Jum'at, 21 September 2012 03:49

BELITUNG MASA DEPAN (BAGIAN KESATU)

       Sejak dulu ketika pionir penambang timah Tionghoa dan Belanda menemukan pulau kecil antara pulau Kalimantan dan Sumatera, Belitung terkenal sebagai Pulau Penghasil Timah. Layaknya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, timah tetap menjadi andalan namun sinarnya mulai meredup. Suatu kondisi yang mesti memacu kita semua untuk tetap bertahan dan bangkit menuju kejayaan karena waktu terus bergerak maju dan tidak pernah mundur ke belakang.

     Berkaca dari pengalaman negara besar di Eropa yang hancur akibat Perang Dunia, bangsa Perancis justru melahirkan Festival Film Cannes, festival dengan selera berkualitas dan kehormatan personalitas serta mampu menggerakkan roda ekonomi melalui kebangkitan industri film dan daya tarik wisatanya. Beberapa kawasan sejarah direnovasi seperti sedia kala untuk menarik minat pengunjung seakan kembali di abad pertengahan dan pencerahan yang sarat dengan romantisme seni dan budaya. Mengutip catatan yang ditulis Garin Nugroho(kompas, Edisi 9 September), dituliskannya, “Di sebuah adegan film, seorang anak kecil yang kelaparan dipaksa belajar oleh orangtuanya. Anak itu bertanya, “saya lapar kenapa saya harus belajar?”. Sang Ibu menjawab, “Supaya ketika kamu kenyang kamu tahu apa yang mau kamu lakukan. Kamu tidak akan makan apa saja di sekitarmu, bahkan kamu tidak makan masa depanmu sendiri! Cukup menarik.

     Kita pun akan terus belajar dan karena itu, Pemerintah Kabupaten Belitung dalam upaya meningkatkan daya saing daerah, melakukan tiga aksi terobosan strategis yaitu di sektor kepariwisataan, kelautan dan perikanan serta kepelabuhan. Secara bertahap ketiga terobosan ini menunjukkan trend yang makin menggeliat dari hari ke hari. Masyarakat, pengusaha (swasta), Pemerintah, dan Pemerintah Daerah bersama-sama menggerakkan aktivitas sektor ini bagi upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah pada skala mikro dan makro. Khusus, pada sektor kepariwisataan Pemerintah Kabupaten Belitung tetap mengedepankan nuansa keindahan pantai berpasir putih dan bebatuan yang cantik dan eksotik. Suatu realitas, pantai-pantai Belitung semakin populer bagi publik luas, wisatawan domestik dan manca negara.

     Pantai bukan satu-satunya andalan wisata kita. Alternatif lain yang dikembangkan adalah wisata hutan. Keseriusan Pemerintah Kabupaten Belitung untuk menggarap wisata hutan tergambar jelas pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belitung yang selanjutnya disingkat dengan RTRW Kabupaten Belitung sebagai arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang menjadi pedoman bagi penataan ruang wilayah kabupaten sekaligus sebagai dasar dalam penyusunan program pembangunan. Direncanakan beberapa kawasan sebagai kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan cagar budaya, situs cagar budaya, kawasan strategis pariwisata, serta kawasan dengan ciri khusus (tematik) yang ditujukan bagi kawasan yang pengembangannya menonjolkan salah satu sektor yang dianggap potensi dan menjadi ciri bagi kawasan bersangkutan.

     Diantara destinasi wisata hutan yang mulai menonjol dan menarik turis domestik dan mancanegara saat ini adalah Batu Mentas. Hal ini dapat terlihat dari angka kunjungan yang dari waktu ke waktu semakin meningkat. Sebagai gambaran sejak diresmikannya tempat kunjungan Wisata Batu Mentas pada Bulan Maret Tahun 2012 tercatat 60 orang wisatawan mancanegara yang tertarik menikmati hutan perawan dengan berbagai fasilitas alam lainnya yang tersedia seperti; Tarsius Watching, Jungle Tracking, Outbound, Tubing, Fish Spa, Natural Swimming Pool dan Kuliner. Dalam pengembangan kawasan hutan Pemkab Belitung tidak berhenti sebatas Batu Mentas, bidikan garapan lain yang akan di kemas adalah Air Terjun Gurok Beraye, Air Terjun Gunung Kubing Desa Lasar dan Bukit Paramount di Kecamatan Sijuk, juga Wisata Sungai Padang dengan panorama Wisata Hutan Mangrove dan Jembatan yang menghubungkan antara Kabupaten Belitung dan Belitung Timur serta spot lain yang sedang diamati.

     Wisata sejarah adalah alternatif lain bagi wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Terdapat beberapa situs yang termasuk dalam kawasan cagar budaya, antara lain: Situs Tanah Cerucuk, Situs Gunung Tajam, Situs Membalong, Situs Luday, Situs Ai’ Labu, Situs Kalamoa, Situs Batu Kuping, Situs Cagar Budaya Kafe Senang, Makam K.A.Rahat dan Makam Raja Badau, Museum Pemkab Belitung dan Museum Badau, Mesjid dan Vihara Tua di Kecamatan Sijuk.

