Selasa, 14 Juni 2011 04:16

BELITUNG JAJAKI KERJASAMA DENGAN KOTA NEUWIED JERMAN ”SEBUAH LANGKAH KECIL WUJUDKAN MIMPI”

    Andrea Hirata pernah melukiskan tentang perlunya impian. Dituliskan dalam novelnya ”Sang Pemimpi” agar kita tidak pernah berhenti bermimpi dan mengejar mimpi-mimpi setinggi bintang gemintang di angkasa sebab bila berhenti bermimpi artinya kita mati. Lebih kongkrit mimpi itu telah dituangkan kabupaten Belitung dalam misinya untuk membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya daerah, menarik sebanyak-banyaknya investasi luar ke daerah untuk membuka akses kepada masyarakat dan penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan added value (nilai tambah) sumber daya alam yang dimiliki daerah melalui pengembangan industri hilir yang mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.

    Karena mimpi-mimpi itu, Belitung terus memperjuangkan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus, red) untuk industri dan pariwisata dengan koridor tata ruang yang dirancang spesifik dan sedemikian rupa. Karena mimpi itu pula sejumlah program prioritas di realisasikan, berbagai event promosi potensi daerah dilakukan diluar daerah, nasional bahkan di tingkat internasional termasuk Sail Wakatobi-Belitong 2011 yang beberapa bulan lagi akan digelar setelah empat tahun berturut-turut sukses menggelar Sail Indonesia dengan Belitung sebagai salah satu The Best Destination. Menjelang Hari Jadi Kota Tanjungpandan ke-173 langkah Belitung meraih mimpi terus dilakukan, salah satunya dengan melakukan kemungkinan kerjasama dengan negara-negara maju di dunia, semisal Kota Neuwied-Jerman.

    Boleh jadi, Belitung kini kian terkenal karena boomingnya novel dan film Laskar Pelangi, namun seberapa siap dan mampu kita menerima lonjakan pengunjung domestik dan manca negara perlu segera mendapat perhatian. Hal ini diawali dengan misi, lalu berencana mewujudkan mimpi dan melakukan sejumlah aksi agar mimpi tidak menjadi mati. Ini adalah langkah pembangunan berkelanjutan. Untuk itu, kita perlu pelabuhan yang representatif, baik laut maupun udara, objek-objek wisata yang tertata apik dengan beragam fasilitas pendukung, eksploitasi alam yang dibarengi dengan reklamasi tersistematis, terkonsep dan tidak di tempat kawasan wisata, sumber daya kelistrikan yang memadai, sumber daya manusia yang berkualitas, jaminan kesehatan, pendidikan yang berkualitas dan seterusnya.

    Karena mimpi itu pula, kurang lebih sepekan lamanya Bupati Belitung Ir.H.Darmansyah Husein melawat ke beberapa kota di Jerman seperti Neuwied, Koblenz, Boppart, Stugart, Kohl dan lain-lain. Maksud lawatan ini adalah melakukan tindak lanjut kerjasama di berbagai bidang yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi yang ada di Belitung, memperbaiki kondisi Belitung ke arah yang lebih baik serta menciptakan kemungkinan-kemungkinan kerjasama penting di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, ketersediaan air bersih, industri kecil dan menengah serta sejumlah bidang lainnya.

    Berawal dari undangan seorang pengusaha Jerman Her Harald Fuchsel setahun lalu dari Lufapak Company membawa Belitung dipresentasikan dengan sangat baik di Schangel Center-Koblenz bersama dengan Kota Tasikmalaya. Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Belitung menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kota Neuwied, Jerman. Hal ini juga disampaikan oleh Eddy Santosa, KBRI Jerman dalam www. detikfinance.com Tanggal 10 Juni 2011. Kerjasama mencakup beberapa sektor antara lain pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM), kesehatan dan manajemen rumah sakit, pengelolaan air, pengelolaan limbah serta di bidang pendidikan dan industri.

    Kota Tasikmalaya diwakili oleh Walikota Syarif Hidayat Mahpudin dan Belitung diwakili oleh Bupati Ir. H. Darmansyah Husein, sementara Kota Neuwied diwakili oleh Walikota Nikolaus Roth dan Rainer Kaul dari DPRD setempat. Pertukaran Minutes of Meeting (catatan tertulis mengenai pertemuan) antar pihak terkait kerjasama itu telah berlangsung di Koblenz, disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman Eddy Pratomo, Tanggal 3 Juni 2011. Dalam sambutannya, Eddy Pratomo mengatakan bahwa kerjasama tersebut telah sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam mempromosikan kerjasama antara kota di Indonesia dengan kota-kota di luar negeri. Diharapkan, agar kerjasama untuk memajukan daerah semacam itu dapat segera diikuti oleh kota-kota lainnya di Indonesia, mengingat besarnya manfaat yang dapat diraih, terutama dengan masuknya investasi asing.

     Selain pertukaran Minutes of Meeting juga diselenggarakan pameran produk-produk UKM Tasikmalaya dan potensi wisata Belitung dengan representasi model baju tradisional Belitung yang unik dan khas dominasi warna emas dan merah serta foto pantai berpasir putih yang indah di Belitung. Presentasi ini mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang hadir, bahkan PR Pemkab Belitung sempat diwawancarai media elektronik (TV Jerman) atas harapan serta maksud dan tujuan eksibisi yag dilakukan serta alasan mengapa Belitung menjadi sangat layak untuk dijadikan tujuan wisata selain Bali dan Lombok.

    Secara umum, profil Jerman yang berpenduduk hanya sekitar 80 juta jiwa di Eropa  Tengah, yang berbatasan dengan Belanda, Belgia, Luxemburg, dan Perancis. Diselatan berbatasan dengan Swiss dan Austria. Di sebelah timur berbatasan dengan Ceko dan Polandia. Di sebelah utara berbatasan dengan Denmark.  Negara ini pernah memiliki wilayah yang jauh lebih luas daripada yang sekarang dan pernah pula terpecah secara politik sejak berakhirknya Perang Dunia II tepatnya pada Tanggal 7 Oktober 1949 hingga Tangal 3 Oktober 1990, disaat bagian timur negara ini dikuasai oleh rezim komunis dan bernama Republik Demokratik Jerman. Jerman juga merupakan negara penting dalam uni eropa dan adalah negara anggota dengan penduduk terbanyak serta merupakan anggota NATO dan G8.

    Karakteristik positif paling menonjol dari penduduk Jerman adalah pola hidup yang disiplin. Kedisplinan tersebut akhirnya berpengaruh luas pada kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Dan karena disiplin itu pula, kebiasaan hidup orang Jerman menjadi sangat teratur dan bersih. Tidak ada tumpukan sampah di setiap sudut kota, di jalan-jalan, di pertokoan ataupun di jalan. Dari fajar terbit hingga terbenam semuanya tetap terkendali, bersih, dan aman dengan derajat keteraturan yang tinggi bukan seperti gerak acak ”brown” yang acap kita temui. Suatu budaya yang patut untuk ditiru selain disiplin dalam segala hal adalah kemampuan orang-orang Jerman untuk menghargai orang lain, utamanya dalam hal kemampuan mendengarkan orang lain sebagai bagian dari belajar. Kebiasaan hidup yang terdengar simple namun langka dilakukan oleh kita, padahal inilah inti dan awal yang baikdari keinginan atau kemauan untuk belajar karena mendengarkan berarti kita belajar.(Humas/Zakina)
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung