Jum'at, 29 Agustus 2008 08:39

Kebijakan Pendidikan Lingkungan Hidup Harus Dimulai di Usia Dini

Tanjungpandan (WP), Ketika mengajak warga menghijaukan pekarangan rumah masing-masing, upaya ibu Harini dan anaknya ini justru disambut cemoohan bahkan tidak sedikit yang mengganggap ide ibu rumah tangga ini sekedar “mengambil muka”. Namun ketika kampung di Cilandak, Jakarta Selatan itu sudah sejuk dan bersih, keberhasilan ibu rumah tanggai ini pun menjadi kebanggaan seluruh warga. Berbagai media elektronik menjadikan desa sebagai bahan berita bahkan banyak sekolah yang menitipkan muridnya mengikuti pelajaran ala Harini di rumahnya yang sudah dimodifikasi menjadi ruang kelas.

Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sumatera memandang keberhasilan pemerhati lingkungan ini cukup strategis untuk mengkampanyekan kesadaran lingkungan hidup. Harini Bambang Wahono ikut memberikan materi Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Guru SD yang dilaksanakan di Ruang Sidang Setda Kabupaten Belitung dari tanggal 29 hingga 30 Agustus 2008. “Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama PPLH Regional Sumatera Dengan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (Bapeldalda) Kabupaten Belitung “, jelas Kepala Bapedalda Maya Hasibuan,SH.

PPLH Regional Sumatera berada dibawah Kementerian Lingkungan Hidup yang berpusat di Jambi. PPLH Regional Sumatera berupaya “memasarkan” lingkungan hidup agar lingkungan melekat di segala bidang pembangunan. “ Bahasa memasarkan dimaksudkan agar bidang lingkungan hidup tidak hanya menjadi akibat  dari aktivitas manusia tetapi menjadi objek promosi meningkatkan kualitas hidup dan melekat dalam segala aspek kehidupan” kata Kabid Pentaatan Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas PPLH, Nugraha Prasetyadi,SE.

Tentunya kampanye dan pentaan lingkungan ini perlu dilakukan sejak usia dini dan kepada segala lapisan masyarakat termasuk di lingkungan pendidikan. “ kami berharap dunia pendidikan dapat memasukkan materi lingkungan hidup kedalam kurikulum berbasis lokal. “Inilah yang menjadi salah satu klausal yang termuat dalam Memorandum Bersama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 0142/U/1996 dan Nomor KEP 89/MENLH/1996 tengan Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup”, tambah Nugraha.

Selain kegiatan pelatihan, PPLH Regional Sumatera jua melaksanakan Program Adiyata yang ditujukan untuk mewujudkan sekolah bersih. Bagi Kabupaten Belitung, kegiatan ini merupakan pertama kali dilakukan yang diikuti 30 peserta yang berasal dari guru-guru SDN di Kabupaten Belitung. Berbagai materi yang disampaikan narasumber selama dua hari meliputi konsep ekologi, pencemaran dan kerusakan lingkungan, implementasi konsep 4R (Reduce, Recycle dan Re-Use, Re-Plant). Narasumber yang ikut menyampaikan materi pelatihan ini yakni Kepala PPLH Regional Sumatera Ir. Sabar Ginting, MBA, Kabid Pentaatan Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas PPLH, Nugraha Prasetyadi,SE, Kasubid Peningkatan Kapasitas Mohammad Hidayat Udin, ST, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Riau Drs.Zamsidar,  praktisi lingkungan Harini Bambang dan Bambang Wirawan dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung.

Sosok guru dipandang figur yang strategis untuk “memasarkan” lingkungan hidup karena guru dianggap tauladan bagi murid sekolah dasar, namun tetap   memperhatikan karakter anak yang menyenangi permainan. “Oleh karena itu  menggunakan metode joyfull learning process. Dalam menyampaikan pendidikan lingkungan hidup untuk usia dini“ tambah Nugraha

Kelembagaan pendidikan lingkungan hidup menjadi wadah/sarana menciptakan perubahan perilaku manusia yang berbudaya lingkungan. Kebijakan Umum pendidikan lingkungan hidup ini perlu memperhatikan berbagai aspek. Pertama, adanya kebiajkan pemerintah pusat, daerah dan komitemen seluruh stakeholder yang mendukung pengembangan lingkungan hidup. Kedua, adanya jejaring dan kerjasama antara lembaga pelaksana pendidikan lingkungan hidup. Ketiga, adanya mekanisme kelembagaan yang jelas yang meputi  tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing pelaku pendidikan lingkungan hidup dan keempat, adanya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup.

Sebelumnya, pelatihan bagi guru-guru seperti ini juga  dilaksanakan di Padang, Pariaman, Agam, Pekanbaru, Bangkinang, Bengkulu dan Lampung Selatan yang melibatkan sekitar 40 orang guru dilengkapi dengan  modul pendidikan lingkungan  hidup.

Selain itu, PPLH Regional Sumatera juga membangun bank pohon di beberapa wilayah di Sumatera yakni di Kota Bengkulu, Manggala, Pangkalpinang, Palembang, Solok Selatan dan Lhokseumawe. Di dalam bank pohon ini kita juga pelatihan kepada masyarakat yang mengelola bank pohon tersebut. Mereka dilatih bagaimana melakukan pembibitan, memperbanyak bibit  dan memilih tanaman yang laku secara ekonomis serta memiliki fungsi ekologis.  (fithrorozi)
Sumber: