06/02/2015 | Oleh: Verry Yudhistira

Lebih Dekat Dengan Bang Sanem. Pemimpin yang sederhana, blak-blakan dan apa adanya.

“Negara ini katanya negara maritim, tapi ikannya masih impor.

Negara ini juga katanya negara agraris, tapi pemenuhan kebutuhan akan berasnya juga impor. Karena itu saya bermimpi, mimpi kecil yang sedari dulu saya pelihara.

Mimpi untuk mengembalikan jati diri bangsa yang katanya ber-nenek moyang-kan seorang pelaut kepada fitrahnya.

Dari itu, Belitung akan kita jadikan pusat wisata bahari internasional, laboratorium ilmu kelautan dan perikanan serta berdiri sebuah fakultas kajian ilmu kelautan agar anak cucu kita nanti tetap ingat akan jati dirinya.

Ingat laut ingat Belitung”.

-Sahani Saleh-

             

Terlahir dalam kesederhanaan.

                Bupati Belitung, H.Sahani Saleh S.Sos atau yang akrab disapa Bang Sanem ini dikenal akan kesederhanaannya dalam bertingkah laku dan terkadang tidak terlalu menghiraukan formalitas juga keprotokoleran. Hal tersebut memang bukan suatu gambaran umum bagi para pejabat kebanyakan. Dimana figur seorang pejabat biasanya terkesan kaku dan formal serta sarat akan birokrasi yang berlapis, sedangkan Bang Sanem adalah anti tesis dari gambaran itu.

 

                Terlahir dan dibesarkan dikeluarga nelayan membuat Sanem muda paham betul akan pahit getirnya hidup. Jangan tanya urusan melaut, karena hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk mencari nafkah dilaut. Dari sinilah kecintaannya akan kehidupan bahari timbul. Tempatnya menggantungkan hidup dan menafkahi keluarganya. Sampai saat ini, ketika mandat dari masyarakat berhasil disandangnya, Bang Sanem tetap teguh akan komitmennya untuk menjaga keaslian laut Belitung sebagai potensi wisata, sumber penghidupan masyarakat dan bukan diperuntukkan bagi penambangan dilaut. “Demi cita-cita menjadikan Belitung sebagai pusat wisata bahari, maka saya menentang segala bentuk penambangan dilaut” ungkapnya pada tim Warta Kita.

 

                Mengomentari masalah kesederhanaan serta gaya khasnya yang tidak terlalu memusingkan formalitas dan tata keprotokoleran, Bang Sanem hanya menjawab singkat sembari tertawa. “Pada dasarnya, saya tidak pernah menganggap diri saya ini adalah pejabat. Saya ini bukanlah siapa-siapa, hanya seseorang yang secara individu diberikan amanat oleh masyarakat untuk berbuat demi kepentingan orang banyak” ujarnya. “Pun dalam hal berpakaian dan lainnya, tak pernah sekalipun terpikir bahwa saya sebagai orang yang telah mengemban amanat rakyat harus tampil mentereng dengan segala kemewahan. Saya tampil sebagaimana nyamannya saya, karena yang paling utama adalah fungsi. Mahal ataupun tidak, fungsinya tetap sama, hanya untuk menutup aurat. Jika memang berlebih ada baiknya uang yang tadinya cukup untuk membeli satu buah pakaian mahal dibelikan tiga buah pakaian sederhana yang nantinya bisa dibagikan kepada saudara kita yang membutuhkan” imbuhnya lagi.

 

                Kesederhanaan ini bukan hanya memikat hati masyarakat Belitung untuk mempercayakan masa depan Kabupaten Belitung dibawah kepemimpinannya, namun juga membuat banyak petinggi dari negeri Jiran Malaysia angkat topi. Dalam kesempatannya melakukan lawatan ke Malaysia untuk mempererat kerjasama dibidang ekonomi dan kebudayaan yang kemudian berhasil menelurkan Festival Ekonomi dan Budaya Antar Bangsa pada Desember 2014 lalu, Bang Sanem kembali membuat petinggi di Malaysia terheran-heran. Bagaimana tidak, dengan kebiasaan pejabat dan orang-orang besar disana yang tampil lengkap dengan segala macam kemewahannya, Bupati Belitung malah tampil santai dengan pakaian kasual. Bahkan Dr. Alex Ong, petinggi dari Malindo Bussiness and Cultural Center berkali-kali menyampaikan kekagumannya tersebut. “Saya yakin pak Bupati ini akan meraih posisi yang lebih dari sekarang karena beliau adalah orang yang punya komitmen, sederhana, apa adanya dan tidak memusingkan hal-hal yang kurang prinsipil” ungkapnya saat menyampaikan sambutan di Feskon desember 2014 lalu.

 

Nekad bersekolah karena terinspirasi Insinyur.

                Banyak yang belum mengetahui darimana asal tekad keras Bang Sanem ini dalam mengenyam pendidikan. Tumbuh di daerah Mengkubang yang tentu saja pada saat itu tidak terlalu memikirkan pentingnya arti bersekolah. Bagaimana Sanem kecil yang ketika itu bersekolah tanpa alas kaki karena kurang mapannya perekonomian keluarga sampai berani bercita-cita untuk bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Ternyata ada kisah menarik dibalik itu.

 

                Sewaktu duduk di sekolah dasar, Sanem kecil telah diberikan tanggung jawab untuk menjaga kebun atau yang lebih dikenal dengan sebutan ume oleh masyarakat Belitung. Rutinitas menjaga tersebut amatlah penting untuk mencegah kerusakan ume dari kenakalan rombongan kera yang kerap kali mencuri bahkan merusak tanaman. Untuk itulah setiap harinya selepas pulang sekolah hingga sore hari, Sanem kecil bertugas menjaga ume menggantikan orangtuanya pulang dari melaut saat sore. Suatu ketika, setelah sampai di ume dengan berlari-lari kecil, dia pun tertidur karena kelelahan. Terbangun saat menjelang maghrib dan mendapati ume nya telah sukses digarap oleh rombongan kera nakal. Sanem kecil ketakutan setengah mati. Bukan ketakutan oleh kera, namun takut akan kemarahan orang tuanya atas kelalaiannya sebagai petugas penjaga ume. Sadar betul akan hal itu, dia pun berlari menembus hutan dan tak pulang hingga malam.

 

                Ketika malam semakin larut, Sanem kecil akhirnya memutuskan untuk pulang dan menerima segala resiko atas kelalaiannya tersebut. Setibanya dirumah, dia disambut dengan badai omelan persis seperti yang telah diperkirakannya. “Tugas macam itu saja kau lalai! Macam anak insinyur saja kau ini! Kalau tak mau susah dan maunya ongkang-ongkang kaki dirumah, jadi anak dokterandes saja sana!” kenangnya menirukan omelan orangtuanya kala itu. Saking seringnya mendengar omelan dengan adanya istilah insinyur dan dokterandes, dia pun jadi berandai-andai akan nikmatnya hidup sebagai orang berpendidikan seperti pegawai PT. Timah yang bermobil bagus dan memiliki rumah mewah kala itu. Dari sinilah motivasi besar Sanem kecil untuk terus bersekolah muncul, bahkan memilih untuk bersekolah di STM karena terinspirasi insinyur.

 

Sekolah sambil mencari nafkah.

                Saat menginjak usia remaja, sambil bersekolah dengan mengayuh sepada ke kota Manggar yang jaraknya 20 km dari tempat tinggalnya, Sanem muda selalu menyempatkan diri untuk memasang pancing di sungai yang terletak di depan Stadion baru Belitung Timur saat ini. Istilahnya bebanjor kata orang Belitung. Ketika berangkat dia memasang pancing dan meninggalkannya untuk belajar disekolah, kemudian mengambil hasil pancingannya itu saat bertolak dari sekolah dan menjajakan ikan tersebut sepanjang perjalanan pulang kerumah. Jika tidak terjual, ikan tersebut akan dijadikan lauk untuk makan bersama dirumah. Begitu berulang hingga tamat SMP.

               

                 Lulus dari SMP tidak membuatnya berpuas diri, ia lantas hijrah ke Tanjungpandan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi. Ya, STM. Sekolah kejuruan yang diyakini akan menghantarkannya lebih dekat kepada gelar insinyur. Setidaknya itu yang menjadi alasan Sanem muda memilih sekolah tersebut saat itu. Hari-hari yang dilaluinya selama bersekolah di tanjungpandan pun cukup keras dan tak lepas dari usaha untuk bertahan hidup. Sanem muda ditempa tubuh, pikiran dan mentalnya dengan menjadi kuli serabutan. Ikut truk pengangkut pasir ataupun membangun rumah bukanlah barang asing untuknya. Semua demi cita-citanya untuk menjadi orang berpendidikan. Dari sini dapat kita simpulkan darimana datangnya sikap Bang Sanem yang sangat membumi atau low profile tersebut. Ada banyak pemimpin yang merasa mengerti tentang kehidupan rakyat jelata dan tak jarang mengatasnamakan rakyat untuk mencapai tujuannya, namun hanya sedikit yang pernah benar-benar merasakan hidup sebagai rakyat jelata itu sendiri. Dan Bang Sanem adalah salah satu dari yang sedikit itu.

