Kamis, 4 Agustus 2011 07:52

PEMKAB BELITUNG GELAR TARAWIH BERSAMA SEKALIGUS PISAH SAMBUT KEPALA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB BELITUNG

Tanjungpandan --- Menyambut bulan Ramadhan, Pemkab Belitung menggelar tarawih bersama yang bertempat di Rumah Dinas Bupati, Minggu malam tanggal 31 Juli 2011. Acara tarawih bersama ini sekaligus pisah sambut Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Belitung Drs H Imam Sapei yang akan digantikan oleh H Muhammadiah S.Ag yang tidak lain mantan Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Belitung Timur.

Suasana hangat mewarnai acara tarawih bersama ini, terutama pada saat Ustadz Ucu Sibromilsi memberikan tauziahnya. Namun sebelumnya, Bupati Belitung Ir H Darmansyah Husein dalam sambutannya mengatakan bahwa kita patut bersyukur atas nikmat dan rahmat yang telah Allah SWT  berikan pada Kabupaten kita, Belitung tercinta. Dengan rahmatnya Belitung menjadi lebih baik dan siap tempur dalam menghadapi serangan globalisasi, tanpa rahmat Allah SWT belum tentu Belitung dapat sebaik ini. “Semoga ramadhan kali ini kita semua dapat beribadah dengan sempurna, namun ingat kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT dan sempurna atau tidaknya ramadhan kita hanya Allah SWT yang mampu menilai, kita sebagai makhluk-Nya hanya diminta untuk ber’ikhtiar” harap Bupati.

Sementara itu Drs H Imam Sapei dalam ucap pamitnya menyampaikan ucapan maafnya jika selama ini  beliau kurang bisa memberikan kepuasan dalam hal kinerja yang telah diberikan, teriring ucapan terima kasih atas kerjasama dan kehangatan semua pihak. Tidak lupa beliau mengucapkan selamat datang kepada H Muhammadiah S.Ag selaku pengganti beliau yang akan mengemban tugas selanjutnya. Sapei meminta restu serta do’a kepada semua agar beliau dapat mengemban tugas dengan baik di tempat baru di Kabupaten Belitung Timur.

Selanjutnya H Muhammadiah S.Ag dalam sambutannya mengatakan bahwa beliau siap untuk mengemban tugas yang diberikan, “insya allah” ucapnya.

Dalam ceramahnya Ustadz Ucu Sibromilsi menjelaskan tentang beberapa kegagalan dalam menjalankan ramadhan. Diantaranya adalah kurangnya persiapan di bulan Sya’ban, misalnya tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Kedua, mudah mengulur shalat fardhu dimana tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Karena orang  yang berhisyam ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

Selanjutnya yang dapat menggagalkan ramadhan itu adalah malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah, kikir dan rakus pada harta benda, malas membaca Al-Quran, mudah mengumbar amarah, memutuskan tali silaturrahim, menyia-nyiakan waktu, labil dalam menjalani hidup, tidak bersemangat mensyiarkan islam, khianat terhadap amanah, rendah motivasi hidup berjama’ah, tinggi ketergantungannya pada makhluk, malas membela dan menegakkan kebenaran, tidak mencintai kaum dhuafa, salah dalam memaknai akhir ramadhan, sibuk mempersiapkan lebaran, Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung