04/01/2017 | Oleh: Sadely Ilyas

Upaya Guru Memahami Kesulitan Belajar Siswa

 

Dalam proses pembelajaran di sekolah, aktivitas belajar tidak selamanya dapat berjalan lancar. Kemungkinan ada saja masalah yang di temukan, terutama masalah kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Keadaan ini merupakan masalah umum terjadi dalam proses belajar-mengajar, terutama dalam prinsip belajar tuntas. Di kalangan para pendidik (guru) belum ada pengertian yang baku mengenai kesulitan belajar ini. Biasanya guru akan memprediksi peserta didik  yang memiliki prestasi belajar rendah, dianggap sebagai siswa yang mengalami kesulitan atau gangguan belajar. Kesulitan belajar bagi siswa bisa bermacam-macam, apakah itu dalam hal menerima pelajaran, menyerap pelajaran atau kedua-duanya. Setiap siswa pada prinsipnya mempunyai hak untuk mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Namun, pada kenyataannya, setiap peserta didik memiliki perbedaan, baik perbedaan kemampuan intelektual (IQ), kemampuan fisik, latarbelakang keluarga, kebiasaan, maupun pendekatan belajar yang digunakan. Perbedaan individual tersebutlah yang menyebabkan perbedaan ‘tingkah laku belajar’ setiap anak. Dengan demikian, kondisi di mana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, baik dalam menerima maupun menyerap pelajaran, inilah yang disebut sebagai “kesulitan belajar”. Atau dengan lain perkataan, kesulitan belajar merupakan suatu kejadian/peristiwa yang menunjukkan bahwa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, ada sejumlah  peserta didik yang mengalami ‘kesulitan’ dalam menguasai secara tuntas bahan atau materi pelajaran yang disampaikan guru.

Penyebab Kesulitan Belajar

Seperti dimaklumi, bahwa aktivitas belajar merupakan inti dari kegiatan di sekolah. Sebab semua aktivitas belajar dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan proses belajar bagi setiap siswa yang sedang menjalani studi di sekolah tersebut. Namun, aktivitas belajar bagi perserta didik ini terkadang mengalami gangguan, baik yang berasal dari diri siswa itu sendiri, yang mungkin diakibatkan oleh adanya kondisi internal yang tidak atau kurang mendukung proses aktivtas belajar tersebut, seperti kondisi fisik yang kurang sehat, cacat, intelegensi, bakat, minat, motivasi, kesehatan mental, dan faktor internal siswa lainnya. Maupun yang diakibatkan oleh adanya faktor eksternal seperti faktor orang tua, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga, lingkungan  sekolah, media massa, serta lingkungan sosial di mana siswa itu berdomisili.

Namun demikian, jika gangguan belajar yang dialami siswa tersebut disebabkan karena adanya kelemahan individual, seperti IQ yang rendah, rasa kurang aman, kurang penghargaan, kenakalan, dan lain sebagainya. Maka persoalan belajar yang dialami siswa tersebut mungkin berakibat pada kurang terserapnya daya tangkap belajar terhadap pelajaran tertentu, sehingga pada akhirnya tidak akan tercapai tujuan pembelajaran. Integensi yang lemah yang dimiliki oleh siswa tertentu, akan sulit  untuk mengadaptasikan dirinya ditengah-tengah belajar siswa lain yang memiliki daya tangkap belajar tinggi. Jika kenyataan ini di hadapi oleh siswa yang bersangkutan, maka sulit untuk menerapkan metode pengajaran secara klasikal. Hal ini disebabkan oleh daya tangkap belajar siswa yang berbeda.

Salah satu cara yang efektif yang mungkin dapat diberikan kepada siswa tersebut adalah dengan memberikan latihan-latihan dan tugas-tugas tertentu. Misalnya dengan memberikan pekerjaan rumah, atau memberikan tugas berupa hafalan-hafalan dengan menekankan pada upaya belajar tuntas, sampai anak tersebut menguasai betul apa yang telah diberikan oleh guru kepadanya.  Tentu dengan pendekatan yang ekstra hati-hati jangan sampai anak (siswa) tersebut merasa terbebani.

Kesulitan belajar sebenarnya tidak hanya dimiliki oleh siswa yang mengalami persoalan kondisi fisik yang kurang mendukung, atau siswa yang tertekan akibat rasa tidak aman, tetapi juga kemungkinan akan dialami oleh siswa yang pintar disebabkan karena siswa ini tidak mampu menempatkan kondisi waktu akibat banyaknya tugas-tugas yang dikerjakannya. Misalnya ada seorang siswa yang mengambil kursus bahasa Inggris, les matematika, ekstra kurikuler Pramuka, atau mungkin kondisi lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Sehingga akhirnya menimbulkan gangguan atau kesulitan belajar bagi siswa yang pintar tersebut.

Bagi seorang guru yang mengajar secara efektif, persoalan yang muncul dari kesulitan belajar yang dialami siswa yang pintar ini, akan sangat berakibat fatal jika nilai-nilai kontradiktif yang dialami siswa pintar tidak dapat dinetralisir oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Karena hal ini akan berakibat buruk bagi seorang siswa, yang dapat melemahkan semangat belajarnya. Dan akhirnya sudah tentu, berakibat pada rendahnya prestasi belajar.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa di dalam proses interaksi pembelajaran selalu ada siswa yang memerlukan bantuan, baik siswa yang memiliki ‘black study’ maupun yang memiliki prestasi belajar yang baik. Seperti telah disinggung di atas, setiap peserta didik tentu memiliki perbedaan individual dalam belajar. Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran di sekolah, meskipun guru dan materi pelajaran yang dipelajari serta waktu dan lingkungan belajar di kelas bagi setiap siswa sama, pasti terjadi perbedaan individual dalam hasil belajar. Perbedaan individual yang terjadi, meskipun  merupakan suatu hal yang wajar sebagai dampak kondisi individu yang berbeda-beda, namun seorang guru (baik itu guru kelas atau guru mata pelajaran) tidak akan bersikap masa bodoh. Guru akan semaksimal mungkin berupaya mengatasinya, sebab jika dibiarkan, maka akan menimbulkan perbedaan hasil belajar yang mencolok di antara para siswa. Dan akibatnya, guru akan dinilai tidak berhasil dalam proses pembelajaran, karena rata-rata pencapaian hasil belajar yang rendah tadi.

Bagaimana seorang guru menemukan fenomena kesulitan belajar siswa? Biasanya dapat diamati dari : Pertama,  secara jelas tampak dengan menurunnya prestasi belajar seorang anak, yaitu nilainya berada di bawah rata-rata yang dicapai oleh siswa lainnya. Kedua, ada juga yang dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku siswa, misalnya perilaku yang kurang wajar; seperti sering berteriak di dalam kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering bolos, mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, dan sebagainya. Ketiga, selain gejala-gejala yang tampak ini, kesulitan belajar anak juga dapat diinterpretasi oleh seorang guru melalui penyelidikan, misalnya dengan cara:

a) Observasi, yaitu mengamati peserta didik dalam belajar, baik sikap siswa dalam mengikuti pelajaran maupun memeriksa buku catatan dan peralatan siswa dalam belajar. b) Interviu  yaitu wawancara secara langsung kepada siswa yang bersangkutan atau wawancara secara tidak langsung, yaitu terhadap orang-orang yang dapat memberikan informasi tentang siswa tersebut, misalnya orang tua/wali atau teman dekat siswa tersebut. c) Mengadakan tes diagnostik untuk dapat mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami siswa. (d) Dokumentasi, yaitu melihat arsip catatan – dokumentasi yang berkaitan dengan siswa yang sedang diselidiki dengan melihat riwayat hidupnya, keaktivan dalam belajar, catatan hariannya, absensi, hasil ulangan, maupun nilai yang diperoleh di dalam rapornya.

Banyak hal yang dapat menyebabkan kesulitan belajar. Artinya kesulitan belajar ini tidak selamanya disebabkan oleh faktor intelegensia yang rendah, akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-intelegensia. Ada kesulitan belajar yang disebabkan karena penggunaan metode belajar  oleh guru yang tidak sesuai, media pembelajaran yang tidak tepat atau bahan/materi pelajaran yang sangat kompleks, dan lain sebagainya. Oleh karena itu , menurut pandangan Drs. H. Yunus Namsa, M.Si (2004), “Pendidik harus memiliki  dan menetapkan metode sesuai dengan bahan dan materi pengajaran. Seorang guru yang sangat miskin akan metode pencapaian tujuan, yang tidak menguasai teknik mengajar atau mungkin tidak mengetahui adanya metode-metode itu, akan berusaha mencapai tujuannya dengan jalan yang tidak wajar. Hasil pengajaran serupa ini selalu menyedihkan guru. Guru akan menderita dan murid pun demikian. Akan timbul masalah disiplin, rendahnya mutu pembelajaran, kurangnya minat siswa, dan tidak adanya perhatian dan kesungguhan belajar”, (Gerbang, Edisi 11, 2004:46).

Diagnosis Kesulitan Belajar

Ada berbagai cara untuk mengidentifikasi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Berdasarkan informasi yang diterima dari tes formatif, maka akan diketahui kesulitan khusus yang dialami oleh siswa. Mengatasi kesulitan belajar siswa, tidak dapat dibicarakan secara terpisah dengan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar tersebut. Oleh karena itu, mencari sumber penyebab utama dan lainnya adalah mutlak bagi seorang guru. Apabila seorang guru menemukan siswanya mengalami kesulitan belajar, maka harus mengamatinya apakah gangguan yang terjadi pada peserta didik itu merupakan gangguan internal ataukah gangguan eksternal. Dan apakah gangguan itu tergolong berat atau ringan?