 

                Ada pemikiran yang lucu mengenai standarisasi kenaikan kelas maupun kelulusan. Saat itu ia berasumsi, jika ada lebih dari setengah teman sekelasnya naik kelas ataupun lulus, maka ia berani memastikan bahwa dirinya pun akan lulus. Namun yang terjadi pada saat pengumuman kelulusan akan dilangsungkan ternyata sedikit berbeda dari biasanya, informasi yang beredar saat itu adalah hanya kurang dari setengah total murid yang akan lulus pada tahun angkatan tersebut. Kabar ini tentu membuat Sanem muda cukup khawatir, hingga menjelang akhir namanya tak kunjung disebut sebagai siswa yang lulus. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya mulai berkeringat. Tetapi sebuah akhir yang dramatis datang kepadanya. Bak pemilihan kontes kecantikan puteri indonesia, namanya disebut pada saat terakhir. Istimewanya lagi, bapak FX Hardono selaku kepala sekolah pada saat itu langsung mendatangi dan memberikan rangkulan serta ucapan selamat. “Itu sungguh merupakan momen membahagiakan yang tak terlupakan” kenangnya sambil tersenyum.

 

Berkeluarga dulu baru bekerja.

                Berbekal ijazah kelulusan dan tekad baja, Sanem muda kemudian menyeberang ke tanah jawa tepatnya ke kota gudeg Jogjakarta untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Selama berkuliah ia aktif sebagai mahasiswa kritis yang juga sempat tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Indonesia atau HMI. Setelah menyelesaikan kuliahnya ia kembali ke Belitung, alih-alih mencari kerja ia malah memilih berkeluarga terlebih dulu. Keluarga memang merupakan sumber motivasi yang luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya pergi melaut untuk memenuhi kebutuhannya, kini ia harus mencari pekerjaan tambahan. Tak lama berselang, ia mengikuti tes penerimaan CPNS atas saran dari sahabatnya, setelah lulus pekerjaannya bertambah. Dari penyuluh KB, guru honorer di SMK dan melaut pada malam harinya.

 

                Karirnya di pemerintahan cukup baik, ia sempat menjadi camat di Selat Nasik dan Sijuk. Menariknya, saat menjadi camat Selat Nasik ia membuat terobosan dengan mengadakan acara selamatan kampong atau Maras Taun dalam skala yang dapat dikatakan besar-besaran untuk pertama kalinya di Belitung. Selain itu, Bang Sanem juga berhasil menyatukan tiga suku di kecamatan Selat Nasik yang telah bertikai sejak lama. Hal tersebut bukan barang mudah untuk dicapai jika seseorang tidak memiliki kepekaan sosial dan mengerti akan karakter masyarakatnya.

 

                Berbekal dari manis getirnya hidup yang telah dilaluinya, Bang Sanem menginginkan pencapaian yang sederhana yaitu tidak mau melihat generasi muda Belitung merasakan kesukaran hidup seperti yang dialaminya dulu. “Bisa dikatakan ini adalah proyek balas dendam, saya tidak mau melihat generasi muda merasakan susahnya hidup seperti saya dulu. Untuk itu, sekolah kita gratiskan, berobat pun kita gratiskan agar Belitung dapat menghasilkan generasi muda yang cemerlang” pungkasnya. 

 

Menuju Belitung sebagai pusat wisata bahari.

                Saat ini Kabupaten Belitung sudah semakin maju, sempat terkena dampak booming-nya novel dan film Laskar Pelangi membuat Belitung semakin banyak diminati wisatawan lokal dan mancanegara. Namun permasalahannya baru akan muncul kemudian. Apa yang akan kita lakukan saat demam Laskar Pelangi tersebut mulai surut? Hal ini telah menjadi fokus pemikiran Bang Sanem sejak lama. Adapun yang tengah digarap saat ini sebagai jawaban dari permasalahan tersebut adalah menjadikan Belitung sebagai pusat wisata bahari dengan memanfaatkan keutamaan alam lautnya yang alami. Kemudian kerjasama yang tengah dibangun dengan Kementerian Koordinator Maritim Republik Indonesia adalah mengenai dibangunnya Laboratorium kelautan dan perikanan serta  cita-cita untuk mendirikan sebuah fakultas dengan kajian ilmu kelautan.

 

                “Hal ini sudah didepan mata, kami telah melakukan pembicaraan dengan Menko Maritim dan alhamdulillah respon beliau positif. Rencananya akan digelar pertemuan dengan beliau minggu ini” ujar Bang Sanem menutup pembicaraannya. Kini kita dapat berharap lebih agar apa yang tengah dikerjakan dan dicita-citakan Bang Sanem selaku masinis dari lokomotif Pemerintah Kabupaten Belitung dapat berjalan dengan lancar demi menyongsong masa depan Belitung yang lebih maju, mandiri dan sejahtera. (ver)