06/07/2012 | Oleh: Humas Setda Kab. Belitung

Sambutan bupati Belitung pada acara Peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke-174, Tanggal 1 Juli 2012

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi Kita Semua,

Saudara Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Dewan yang Terhormat serta Hadirin yang Berbahagia,

    Puji syukur tiada hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa berkat rahmat, karunia dan ridhonya sampailah kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat di Ruang Sidang DPRD yang terhormat ini, untuk mengikuti Rapat Paripurna Istimewa I Masa Persidangan II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Belitung Tahun Sidang 2012, dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke-174, Tanggal 1 Juli 2012.

    Atas rahmat dan hidayahNya, mudah-mudahan kehadiran kita pada Rapat Paripurna Istimewa ini dapat mempererat silaturahim, sekaligus memperkokoh persatuan dan kesatuan serta semangat kebersamaan kita dalam membangun Kota Tanjungpandan yang telah diwariskan oleh almarhum KA.Rahad.

    Sholawat dan salam marilah pula kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, karena Beliaulah yang Rahmatan lil Alamin yang telah menanamkan aqidah dan akhlak sehingga kaum muslimin dan muslimat senantiasa berada di barisan terdepan dalam menegakkan kedaulatan, kehormatan, dan martabat bangsa dan negara.



Hadirin Sidang Dewan Yang saya Hormati,

    Sebagaimana kita maklumi bersama, Rapat Paripurna Istimewa Peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan merupakan puncak apresiasi kita daerah terhadap sejarah perjuangan bangsa, yang kita laksanakan setiap Tanggal 1 Juli sejak disahkannya Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 17 Tahun 1990 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Tanjungpandan. Rapat Paripurna Istimewa  hari ini merupakan Rapat Paripurna Istimewa ke-21, setelah Rapat Paripurna Istimewa Pertama dilaksanakan pada Tanggal 1 Juli 1992.

    Sebagaimana layaknya momentum peringatan Hari Jadi, sudah selayaknya kesempatan ini kita gunakan untuk melihat kebelakang, bahwa lebih dari sekedar saksi sejarah, Kota Tanjungpandan merupakan bagian integral perjuangan KA.Rahad dalam menyatukan Rakyat Belitung untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kota Tanjungpandan menjadi pusat perjuangan, untuk menegakkan kedaulatan Belitung sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Oleh karena itu, pada momentum HJKT, kita senantiasa melakukan ziarah ke makam KA.rahad di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong untuk mengenang jasa beliau sebagai pahlawan dan pendiri Kota Tanjungpandan. Dengan ziarah tersebut kita berharap, setiap langkah kita membangun Kota Tanjungpandan sebagai ibukota Kabupaten Belitung, senantiasa dijiwai semangat untuk menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, adil, makmur dan sejahtera, sebagaimana diwariskan almarhum KA.Rahad dan para pejuang pendahulu kita.

    Sejarah panjang Kota Tanjungpandan tidak dapat dilepaskan dari berdirinya kerajaan Balok, sebuah kerajaan yang didirikan oleh keturunan Majapahit bernama Ronggo Udo yang datang ke Belitung sekitar abad ke-16  kemudian mendirikan Pemukiman di Balok Lama (sekarang berada di Kecamatan Dendang-Belitung Timur). Pernikahan Ronggo Udo dengan puteri dari Kerajaan Palembang membuat dirinya serta keturunannya berhak menyandang gelar Ki Agus (KA) untuk laki-laki dan Nyi Agus (NA) gelar kepada perempuan. Dan, karena pernikahan itulah Ronggo Udo mendapatkan gelar Depati Cakraningrat dari kesultanan Palembang dengan lokasi pusat pemerintahan yang berpindah-pindah.
    
    Pusat  pemerintahan pertama dari Balok Lama ke Balok Baru lalu  ke Tanjung Simba atau dikenal juga dengan sebutan Kota Karang atau Kota Tanah hingga masa pemerintahan Depati Cakraningrat ke-7 atau dikenal dengan panggilan K.A Khatam. Ekspansi Inggris ke Cerucuk menyebabkan K.A Khatam terbunuh dan penerusnya Depati Cakraningrat ke-delapan atau yang disebut K.A Rahat melarikan diri menyusuri Sungai Cerucuk hingga tiba di muara Sungai Siburik. Sejak saat itu, K.A Rahad mulai menetap di Tanjungpandan.
        
    Keberadaan Kota Tanjungpandan diawali oleh 2 wilayah, yakni Kampung Gunong sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dibangun K.A Rahat dimasa pelariannya dan Kampung Ilir sebagai pusat ekonomi yang dimukimi bangsa Tionghoa (orang Cina) sekaligus disinilah awal mula terbentuknya perkampungan penduduk di Kota Tanjungpandan jauh sebelum K.A Rahat datang serta mendirikan pusat pemerintahan. K.A  Rahat adalah pendiri kota kerajaan lahir pada Tahun 1821 dan meninggal Tahun 1854. Dirinya membangun sebuah istana dikelilingi benteng di Kampung Gunong atau Tanjung Gunong untuk mengawasi orang asing yang datang ke Belitung melalui Sungai Cerucuk.
        
    Permukiman kecil di sekitar pertemuan Sungai Cerucuk dan Sungai Siburik, kira-kira di sekitar Kelenteng Hok Tek Che (pecinan/pasar bawah) sekarang. Keberadaannya diketahui pada thn 1759 ketika Residen Palembang De Heere berkunjung ke Kerajaan Balok yang ketika itu berkedudukan di Tanjung Simba, Cerucuk. Permukiman kecil ini kemudian berkembang dan disebut Kampong Iler (hilir) karena terletak di hilir sungai Siburik.
        
    Pemukiman selanjutnya adalah Tanjung Gunong kemudian disebut Kampong Gunong, lokasi kampung ini berada di sepanjang sisi selatan Jalan Merdeka sekarang, bermula dari Tanjung Gunong (benteng kuehn) hingga Jalan Tendean. Tahun 1823, Belanda membangun benteng di Tanjung Gunong (kini RTVS Dinamika). Di Kampong Gunong inilah, KA. Rahad tinggal di rumah panggung yang didirikan di atas lumpur (berbatasan dengan laut), kira2 di seberang eks penjara Tg pandan sekarang, hingga wafat pada Tahun 1854.
        
    Tahun 1853, Kampong Gunong berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial dengan dibangunnya perkantoran pemerintah Belanda diantaranya kantor asisten residen (sekarang menjadi kantor dinas pendidikan), dan rumah asisten residen (sekarang Kantor Kodim). Disusul kemudian dengan kantor kepala distrik, gedung landraad, dinas pertanian, dan sebagainya.
        
    Tahun 1854, KA Rahat wafat, digantikan oleh adiknya KA Mohammad Saleh sebagai Depati Tjakraningrat IX (1854-1873). KA Mohammad Saleh memindahkan pusat pemerintahan ke Kampong Ume (sekarang mesjid Al Mabrur, Jl.Rahat, dan sekitarnya).  Lalu,  KA Mohammad. Saleh pindah ke Kampong Ume yang semula merupakan ume (huma) ini pada tahun 1854, diikuti oleh sebagian besar bangsawan Belitung. Di tempat ini, KA Mohammad Saleh membangun mesjid berbahan kayu, yang dikembangkan pada tahun 1868. Tahun 1870 dibangun kembali dengan bantuan pemerintah, selesai tahun 1872. Mesjid Depati Saleh ini adalah cikal bakal masjid agung Al- Mabrur sekarang.
        
    Pemukiman selanjutnya adalah Kampong Pandan. Kawasan Kampong Pandan meliputi kompleks perumahan UPT.Bel (perumahan Tanjungpendam sekarang). Tempat ini dibuka tahun 1854, berupa gudang-gudang penyimpanan dan kamar-kamar untuk menginap. Kamar-kamar ini kemudian berkembang menjadi hotel pantai (mess KJUB Pertim sekarang). Bangunan permanen pertama di Kampong Pandan dibangun tahun 1862, yaitu rumah Tuan Kuase (hoofdadministrateur) yang kini menjadi Wisma Bougenville. Kawasan ini terus tumbuh dengan dibangunnya rumah administratur, rumah vertegenwoordiger, emplasemen perusahaan, chineesche hospital, europeesche kliniek, Juliana park, dan perumahan ambtenaar(pegawai).
        
    Selanjutnya, pusat kota (tugu satam sekarang) berkembang bersamaan dengan perkembangan perusahaan timah Belanda di Belitung. Terletak diantara Kampong Pandan di barat, Kampong Gunong di tenggara, Kampong Ume di Timur, dan Kampong Iler (pecinan) di selatan.
        
    Bangunan tua yang monumental di pusat kota adalah kantor pusat Billiton Maatschappij (barata dept.store) dan Rumah Kapiten Ho A Jun (Hotel Billiton sekarang). Persis di depan kantor pusat terdapat standplaats (terminal angkutan), yang berseberangan dengan  passarlodsen (1868), gedung batu (bioskop), kafe senang, dan pertokoan. Kawasan ini juga disebut Pasar Atas.

    Dengan demikian sampai dengan Tahun 1860-an terdapat empat pusat pemukiman di Tanjungpandan:
- pusat perdagangan/ekonomi (pasar, pelabuhan, pecinan) di Kampung Iler,
- pusat pemerintahan/birokrasi di Kampung Gunong,
- pemukiman perusahaan timah belanda di Kampung Pandan,
- pemukiman bangsawan/pribumi di Kampung Ume.
   

    Sejarah perkembangan wilayah Kota Tanjungpandan ini saya hantarkan kepada seluruh hadirin di Ruang Sidang Terhormat ini sebagai sebuah renungan betapa waktu amat menentukan. Kini, Tanjungpandan semakin luas cakupan wilayahnya. Penduduknya pun terpadat di Belitung. Tercatat penduduk Kota Tanjungpandan saat ini sebanyak 88.130 jiwa terdiri dari 56.227 orang kategori dewasa dan 10.381 jiwa masih tergolong penduduk miskin. Pastinya, akan semakin banyak effort (usaha) yang harus kita lakukan agar Tanjungpandan semakin baik.

    Insyaallah, dari waktu ke waktu, semangat tersebut tidak pernah pudar, bahkan kita akan terus membangun dan bekerja keras mewujudkan Kota ini menjadi kota yang penuh keberuntungan, sesuai dengan makna semboyan BERTUAH yang kita sepakati bersama, yakni Bersih, Elok, Ramah, Tertib, Ulet, Aman dan Harapan.
   

Hadirin Sidang Dewan Yang saya Hormati,

    Menjadi kehormatan dan kebahagiaan bagi saya untuk dapat hadir dan memberikan sambutan pada kesempatan ini. Memasuki usia 174 tahun tentulah bukan usia yang singkat, pastilah banyak perubahan yang terjadi seiring dengan tingkat dinamisasi penduduk yang semakin aktif dari waktu ke waktu.

    Karena itu, bertepatan dengan Hari Jadi Kota Tanjungpandan ke-174 ini, saya sampaikan capaian prestasi Kabupaten Belitung secara umum di semua sektor kehidupan.

    Mamasuki serta memandang Kota Tanjungpandan hari ini tentulah tampak sedikit runyam, kecepatan kendaraan pun harus turut dikurangi karena adanya aktivitas pelebaran jalan sebagai lanjutan dari program pembangunan di tahun sebelumnya. Aktivitas ekonomi terhenti sejenak manakala proses pemindahan tiang listrik dilakukan. Sambungan telpon dan suplay air juga turut terhenti, kemudian jalan masuk ke rumah penduduk juga terhambat akibat pembangunan jalan tersebut. Belum lagi, meningkatnya polusi udara dan polusi suara akibat aktivitas pembuatan jalan serta deru stumble, mesin pengaduk semen, las besi jembatan serta mobil penggeruk tanah.

    Alhamdulillah, semuanya tidak mengurangi etos kerja kita semua untuk membangun Belitung ke arah yang lebih baik. Malah dari sinilah, terlihat betapa gigihnya masyarakat Belitung dan Tanjungpandan khususnya menghadapi hambatan yang terjadi. Berbagai aktivitas kerja dan sekolah tidak terhalang sedikit pun akibat pembangunan tersebut, malah menjadikan masyarakat lebih rajin dan lebih pagi berangkat ke sekolah dan tempat pekerjaan.
   
     Di pasar, sebelum fajar menyingsing aktivitas jual beli mulai dilakukan. Begitupun di tempat publik lainnya, seperti di pelabuhan, di bandara dan sebagainya, penumpang mulai antri masuk ke kapal menuju arah dan harapan diinginkan. Terminal-terminal bis seakan tiada pernah sepi penumpang. Begitu juga dengan di bandara, travel agent tidak pernah kehabisan pekerjaan antar jemput penumpang. Kiranya jelas terlihat geliat pertumbuhan ekonomi berangkat naik.

    Keuletan dan gambaran kegigihan luar biasa juga tampak di pom-pom bensin manakala masyarakat, pedagang eceran, pegawai, para sopir truk dan angkutan serta semua kalangan mau berduyun-duyun mengantri bensin dan membudayakan budaya disiplin serta sopan menghargai hak-hak orang lain tanpa ada bentrok berarti.
        
    Potret kedewasaan masyarakat Belitung dan Tanjungpandan khususnya juga terlihat dari keramah-tamahan masyarakat menyambut pengunjung yang datang ke Belitung serta pada saat Pilkada Gubernur beberapa waktu lalu, keamanan dan ketertiban menjadi sangat kondusif.
   
    Menjawab pertanyaan yang disampaikan dengan jujur dan penuh keikhlasan adalah episode positif bagi tercapainya tujuan pembangunan yang kita citakan dan kita inginkan dari masyarakat. Selanjutnya, pelayanan para aparatur pemerintahnya juga mulai beranjak semakin baik dengan menerapkan standar pelayanan prima pada berbagai aktivitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sebut saja pada saat penerapan e-KTP misalnya.
        
    Pusat kota juga semakin tertib dan tertata, para pengendara mulai menyadari akan pentingnya keselamatan diri. Beberapa objek wisata di seputar Kota Tanjungpandan juga semakin sadar akan pentingnya kebersihan. Pastilah terdapat sisi lemah yang harus kita perbaiki di masa mendatang. Namun, kiranya kita semua sepakat jika Tanjungpandan dulu, kini, dan yang akan datang akan terus berbenah menjadi lebih baik lagi. Semangat kebersamaan dan kekompakan juga akan terus di tingkatkan. Sinergitas positif menuju Kota Tanjungpandan yang diidamkan.

Ketua Dewan dan Anggota Dewan serta Hadirin yang  Saya Hormati,

    Sentral pembangunan kita dimulai dari terwujudnya pelayanan pendidikan dan kesehatan memadai bagi seluruh masyarakat melalui berbagai program pendidikan gratis di berbagai jenjang dan juga jaminan kesehatan masyarakat yang terpantau dengan baik. Karena itu, dapat terlihat betapa pembangunan fisik di kedua bidang tersebut menjadi hal utama dalam pembangunan di daerah kita.

    Capaian di bidang pendidikan, pada Tahun Anggaran 2011 lalu cukup banyak kegiatan yang ditujukan untuk perluasan kesempatan memperoleh pendidikan, termasuk juga untuk mengurangi angka putus sekolah. Prestasi di bidang pendidikan terindikasi dari meningkatnya prosentase APK dan  APM serta menurunnya angka putus sekolah pada semua  jenjang pendidikan di Kabupaten Belitung.

    Berdasarkan hasil Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Berstandar Nasional (UASBN) Tahun Pelajaran 2010/2011, untuk jenjang SD persentase kelulusan sebesar 100%, jenjang SMP sebesar 99,52%, dan jenjang Sekolah Menengah (SM) sebesar 88,96%. Sedangkan dari perolehan NEM untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTS mengalami kenaikan. Pada jenjang sekolah menengah terutama SMA mengalami penurunan dan setingkat SMK mengalami kenaikan.

    Dari seluruh perencanaan, program dan kegiatan yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan sepenuhnya. Jumlah kegiatan seluruhnya sebanyak 80 kegiatan, baik fisik maupun non fisik dengan total realisasi pemanfaatan keuangan sebesar 96,54%.

    Prestasi generasi muda dan pelajar Belitung cukup membanggakan. Dua orang putera dan puteri Kabupaten Belitung atas nama Tresna Gumilar dari SMAN 2 Tanjungpandan dan Nugra Novita Nur Arbani dari SMAN I Tanjungpandan terpilih mewakili Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ke Tingkat Nasional sebagai anggota Paskibraka, serta 6 (enam) orang putera dan puteri Belitung mewakili Belitung di Tingkat Propinsi.

    Prestasi generasi muda dan pelajar juga diraih di bidang olahraga, antara lain: Peringkat I O2S.SD, Peringkat II O2S.SMP, Peringkat III O2S.SMA dan Peringkat IV POPDA, kesemuanya di Tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

    Generasi cerdas, berkualitas dan berahlak mulia adalah harapan kita semua. Susul-menyusul prestasi ditorehkan oleh putera-puteri Belitung di berbagai tingkatan. Di bidang kepemudaan, tercatat dan terpilih satu peserta Pertukaran Pelajar Antar Negara (PPAN) atas nama Michelle Anggia dengan negara tujuan Australia dengan agenda pelaksanaan selama 4 bulan (September-Desember mendatang).

    Prestasi putera-puteri Belitung belum berhenti.  Selanjutnya, Belitung juga mempunyai pembuat dan pencipta “Alat Pompa Air Sepeda” atas nama Rizki H, Al-Qodri, dan Putri Ajeng.S dari SMA Negeri I Tanjungpandan, sebagai Pemenang Pertama Lomba Teknologi Tepat Guna Tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2012. Pada lomba TTG ini, Saudara Agustanto yang mewakili Kecamatan Badau dengan Alat Pemanggang Serbaguna” juga keluar sebagai pemenang Harapan III TTG tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

    Selain itu, terpilih 2 (dua) orang duta anak untuk menjadi peserta Forum Anak Propinsi Kepulauan Bangka Belitung atas nama M.Amar Hidayatullah dari SMP Negeri 2 Tanjungpandan dan Rama Saputra dari SMA Negeri I Tanjungpandan.

    Di bidang kepariwisataan, Duta Wisata kabupaten Belitung berhasil memenangkan Duta Wisata Kategori Persahabatan atas nama Wella Anggraeni, Puteri Fotogenik atas nama Cinderi Maura Restu serta Violerin Ufiezta Sultan sebagai juara pertama Putri Pariwisata tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan juara ketiga pada ajang yang sama di tingkat nasional.

    Di bidang pemerintahan dan pembinaan desa. Tahun ini Kabupaten Belitung kembali terpilih kembali sebagai juara pertama dalam 2 (dua) tahun berturut-turut sekaligus akan menghadiri Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI pada Tanggal 17 Agustus di Istana Negara sebagai Pemenang Perlombahan Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2012, yaitu: Desa Batu Itam Kecamatan Sijuk sebagai Pemenang I Lomba Desa dan Kelurahan Parit Kecamatan Tanjungpandan sebagai pemenang III Lomba Kelurahan. Sebagai tambahan informasi, tahun lalu desa Prepat dan Kelurahan Kota Tanjungpandan juga meraih peringkat pertama pada lomba dimaksud.

    Prestasi-prestasi di bidang pemberdayaan masyarakat, desa, perempuan dan KB tahun ini antara lain:
1. Desa Seliu sebagai Juara Pertama Lomba PKK-KB-Kes Tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
2. Desa Badau sebegai Pemenang Pertama Lomba Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) tingkat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
3. Belitung sebagai Juara Pertama Tingkat Propinsi Kepualauan Bangka Belitung dan harapan II Tingkat Nasional pada Lomba Kader Bina Keluarga Balita (BKB).

Ketua Dewan dan Anggota Dewan serta Hadirin yang  Saya Hormati,

    Tahun ini adalah tahun menuai hasil dari kerja keras kita semua. Setiap elemen masyarakat telah menyatukan diri pada tekad dan komitmen mendasar mewujudkan Belitung yang semakin maju, mandiri, berdaya saing dan sejahtera, sekarang serta untuk di masa mendatang. Untuk itu, pemerintah telah melakukan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM PISEW) sejak Tahun 2009-2012, yang penilaian dari pusat terhadap pelaksanaan program ini sangat baik.
    
      Hal tersebut ditandai dengan progres fisik dan keuangan pelaksanaan program yang selalu tepat waktu. Oleh Karena itu, Kementerian Pekerjaan Umum memberikan apresiasi berupa Piagam dan Plakat kepada Pemerintah Kabupaten Belitung melalui Tim Koordinasi dan Tim Sekretariat Kabupaten Belitung PNPM PISEW Kabupaten Belitung.  Pada Tanggal 13 Juni 2012 yang lalu, Pemerintah Kabupaten Belitung melalui Bappeda Belitung juga menerima kunjungan Rombongan Tanah Laut yang ingin melihat dari dekat keberhasilan Belitung.
    
    Untuk PNPM Mandiri Perkotaan, Belitung mendapatkan penghargaan sehingga dapat terus melaksanakan Program PAKET atau penanggulangan Kemiskinan terpadu selama 3 tahun sejak 2009 sampai dengan 2012. Selain itu, Belitung juga mendapatkan Program PLP-BK Pembangunan Lingkungan Berbasis Komunitas.
        
    Belitung yang terus bertumbuh mewujudkan visi serta misinya juga memiliki dukungan dan komitmen yang kuat dari komponen masyarakat, penggerak roda perekonomian di lini terbawah. Hal ini terbukti dari capaian prestasi dari Pendamping Kelompok Usaha bersama (KUBE) dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Berpotensi Tahun 2012, atas nama:
1. Tanti Rosita, sebagai Pendamping KUBE dari Desa Perawas Kecamatan Tanjungpandan, dan;
2. Rosnadi, sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Desa Terong Kecamatan Sijuk.

    Melalui momentum ini disampaikan prestasi di bidang kependudukan yaitu  penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Kepada Bupati Belitung, Ketua DPRD kabupaten Belitung dan Kepala Disdukcapil atas capaian kinerja keberhasilan dalam pelaksanaan penerapan e-KTP di Kabupaten Belitung.
        
    Segala potensi dan keberhasilan pembangunan berikut program kerja yang sedang kita laksanakan sudah seyogyanya dapat diinformasikan secara tepat, akurat dan secepat-cepatnya dalam rangka diseminasi dan keterbukaan informasi publik. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Belitung melalui Humas melakukan kegiatan pengelolaan informasi kehumasan dengan media website yang dirilis beberapa tahun silam. Alhamdulillah tahun ini, berdasarkan penilaian dari Bidang Penelitian dan Pengkajian Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, website Pemkab Belitung menjadi pengelola terbaik se-Propinsi Kepulauan Bangka Belitung serta menjadi objek penelitian khusus bersama dengan Jambi dan DKI Jakarta mengingat tingkat kunjungan yang terus meningkat signifikan.

    Informasi yang disampaikan kepada publik bukanlah hal yang direkayasa namun benar-benar menggambarkan akan betapa kerasnya perjuangan dan komitmen kita untuk menjadikan Belitung dengan segenap potensi yang ada terus bergerak maju. Untuk itu, pada setiap eksibisi Belitung ikut serta berpartisipasi mempromosikan Belitung kepada dunia luar. Di bulan yang sama dengan pencapaian pengelolaan informasi kehumasa, Pemkab Belitung juga berhasil keluar sebagai stand terbaik ketiga setelah Yogyakarta dan Kudus pada Eksibisi di Ci-Walk Bandung yang saya pantau perkembangannya secara langsung ke lapangan.
   
Ketua Dewan dan Anggota Dewan serta Hadirin yang  Saya Hormati,

    Belitung telah dikenal sejak abad ke sepuluh yang awal mulanya dikenal sebagai Kau-Lan oleh bangsa Cina. Kembali saya sampaikan ada tiga titik kecelakaan yang membawa Belitung kurang cepat perkembangannya. Dan 2 diantaranya itu, tercatat dalam lintasan sejarah dunia. Peristiwa penting yang saya katakan dengan istilah kecelakaan ini adalah:

    Pertama, Traktat London dimana  Inggris mengembalikan wilayah kekuasaan Belanda yang semula diambil Inggris berdasarkan Kapitulasi Tuntang, termasuk Bangka Belitung yang  jatuh ke tangan Belanda. Raffles sempat mempertimbangkan untuk menukar Belitung dengan Singapura kepada Belanda, karena posisi strategis Belitung dalam lintas perdagangan dunia. Namun, niat ini urung dilakukan dan seandainya hal ini jadi dilakukan entah seperti apa Belitung saat ini. Inilah kecelakaan pertama.

    Kedua, pada gagalnya salah seorang Jenderal Belanda di Belitung untuk memperjuangkan Belitung sebagai pusat kepelabuhan kepada pemerintahan Hindia Belanda di Batavia pada masa konsesi timah kedua. Peristiwa ini saya sebut sebagai kecelakaan kedua, seandainya hal ini jadi dilakukan pastilah saat ini saya dan kita semua tidak perlu lagi memperjuangkan Belitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.
        
    Ketiga, dan memang peristiwa ini belum terjadi adalah saat ini ketika kita tidak mampu memanfaatkan segala peluang dan potensi yang dimiliki Belitung untuk diisi dengan hal-hal positif, seperti momentum kebangkitan pariwisata yang sekarang ini kita rasakan. Begitu banyak potensi alam yang kita miliki, namun lihatlah betapa kurang pedulinya terhadap kebersihan kota, ketertiban berlalu lintas, budaya cerdas dan informatif serta segudang budaya destruktif lainnya.
        
     Kecelakaan ketiga ini patut menjadi pemikiran bersama akan solusi tepat apa yang harus dilaksanakan bersama. Demikian hal yang dapat saya sampaikan. Terima kasih dan Selamat Hari Jadi Kota Tanjungpandan, Kota Bertuah ke-174.
   
Dayang Belitong ceria menari
Tamu disambut Tari Selamat Datang
Urang Belitong Sangatlah Berbudi
Kute Tanjong Pandan pun Semakin Matang

Sanggul Elok Dirangkai Kembang Melati
Melati Disusun ule Dayang Belitong
Sedare Semua Jadi Bersenang Hati
Tanjungpandan Siang-Malam Ramai Pengunjong

Jalan-jalan Ke Boulevard
Pasti ngeliat Batu Satam Gede
Tanjupandan Mulai Menggeliat
Pertande Belitong akan Jaye
    
    
    
Sekian dan Terima Kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

BUPATI BELITUNG
   
   
Ir.H.DARMANSYAH HUSEIN