Senin, 5 September 2011 08:41

LEBARAN DALAM KILAS BALIK BUDAYA

    (Tanjungpandan), Setiap tahunnya umat muslim di seluruh dunia merayakan hari kemenangan, Idul Fitri setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah shaum Ramadhan. Di Indonesia, masyarakat lazim menyebut Idul Fitri dengan “Lebaran”, sebagai ajang mempererat tali silahturahmi, mengukuhkan kembali kekerabatan yang tercerai berai akibat kesibukan, karena jarak dan juga karena sejumlah faktor lainnya.

    Lebaran adalah momentum istimewa bagi setiap umat muslim, tak terkecuali di Indonesia. Tak heran, jika setiap tahunnya arus mudik selalu meningkat begitu pun dengan arus balik. Setiap terminal bisa, stasiun kereta api, bandara dan pelabuhan laut sesak dengan penumpang dari H-7 (pra lebaran) sampai dengan H+7 (pasca lebaran). Semuanya hanya untuk satu tujuan yaitu merayakan bersama hari kemenengan “Lebaran” dengan penuh suka cita bersama orangtua, sanak-keluarga dan handai taulan.

    Meski sempat terjadi penundaan jatuhnya 1 Syawal 1432 H akibat perbedaan pandangan, namun hal ini tidak mengurangi meriahnya Lebaran di Belitung dan Belitung Timur bahkan untuk seluruh umat Islam di tanah air. Sebagian umat muslim Muhammadiyah bahkan telah merayakannya saat sebagian besar umat Islam lainnya sedang  menjalankan shaum Ramadhan. Tapi perbedaan ini tidak akan pernah memecah tali silaturahim, karena memang sesungguhnya Islam adalah satu.

    Lebaran adalah hari yang benar-benar spesialnya, sampai hidangannya pun disajikan beragam dan khas lebaran. Ketupat, Opor, Rendang dan Semur Daging adalah menu favorit sebagian besar umat muslim di Indonesia, lengkap dengan suguhan aneka kue kering dan minuman untuk para tamu. Busana yang dikenakan pun tampak spesial pula, tak jarang muslimah yang belum atau tidak mengenakan kerudung, di hari nan fitri ini turut mengenakan kerudung. Lebaran dapat dipandang sebagai satu budaya positif, saling memaafkan, berpakaian menutup aurat, sholat bersama di awal hari nan fitri, saling bekerjasama demi suksesnya lebaran dan sejumlah perilaku positif lainnya.

    Setiap tahunnya Lebaran dirayakan, dan dapat pula dipandang sebagai media menakar ulang karya dan spirit dalam mencari rezeki agar dapat dinikmati bersama. Menikmati keceriaan dengan membagikan sebagian rezeki halal yang diperoleh dengan para orangtua, anak-anak kecil serta handai taulan lainnya. Dari budaya positif ini diharapkan dapat menjadi motivasi agar terus giat dalam bekerja sehingga tahun depan hasil yang diperoleh dapat lebih besar lagi dan dapat dibagikan lebih banyak lagi.

    Sungguh Islam, mengajarkan kemuliaan, Lebaran dalam kilas balik budaya dan atau kilasan budaya menaburkan banyak hal positif bagi yang memaknainya dengan bijak. Semoga tahun depan, kita masih dipertemukan dengan Ramadhan agar dapat merayakan kembali Lebaran. ****(Zakina).
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung