04/02/2012 | Oleh: Humas Setda Kab. Belitung

BELITUNG BEBAS SAMPAH

       Urusan sampah bukan lagi hanya termasuk dalam ranah domestik. Sampah saat ini telah menjadi urusan bersama. Benarkah?  Kalimat retorik yang membutuhkan komitmen semua orang karena tidak satupun dari kita yang tidak tahu apa itu sampah serta segudang masalah didalamnya. Masalah sampah dan menyampah adalah bagian dari siklus setiap individu sehari-hari. Pendeknya, tiada hari tanpa sampah. Setiap aktivitas menghasilkan sampah, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.  Kerjaan  kita semua adalah menyampah pada lingkungan di sekitar, baik ketika diam maupun pada saat beraktivitas atau berpergian, di rumah atau di luar rumah.

        Betapa tidak, bila di rumah saja, setidaknya setiap kali usai memasak dan aktivitas membersihkan rumah lainnya selalu menghasilkan polutan yang dikenal sebagai sampah. Begitu berangkat kerja, polutan dari kendaraan yang kita gunakan juga turut mengotori lingkungan. Kemudian, masuk lagi dalam kantor sudah tak terhitung  berapa banyak kertas terpakai namun karena salah konsep, berubah bentuk menjadi sampah. Saat makan siang tiba, sisa-sisa makanan dan pembungkusnya kembali menjadi sampah. Mungkin telah benar jika sesuatu tidak berguna dan dianggap sampah, sebagai seorang yang bijak maka sampah tersebut  dibuang ke tempat sampah. Perilaku terpuji ini seyogyanya menjadi habit kita semua, bahkan sejak dini. Namun setelah itu, kemanakah sampah yang menumpuk dari rumah atau kantor dibawa, benarkah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tujuannya? Atau malah sungai, kali, got, bandar serta selokan jadi penampungnya?

       Manusiawinya, setiap diri kita ingin selalu bersih dan terbebas dari sampah. Karena itu, setiap individu selalu membersihkan diri dengan cara mandi untuk tubuh, menyapu lantai untuk rumah dan pekarangan, mencuci baju, mencuci setiap bahan makanan sebelum dimasak serta aktivitas bersih-bersih lainnya. Semua menandakan bahwa kita yakin bahwa bersih adalah sebagian daripada iman. Sampah selalu dengan mudah dapat kita temukan, namun ada baiknya kita mulai cerita sampah ini melalui kognitif tentang apa dan bagaimana sampah sebelum bicara  tentang Belitung Bebas Sampah secara komprehensif.

      Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah  didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya berdasarkan sumbernya antara lain: Sampah alam, Sampah manusia, Sampah konsumsi, Sampah nuklir, Sampah industri, dan Sampah pertambangan.

      Berdasarkan sifatnya, sampah terbagi menjadi: Sampah organik - dapat diurai (degradable) dan Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable). Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. Sedangkan Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

      Berdasarkan bentuknya, sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai: Sampah Padat, yaitu segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

      Terlepas dari bagaimana jenis dan wujud sampah, jelasnya Kabupaten Belitung khususnya Kota Tanjungpandan belum terlepas dari masalah samapah. Kota Tanjungpandan masih sarat dengan sampah. Sisi lain, perekonomian Belitung kian bangkit dengan boomingnya Laskar Pelangi, pariwisata Belitung juga turut bangkit dan mulai menampakkan hasilnya. Berbagai event besar promosi pariwisata sukses digelar, semisal Sail Wabe 2011 yang lalu. Namun, promosi itu ternyata belum dapat mengubah wajah Belitung dengan pantai-pantainya yang cantik dan batu granik yang kokoh, apik fantastik  menjadi lebih bersahabat, lebih mempesona tanpa sampah di beberapa kawasan objek wisata penting seperti di Pantai Tanjung tinggi, Tanjung Kelayang, Tanjung pendam dan lain-lain. Sampah yang terbawa arus di musim barat ataupun sampah oleh pengunjung seakan menjadi deraan sekaligus ancaman bagi prospek pariwisata Belitung di masa yang akan datang.

      “Kunci utama pengelolaan ataupun penanganan sampah di Kota Tanjungpandan ini adalah partisipasi masyarakat,” ungkap Azhar, S.Ip selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Kabupaten Belitung pada pertemuan dengan kelompok pemerhati sampah di Hotel Biliton, Tanjungpandan Kamis Malam 2 Februari 2012. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan adalah prasyarat mutlak jika ingin melihat kota Tanjungpandan yang lebih bersih, rapi dan kondusif bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam Belitung. Karena itu, perlu dibangun sinergitas yang baik dan berkelanjutan antara apa yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan juga pihak swasta.

Dikatakan oleh Azhar bahwa setidaknya 200 kubik sampah dihasilkan oleh Kota Tanjungpandan setiap harinya yang dibawa oleh 6 (enam) armada truk angkut Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Pasar Pemkab Belitung menuju TPA. Tanpa kesadaran tinggi dari masyarakat tentunya hal ini tidak akan berhasil optimal, karena kapasitas yang ada, baik personil maupun armada bisa dikatakan sangatlah minim jadi mana mungkin bisa merangkum semua. Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah sampah di Belitung sangat membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, dimulai dengan tidak membuang sampah sembarang. Atas upaya tersebut pemerintah telah meletakkan tong-tong sampah di sejumlah titik wilayah seputar pasar dan tempat publik lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Drs. Abdul Fatah, M.Si menyampaikan bahwa urusan sampah dan menyampah dengan segala tetek bengeknya adalah urusan kita semua, pemerintah melalui dinas terkait serta partisipasi masyarakat dan swasta. Akan menjadi sangat baik jika segala upaya yang dirasa kurang optimal dari pemerintah akibat keterbatasan yang ada untuk menangani masalah sampah ini didukung dan ditutupi kekurangannya oleh pihak swasta dalam bentuk CSR (Community Sosial Responsibility). Target jangka panjangnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarang seperti yang menutupi sungai Siburik serta sungai-sungai lainnya. Karena seberapa besarnya upaya pemerintah untuk mengatasi masalah sampah tanpa dukungan masyarakat tentulah tidak akan berjalan lancar serta tercapai segala maksud serta tujuannnya.

Segenap potensi yang ada di Kabupaten Belitung ini adalah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk diberdayakan seoptimal mungkin bagi kepentingan masyarakat. Begitu juga halnya dengan masalah sampah. Sampah dapat dipandang sebagai sebuah potensi yang menyimpan segudang manfaat jika dapat diolah sesuai jenis dan peruntukkannya. Sekaligus memiliki potensi negatif  jika tidak ditangani dengan baik karena sampah merupakan sarang bibit penyakit. “Bila hal ini dapat dikelola dengan sistem penanganan yang baik, saya yakin dan percaya bahwa Belitung bebas sampah bukan hanya sekedar wacana semata, namun seratus persen dapat mendukung pencapaian pembangunan di bidang-bidang lainnya, termasuk Pariwisata yang kita gaungkan selama ini. Untuk itu, mari kita wujudkan komitmen dan gerakan Belitung bebas sampah ini di mulai dari diri sendiri, lingkungan sekitar hingga lingkup yang luas, “imbau Abdul Fatah.

Selaras dengan apa yang diinginkan Pihak Pemerintah Kabupaten Belitung, PT Pelindo melalui M. Ikbal menyampaikan bahwa pelaku-pelaku usaha swasta di Belitung beserta tokoh pemerhati lingkungan Belitung beserta masyarakat yang peduli tentang sampah akan melalukan berbagai kegiatan pengelolaan sampah melalui CSR diantaranya: sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dampak dan pemanfaatan sampah, kampanye untuk meningkatkan peran pemangku kepentingan, pengembangan lembaga untuk meningkatkan peran stakeholder, mengembangkan komunitas pengelola tingkat desa, memberikan dorongan dan motivasi. Selain itu, juga akan dilakukan pengelolaan sampah melalui pilot project guna mengurangi kendala dan hambatan penanganan sampah serta melakukan riset serta pengembangan untuk mengeevaluasi target capaian sekaligus pengelolaan data persampahan dan evaluasi efektifitas CSR. Bila semua ini dapat diwujudkan secara nyata, sangat yakin bahwa Belitung bebas sampah  menjadi kenyataan segera. Masyarakat berbudaya adalah masyarakat yang mampu membebaskan diri dari sampah. Karena buanglah sampah di tempat yang tepat dan dengan cara bijak, bukan di hulu sungai Siburik, laut serta pantai lainnya.*** (Humas Pemkab Belitung)