16/03/2012 | Oleh: Humas Setda Kabupaten Belitung

TITIAN ASA MENGGAPAI CITA-CITA

Apa yang dilaporkan tentang kondisi ekonomi Indonesia yang kian membaik dari waktu ke waktu, ternyata hanya menyisakan kebahagiaan bagi sekelompok individu saja. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya hanyalah isapan jempol semata. Yang benar adalah “yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin”. Ini bukanlah deretan kata dari bait sang maestro Dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Ini adalah sebuah fakta. Tudingan ini diperkuat dengan fakta bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia 70-80% masih terpusat di Pulau Jawa, tidak untuk seluruh kawasan wilayah. Masih banyak kelompok marginal, yang terpinggirkan hak-haknya secara hukum, sosial, ekonomi dan lainnya. Kasus korupsi meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi diperparah lagi dengan meningkatnya kriminalitas yang dipicu masalah ekonomi.

     Indonesia masih berada pada daftar negara terkorup di dunia.  Dalam survei Corupption Perception Index (CPI) terhadap 183 negara di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke -100 dengan skor 3,0 poin bersama dengan 11 negara lainnya yakni Argentina, Benin, Burkina Faso, Djonoti, Gabon, Madgaskar, Malawi, Meksiko, Sao Tome, Principe, Suriname dan Tanzania. “So What gitu loh?” Indonesia, boleh menangis dan akan terus menangis jika para petinggi negeri masih berpikir dan bertindak egois.

Indeks skor 183 negara mulai dari 0 (sangat korup) sampai 10 (sangat bersih) berdasarkan tingkat persepsi korupsi sektor publik. CPI mengukur persepsi korupsi yang dilakukan politisi dan pejabat publik dihasilkan dari penggabungan 17 survei lembaga-lembaga internasional yang melihat faktor-faktor seperti penegakan hukum anti korupsi, akses terhadap informasi dan konflik kepentingan.

Menyoroti fenomena yang terjadi di tanah air akhir-akhir ini seperti kasus wisma atlet yang menyeret sejumlah nama-nama besar di kalangan politikus dan pengusaha, tentunya banyak ironi yang tidak terbantahkan. Begitu mudahnya mereka, baik saksi maupun terdakwa berbicara panjang lebar tentang dana ratusan miliar dengan fee sekian persen bagi tiap-tiap proyek. Lalu, uang tersebut dibagi-bagikan untuk berbagai kepentingan individu serta kelompok. Fakta ini adalah duka mendalam bagi ibu pertiwi dan seluruh anak bangsa di negeri ini, mestinya. Tanpa dosa, mereka (para koruptor) membelanjakan hasil keringat rakyat yang disetorkan melalui pajak dengan alih-alih guna membiayai berbagai pembangunan. Namun, realitanya, hanya sedikit saja uang tersebut dipergunakan untuk pembangunan di maksud.
Korupsi terus mewabah di banyak negara di seluruh dunia. Ini menunjukkan beberapa pemerintah gagal melindungi warga negaranya dari korupsi, baik itu penyalahgunaan sumber daya publik, penyuapan ataupun pengambilan keputusan rahasia. Praktek-prakter korupsi tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri, tapi mulai berjama’ah. Bukan untuk ibadah tapi jamaah untuk korupsi. Aduh, kacau, kacau, dan kacau. Mungkin para pelaku salah mengartikan kata jama’ah sebagaimana yang diperintahkan karena Rasulullah tidak membuatkan bab-bab penjelasan dari pasal dimaksud sehingga multi tafsir pun terjadi. Dan kalaupun telah ada penjelasan tersebut, mungkin saja mereka amnesia. Negeri kita terkena wabah amnesia seperti yang akrab menjambangi alur cerita sinetron-sinetron tanah air. Wabah korupsi, wabah amnesia dan wabah-wabah lainnya. Lalu, bagaimana kelanjutannya?

Banyak uang rakyat diselewengkan. Kalaulah ada, pastinya setan kemiskinan masih  tertawa bahagia melihat banyak pengikutnya di negeri ini. Potret miris akan buruknya infrastruktur terlihat pula dari rutinitas harian anak-anak Kampung Dukuh Handap, Desa Batuhideung, Kecamatan Cimangu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Belasan anak usia SD dan SMP berkerumun di tepian sungai Cipatujah. Para siswa mencari-cari bagian sungai yang tidak terlalu dalam untuk diseberangi menuju sekolah mereka di Kampung Cicadas, Batu hideung.

    Anak-anak perempuan kemudian melepaskan rok seragam yang mereka kenakan dan lekas-lekas membelinkan kain sebagai penggantinya> Tas segolah dipanggul lalu secara perlahan mereka berjalan beriringan sambil menjejakkan kaki mencari pijakan batu di dasar sungai. Mereka harus perlahan meniti karena dasar sungai tidak terlihat. Meski sudah memilih jalur, tetap saja air sungai membasahi sebagian tubuh para siswa. Tampak pula, seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil dan duduk di kelas satu SD agar dapat menyeberangi sungai. Bagi pengendara sepeda motor, lebih parah lagi karena dengan susah payah mereka harus menggotong kendaraan yang mereka miliki setiap kali ingin melintasi sungai tersebut. Inikah manfaat pajak, uang rakyat dengan dalih pembangunan? Ada apa dengan mata para penguasa negeri, katarak atau rabunkah mereka? Sukarno-Hatta pasti menangis dan tercekat hatinya jika melihat kesusahan-kesusahan anak bangsa.

Titian asa menggapai cita-cita begitu sangat berat. Media dengan beragam programnya menampilkan cuplikan gambar beberapa keluarga yang harus melewati hari-harinya dengan hutang dan hutang. Sebagian lagi malah tidak berkesempatan untuk mengenyam pendidikan. Ada pula keluarga dengan sembilan anaknya harus tidur di kandang ayam diatas sungai karena tidak mampu membayar rumah kontrakan, apalagi membangun rumah. Hari ini, dengan mudah dapat ditemukan bayi-bayi serta anak penderita gizi buruk di beberapa kawasan tertinggal. Rakyat yang makan nasi aking dengan garam sebagai lauknya karena tidak berkecukupan membeli beras. Sementara itu, para politikus dengan bangga bercerita tentang bagi-bagi blackberry (BB) pada kongres Partai Demokrat di Bandung beberapa waktu lalu. Belum lagi bagi-bagi amplop berisi apel Malang (rupiah) dan apel Washington (dolar). Sungguh sebuah ironi yang kian menyesakkan dada. Benarkah negeri ini sedang frustasi?

Semangat demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia adalah roh dari reformasi. Menghadapi realita ketidakadilan yang kian meraja, sekelompok individu meneriakan keadilan dengan lantang. Sebagian lagi beraksi diam-diam dan dengan caranya sendiri. Sebagian lagi tidur. Sebagian lagi amnesia karena dirinya juga pelaku, baik utama maupun pendukung. Inikah Indonesia yang dicita-citakan.

Frustasi diawali dengan tidak terpenuhinya keinginan, kesenjangan antara harapan dan kenyataan terlalu besar lalu berkumpul menjadi awan hitam titik-titik masalah yang siap setiap saat berubah menjadi hujan deras. Chaos dan konflik mengancam setiap saat, siap meledak. Kapan dan dimana saja. Frustasi seringkali pula disalurkan dengan cara-cara salah. Jika hanya duduk meratap adalah sebuah keadaan statis yang tidak berguna apapun. Jika mesti berteriak lantang, keras-keras berteriak, berkumpul sambil bakar-bakaran di jalan, dirasakan juga sebagai keputusan yang kurang santun. Lalu kemana emosi impulsif ini disalurkan? Akankah wakil rakyat yang menjadi bagian dari dewan yang terhormat menjadi wakil dalam artinya sebenarnya jika belum apa-apa saja sudah minta uang suap dan pelicin. Duh, error semua. Mana Indonesia, zamrud khatulistiwa yang mempesona? Zamrud yang memancarkan keindahan telah berubah menjadi batu karang yang keropos.

Titian asa menggapai cita-cita tentunya masih sangat panjang dan terus berjalan melawan derasnya arus deviasi-deviasi di negeri ini. Aktor-aktor yang bermain di sejumlah adegan (kasus, red) harus berani berkata jujur, apa adanya selayaknya satria sejati. Di negara maju, seperti Jepang dan negara eropa lainnya, sang pemimpin akan rela mundur dengan senang hati jika mulai terjadi rumors penyimpangan di pemerintahannya. Namun, hal ini tentu tak terjadi di negeri bernama Indonesia tercinta. Pemimpin dengan kroni-kroninya sibuk mengurusi diri sendiri. Lalu, kemana Indonesia tercinta akan dibawa?

Kaum-kaum muda yang dipercaya menjadi tulang punggung bangsa di masa depan justru sibuk mencari sela agar dapat uang lelah, alih-alih samaran asli dari korupsi. Tak heran jika Gayus Tambunan, salah satu PNS di Lingkungan Departemen Keuangan memiliki uang miliaran rupiah di sejumlah rekening. Para birokrat muda sana-sini justru sibuk menggendutkan rekening pribadi melalui kecerdasan yang dimilikinya. Para mahasiswa, pelajar dan generasi muda lainnya sibuk dengan skandal pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba yang tak jarang berujung kriminalitas. Masih adakah prestasi buat bangsa kita?

Prestasi yang bisa dibanggakan adalah yang diraih para atlet di kancah Seagames beberapa waktu lalu. Sangat wajar jika mereka begitu di elu-elukan oleh masyarakat Indonesia yang haus akan penghargaan dan prestasi. Sudah sekian lama  Indonesia menanti agar dapat meraih kembali masa-masa emas yang sempat pupus. Tidak hanya di bidang olahraga, para pelajar muda Indonesia juga berjaya meraih emas pada olympiade sains Internasional. Deret demi deret prestasi seakan tiada artinya karena terlalu banyak oknum tak bertanggungjawab memecah arti kebanggaan kebangsaan ini. Seketika titian asa kembali runtuh karenanya.

Indonesia adalah bangsa yang subur makmur. Tongkat kayu bisa menjadi tanaman. Namun pernahkah orang berlomba-lomba menjadi petani yang memakmurkan. Tidak, begitu banyak orang yang mau berkompetisi secara tidak sehat hanya karena ingin menjadi politisi ketimbang jadi petani. Dunia politisi ternyata menjadi magnet tersendiri bagi banyak kalangan termasuk artis. Tak salah lagi, jika para selebrita negeri ini bermetamorfosa menjadi polisi. Tak salah memang, tapi hal itu dilakukan sesuai dengan kemampuan dan minat ataukah hanya sekedar cari sensasi, pemanis di rapat-rapat paripurna dewan yang terhormat. Sekali lagi ditegaskan, menjadi politikus adalah lahan yang subur ketimbang bercocok tanam mengolah lahan di negeri ini. Selebriti jadi petani, “ngak oke la yau”. Selebriti jadi politikus, itu baru oke. Suka atau tidak suka itulah realitanya. Semakin banyaknya artis yang serius masuk ke partai politik seolah hendak mematahkan anggapan miring bahwa artis hanyalah pemanis di panggung kekuasaan.

Sejumlah artis menorehkan namanya sebagai pejabat penting di daerah. Seperti Zumi Zola yang menjabat sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur, Jambi. Diky Chandra sempat menjadi Wakil Bupati Garut, Jawa Barat sebelum akhirnya mengundurkan diri. Rana Karno pun setelah menjadi wakil Walikota Banten. Kini bersama Ratu Atut memimpin Propinsi Banten sebagai Wakil Gubernur. Dede Yusup, menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat. Untung tidak jadi. Hebat hebat, artis pun beramai-ramai masuk ke senayan, tidak untuk mementaskan drama atau aktivitas berkesenian lainnya, namun jadi wakil rakyat.  Ada “Miing “ Bagito (Dedi Gumelar), Tere, Venna Melinda, Ingrid Kansil, Tantowi Yahya, Primus Yulistio, Eko Patrio, Rike Diah Pitaloka,  Rachel Maryam, Alm Ajie Massaid dan sang istri Angelina Sondakh dkk. Lengkap sudah komponen artis yang disebut-sebut sebagai wakil  rakyat di Senayan.

Sebagai seorang bijak, seyogyanya jangan langsung berpesepsi negatif terhadap fenomena ini. Toh, mereka juga rakyat Indonesia. Tidak salah, lagipula mereka pun memiliki basis pendidikan yang tidak jelek-jelek amat ditambah pendukung yang tidak sedikit. Maklum, mereka khan artis, penggemarnya banyak. Duit sekarung goni untuk modal mencalonkan diri dan wajah populer. Jadi tak sulit untuk meraup suara sebanyak-sebanyaknya. Cukupkah modal-modal ini? Karena kerjaan selanjutnya adalah bukan lagi tentang cara terbaik mempublikasikan diri dalam beragam seni pertunjukan namun menjadi wakil rakyat, urus-mengurus beragam kepentingan, penyalur aspirasi masyarakat serta mengurus legislasi dan menegakkan proses demokrasi yang digaung-gaungkan. Cukupkah bekal popularitas di masyarakat?

