Kamis, 19 April 2012 03:24

Launching Buku Utusan Negeri Serumpun

Darmansyah: Kesulitan Memperindah Hidup

Hidup itu terasa indah, manakala kita menemui kesulitankesulitan.
Hidup itu penuh romantika manakala, kesulitankesulitan itu datang pada kita.

KALIMAT tersebut mengakhiri sambutan Ir H Darmansyah Husein pada launching buku biografinya berjudul 'Utusan Negeri Serumpun' yang digelar Sabtu (7/4/2012) di Grand Ballroom Hotel Billitong. Kata mutiara bukan tak bermakna, namun menggambarkan perjuangan Darmansyah Husein menjadi seorang yang berarti bagi kampung halamannya dan orangorang di sekitarnya.
Sebait kata mutiara tersebut juga menyiratkan isi buku biografinya, dimana hidup Darmansyah yang dipenuhi perjuangan hingga menemui titik puncak karirnya sebagai anggota Komisi VIII DPR RI periode 19992004. Tak hanya kesenangan saja yang bisa dirasakan Darmansyah sebagai putra seorang petinggi PT Timah yang dipenuhi kemewahan pada zamannya.

Launching buku biografi ini ditandai dengan penyerahan buku dari Darmansyah Husein kepada para narasumber pada acara bedah buku. Narasumber yang hadir yakni Drs Fery Nursyandan Baldan yang merupakan sahabat Darmansyah dan mantan Ketua Komisi II DPR RI 19992004. Ada juga H Emron Pangkapi, yang merupakan tokoh percepatan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dan Drs Kiemas Agustjik yang merupakan mantan guru Darmansyah di SMA Muhammadiyah II. Bedah buku biografi tersebut dimoderatori Usmandie A Andeska yang juga merupakan tokoh percepatan pembentukan Provinsi Babel.

Hadir juga dalam acara launching ini orangorang terdekat Darmansyah dalam perjalanan hidupnya seperti Agus Fani Efendi Ketua Komisi VIII DPR RI periode 19992004, Jamaludin Karim anggota Komisi II DPR RI 19992004, Suherman guru SD yang mengajar Darmansyah, Ahmad Sirait, guru paling berkesan bagi Darmansyah, Yamin guru Bahasa Inggris yang mengajar Darmansyah, Idris teman Darmansyah saat kecil, Rendi Darwanto dan Kuswandi yang merupakan sahabat Darmansyah saat menuntut ilmu di IPB.

Acara launching ini juga dihadiri pejabatpejabat di lingkungan Pemkab Belitung seperti Wakil Bupati (Wabup) Belitung Sahani Saleh, Sekda Belitung Abdul Fatah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Belitung Mahadir Basti, para kepala SKPD, tokohtokoh agama dan masyarakat serta belasan wartawan yang meliput acara ini.

Darmansyah menuturkan, buku biografinya ditulis dengan rentan waktu yang cukup lama, yaitu mulai dari akhir tahun 2009 hingga diterbitkan pada tahun 2012 ini. Hal ini dikarenakan terbenturnya waktu wawancara yang sangat sempit. "Ditulis memang cukup lama, saya tidak punya cukup waktu bercerita. Tetapi Bung Haril sudah sangat rinci menurut saya. Dan di dalam buku juga ada beberapa narasumber yang saya juga tidak tahu, yang dimulai saya masih kecil. Dan kemudian puncaknya adalah pada waktu saya menjadi anggota DPR RI," sebut Darmansyah dalam sambutannya.

Buku biografi ini sebenarnya tak jauh beda dengan novel karangan Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi. Dilatarbelakangi adatistiadat yang sama dan cerita rakyat yang menonjol memperlihatkan sisi kehidupan yang sama. Namun perbedaan mencolok terlihat bumbubumbu cerita kedua buku tersebut.

Andrea Hirata secara berani membeberkan sisi percintaannya dengan memunculkan sosok Aling dalam novelnya. Sedangkan dalam buku biografi Darmansyah, bumbubumbu percintaan Darmansyah kecil dan remaja tidak begitu banyak dan mendalam.

