Senin, 15 Agustus 2011 08:17

LEBARAN DAN KONSUMERISME

    TANJUNGPANDAN, Pantauan di lapangan menjelang dan selama bulan Ramadhan  tahun ini harga barang-barang pokok terus merangkak naik. Ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan naiknya harga telur ayam yang mencapai  Rp.1.200,00 per butir serta kenaikan bahan-bahan dasar pembuat kue sekitar 60-80 persen dari tahun lalu.

    Zana, seorang ibu muda yang dibanjiri order membuat aneka kue lebaran mengakui beratnya kenaikan ini. Ditemui, ketika sedang membeli bahan pembuat kue di Toko Acai-Pasar Tanjungpandan, Zana menuturkan detail satu per satu kenaikan dari bahan yang dibelinya. Tahun lalu, harga   kacang mete mentah ini hanya sekitar 85-90 ribu rupiah per kilogram, tapi tahun ini mencapai Rp.110.000,00 per kilogram. Untuk membeli satu ons coco chips, tahun lalu hanya Rp.3.000,00 sedang tahun ini harganya mencapai Rp.5.000,00. “Dengan harga seperti ini tentunya saya akan menaikkan harga jual, akibatnya tidak sedikit pembeli yang mengurangi orderannya”, ungkap Zana.

    Fluktuasi harga ini tentunya tidak bisa dihindari, akibat multi faktor yang acap dibahas dalam sejumlah media. Akan tetapi terdorong akan kebutuhan, masyarakat terus dan terpaksa mengikuti kenaikan tersebut. Kiranya menghadapi situasi seperti ini, kita harus benar-benar bijak, membeli sesuai dengan kemampuan. Membeli hanya untuk memenuhi kebutuhan bukan berdasarkan keinginan.

    14 (empat belas) hari lagi seluruh umat muslim di dunia akan merayakan hari kemenangan “Idul Fitri” setelah sebulan penuh menunaikan shaum Ramadhan. Menjadi suatu budaya, untuk merayakan hari kemenangan itu beramai-ramai umat muslim pun akan membelanjakan uangnya untuk membeli  segala keperluan Hari Raya atau mengganti yang telah usang walau pun masih layak pakai dengan segala sesuatu yang baru. Makna “Fitri” diterjemahkan sebagai “kebaruan” bukan lagi “kesucian” lahir bathin.

    Tidak ada yang salah dengan konsep ini, karena mungkin mereka yang melakukannya telah terbiasa dengan kondisi sebelumnya, semacam budaya. “Kan ndak seru, lebaran  ndak ade baju baru”, tegas Ade pelajar salah satu SLTA di Tanjungpandan ketika ditanya alasannya tetap membeli baju baru meski harganya mencekik sesuai model dan kualitas bahan.

    Lebaran adalah manisfestasi rasa kesyukuran dan kemenangan akan kemampuan seorang muslim untuk menahan gejolak hawa nafsu selama menjalankan shaum Ramadhan. Sayangnya, tali kekang itu seketika putus kembali karena tak sedikit pula yang menghambur-hamburkan uangnya untuk keperluan yang tidak jelas dan cenderung berlebihan. Konsumerisme yang menjadi roh dari semangat ekonomi kapitalis semakin meraja.

    Mungkin hal ini tidak akan bermasalah besar bagi mereka yang memiliki jumlah pendapatan berlebih. Tapi bagaimana bagi yang tidak. Konsumerisme tidak hanya menjarah mereka yang kaya raya atas barang-barang bermerk karena telah tersedia pula harga, ukuran, kualitas yang tak kalah menarik dengan harga terjangkau bagi golongan menengah ke bawah. Intinya, konsumerisme menjadi dewa dan lebaran jadi media bisnis yang menggiurkan.****(zakina)
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung