06/03/2015 | Oleh: Verry Yudhistira

Secangkir Kopi Bersama Sang Guru. Bincang Akrab bersama Wakil Bupati Belitung, Drs H Erwandi A Rani.

“Walaupun tidak terlalu besar, namun kita sebagai pegawai pemerintah mempunyai penghasilan pasti setiap bulannya. Berbeda dengan masyarakat kita yang memiliki beragam profesi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti nelayan yang belum pasti dapat ikan saat melaut atau petani yang belum pasti menuai panen tiap tahunnya. Tugas kita sebagai Pemerintah adalah memperkecil presentase ketidakpastian yang dihadapi masyarakat, mensejahterakan mereka dengan memperbesar peluang ketidakpastian menjadi pasti. Itulah tugas Pemerintah.” – Erwandi A.Rani.

 

          Banyak hal yang terjadi di bulan Maret tahun 2015 ini. Kunjungan Menko Maritim, Menteri Pariwisata serta Menteri Perhubungan RI ikut meramaikan obrolan dirumah-rumah, pasar bahkan warung kopi. Pun begitu pula halnya dengan gairah baru ekonomi kreatif di Belitung yang kini tengah tumbuh mekar, tak lain adalah demam batu kinyang. Dibalik semua kehebohan itu, kami telah melakukan sebuah wawancara eksklusif bersama Wakil Bupati Belitung Drs H Erwandi A Rani yang bersedia berbagi cerita, diantara tumpukan berkas dan secangkir kopi dimeja kerjanya.

 

          Wajah Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Daerah Kabupaten Belitung tampak berubah sejak dilantiknya pasangan Besaer sebagai Bupati dan Wakil Bupati Terpilih periode 2013-2018. Kini para pegawai terlihat semakin profesional dan menghargai pekerjaannya. Bagaimana tidak, sejak apel perdana Wakil Bupati Belitung langsung menyorot masalah disiplin dan penampilan. Disiplin memang merupakan keharusan dalam mencapai suatu tujuan. Pun begitu halnya dalam pekerjaan dan keseharian, tak heran jika hal tersebut menjadi sesuatu yang mutlak adanya. Namun masalah penampilan juga menjadi sorotan pria yang akrab disapa Bang Erwandi ini. Sebelumnya kerap kita lihat para pegawai, baik tetap maupun honorer, berpakaian sekenanya dalam berseragam. Tak jarang pegawai berseragam longgar, tanpa atribut dan acak-acakan terlihat wara-wiri di instansi pemerintah. Saat ini pemandangan tersebut sudah jarang terlihat, atas arahan Bang Erwandi, kini pegawai negeri sipil terlihat semakin profesional dan tertib. Masyarakat pun merasa lebih nyaman dilayani oleh aparatur yang berpenampilan baik. Kesannya meyakinkan dan berwibawa.

 

          Besar kecilnya manfaat suatu pekerjaan tergantung siapa yang menilainya. Jika sang pemilik pekerjaan saja sudah tidak menghargai dirinya sendiri, menganggap kecil perannya, maka orang lain pun akan berpendapat demikian. Dengan memperbaiki penampilan, bukan dalam artian over atau berlebih, namun rapih dan tertib, sudah menggambarkan keseriusan dan penghargaan orang tersebut akan pekerjaannya. Profesional, itulah kata yang tepat disandangkan kepada Wakil Bupati Belitung kelahiran Sijuk 13 Oktober 1959 yang selalu menekankan kata disiplin pada tiap kesempatan ini. Sikap beliau yang memegang teguh prinsip kedisiplinan datang dari kedua orangtuanya yakni Abdul Rani dan Jawiyah yang juga berprofesi sebagai guru. Sedari kecil Bang Erwandi sudah akrab betul dengan kata itu. Orangtuanya lah yang menanamkan mental dan kedisiplinan kepadanya sebagai putra tertua dari tiga bersaudara.

 

          Lahir dari keluarga guru yang berpenghasilan minim, membuat Erwandi kecil mengerti akan pahit getirnya hidup. Sejak umur enam tahun telah ikut membantu kedua orangtuanya mencari tambahan penghasilan. Gaji guru yang kala itu hanya cukup untuk bertahan selama satu minggu membuat mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dihari lainnya. Beramu atau mencari kayu dihutan untuk dijual sebagai bahan membuat rumah, Nyulo udang dan memancing pun dilakukan demi usaha dalam memenuhi kebutuhan. Dari situ, walaupun bertubuh kecil untuk anak seumurannya dikarenakan perekonomian yang cukup sulit, namun saat itu pula Bang Erwandi sudah memiliki mental setegar karang karena ditempa oleh gelombang keras kehidupan.

 

          “Saat itu memang cukup berat, ketika banyak kerabat, teman dan sanak saudara yang berbondong-bondong hijrah dari pekerjaannya ke PT Timah dengan iming-iming gaji yang tinggi, Ayah tetap menjaga komitmennya kepada pemerintah menjadi seorang guru” kenang sulung dari tiga bersaudara ini. “Bahkan beliau ditawari langsung suatu posisi di PT Timah, namun beliau tetap menolak. Beliau tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan saat ini tengah menikmati masa tuanya” ungkapnya sembari tersenyum. Hal ini merupakan bukti dari sebuah ketulusan dan keikhlasan dalam mengabdi membawa berkah kepada semuanya. Jika saja Abdul Rani merupakan pria yang berorientasi kepada materi saja, sudah barang tentu beliau pindah ke PT Timah dengan gaji yang menggiurkan saat itu. Namun beliau orang yang teguh dan menghargai komitmennya sehingga pada akhirnya dapat menikmati masa tua dengan tenang. Tidak sedikit yang frustasi dan menyesal pindah ke PT Timah terlebih saat kejayaan perusahaan tersebut runtuh.

 

          Bersekolah di SD Sijuk tempat ayahnya mengajar, kemudian pindah ke SD Air Selumar pada kelas 5 dikarenakan Ayahnya mendapat promosi untuk mengepalai Sekolah Dasar Air Selumar. Walaupun tumbuh sebagai anak dengan kecerdasan diatas rata-rata tak membuat Erwandi kecil tinggi hati. Dia memiliki banyak teman baik di Sijuk maupun disekolahnya yang baru. Setiap hari dibonceng Ayahnya dengan bersepeda pulang pergi Sijuk-Selumar. “Saat itu yang paling mendebarkan ialah ketika melewati tanjakan Aik Manau yang terkenal angker” kenangnya sembari tertawa. Bang Erwandi tampil sebagai lulusan terbaik saat ujian sekolah dasar selesai dilaksanakan, dimana dari 3 mata pelajaran yang diujikan, ia memperoleh nilai 26 dari maksimal 30 dengan rincian Matematika 9, Pengetahuan Alam 9 dan Bahasa Indonesia 8. Sungguh prestasi yang cukup membanggakan.

 

          Menginjak usia remaja, Ia bersekolah di SMP Negeri 1 Tanjungpandan dan tinggal menumpang dirumah saudara. Ketika itu, pada tahun 1972 sekolah tersebut dipimpin oleh dua nama yang saat ini kita kenal sebagai tokoh masyarakat yakni Bapak Ali Umar Baki sebagai kepala sekolah dan Bapak Mahdani Miram sebagai wakilnya. Ada peristiwa yang cukup lucu selama ia bersekolah disana, yaitu ada seorang guru bernama Razak yang kerap kali minta dibonceng sepulang sekolah karena tahu Erwandi muda menetap di bilangan pangkallalang. Masalahnya, Erwandi muda yang bertubuh kecil diharuskan mengayuh sepeda menaiki tanjakan desa pangkallalang yang cukup tersohor kemiringannya itu dengan membawa beban hampir 5 kali berat tubuhnya. Keringat mengucur, urat menerik, otot menegang namun apa daya, dikarenakan rasa hormat yang amat sangat terhadap sang guru, tanjakan itu tetap dinaikinya tanpa meminta pak Razak turun dari sepeda. Hal itu berulang hampir setiap hari. “Itu sungguh berkesan dan cukup membuat trauma” ujarnya sambil tertawa.

 

          Bang Erwandi berhasil menyelesaikan pendidikan SMP nya dan melanjutkan ke SMA negeri 1 tanjungpandan hingga tahun 1977. Begitu selesai SMA ia tak langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan harus membatu orangtuanya menjaga adik bungsunya yang masih bayi. Namun satu setengah tahun waktu yang ia habiskan untuk mengurus adiknya tidak disia-siakan begitu saja. Ia juga memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari tambahan uang sebagai bekal kuliah. Berkebun cengkeh, berjualan, memancing bahkan mengupas kelapa dilakoninya. Beliau pun cukup percaya diri dengan kemampuan mengupas kelapa yang diatas rata-rata ini, bahkan beliau sempat menyatakan bahwa mampu mengupas atau menyula kelapa hanya dengan sepotong kayu. Sungguh skill yang cukup berbahaya, mengingat presisi serta power yang dilontarkan haruslah tepat jika tak mau tangan kita menjadi korban.

 

          Tahun 1979 merupakan tahun yang istimewa dimana bang Erwandi akhirnya menginjakkan kakinya di tanah jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pilihannya jatuh kepada IKIP Jakarta dan takdirnya sebagai seorang guru dimulai dari sini. Mengambil jurusan fisika yang kala itu cukup langka membuat jasa Bang Erwandi banyak dibutuhkan. Bahkan ketika belum selesai menamatkan kuliahnya, ia sudah bekerja di Lab School IKIP Jakarta dan mengajar beberapa anak pembesar negeri ini seperti BJ Habibie dan Subroto, Menteri Pertambangan kala itu. Setelah memperoleh gelar sarjana pada tahun 1985, siang hari dikontrakannya, Bang Erwandi kedatangan tamu dari Belitung yang mengajaknya untuk pulang dan mengajar di kampung halaman. Beliau adalah pak Jasan, kepala sekolah SMA negeri 1 tanjungpandan yang hanya bermodalkan informasi dari orangtua Bang Erwandi langsung menyambangi kontrakannya di Jakarta. Batinnya berkecamuk, antara menetap sebagai guru di sekolah bergengsi Lab School IKIP Jakarta dan berbakti di kampung halaman. Akhirnya setelah berkonsultasi dengan orangtua, keputusan untuk pulang dan mengabdi dikampung halaman kian bulat dan jadilah ia mulai mengajar fisika di SMA negeri 1 tanjungpandan pada bulan juni 1986.

 

          Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Bang Erwandi pun ternyata ditakdirkan untuk mendapatkan jodoh seorang guru pula. Persis seperti kedua orangtuanya. Begitu mengabdi sebagai guru fisika di SMA Negeri 1 Tanjungpandan, hatinya terpaut pada Ibu Gunawati, rekan satu profesinya yang seorang guru matematika. Mereka saling jatuh hati hingga akhirnya menikah. Dikaruniai dua orang anak, yakni Rizki Febriawan dan Winda Yulistiawati. Rizki yang akrab disapa Kiki ini tengah berkuliah difakultas kedokteran UNS Solo dan saat ini mewakili kampusnya dalam olimpiade kedokteran di Padang, sedangkan Winda baru saja menyelesaikan pendidikan SMU nya dan bersiap melanjutkan ke perguruan tinggi.

 

          Tantangan datang pada tahun 1992 ketika terjadi penegerian sekolah eks timah di Kabupaten Belitung. Ia terpilih dan ditugaskan mengepalai sekolah eks timah yang saat itu dikenal dengan nama SMP 8. Kondisi yang dihadapi pun tidak mudah. Kurangnya tenaga pengajar, fasilitas yang kurang baik, meubeller butut dan sarana pendukung aktivitas belajar mengajar yang jauh dari layak harus dihadapinya. Butuh tiga tahun bagi Bang Erwandi untuk membenahi semuanya dan atas jerih payahnya itu, pada tahun 1997 ia ditugaskan mengepalai SMA Negeri 1 Kelapa Kampit selama dua tahun. Tak lama berselang, sang guru fisika ini ditugaskan menjadi kepala sekolah SMA Negeri 1 tanjungpandan pada tahun 1999 hingga 2001.

 

          Terjadi pemekaran pada tahun 2003, pulau Belitung terbelah menjadi dua dan Bang Erwandi diajak untuk membenahi Belitung Timur. Setelah pindah ke Dinas karena masa baktinya menjadi kepala sekolah telah berakhir, karirnya malah terus menanjak. Mulai dari Kabag TU dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan dan Pariwisata, Asisten Bupati dan terakhir sebagai Sekda Kabupaten Belitung Timur. Pada 1 April 2011, karirnya naik satu level lebih tinggi. Dari Sekda Kabupaten Belitung Timur menjadi Asisten 3 Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat menjabat Asisten 3 Gubernur inilah, pada suatu kesempatan mewakili gubernur dalam menghadiri HJKT /Hari Jadi Kota Tanjungpandan tahun 2013, Bang Erwandi dipinang untuk menjadi pasangan Bang Sanem dan akhirnya terpilih sebagai pemimpin daerah ini.   

 

          Saat ini, ketika amanat masyarakat telah disandangnya hanya satu hal yang ia garis bawahi yakni setiap program yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Belitung harus searah dengan visi misi dan memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan masyarakat. “Kaji betul-betul program yang akan diselenggarakan, jika tidak ada dampak untuk kesejahteraan masyarakat buat apa” tegasnya. ”Setiap program harus memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Apapun bentuknya, apakah itu peningkatan SDM masyarakat dalam bidang pariwisata, ukm, ekonomi kreatif dan sebagainya. Terjun ke masyarakat, ngobrol dengan masyarakat agar tahu apa yang masyarakat butuhkan. Cukuplah memikirkan pribadi, pribadi dan pribadi. Buatlah program yang memang menyentuh masyarakat agar mereka dapat bersaing, mandiri dan sejahtera. Itulah fungsi kita sebagai pemerintah” pungkasnya.

 

          Itulah sekelumit kisah tentang Bang Erwandi dan perjalanan hidupnya, sedikit kilasan sejarah pembentukan mental, tempaan jiwa, kerja keras dan keikhlasannya dalam menjalani apapun yang menjadi tugasnya. Berulangkali ia mengungkapkan bahwa kesungguhan dan keikhlasan dalam menjalani hidup adalah kuncinya. Bagaimana pun tulisan ini juga memiliki tujuan yang sangat sederhana, yakni dapat menjadi tulisan kecil yang mungkin akan menginspirasi kita sekalian melalui tiap-tiap irama kisah yang ada di dalamnya. (ver)