Tak selamanya artis bisa sukses menjadi politisi. Ada beberapa nama yang gagal maju sebagai anggota DPR atau pejabat daerah. Artis Julia Perse misalnya yang gagal maju sebagai Wakil Bupati Pacitan. Wah,  untung saja tidak jadi. Kalu jadi, entar tidak sempat bekerja namun dikejar infotaiment melulu dong. Ayu Azhari, Syaiful Jamil, dan Marissa Haque menambah daftar panjang artis yang gagal menjadi pejabat daerah.  Sedangkan dari Senayan, kegagalan artis  yang mencalonkan diri sebagai angota DPR menimpa Tessa Mariska dan Irwansyah.

Titian asa menggapai cita-cita dialami setiap anak negeri, di kampung bergulat dengan arus sungai deras dan meniti dalam artian harfiah sekaligus demi suatu cita-cita. Sedangkan di tingkat elit, titian asa adalah berkecamuk dengan argumen dan alibi agar tidak menjadi tersangka dalam kasus korupsi serta tindak pidana lainnya. Titian asa juga dilalui selibrita yang kenyang dengan popularitas dan ingin menjadi politikus. Beberapa diantaranya selamat dalam meniti asa dimaksud. Sedangkan lainnya gagal bahkan tergelincir, terjun bebas, bebas dan bebas.

Setiap kehidupan menandakan adanya asa. Begitu pula sebaliknya, asa adalah bukti akan adanya kehidupan. Titian meraih cita-cita yang diharapkan tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apapun keadaannya, jangan pernah berhenti di tengah jalan. Pegang erat-erat tali keyakinan, jika tidak ingin terseret arus. Keyakinan itu adalah sikap malu kepada Allah SWT jika hendak membelanjakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Keyakinan itu adalah kesadaran dan tanggung jawab menyelesaikan setiap persoalan bahwa sekalipun sulit, pertolongan Allah akan datang. Keyakinan adalah rasa percaya diri, bahwa kita mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kita. Keyakinan adalah rasa ingin tahu dan kemauan belajar yang tinggi agar tidak terjerembab pada kebodohan. Keyakinan itu adalah ketulusan, kejujuran serta keikhlasan agar asa tidang menjadi arang bahkan abu dan debu yang bertebangan diterpa angin, berlalu dan terlupakan. Keyakinan adalah sebuah perjuangan panjang meniti jalan dan menghadapi aral melintang dihadapan mata. Keyakinan adalah prestasi untuk hidup yang lebih baik di masa depan.

Boleh jadi hari ini Indonesia miskin jasmani, rohani dan infrastruktur di sana – sini. Namun esok, rakyat Indonesia tidak boleh lagi makan nasi aking. Tidak boleh lagi ada anak-anak putus sekolah dan menjadi anak jalanan.  Jangan ada lagi bayi-bayi menangis karena kelaparan. Balita Indonesia tidak boleh menjadi penderita busung lapar dan penyakit lainnya. Tidak boleh lagi ada fakir miskin, orang tua jompo serta perdagangan manusia di bumi khatulistiwa ini. Bila titian asa dipahami sebagai suatu bagian dari perjuangan. Maka, muluskan titian tersebut sebelum terjungkal dan menjadi petaka agar bahagia itu semakin nyata adanya. Indonesia yang lebih maksur, aman, dan sejahtera  serta mampu mengejar segala ketertinggalan. Titian asa adalah sebuah dinamika yang mestinya pula dipahami sebagai suatu prestasi tersendiri bagi para pejuang sejati. Bila seutas tali direntangkan, maka kaitkanlah pada tiang yang kokoh agar perjuangan itu tidak mati di tengah jalan. Kalaupun meraja korupsi di negeri ini, maka taburrkanlah lagi lebih banyak orang cerdas dan berani dalam menentang kemunafikan, kebohongan, dan kebodohan-kebodohan tersebut.