19/08/2015 | Oleh: Verry Yudhistira

Menyusur Jejak Ketua DPRD Kabupaten Belitung, Taufik Rizani,Amd.

“Untuk tahu bagaimana hidup yang baik, generasi muda harus memahami arti hidup. Bukan sekedar mengikuti irama kehidupan tanpa arah tujuan. Hisaplah sum-sum kehidupan, maknai tiap-tiap kesalahan yang telah dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian, taruh sebuah tujuan didepan sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi” – Taufik Rizani.

 

Lahir dan tumbuh di Desa Aik Rayak.

                Dulu sekali, ada dua desa di Kabupaten Belitung yang cukup dikenal sebagai tempat penghasil para jagoan kampung kenamaan. Kedua tempat tersebut dikenal dengan nama Aik Saga dan Aik Rayak. Siapapun akan segan jika melintas di daerah ini, terlebih kalau hari sudah menjelang malam. Sialnya, kedua lokasi ini juga merupakan titik strategis, yang mana Aik Saga merupakan tempat yang harus dilewati jika ingin bertamasya ke pantai-pantai indah di Kabupaten Belitung dan Aik Rayak ialah satu-satunya jalan akses ke bandara yang ada di Belitung.

 

Taufik Rizani lahir dan tumbuh besar di salah satu desa yang disegani ini. Ya, tangisnya pecah memenuhi udara desa Aik Rayak pada tanggal 2 Januari 1972. Tumbuh dilingkungan yang keras seperti itu membuat Taufik kecil atau yang akrab disapa Kutau, mau tak mau memacu dirinya agar tumbuh menjadi jagoan juga. Hal itu ia lakukan semata-mata agar tidak menjadi bulan-bulanan pemuda lain. Hukum rimba memang berlaku dilingkungan seperti ini, harus menjadi sosok yang kuat dan keras kalau tak mau tertindas. Hari-harinya diisi dengan bermacam pengalaman jalanan yang membuatnya tumbuh menjadi pemuda kuat dan cukup disegani. Walau begitu, Kutau kecil tetap tumbuh menjadi anak yang hormat kepada orangtua, banyak pekerjaan yang ia lakoni untuk meringankan beban keluarga. Misalnya saja,  ia dan kakak sulungnya Rustam Effendi yang kini menjadi orang nomor satu di provinsi kepulauan Bangka Belitung, membantu ibunya berjualan kue setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hal ini amat jarang, karena kebanyakan pemuda yang tumbuh dilingkungan keras kerap terjerumus seutuhnya sehingga menjadi pribadi yang kurang bertanggungjawab kepada diri sendiri maupun orang lain. Kutau merupakan pemuda yang sedikit diantara yang banyak itu.

 

Dipanggil dengan nama Kutau.

                Setiap orang punya keunikan tersendiri dan tak jarang ciri khasnya itu diidentifikasi oleh lingkungan sekitar sehingga menjadi label  khusus bagi orang tersebut. Pun begitu halnya yang terjadi pada pria yang sudah mengenyam kursi DPR selama tiga periode ini. Kisahnya cukup unik dan tentu saja berkaitan erat dengan sepak terjangnya selama masih berprofesi sebagai jagoan.

 

                Ada beberapa tipe manusia yang sanggup bertahan dijalanan. Yang pertama adalah mereka yang benar-benar mumpuni fisik dan mentalnya untuk bergelut dengan kerasnya iklim jalanan, kemudian yang kedua adalah mereka yang mampu mempengaruhi orang lain lewat kemampuan verbalnya dan yang ketiga ialah mereka yang pandai menjilat dan mau merelakan diri menjadi kaki tangan jagoan sesungguhnya demi keamanan pribadi. Nah, Kutau termasuk kedalam kategori pertama. Dia merupakan sosok yang mampu menempa fisik dan mentalnya menjadi pribadi yang disegani baik dalam urusan bicara maupun kontak fisik. Hal ini disadari oleh orang-orang sekitarnya yang menjadi saksi hidup kepiawaian Kutau dalam seni beladiri, sehingga lahirlah panggilan “Kutau” yang merupakan pelesetan dari kata Kungtaw atau Kungfu. “Tak disangka panggilan itu melekat hingga sekarang” kenangnya sembari tersenyum.

 

Diberkahi bakat sebagai pemimpin.

                Keistimewaan si nomor empat dari enam bersaudara ini tidak hanya sampai kepada keahliannya dalam seni beladiri. Ia juga terlahir sebagai sosok yang diberkahi dengan bakat pemimpin alami. Bagaimana tidak, disetiap lingkungan baru yang ia masuki, tak membutuhkan waktu lama bagi dirinya untuk menjadi orang yang paling menonjol dan kemudian diakui sebagai pemimpin. Hal itu bukan sekedar omong kosong, terhitung sejak menginjak bangku sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi ia selalu dipercaya menjadi ketua kelas, osis maupun komandan resimen mahasiswa. Mungkin saja, jika hal tersebut dibukukan di Museum Rekor Indonesia akan muncul dengan judul ”Orang dengan riwayat kepemimpinan terpanjang di Indonesia”. “Mengritik pimpinan itu gampang, namun menjadi pemimpin adalah tantangan yang sesungguhnya, kita harus benar-benar menjadi contoh ideal untuk membawahi orang banyak. Semuanya berawal dari membenahi diri sendiri terlebih dulu” ungkap pria berusia 43 tahun ini.

 

                Hal menarik lainnya selain berpengalaman memimpin sejak kelas 1 SD, ia juga kerap tampil sebagai siswa lulusan terbaik. Sungguh bukan prestasi yang gampang dicapai, mengingat latar belakang pergaulannya yang keras, kesibukannya membantu orang tua dan aktivitasnya selama bersekolah. Jika saja ia tidak memiliki manajemen waktu yang baik maka hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai. Hal-hal ajaib memang kerap muncul pada orang-orang besar. Kini, ia tampil sebagai sosok muda yang bisa dikatakan paling berpengaruh di Kabupaten Belitung.

 

Melepas jabatan direktur demi hasrat membangun daerah. 

                Setelah menyelesaikan pendidikan SMU nya di Muhammadiyah dan tampil sebagai lulusan dengan nilai evaluasi murni terbaik se-Belitung, Kutau muda mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi bernuansa sama di tanah jawa. Namun, ia menolak hal itu dan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Maritim kota Semarang. Belum juga selesai menamatkan kuliahnya, ia sudah diterima bekerja di perusahaan ekspedisi terbesar kota Semarang kala itu. Urusan ekspor impor sudah menjadi hal yang amat familiar baginya.

 

                Karirnya terus menanjak hingga pada akhirnya ia berhasil menduduki jabatan direktur pada perusahaan tersebut. Rumah beserta segala fasilitas yang lebih dari layak telah ia dapatkan. Maklum saja, fasilitas yang didapatkan direktur perusahaan ekspor impor sudah barang tentu masuk kedalam kategori mewah. Namun, bukan kepuasan materi yang ia cari, hasrat untuk membangun kampung halaman selalui menari-nari dalam benaknya. Sampai tiba saat keruntuhan orde baru pada tahun 1998 ia pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan kursi direktur diperusahaan yang ia pimpin dan pulang ke Belitung dengan memboyong sang isteri demi cita-citanya membangun daerah.

 

              Tak lama berselang, ia langsung tergabung sebagai petugas partai tersebesar di republik saat ini dan terpilih menjadi wakil rakyat untuk pertama kalinya pada tahun 2004 sebagai ketua komisi III DPRD Kabupaten Belitung. Pilihannya untuk terjun ke dunia politik bukan tanpa alasan atau sekedar ikut-ikutan, ia berasumsi bahwa jika kita ingin berbicara dan berbuat kepada masyarakat dalam skala yang lebih luas, maka ranah inilah yang harus ditempuh.

 

Matang dalam tiga periode.

                Setelah terpilih sebagai wakil rakyat pada tahun 2004 , ia kembali terpilih pada tahun 2009 sebagai ketua komisi II DPRD Kabupaten Belitung. Sempat menjadi pengganti antar waktu Ketua DPRD  pada awal tahun 2013, kemudian terpilih kembali menjadi ketua DPRD untuk periode 2013-2018. Pengalamannya duduk menjadi anggota dewan selama tiga periode berturut-turut membuatnya kian matang dalam berpolitik.

 

               “Kami bersinergi dengan pemerintahan saat ini sebagai mitra untuk membenahi berbagai persoalan yang ada di Kabupaten Belitung, agar kedepannya dapat menjadi lebih baik. Harapan kami adalah bagaimana kita mampu mewujudkan sektor pariwisata di Kabupaten Belitung ini sebagai primadona wisata nasional maupun internasional, dan untuk itu banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Utamanya ialah sumber daya manusia masyarakat Belitung yang harus ditempa agar mampu bersaing dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi kedepannya” ” ujar pria bertubuh kekar ini.

 

              “Saya sangat optimis terhadap perkembangan pariwisata Belitung, karena  hampir 90 persen tempat wisata di Indonesia yang telah saya datangi tak ada satupun yang menyerupai potensi wisata kita. Namun masyarakatnya harus kita persiapkan agar tidak kaget, karena dengan majunya pariwisata kita nanti akan berdampak pada pola pikir masyarakat” tungkap pria yang gemar memancing ini. “Kita tidak boleh gampang berpuas diri dengan kondisi pariwisata Belitung saat ini, jika wisatawan datang berkunjung maka dia harus datang kembali untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Kalau mereka hanya datang sekali dan tidak kembali lagi maka dari sisi apapun saya pikir kita belum berhasil dalam memajukan sektor ini” imbuhnya lagi.

 

Concern dibidang kepemudaan.

               Sebagai tokoh muda yang berpengaruh di Belitung, Ia juga sangat memperhatikan berbagai persoalan yang timbul pada perkembangan generasi muda. Ia menyampaikan bahwa generasi muda harus dibekali dengan dua hal yakni Ilmu dan Agama. Dua hal tersebut merupakan sebuah mata rantai yang tak terpisahkan, yang mana jika memiliki ilmu tanpa agama maka dapat diibaratkan bagai orang buta, sebaliknya jika agama tanpa dilengkapi ilmu juga akan pincang. “Dalam pemikirannya anak muda selalu merasa dirinya nomor satu, hal itu pun pasti pernah kita alami. Maka itu, dua hal diatas harus dibekali pada generasi muda agar mereka tidak hilang arah dan tenggelam seutuhnya kejalan yang salah” pungkas pria yang juga menjabat sebagai ketua Persibel ini.

 

             Sekelumit kisah tentang jejak langkah Bang Kutau dalam menapaki hidupnya, dapat menjadi cerita yang menginspirasi generasi muda. Dimana tidak selamanya mereka yang hidup berbenturan dengan lingkungan keras akan menjadi sosok yang gagal. Ia membuktikan, walaupun tumbuh dilingkungan preman namun prestasi yang gemilang dalam akademis, pekerjaan dan hidup merupakan hak bagi setiap orang yang mau berusaha keras. Semoga apa yang telah dituliskan pada artikel ini dapat memberikan nilai lebih, utamanya bagi generasi muda di Kabupaten Belitung. Jika Bang Kutau bisa, kenapa kita tidak?. (ver)