     Belitung terbangun atas peran besar ilmu pengetahun, seni, dan budaya. Hal ini tergambar dari sisa peninggalan gedung yang merupakan saksi bisu sejarah. Kota Paris yang legendaris dan terus mempertahankan sejarah kotanya hanyalah sebuah contoh. Kita pun tak serta merta menirunya karena Belitung punya identitas sendiri. Catatan sederhana dan komitmen mendasar adalah Belitung senantiasa ingin membangun keadaban budaya dari berbagai kombinasi potensi yang dimiliki. Dan ini tercermin, ketika kita berada di Kota Tanjungpandan.

     Di pusat Kota Tanjung Pandan, wisatawan dapat pula menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah seperti Eks Societeit, Toapekong Margo Ho di Jalan Gegedek Tanjungpandan (Hotel Billiton) sekarang, Eks Kantor Pusat GMB/Jam gede, Eks Rumah Tuan Kuase di jalan Melati Tanjungpandan, Eks Eupeesche Kliniek dan Eks Chineessche Hospital di Jalan Rumah Sakit dan  sebagainya. Sederet bangunan tua yang tetap terjaga keasliannya hingga saat ini adalah janji masa depan kesinambungan peradaban bagi generasi mendatang. Heritage adalah sebuah stregi yang akan mengamankan beragam nilai penting sekaligus modal kreativitas tanpa henti yang melahirkan inspirasi bagi kebudayaan populer atau alternatif. Sekali lagi, tak salah memang pilihan pemerintah daerah untuk menuangkan pemikiran dan konsep budaya ini dalam Raperda RTRW Tahun 2012-2032.

Akankah Pariwisata Belitung Terus berkembang?

     Ini adalah pertanyaan kita semua dan jawabannya ada pada masyarakat Belitung sendiri, bila masyarakat Belitung tidak memahami makna keberadaan pariwisata dan sebaliknya muncul kecenderungan  merusak sendi–sendi kenyamanan berwisata, tentu ini menandakan bahwa pariwisata Belitung akan berjalan ditempat. Kita lihat bagaimana batu–batu yang tertata unik secara alami dirusak dengan adanya  tulisan–tulisan kelompok vandalis yang tidak bertanggungjawab, bahkan bangga akan perilakunya yang merusak keaslian alami. Perilaku lain adalah sampah– sampah makanan ringan dan berat serta botol–botol minuman bertebaran di celah–celah bebatuan dan hamparan bibir pantai. Semuanya masih menunjukkan rendahnya pandangan masyarakat Belitung akan sebuah makna bahwa kondisi tersebut menjadi tidak menarik dan melahirkan image negative para wisatawan utamanya wisatawan mancanegara terhadap Belitung, yang katanya merupakan salah satu destinasi Nasional ketiga di Indonesia.

Wisata Belitung tercoreng Perilaku Tidak Terpuji

     Lagi !! Perilaku tidak tak terpuji seperti ini bertambah lagi dengan adanya perilaku pengendara–pengendara kendaraan bermotor yang memacu kecepatan tanpa mempedulikan keselamatan dan jiwa orang lain. Hal ini diperparah lagi bila terjadi pada objek–objek wisata tempat dimana para wisatawan mencari kenikmatan dan kenyamanan alami, terusik dan terganggu  rasa kenyamannya. Kejadian tragis seperti ini terjadi di wilayah wisata Tanjung Tinggi Tanggal 22 Agustus 2012, menimpa wisatawan mancanegara asal Belanda yang menjadi korban tabrak lari sehingga mengakibatkan 2 orang anak usia muda terluka berat dan parah. Sejak menjelang Idul Fitri dan sesudahnya terjadi 17 kasus kecelakaan lalu lintas, terdiri dari luka ringan 6 orang, luka berat 7 orang dan meninggal dunia 4 orang. Sedangkan kasus kecelakaan lalu lintas dari Januari sampai dengan Juli 2012, terjadi 23 kasus kecelakaan, terdiri dari luka ringan 11 orang, luka berat 14 orang dan meninggal dunia 19 orang. Kesemuanya ini sangat merugikan kepariwisataan Kabupaten Beitung. Kondisi ini merupakan tantangan bagi Pemkab Belitung untuk bekerja lebih keras dalam menumbuhkan dan membangun rasa sadar masyarakat bahwa pariwisata adalah milik semua dan dijaga bersama serta dinikmati secara bersama. Bukan sebaliknya di rusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.  Pengembangan kepariwisataan Kabupaten Belitung akan lebih memiliki daya dorong manakala perubahan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Belitung selesai dilakukan. Sejalan dengan perubahan penyusunan RT/RW, Pemerintah Kabupaten Belitung juga sedang menyusun rencana tata bangunan dan lingkungan/RTBL Kawasan Wisata Zona Utara mulai dari; Tanjungpendam – Aik Saga – Batu Itam – Tanjung Kelayang – Tanjung Tinggi – Sungai Padang.

     Sebagai catatan, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata jumlah kunjungan wisman/wisnu dari Tahun 2009 s/d 2012 yang berkunjung ke Kabupaten Belitung menunjukkan trend meningkat seperti terlihat pada tabel berikut:



      Belitung Masa Depan sedianya terbangun pada apa yang kita lakukan saat ini. Kesadaran dan tanggungjawab yang besar haruslah kita bangun bersama-sama. Benahi masa depan dimulai dari sikap hidup yang positif, berpikir positif dan mencerahkan bagi sekalian alam. Bangsa yang maju adalah bangsa yang tidak bisa diam ketika melihat sesuatunya berantakan.***

Sumber: Catatan Harian, Drs. Abdul Fatah, M.Si selaku Sekda Kabupaten Belitung