"Sebenarnya waktu ditulis banyak cerita bungabunganya, cerita indah cinta monyet. Tapi saya bilang sama Bung Haril ini bungabunganya kalau terlalu banyak nanti ada yang merasa nggak enak, tersinggung. Karena seperti yang dilihat, sekarang yang menjadi bidadari saya adalah Ibu Titiek Yoesiati. Ini yang menjadi pilihan bidadari di antara bidadari yang dulu muncul dalam cerita hidup saya yang ditulis Pak Haril. Tapi saya bilang janganlah nanti bidadari yang ini merasa tersinggung. Karena memang bidadari yang tercantik yang saya miliki sekarang," kata Darmansyah yang disambut tawa tamu undangan yang hadir.

Namun buku biografi ini tetap memunculkan bumbubumbu cerita cinta seorang Darmansyah agar menjaga buku ini tetap diminati dan tidak membuat bosan pembacanya. "Jangan sampai buku itu kering, harus dibumbui dengan bungabunga. Tetapi jangan terlalu banyak bungabunga," kata Darmansyah.

Dalam penggalan cerita buku tersebut, diceritakan juga mengenai perjuangan pembentukan Provinsi Babel yang dilakukan seorang Darmansyah Husein sebagai putra Belitung yang duduk di Komisi VIII DPR RI. Ia dibantu beberapa sahabat politiknya ikut memperjuangkannya melalui jalur parlemen. Padahal waktu itu Darmansyah duduk sebagai anggota Komisi VIII, dimana perjuangan tersebut tupoksinya Komisi II.

Darmansyah berharap buku biografinya dapat menjadi inspirasi pembacanya dalam menjalani hidup, bahwa hidup membutuhkan perjuangan untuk melewati hambatan dan rintangan yang menghalanginya. Bahkan rintangan dan hambatan dalam hidup yang disebut Darmansyah sebagai romantika kehidupan yang memberi makna dan arti penting hidup ini.

"Hidup itu terasa indah, manakala kita menemui kesulitankesulitan. Hidup itu penuh romantika manakala, kesulitankesulitan itu datang pada kita. Tapi kalau datardatar saja, ya mungkin tidak berkesan," kata Darmansyah.

Sementara itu Andeska yang menjadi moderator dalam bedah buku tersebut menyimpulkan, buku biografi 'Utusan Negeri Serumpun' sangat layak dan menarik untuk dibaca. Ceritacerita dalam buku tersebut juga merupakan cerita sebenarnya yang apa adanya, sehingga bisa menjadi teladan pembacanya.
"Cerita buku 'Utusan Negeri Serumpun' itulah adanya. Kesimpulan dari narasumber yang dapat kita petik, jadi buku ini patut dibaca, pantas dibaca, patut disimak, menarik untuk disimak dan tentu ini yang terbaik," kata Andeska.

--Kata Mereka

* Emron Pangkapi
Wakil Sekjen DPP PPP

Belitong Tempo Dulu
BUKU biografi Ir H Darmansyah Husein membawa pembaca pada kenangan Belitong tempo dulu. Di dalamnya diceritakan kehidupan pada masa kejayaan timah. Tak hanya itu, buku ini juga memiliki nilai sejarah yang penting.

Darmansyah menuturkan kembali dinamika perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Babel dari sisi yang selama ini belum banyak terungkap. Diantaranya perjuangan sejumlah tokoh pembentukan Provinsi Babel di tingkat pusat. Ruang kerja Darmansyah di lantai 21 DPR RI merupakan salah satu basis utama sejumlah tokoh saat bergerak memperjuangkan pembentukan Provinsi Babel di pusat.

Yang kita petik dari pelajaran ini, barang siapa yang menanam, dia akan menuai. Pak Darmansyah telah menanam berbagai kebaikan mengurus rakyat Belitung, baik di Belitung maupun di Jakarta. Adalah wajar jika hari ini beliau menuai sebagai bupati, beliau sudah menanamkan kepada kita artinya membentuk Provinsi Kepulauan Babel ini.


* Abdul Fatah
Sekda Kabupaten Belitung

Perjuangan Masyarakat Belitung

PALING tidak seluruh lapisan masyarakat itu mengetahui, pertama sekali adalah perkembangan terhadap bagaimana perjuangan masyarakat Belitung dari lapisan bawah sampai lapisan atas yaitu samasama berjuang saling bahumembahu. Karena yang paling banyak diangkat antara dua pembahas itu mengenai masalah pembentukan Provinsi Kepulauan Babel.

Terbentuknya Provinsi Kepulauan Babel tadi yang tergambar adalah bagaimana suatu perjuangan atau langkahlangkah di tingkat parlemen. Walaupun demikian di tingkat kabupaten sendiri, di tingkat daerah pada masa itu pergerakannya kan sama. Kalau pergerakan di tingkat daerahnya itu tidak muncul, itu akan sulit. Disitu kan tergambar ada aspirasi daripada masyarakat yang menginginkan pembentukan Provinsi Kepulauan Babel.

Dari sisi kepribadian Pak Darman yang digambarkan, itu adalah gambaran yang sangat menyulut bagi beliau dan saya sangat tahu persis sebagaimana yang tadi disampaikan. Kesederhanaannya pada waktu di tingkat SD dan SMP yang banyak bermainmain di sungai untuk menangkap ikan. Seperti bebanjor dan lain sebagainya. Tadi itu suatu kondisi kesederhanaan yang akhirnya saat ini ia adalah kepala daerah di Kabupaten Belitung.

Beliau punya pengalamanpengalaman di tatanan swasta pada waktu itu kemudian menjadi konsultan. Itulah yang kemudian memberikan gambarangambaran bagaimana beliau mengembangkan suatu daerah. Dengan hadirnya buku biografi ini nanti adalah memberikan suatu gambaran komprehensif mengenai diri seorang Pak Darmansyah Husein. Banyak halhal yang bisa kita petik dari biografi ini adanya gambarangambaran seperti itu.



* Kiemas Agustjik
Mantan Guru SMA Muhammadiyah II

Digandrungi Perempuan

WALAUPUN beliau banyaknya main, karena beliau dari kecil banyaknya main. Mainnya di pinggir kali, istilahnya bebanjor, kalau siang bebanjor kalau pagi beliau sekolah. Beliau sekolahnya jauh sekali, jadi SD beliau jauh sekali yaitu di Kota Manggar. Dari Gantung ke Kota Manggar kurang lebih 16 kilometer. Jadi beliau menuntut ilmu itu jaraknya jauh sekali.

Rapor beliau angkanya delapandelapan, padahal untuk memperoleh angka tujuh saja sangat sulit. Sekolah kami dulu sangat memperhatikan kualitas, sehingga membuat beliau ini menjadi idola di SMA Muhammadiyah II. Banyak cewekcewek yang menggandrungi beliau. Dan salah satunya ada yang dari Belitung, putri Belitong. Tapi ternyata beliau memilih lain.


* Fery Nursyandan Baldan
Mantan Ketua Komisi II DPR RI 19992004

Promosi Budaya

ADA suatu makna dari seorang tokoh yang ada di dalamnya, jadi saya kira lugas benar. Dan ini dia berani dan mau bercerita tentang perjalanan hidup yang apa adanya. Ini saya kira sebuah biografi yang benarbenar relatif langka, kalau sekarang ini banyak biografi yang bercerita tentang succes story, tidak mau bercerita apa adanya.

Ini saya kira dia membawa ke kontekstual, semua orang dibawa ke konteksnya sehingga ada value. Bagaimana seorang Darmansyah menjadi sukses, tidak hanya kemudahan, tidak hanya cerita yang bagusbagus tetapi ada perjuangan. Dalam artian disana ada hambatanhambatan, bagaimana hambatan itu dan bagaimana menghadapi tantangan itulah yang kemudian dijadikan sebuah pelajaran dalam kehidupannya.

Jadi, wajar ketika MUI mengutip sebuah kalimat di buku ini. Karena itu hak kontempelasi seseorang yang dengan sadar bahwa ditengah kefakirannya dia menjajaki ada dimana kelemahan dia dan kekurangan dia, sehingga itu kepatutan dalam sebuah biografi.

Sisi lainnya, saya kira ini sadar lingkungan Bang Darman ini, sehingga mengkontekskan kalau dilihat sepintas juga sebagai promosi budaya Belitung. Di sana berzaman sebuah suasana, zaman bagaimana nilainilai sebuah adat istiadat itu berlaku dalam kehidupan dan membesarkan seorang Darman. Dia menggambarkan seorang yang beruntung dalam konteks tokoh utama hidup dalam zaman timah di Bandung, itu cukup terkenal. Di asrama itu makanannya mewahmewah.



Sumber: Humas Setda Kab. Belitung