28/12/2015 | Oleh: Hafidz Rusli, S.Pd.I

Setelah Belitung Jadi Destinasi Wisata

Kabar baik jika Kabupaten Belitung hendak dijadikan Destinasi Wisata Nasional setelah Bali dan Lombok. Bahkan kabar terbaru, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, akan menjadikan daerah yang memiliki penduduk 172 ribu jiwa dengan luas 2,2 ribu kilometer persegi itu sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

 

Keseriusan pemerintah pusat ditunjukkan dengan kedatangan Presiden Joko Widodo meresmikan Pelabuhan Tanjung Batu di Kabupaten Belitung pada 20 Juni 2015. Bukan hanya itu, hal-hal lain terkait proyek KEK Belitung juga dibahas. Inisiatif tersebut tentu harus kita sambut baik dengan beberapa tantangan dalam rangka meneguhkan identitas masyarakat Belitung yang majemuk tetap terjaga.

 

Beberapa destinasi wisata andalan yang mengukuhkan potensi wisata Kabupaten Belitung sehingga layak untuk dijadikan destinasi wisata nasional yakni, seperti Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini berada di Kecamatan Sijuk dan menjadi salah satu destinasi paling populer bagi para wisatawan, apalagi pasca dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi, yang secara tidak langsung film yang diangkat dari novel berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata itu menjadikan pantai ini sangat digandrungi wisatawan manapun. Pantai Tanjung Tinggi menawarkan panorama alam yang akan memanjakan mata pengunjungnya dengan hamparan pasir putih dan bebatuan granit.

 

Tidak jauh dari Pantai Tanjung Tinggi berjarak sekitar 4 KM terdapat suatu pantai yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi yakni Pantai Tanjung Kelayang, juga merupakan pantai yang terletak di Kecamatan Sijuk. Pantai inipun demikian, keindahan panorama alamnya berupa hamparan pasir putih dan bebatuan granit yang masih terlihat asri. Bahkan Pantai Tanjung Kelayang seringkali disinggahi puluhan hingga ratusan yacht dari berbagai daerah dan negara berlabuh ketika event Sail Indonesia diselenggarakan di sana, terakhir pada 24-27 Oktober 2015 digelar Wonderfull Sail 2 Indonesia di Pantai Tanjung Kelayang. Inilah yang menjadikan destinasi wisata tersebut dikenal wisatawan dari domestik maupun mancanegara.

 

Sementara, wisata pulau-pulau kecil di Belitung juga merupakan destinasi yang tidak kalah menarik. Pulau Lengkuas, misal. Suguhan keindahan panorama laut Pulau Lengkuas yang juga merupakan cakupan wilayah Kecamatan Sijuk ini menjadi hal wajib untuk dikunjungi wisatawan yang datang ke Belitung. Di pulau ini terdapat sebuah mercusuar peninggalan jaman penjajahan Belanda setinggi 50 meter. Mercusuar ini bahkan menjadi ikon dan ciri khas tersendiri dari destinasi wisata Pulau Lengkuas. Untuk akses transportasi ke pulau ini wisatawan tidak perlu bingung karena warga setempat di Desa Keciput, terutama warga di sekitar Pantai Tanjung Kelayang, menyediakan jasa sewa kapal yang siap mengantar para wisatawan dengan harga yang cukup terjangkau.

 

Beberapa hal di atas merupakan percontohan yang penulis ambil dari banyak hal lainnya menyangkut destinasi wisata Belitung. Dan dengan adanya pengembangan kepariwisataan daerah yang sedang dicanangkan tentu yang menjadi harapan bersama adalah dampak pada pesatnya pertumbuhan ekonomi di daerah Belitung yang secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

 

Kini, selain pentingnya pengembangan infrastruktur dalam menyiapkan kepariwisataan daerah juga perlu menyiapkan penguatan lokalitas budaya secara arif. Ini ditujukan agar ke depan kepariwisataan yang ada tidak hanya terfokus pada keuntungan materiil belaka, namun yang tidak kalah penting adalah turut memperhatikan prinsip dalam menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagaimana prinsip umum yang berlaku dalam penyelenggaraan kepariwisataan.

 

Secara ekonomis, masyarakat tentu akan terbantu dengan adanya kawasan wisata yang akan dibangun. Lapangan kerja akan tumbuh seiring dengan bertambahnya jumlah tamu yang berkunjung, berwisata, bersenang-senang dengan dalih liburan. Bisnis-bisnis travel, kuliner, penginapan, penyewaan alat, ruko-ruko, akan tumbuh subur. Namun, apa yang sudah diantisipasi oleh pemerintah jika perubahan besar dalam bidang ekonomi tersebut justru mengubah karakter masyarakat yang ada.

 

Bukan tidak mungkin laku dan tabiat penduduk akan berubah drastis setelah mengenal uang dan budaya negatif turis yang dibawa dari “dunia lain”. Tempat hiburan semacam Karaoke dan Diskotik yang menjamur, dengan pegawai dan pelayan masyarakat asli Belitung, akan jadi titik temu antara kesenangan, uang, dan waktu luang. Pada saat itulah, mabuk, zina, main hakim sendiri, egois, terasing dari lingkungan, akan mudah menjangkiti generasi muda Belitung yang baru kenal.

 

Barangkali, destinasi wisata akan mengatasi kemiskinan. Namun, pada saat yang sama, masalah lain bermunculan. Ini mengingatkan penulis pada masa Jahiliyah di Makkah. Diutusnya Nabi di sana bukan memperbaiki kehidupan ekonomi, melainkan untuk menyempurnakan akhlaq (liutammima makarimal akhlaq). Disebut Jahiliyah bukan karena mereka jahil alias bodoh. Disebut demikian karena masyarakat Makkah kala itu sudah mencapai puncak kejayaan ekonomi namun hidup dalam hedonisme laku. Dalam hedonisme, yang direngkuh bukan kebahagiaan, tapi hanya kesenangan-kesenangan yang tiada batasnya. Apalagi batasan agama. Tidak.

 

Nah, penulis khawatir, jika sifat-sifat kesenangan yang melekat pada tabiat hakiki orang bergiat wisata (berwisata = bersenang-senang) akan melahirkan hedonisme yang merusak karakter masyarakat Belitung pada 10 atau 20 tahun yang akan datang. Apa jadinya generasi anak penulis jika pagi-pagi berangkat sekolah sudah disuguhi turis hendak ke laut cari sarapan di warung dengan –maaf- hampir telanjang. Apa yang akan dilakukan jika surau, masjid, jadi sepi karena jama’ahnya pindah ke tempat hiburan yang mungkin saja jaraknya 30 meter dari microphone adzan tersebut. Jika kekhawatiran tersebut tidak dipikirkan mulai sekarang, penulis tidak menjamin Belitung punya pagar yang kuat.

 

Penulis berharap, Pemerintahan Daerah yang pada 7 Desember 2015 telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Belitung tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Belitung 2015-2025 dan tentang Kepariwisataan bukan hanya bervisi ekonomis, tapi juga bervisi kebudayaan. Pemerintahan Daerah inilah yang diharapkan bisa menjadi benteng pertama menjaga penduduk Belitung tetap kaya, namun tetap bermartabat.

 

Karena dengan menakar kenyataan yang akan tampak di depan mata tentu diperlukan beberapa upaya antisipasi dalam memagari benteng-benteng budaya. Tujuannya jelas, agar masyarakat Belitung yang selama ini berkebudayaan, keluhuran karakter yang melekat pada setiap individunya, tidak terkikis habis oleh serangan gelombang globalisasi yang menawarkan kesenangan-kesenangan kapital tak berujung.

 

Pada dasarnya kepariwisataan daerah yang hendak dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung penulis yakini mendambakan kebahagiaan hakiki warga masyarakat. Yang kebahagiaan semacam itu tidak berbenturan dengan norma yang selama ini berlaku, baik secara hukum, adat, etika maupun agama. Karena kebahagian dengan cara melanggar koridor yang berlaku bukanlah hakikat kemanusiaan yang berkecenderungan hanif (laku kebenaran) dan di luar struktur jiwa manusia, yakni kenyamanan dan ketenangan yang bukan berasal dari dalam jiwa.

 

Beberapa usulan mungkin bisa dipertimbangkan. Pertama, penulis berharap bahwa yang dipentingkan dalam pembangunan Belitung sebagai wilayah destinasi wisata nasional bukan hanya membangun infrastruktur yang berorientasi bisnis semata, namun juga bervisi kebudayaan. Ini dibuat agar turis bukan hanya ke daerah tujuan utama wisata, namun juga ke lokasi bersejarah. Akhirnya, para turis bukan hanya mendapatkan pengalaman wisata, namun bisa menjadi bagian dari masyarakat Belitung. Itu bisa dilakukan juga dengan mewajibkan setiap turis untuk mengenakan pakaian adat ketika memasuki wilayah tertentu. Tidak seenaknya melangkahkan kaki.

 

Kedua, ada Dewan Adat yang memiliki otoritas sebagai orang yang bisa menegur manakala ada turis yang dianggap melakukan perbuatan bertentangan dengan adat dan norma masyarakat. Apalagi mengganggu kenyamanan dan kerukunan warga setempat. Dewan Adat ini bisa terdiri atas tokoh setempat, agamawan, pejabat, pemuda dan pimpinan ormas. Tujuannya adalah kontrol sosial.

 

Ketiga, untuk menjaga agar generasi muda tidak terpengaruh budaya negatif akibat destinasi wisata yang kian menggeliatkan ekonomi, ada baiknya dibangun tempat-tempat belajar yang representatif membangun karakter anak muda agar tetap memegang teguh moral dan kearifan lokal (local wisdom). Pesantren menurut penulis masih bisa dilirik sebagai lembaga pendidikan yang layak menjadi benteng terakhir ketika lembaga pendidikan formal lainnya tidak mau menampung pembinaan karakter secara kontinyu. 

 

Pesantren-pesantren harus dibangun tidak jauh dari lokasi-lokasi utama wisata, sementara untuk pesantren yang sudah lama berdiri harus dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung, agar para wisatawan yang datang memiliki kesadaran secara personal untuk tidak melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat setempat. Ini agar tidak seperti di Bali hal tabu bisa dilakukan di mana saja oleh turis dan tidak ada yang menegur.

 

Kami sebagai orang pesantren merasakan kekhawatiran mendalam atas hal ini. Oleh karena itulah, menyikapi pembangunan kepariwisataan Kabupaten Belitung dalam menyambut KEK Pariwisata, kami siap mendukung dengan catatan kegelisahan di atas. Kami siap kaya, tapi juga tetap bermartabat. Bukankah itu juga bagian dari Revolusi Mental yang dikampanyekan Presiden Jokowi? 

 

*Penulis adalah staf pengajar Pondok Pesantren Daarul Arofah Tanjung Tinggi.