Jum'at, 21 September 2012 03:42

Markanah, Penenun Emas dari Juru Seberang

Wahyu Brata, Manager Hotel Billiton kaget mendapati tamunya begitu berminat kain tenun yang baru saja ia tampilkan. Tenunan cual memberikan nuansa pada sudut bangunan ex.hooftkantoor Billiton Mij ini. Markanah tak kalah kaget, pemilik dan pengrajin tenun cual ini tak menyangka kain dan selendang cual yang baru pagi tadi dipajang laku. Kain cual memang cukup mahal untuk 1 set, selendang ukuran 2 meter dan kain dengan ukuran yang sama mencapai Rp.3,5 juta.

“Mungkin cara men-display atau mungkin tamu hotel lebih paham dunia tekstil tradisional yang membuat karya Markanah dihargai“ kata Wahyu. Markanah sempat putus asa menenun, selain bahan baku yang sulit didapat khususnya serat emas, untuk menghasilkan selembar kain cual membutuh waktu yang cukup lama. Berbulan-bulan kainnya teronggok di Galeri UKM padahal dari segi jumlah, pengunjung galeri lebih banyak dibandingkan tamu hotel. Sejak 2008 hingga saat ini (2012), Markanah sudah menghasilkan 15 lembar kain cual.

Motifnya tak banyak, masih mengikuti apa yang diajarkan gurunya, Mislinah, tetapi kualitas tenunnya cukup baik. Itu yang membuat Markanah menjuarai lomba yang baru pertama kali ia ikuti. “ Membuat motif harus hati-hati kalau salah tidak akan jadi kain “ kata Markanah. Markah menyebut beberapa motif yang ia pelajari seperti Gajah Badau, Bebek Setaman. Menurut Markanah ada 15 motif yang diperkenalkan gurunya tetapi 11 motif cual di rumah Dr.Hendro belum pernah ia lihat sebelumnya. Artinya, sekarang ada 26 motif tenun cual yang ia kenal. Kami tentu saja senang melihat wawasan Markanah makin luas.

Dr.Hendro tak menyangka kami,Komunitas Historia Belitong menaruh minat untuk mengembangkan kain cual. “ Sebagai orang Belitung saya tersentuh atas kepedulian ini “ kata Hadi Hibowo yang akrab disapa Aing.

Tak banyak orang tahu kalau Cual berasal dari Bangka Belitung. Dr.Hendro teringat ketika ia duduk di sekolah dasar di Surabaya dulu tahun 1951 diajarkan lagu yang liriknya menyebut Bangka daerah penghasil kain : Petik rambutan bungkus dikain. Belilah kain buatan Bangka, Ayooo….ayooo…”.

Markanah, memang terhitung baru menekuni kerajinan cual. Pada tahun 2008, 2 tahun setelah ia menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, Dinas Perindagkop Kabupaten Belitung mengikutkan Markanah dalam programi pelatihan tenun cual. “ Awalnya membosankan, maklum kita harus duduk lama dan baru pertama kali menenun” kenang Markanah yang kini bermukim di Desa Juru Seberang, Tanjungpandan. Berkat bimbingan Mislinah, guru tenunnya Markanah akhirnya bisa menghasilkan kain cual. Kain itu diikutkan dalam lomba tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan tak disangka ia meraih juara pertama.

Mislinah, sang guru terus berupaya mendorong murid-murid bisa mengembangkan kain cual. “ Kalau perlu buat motif sendiri sesuai dengna karakter daerah masing-masing” ujar Markanah. Hampir seluruh pengrajin tenun cual di Bangka dan Belitung adalah murid-muridnya. Kuatnya keinginan untuk mengembangkan tenun tradisional ini membuatnya meraih penghargaan : mengunjungi kolektor dan pengamatan tekstil tradisional Indonesia di Belanda. Selain Mislinah, di Pangkalpinang ada wanita kreatif lain, Ishadi. Bagi Markanah, Mislinah bukan hanya guru tetapi juga orang tua asuh yang menginginkan anak asuhannya berdaya. Ia tak segan-segan membeli hasil tenun anak didiknya “ Jangan sampai karena merasa tidak ada pembeli mereka berhenti berkarya “ kata Mislinah saat memamerkan hasil tenunnya di ajang Sail Indonesia-Belitong tahun silam.

Daya serap pasar seringkali membuat pelaku UKM seperti Markanah frustasi. Padahal seperti yang diungkapkan Dr.Hendro kain cual bernilai tinggi. Ia teringat sosok Pak Buyung, karena kain cual ia bisa membeli tanah dan membangun rumah. “ Dulu harganya tenun cual hanya Rp.1.500.000 padahal itu koleksi lama “ ujar Doni, warga Tanjungpandan yang juga pernah menawarkan cual kuno. Kain cual kuno yang ia tawarkan tidak hanya berbentuk selendang, bahan pakaian tetapi juga sapu tangan.

Bukan mustahil motif cual berkembang pesat nantinya. Ini tergantung seberapa besar kita menggali dan keberpihakan kita terhadap industri kreatif yang ada. Ironisnya cual justru dilakoni masyarakat kelas bawah seperti Markanah, yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Dengan motif cual kitapun bisa menggali potensi, memperkuat identitas dan media promosi daerah. Misalnya mengembangkan ada cual motif ‘ Simpor Mekar”. Apreasiasi terhadap karya seni bernilai tinggi penting memotivasi pengrajin cual. Cual tidak hanya dilihat dari harga tetapi nilai yang terkandung.

Menurut ahli testil ketika menemui Dr.Hendro yang mengkoleksi beberapa kain cual berusia 150 tahun. Cual dijalin dari serat emas yang didatangkan dari dataran Tiongkok. Bisa jadi, lewat kain cual tergambar bahwa Bangka Belitung bagian dari jalur sutra perdagangan dunia. Sayangnya, kita sering tidak menghargai, melindungi aset sejarah. Selain di Pulau Bangka dan Pulau Belitung, kain cual juga diklaim berasal dari Anambas. Pada tahun 2011, pemerintah Kabupaten Anambas, mendaftarkan hak paten ke Kementerian Kehakiman RI atas 5 motif cual mereka.

Karena berbagai kendala, banyak pengrajin tenun cual yang kebanyakan ibu rumah tangga, baik di Bangka maupun Belitung berhenti menenun. Kendala mengenalkan cual sebagai asset daerah yang dirasakan Dr.Hendro, Mislinah, Markanah maupun Komunitas Historia Belitong tidak berbeda jauh dari apa yang dikeluhkan Diny Yusuf, pemilik rumah produksi dan pimpinan Yayasan Toraja Melio yang bergeak dalam pelestarian tenun khas Toraja. Baru-baru ini (Kompas, 20/09/2012) Diny Yusuf menggelar Pameran Kain Tenun Sulawesi bertajuk “Untannun Kameloan” di Museum Teksil Jakarta yang berlangsung dari tanggal 21-30 September 2012. (Sumber Fithrorozi, dengan Nurmalisyah Abdullah).

Sumber: Fithrorozi dan Nurmalisyah Abdullah