Usaha perbaikan kesulitan belajar siswa dapat dilakukan dengan memperhatikan apabila ada lebih dari satu siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sama. Maka upaya perbaikan ini hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa itu secara bersama-sama. Akan tetapi, apabila ada siswa yang memiliki kesulitan khusus yang bersifat unik, maka upaya perbaikan hendaknya diberikan secara individual.  Ada empat langkah utama dalam mendiagnosa dan memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:

1.  Menentukan siswa mana yang mengalami kesulitan belajar; tekniknya dapat dilakukan dengan cara mengobservasi proses belajar siswa, meneliti nilai ulangannya, dan kemudian membandingkannya dengan nilai rata-rata kelasnya, juga memeriksa buku catatan pribadi siswa yang ada pada guru Bimbingan Konseling (BK).

2.   Menentukan bentuk khusus dari kesulitan belajar itu.

3.   Menentukan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar itu, misalnya karena metode mengajar tidak sesuai, atau materi pelajaran yang bersifat kompleks.

4.   Menetapkan prosedur remedial yang sesuai.

 

Pengajaran Remedial

Banyak alternatif yang dilakukan oleh guru dalam upaya mengatasi kesulitan belajar siswa. Namun, sebelum alternatif tertentu diambil, guru terlebih dahulu melakukan tindakan berikut:

1) Menganalisis hasil diagnosis. Hal ini perlu dilakukan karena data dan informasi yang diperoleh melalui tes diagnosis kesulitan belajar itu masih merupakan data mentah yang harus dianalisis sehingga dapat diketahui secara pasti mengenai sebab dan jenis kesulitan belajarnya.

2) Mengidentifikasi dan menentukan kecakapan tertentu yang bermasalah dan memerlukan perbaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan berdasarkan atas hasil analisis yang dilakukan sebelumnya oleh guru tersebut. Bidang kecakapan ini dapat berupa kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri, atau oleh guru dengan bantuan orang tua. Dengan demikian, guru dapat merencanakan langkah selanjutnya.

 3) Menyusun program perbaikan, khususnya pengajaran remedial (remedial teaching). Sebelum menyusun program kegiatan perbaikan ini, guru harus menentukan tujuan, materi, metode, alokasi waktu, dan evaluasi pengajaran remedial yang akan dilaksanakan.

4) Melaksanakan program perbaikan. Pada prinsipnya, program pengajaran remedial ini akan lebih baik apabila dilakukan lebih cepat.

Apa itu pengajaran remedial? Yaitu sistem  belajar yang dilakukan berdasarkan diagnose yang komprehensif (menyeluruh), yang dimaksudkan untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang dialami siswa dalam belajar, sehingga dapat mengoptimalisasikan prestasi belajar. Pengajaran remedial ini pada hakikatnya merupakan suatu upaya “bantuan” untuk memperbaiki prestasi belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, baik berupa perlakuan pengajaran maupun bimbingan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa yang mungkin disebabkan oleh faktor internal atau eksternal tadi. Siswa yang mengalami kesulitan belajar diupayakan dapat mencapai prestasi belajar yang baik melalui kegiatan remedial ini. Pengajaran remedial berguna untuk memperbaiki prestasi belajar siswa. Dengan mengikuti pengajaran remedial, siswa dapat lebih memahami dirinya, terutama mengenai prestasi belajarnya, sehingga ia dapat mengubah atau memperbaiki cara belajar, atau mengatasi hambatan-hambatan lainnya yang menjadi penyebab kesulitan belajar (Prof.Dr. Mukhtar, M.Pd., 2007:8).

Secara umum, tujuan pengajaran perbaikan (remedial teaching) tidak berbeda dengan pengajaran biasa, yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Secara khusus, pengajaran perbaikan ini bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan  pengajaran kepada para siswa yang ‘lambat’, mengalami kesulitan, atau pun gagal dalam belajar, sehingga mereka dapat secara tuntas dalam menguasai bahan atau materi pengajaran yang diberikan, dan dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui perbaikan.

Dalam kaitan ini, kegiatan remedial atau perbaikan bukanlah sekedar kegiatan memberikan ulanga-ulangan terhadap bahan-bahan pelajaran pokok yang belum dapat dikuasai oleh siswa secara tuntas, tetapi lebih jauh dari itu, kegiatan remedial merupakan studi kasus tersendiri yang digunakan oleh guru untuk menangani para siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik kegiatan berupa perlakuan pengajaran maupun kegiatan bimbingan yang dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara optimal. Semoga! Wallahu A’lam Bissawab!?   (Penulis adalah praktisi pendidikan)