21/04/2012 | Oleh: Zakina, S.Sos, M.Si

Kartini

Pertanyaan serupa terulang kembali ketika semasa kuliah saya mesti bersaing dengan mahasiswi dan mahasiswa lain untuk meraih gelar mahasiswa berprestasi. Ya, tentu saja jawabannya mendasar pada hal yang sama hanya saja ditambah dengan contoh kasus. Korelasi positif dan negatif dengan faktor x serta y. Mungkin jawaban itu benar, hingga saya pun terpilih mewakili kampus. Pengalaman itu begitu membekas, pada saat saya kuliah dan bekerja apalagi saat momen hari lahir kartini diperingati dengan lomba-lomba baju kebaya kartini. Benarkah emansipasi yg digagas Kartini telah meluas wujudnya? Seberapa besar tingkat kemajuannya? Dan seterusnya. Sampai saat ini saya belum pernah melakukan ataupun membaca riset khusus terhadap hubungan peringatan Hari Kartini dengan Keberhasilan Perempuan.

Hari ini, masih dapat kita saksikan sebagian  kaum perempuan termajinalkan secara budaya, ekonomi, sosial, hukum,politik, pendidikan dan lain-lain. perempuan-perempuan terpinggirkan saya jumpai langsung ketika riset di Pedalaman Kalimantan  untuk merampungkan studi magister komunikasi politik yang saya tempuh. Berapa banyak perempuan yang menjadi korban perdagangan orang, korban penganiayaan KDRT, putus sekolah, hamil di usia belia, perkawinan paksa dan seterusnya. Begitu parahnya kondisi perempuan di luar diri kita yang tidak berdaya berbuat apa-apa bahkan untuk menolong dirinya sendiri. Bila Kartini masih ada, saya yakin dirinya akan tercekat memandang fenomena sosial yang melanda perempuan masa kini. Meskipun tak dinafikan sebagian perempuan lainnya meraih kesuksesan di berbagai bidang.

Perjuangan menegakkan hak-hak perempuan dalam artian emansipasi sesungguhnya tentulah tidak akan melunturkan nilai-nilai kondrati perempuan seperti menjadi ibu dan istri yang baik. Bagi saya, perjuangan emansipasi mesti dimulai dengan menjadikan diri perempuan sebagai sosok sholihah.

Dan kembali bagi diri saya sendiri, Kartini yang menginspirasi adalah sosok ibunda tercinta. Karena jauh sebelum saya ditanyai juri tentang Kartini atau bahkan sebelum saya bisa membaca, Ibu selalu mengajarkan pentingnya menjaga harkat dan martabat sebagai perempuan.  Diajarinya cara bersopan santun, bersabar menempuh kesulitan, menghargai diri sendiri dengan cara berdandan dan berpakaian baik, hidup sederhana dan kegigihan meraih cita-cita yang dimimpikan. Saya kira inilah intinya emansipasi yang digagas Kartini sekian abad silam. Bisa jadi, sosok ibu saya merasuk pada gambar R.A. Kartini yang dipajang di ruang wawancara.