miliki akan demikianlah muaranya. Seseorang bisa memiliki lebih dari satu identitas berdasarkan ragam latar belakang kehidupan, asal-usul, agama, daerah, suku, bangsa, profesi dan sebagainya.  Dua orang petani yang terdampar di pulau nelayan akan merasa kedekatan yang sangat ketika bertemu karena hanya mereka berdua yang berprofesi sama di tempat itu, begitulah seterusnya.

    Semisal sebagai urang Belitong, tentunya akan semakin dekat dengan urang Belitong lainnya ketika berada di daerah atau negara lain. Dan mestinya harus semakin dekat lagi jikalau masih berada dalam satu komunitas dan wilayah yang sama, di Satu Pulau Belitong. Kini, menjelang peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan ke-173 alangkah indah dan mesranya bila kita rekatkan kembali tali silaturahim sebagai sesama keluarga “perenggu urang Belitong”. Nilai-nilai kearifan lokal dan kultur Belitong sangatlah sarat dengan keramah-tamahan, sopan-santun, dan budaya konteks tinggi lewat tradisi “begalor”, “becangek” dan bekelakar yang mampu mencairkan segala suasana.

    Saya dan juga anda tentu sangat ingin nilai-nilai luhur tersebut tidak terserabut dari akarnya. Budayakan saling tegur sapa dengan siapa saja dihiasi senyum manis, ramah tamah. Jangan sampai modernisasi mengalahkan kita. Jangan sampai tehnologi dan ilmu pengetahuan menjadi dewa, sementara kita menjadi budak karena faktanya tidak sedikit dari kita atau sebagian anak muda yang enggan berkelakar dengan “sedare” (sanak keluarga) hanya karena asyik bermain play station di kamarnya.

    Kalaupun sempat peristiwa kecil di Jerman saya ceritakan dalam tulisan ini. Tentu saja, hal itu hanyalah penghantar saja. Intinya, menjelang HJKT Tanjungpandan ke-173 mari dibangkitkan budaya luhur daerah kita, yang ramah dan sopan. Apalagi tiga tahun terakhir ini Belitung sangat gencar mempromosikan pariwisatanya. Ramah-tamah sepertinya asyik juga jadi oleh-oleh.
******

Ditulis oleh Zakina, S.Sos. M.Si.
Alumni Komunikasi Politik Universitas Indonesia
Kasubbag Pers dan Peliputan Humas Pemkab-Belitung