19/08/2015 | Oleh: Verry Yudhistira

Sisi lain Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Karyadi Sahminan,S.E, M.A.P

Si nomor 10 yang ajaib.

            Dalam sepakbola, angka 10 dianggap sebagai nomor yang paling keramat dan ajaib. Nomor ini biasanya dikenakan oleh si tokoh utama sebuah klub sepakbola. Tak terhitung banyaknya nama-nama besar yang pernah mengenakan nomor keramat ini, sebut saja Pele, Diego Maradona atau Lionel Messi di zaman sepakbola modern saat ini.Di tanah Italia, nomor 10 kerap dianggap sebagai 'la Bandiera' atau simbol utama sebuah klub.

 

            Pemain yang mengenakan nomor punggung 10 ini bak seorang konduktor dalam sebuah orkestra. Ia memimpin semua gerakan timnya, terutama dalam urusan menyerang. Ia pun menjadi pemain paling penting dalam faktor kreatifitas sebuah tim, terutama untuk urusan memberikan assist, dan menciptakan gol. Pemain-pemain dengan nomor punggung ini memiliki visi yang sangat istimewa, dibekali dengan skill yang luar biasa dan yang terpenting, sentuhan-sentuhan yang penuh dengan fantasi yang akan menyihir lawan, dan juga para pecinta sepakbola yang menyaksikannya. Keajaiban nomor 10 ternyata tak hanya terjadi dalam dunia sepakbola, pada kehidupan sehari-hari pun para penyandang angka ini memiliki keistimewaan tersendiri. Hal ini memiliki keterkaitan langsung dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Karyadi Sahminan. Bagaimana bisa? Berikut kisahnya.

 

            Karyadi Sahminan lahir di Desa Gantong pada tanggal 21 desember 1960 dalam kehangatan sebuah keluarga besar. Ya, keluarga besar dalam artian sesungguhnya. Keluarga yang benar-benar besar. Terdiri dari 11 bersaudara dengan komposisi sebagai berikut: lima orang perempuan dan enam laki-laki. Angka ini sudah tentu merupakan jumlah yang tidak sedikit. Namun pada zaman itu trend-nya memang tengah mengarah kepada motto “banyak anak banyak rezeki”, karena itu rata-rata jumlah anak dalam sebuah keluarga selalu ber-nominal besar. Beda halnya dengan saat ini, dimana motto tersebut mulai tergerus gaya hidup, himpitan ekonomi serta slogan “dua anak cukup” sehingga membuat jumlah angka diluar slogan tersebut terdengar kelewat besar.

 

             Terlahir sebagai si nomor 10 ternyata membuat Karyadi kecil juga ajaib layaknya mitos pada penyandang nomor punggung tersebut didunia sepakbola. Bagaimana tidak, sejak kecil ia sudah terlihat “antik” sendiri dibandingkan saudaranya yang lain. Ayahnya yang bernama Sahminan bekerja sebagai pegawai PT Timah kala itu, beliau bahkan dapat dikategorikan sebagai pejabat. Uniknya, pria sederhana ini malah menolak untuk menerima falilitas dari perusahaan dan memilih untuk menetap dilingkungan masyarakat biasa. Sungguh suatu hal yang jarang terjadi, mengingat fasilitas yang ditawarkan PT Timah saat itu sungguh menggiurkan dan tak jarang menimbulkan kecemburuan sosial.

 

             Karyadi kecil nampaknya mewarisi keajaiban itu dari sang ayah. Saat saudara-saudara lainnya menimba ilmu di sekolah elit PT Timah, ia malah memaksa keluar dari zona nyaman itu. Ia bersikeras meminta kepada orangtuanya agar disekolahkan di SMP PGRI Gantong yang saat itu baru saja dibuka, padahal persis di depan kediamannya telah lama berdiri sekolah yang cukup ternama di desa Gantong yaitu SMP Jaya Bakti. Jatuhnya pilihan Karyadi kecil bersekolah di SMP PGRI Gantong bukan tanpa alasan, ia beranggapan bahwa dengan bersekolah di tempat yang baru pastinya akan memberikan suasana lain dan segar. Benar saja, Karyadi kecil akhirnya memiliki teman sekelas yang “benar-benar lain” dan cukup tidak biasa. Kebanyakan dari mereka adalah “veteran”, yaitu remaja-remaja yang pernah berhenti sekolah saat SD maupun SMP, sehingga kebanyakan dari mereka sudah “kadaluarsa” secara usia untuk duduk di bangku kelas 1 SMP. Jadi bukanlah suatu pemandangan aneh jika diantara mereka sudah ada yang memiliki kumis dan jakun, yang tentu saja seharusnya belum pantas dimiliki oleh anak kelas 1 SMP.

 

Sang Mantri yang merakyat.

            PT Timah merupakan perusahaan besar yang paling bergengsi di pulau belitung pada zamannya. Bahkan saking besarnya, perusahaan sepeda asal India merilis sepeda onthel dengan brand Mister secara khusus hanya untuk dipasarkan di Belitung dan digunakan oleh orang-orang PT Timah. Ekstrimnya lagi, pekerjaan sebagai karyawan PT Timah dijadikan standar kesuksesan bagi masyarakat banyak. Pun pilihan bagi orang tua dalam menentukan calon pasangan hidup anak-anaknya. Mereka tentu akan merespon lebih cepat dan tidak berpikir panjang apabila calon menantunya merupakan pegawai dari perusahaan mineral hitam tersebut. Saat itu, strata sosial baik secara tersirat maupun tersurat muncul dengan sendirinya jika sudah berkaitan dengan PT Timah.

 

            Seperti yang sudah kita singgung sebelumnya, Sahminan, ayahanda dari Sekda Kabupaten Belitung merupakan bagian dari perusahaan ini. Meskipun begitu, ia memilih untuk menetap dan membawa keluarganya tinggal dilingkungan masyarakat umum dan membaur didalamnya. Ia dikenal sebagai ahli listrik yang mengurusi segala kebutuhan perusahaan berkaitan dengan masalah elektrisitas. Contohnya pemasangan jaring telepon mulai dari pusat kota, hutan hingga ke pesisir pantai pada masa pendudukan jepang di Indonesia. Selain itu, untuk permasalahan gangguan jaringan serta pasokan energi yang berkaitan dengan kelistrikan, semua berada dibawah tanggungjawabnya. Karena keahliannya ini, masyarakat lebih senang memanggilnya dengan sebutan Pak Mantri ketimbang nama Sahminan itu sendiri.

 

            Rumahnya yang terletak di jalan teratai desa Gantong juga merupakan tempat berkumpulnya orang-orang, bahkan Wahab Aziz yang merupakan Bupati Belitung pertama adalah salah satu dari kawan dekatnya. Maklum saja, selain dikenal sebagai ahli kelistrikan, Sahminan juga merupakan ketua dari Partai Buruh yang kala itu ikut membela hak-hak rakyat pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Kini terjawab darimana naluri kepemimpinan sekda kabupaten belitung yang juga pernah menjadi ketua AMPI serta KNPI itu berasal. Secara tidak langsung Sahminan mewariskan itu kepada semua keturunannya.

 

Terbiasa dengan ilmu ekonomi sejak dini.

            Mungkin terdengar cukup aneh bagi seseorang yang tumbuh besar di keluarga yang akrab bermain di ranah ilmu teknik malah memilih berkuliah di fakultas ekonomi. Dan anehnya lagi hal ini bukan lantaran ikut-ikutan atau pilihan sembarang, namun dilandasi aktivitas dan pengalaman yang diperolehnya sejak kecil. Memiliki ayah seorang pegawai PT Timah tak membuat Karyadi kecil hanya ongkang-ongkang kaki saja dalam mengisi kesehariannya. Sejak kecil ia sudah diberikan tanggungjawab dalam mengisi harinya agar lebih bermanfaat.

 

            Saat subuh ia sudah terjaga dan membantu ibunya membuat kue juga menyiapkan es potong untuk di titipkan ke warung-warung kopi desa gantong. Pagi hari setelah menyelesaikan misi mengantar dagangan, ia bergegas menuju kebun dalam rangka menunaikan tugas mulianya sebagai penjaga dan pengurus kebun. Jam piket berkebunnya berlangsung hingga pukul 11 siang. Karena belum memiliki jam tangan, ia menggunakan jam matahari sebagai penunjuk waktunya.

 

             Selesai mengurus kebun, ia pulang dan berangkat ke SMP PGRI Gantong untuk belajar bersama teman-teman akrabnya yang merupakan siswa “veteran” dengan berbagai latar belakang kehidupan social tersebut. Sebagai catatan, Karyadi kecil semenjak duduk di bangku sekolah dasar hingga memperoleh gelar sarjana tak pernah sekali pun membeli buku. Ia juga tak pernah membawa buku ke sekolah, semua ilmu yang ia dapatkan di disimpan baik-baik dalam lemari pikirannya. Sore hari sepulang sekolah ia kembali menunaikan misi ekonominya dengan menjemput kue dan es potong di warung-warung kopi. Begitu berulang setiap harinya. Ternyata tanpa disadari, rutinitas ini membuatnya jatuh cinta kepada ilmu ekonomi. Ia merasa asyik sendiri dengan proses yang terjadi dalam dunia usaha sehingga akhirnya memilih untuk lebih menekuni bidang ilmu ekonomi saat di perguruan tinggi.

 

Menyukai tantangan dan pantang ditantang.

            Setelah menyelesaikan masa SMU, selayaknya pemuda lain, Karyadi pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Alih-alih mengikuti ujian saringan masuk ke perguruan tinggi negeri, ia malah langsung mencari perguruan tinggi swasta yang dirasanya cocok dengan apa yang ia inginkan selama ini. Walaupun memiliki basic dibidang ilmu eksak, namun kecintaannya kepada ilmu ekonomi ternyata lebih besar. Ilmu teknik yang merupakan pilihan utama saudara-saudaranya dalam berkuliah, tak membuat ia ikut-ikutan menempuh jalur yang sama. Hal ini menimbulkan polemik dalam keluarga, dimana dua kakaknya yang sudah lebih dulu mengenyam bangku perkuliahan di kampus negeri, masing-masing pada jurusan teknik elektro dan pertambangan, tak habis pikir mengenai keputusan yang diambil adiknya si nomor 10 ini.

 

            Perdebatan antara kakak beradik ini terjadi sampai pada tahap adu argumentasi tentang apa dan mana yang lebih baik untuk dijadikan tempat mengenyam pendidikan. Karyadi tetap dengan keputusannya. Ia berpendirian dan ingin membuktikan bahwa apa yang akan menentukan hidup seseorang bukanlah atribut ataupun almamater yang digunakan, melainkan tergantung pada orang itu sendiri. Dan sepertinya hal tersebut terbukti benar, mengingat apa-apa yang telah berhasil ia capai hingga saat ini. Pada dasarnya cara berpikir pria penggemar batu hias ini memang ajaib dan out of the box.

 

            Di dunia kampus, sering kita temui ego antar fakultas bahkan jurusan. Tentang kajian atau jurusan mana yang lebih baik, hebat atau malah lebih keren. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan bukan merupakan suatu keanehan. Karyadi muda pun mengalami peristiwa serupa, dimana ia dan teman-temannya yang merupakan mahasiswa jurusan manajemen sering dianggap kurang keren oleh mahasiswa akuntansi. Manajemen dianggap hanya berupa hafalan saja, sedangkan akuntansi lebih sulit karena mengandalkan ketelitian dalam hitungan serta rumus.

 

            Berawal dari persaingan itu, Karyadi muda yang merupakan andalan mahasiswa manajemen diminta kawan-kawannya untuk lebih memperdalam dan memberi kuliah tambahan kepada mereka tentang segala sesuatu yang berbau akuntansi. Jadilah Karyadi muda seorang dosen akuntansi dadakan bagi kawan-kawannya. Uniknya lagi aktivitas ini juga mendapat dukungan dari para dosen. Puncaknya adalah ketika para mahasiswa manajemen memberikan sebuah ide untuk membuktikan, bahwa bidang kajian akuntansi bisa dipelajari dan dikuasai oleh mahasiswa jurusan lain secara otodidak. Caranya dengan menunjukkan bahwa mahasiswa manajemen mampu menggarap skripsi dengan judul, bahasan dan metode akuntansi yang tidak hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa akuntansi saja. Bayangkan! Yang ditantang kali ini adalah bidang keilmuan! Dan karena memang menyukai tantangan, Karyadi muda pun menyambut dengan suka cita ide gila komplotan manajemennya itu. Sungguh sebuah misi yang aneh.

      

             Tak mau hanya sekedar menjadi tim pengembira, kawan-kawan satu jurusannya ikut mensponsori gerakan “makar”keilmuan ini secara total dan militan. Mereka membeli dan menyuplai Karyadi muda dengan buku-buku akuntansi sebagai bahan pembuatan skripsinya. Hal tersebut membuahkan hasil yang mengejutkan. Karyadi muda menghabiskan hampir 4 jam lamanya saat siding skripsi hingga akhirnya diselamatkan oleh kumandang adzan Dzuhur. Hal ini jadi perbincangan hangat kala itu, karena ada mahasiswa manajemen yang berani mengangkat judul skripsi dari jurusan akuntansi hanya dengan bermodalkan buku dan pemahaman otodidak.Anehnya lagi, skripsi tersebut masuk dalam kategori terbaik. Gerakan “makar” keilmuan ini juga sukses berbuah aneh. Hasilnya, ijazah kelulusan S1 Karyadi muda tidak ditemukan pada tumpukan berkas jurusan manajemen, melainkan berada di jurusan akuntansi. Lagi-lagi ajaib.

 

Tak segan membantu untuk urusan pendidikan.

            Selain gemar baca dan penyuka tantangan, pria yang pernah menjabat sebagai direktur PDAM ini juga gemar memberikan tantangan kepada orang lain untuk lebih memacu potensi orang tersebut. Ya, penulis juga mengalami hal itu secara langsung. Pria yang memperoleh gelar S2 nya dalam waktu yang cukup cepat ini pernah melemparkan tantangan serupa kepada salah satu keponakannya yang sedang menjalani studi S2. Hasilnya, sang keponakan berhasil melahap habis mata kuliah S2 nya hanya dalam kurun waktu tujuh bulan saja.

 

           Hanya sedikit yang mengetahui bahwa pada saat wisuda S2, Karyadi juga memperoleh dua penghargaan sekaligus, yakni Abdul Gafur award atau Outstanding Achievement for the Highest Academic Performance at the Post Graduate Program dan Student’s Parents Association award atau Award of Excellence as the Best Graduate for the Most Rapid Completion of Study. Singkatnya, dua penghargaan tersebut masing-masing dianugerahkan bagi lulusan tercepat dan lulusan dengan IPK tertinggi. Kita sering mendengar jika seseorang memperoleh satu gelar, namun jika satu orang menyabet dua gelar sekaligus tentu saja hal itu menjadi tidak biasa. Menariknya lagi, ketika pelaksanaan upacara wisuda pada oktober 2008 tersebut, bertepatan dengan booming-nya film Laskar Pelangi garapan Mira Lesmana dan RiriRiza, sehingga saat kali kedua ia naik keatas pentas untuk menerima penghargaan dan sang mc mengumandangkan namanya dengan embel-embel mahasiswa asal Belitung Negeri Laskar Pelangi, sontak seluruh undangan dan wisudawan yang hadir memberikan standing applause.

 

            Ia memang sangat memperhatikan masalah pendidikan. Bahkan tidak sedikit jumlah anak-anak belitung yang dibantu secara materi maupun imateri dalam urusan pendidikan ini. “Ya, dia memang sangat perhatian dan terbuka kalau sudah berurusan dengan masalah pendidikan” ujar Amrin Sahminan, kakak kandung nomor 7 saat ditemui di kediamannya di jalan teratai desa gantong. “Jumlah anak-anak yang disekolahkannya pun mencapai puluhan, dan memang doyan ngomel tapi itu demi kebaikan anak-anak itu juga” tambahnya sambil tertawa.

 

            Hal serupa juga terjadi pada instansi yang pernah ia pimpin, yang mana ia selalu menekankan pentingnya sumber daya manusia atau peningkatan kompetensi pegawai. Kesungguhannya dalam meningkatkan kompetensi pegawai terbukti saat menjabat Kepala Kantor Inspektorat. Perubahan total terjadi. Ia mengusahakan agar seluruh pegawai di instansi tersebut dapat di fungsionalkan dan kesemuanya itu dilakukan agar memudahkan langkah para pegawai kedepan. Pun begitu dilantik sebagai Sekda Kabupaten Belitung, masalah jabatan fungsional langsung menjadi sorotannya. Pranata humas menjadi salah satu yang ia perhatikan secara khusus. Tujuannya agar para pegawai negeri sipil mengerti bagaimana arahnya kedepan dan pekerjaan seperti apa yang menjadi tanggungjawabnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 

           Walaupun tegas dalam menuntut peningkatan kompetensi, namun ia tetap tak lupa memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Terbukti pada saat memimpin PDAM, ia adalah orang pertama yang memberlakukan pembagian honorarium diluar gaji kepada pegawai serupa gaji ke 13. Bahkan Pemerintah Daerah saja belum melakukan hal tersebut kala itu, namun ketika pemerintahan Megawati mempopulerkan kebijakan gaji ke 13, barulah instansi lain mulai memberlakukan hal yang sama.

           

            Itulah sekelumit kisah tentang Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Karyadi Sahminan, SE MAP sebelum masa ia berseragam dan tampil seperti apa yang dilihat sekarang. Cerita yang diperoleh dari orang-orang terdekatnya, mungkin memang belum mewakili keseluruhan secara utuh, namun semoga saja tulisan ini dapat membuat pembaca mengenal lebih jauh sisi lain dibalik sosok sang pekerja keras yang terkenal serius ini.(ver)