Senin, 8 Agustus 2011 09:18

KILAU RAMADHAN

    (Tanjungpandan), Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan keindahan kiranya bukanlah keyakinan tanpa arti dan kenyataan. Muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia tidak hanya menjalankan kewajiban menjalankan ibadah Ramadhan seperti shaum serta ibadah sunnah lainnya namun juga senantiasa menyemarakkannya dengan menggelar sejumlah aktivitas tambahan sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba.
 
    Puasa tahun ini bertepatan dengan musim panas di berbagai belahan dunia. Implikasinya tentu saja suhu udara menjadi sangat panas dan membuat beberapa tempat tertentu di dunia mengalami waktu beribadah lebih panjang ketimbang hari bisanya dikarenakan jarak waktu antara matahari terbenam dengan terbit lebih pendek. Sebaliknya, waktu terbit dan terbenamnya lebih panjang dengan suhu diatas rata-rata normal. Misalnya di wilayah sekitar jalur Gaza-Palestina suhu cuacanya sekitar 40 hingga 45 derajat celcius dan waktu ibadah shaumnya hingga 16 jam lebih. Begitu juga dengan yang dialami Nisrin, muslimah keturunan Turki yang berdomisili di Neuwied Jerman. Katanya, di Jerman waktu berbuka puasa atau Magrib sekitar pukul 22.30 dan imsaknya pukul 03.00 dini hari dengan suhu yang tak menentu meskipun musim panas tapi terkadang cuaca dingin. Oleh sebab itu, aktivitas umat muslim sebagian besar dipusatkan di Masjid-Masjid.

    Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di Indonesia. Cuaca di negara tropis ini masih bersahabat meskipun lebih terik dari biasanya, sehingga mayoritas umat muslim masih bisa melangsungkan beragam aktivitasnya. Tak mengherankan jika banyak warga negara asing menyebut Indonesia sebagai negeri surga karena hanya menemui dua musim saja, panas dan penghujan. Dari sisi ekonomis, warga Indonesia juga dapat menghemat pengeluaran karena tidak perlu biaya membeli pakaian dan perlengkapan musim dingin sebagaimana yang dialami oleh penduduk di kawasan benua eropa.

    Muslim di Indonesia bebas beraktivitas bahkan beberapa diantaranya justru menggelar aktivitas tambahan. Sebut saja misalnya pesantren kilat, tauziah Islam di berbagai tingkatan dan lembaga/organisasi,  aneka lomba serta aneka bazar, mulai makanan hingga pakaian serta perlengkapan rumah tangga menyambut Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Sebulan ini dimanfaatkan penuh oleh kaum Muslim di Indonesia, tak terkecuali di Pulau Belitung.

    Kilau Ramadhan tahun ini dimeriahkan dengan menggelar bazar makanan dan pakaian seperti yang dilakukan oleh Pemkab Belitung Timur dan Belitung. Sehari sebelum Ramadhan tiba, Lapangan Sepakbola Yagor-Manggar Belitung Timur telah dipenuhi dengan tenda-tenda biru, lapak pedagang kaki lima yang menjual aneka pakaian dan makanan. Pantauan Humas Pemkab Belitung, bazar ini menyedot banyak pengunjung sekedar untuk melihat-lihat dan sebagian lagi turut membelanjakan uangnya.

    Meskipun tidak seramai dan sebanyak lapak yang ada di Lapangan Yagor, Pemkab Belitung melalui Badan Kesbanglinmas dan PM juga menggelar kegiatan serupa menjelang Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-66, bertempat di Terminal  Bis Tanjungpandan. Bazar ini akan berlangsung hingga Tanggal 16 Agustus 2011, dan telah dimulai sejak Sabtu, 6 Agustus 2011 yang lalu.

    Ramadhan tahun ini kiranya makin berkilau dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya seiring dengan pembangunan pesat di berbagai sektor. Sepanjang Jalan Sriwijaya dan Paal Satu yang telah diperlebar berjajal aneka jajanan kue tradisional, minuman, dan tajil menjelang buka puasa. Realitas ini menunjukkan geliat ekonomi yang tumbuh dengan baik disertai dengan meningkatnya daya beli konsumen (masyarakat). Ramadhan penuh berkah, semangat kebangkitan ekonomi masyarakat melalui menjamurnya produk kreativitas rakyat kecil dan menengah. ****(Zakina)







Sumber: Humas Setda Kab. Belitung