Selasa, 16 September 2008 03:13

Nuzulul Quran : Mengaktualisasi Makna Membaca

Tanjungpandan (WP),  Setelah melaksanakan sholat taraweh dan witir, berbagai mesjid di Kabupaten diramaikan dengan berbagai kegiatan tadarusan, membaca Al Quranul Karim. Perintah membaca merupakan perintah  pertama dan utama bahkan sebelum perintah sholat dan zakat.

Prof Dr Roger Garaudy dan Dr Maurice Bucaille di Perancis pernah mengkaji dan menguji Alquran dari segi isinya. Di antaranya, Maurice Bucaille mencoba menguji berapa jauh kebenaran ilmiah ayat-ayat yang bersangkutan dengan proses kejadian manusia dalam Surat Al Hajj ayat 5. Dr Maurice Bucaille menemukan, bahwa ternyata penjelasan dari Alquran yang turun 14 abad yang lalu itu dalam menggambarkan asal muasal manusia, lebih tepat dari ilmu embriologi mutakhir. Hal itu secara jelas ditulis dalam bukunya yang berjudul ‘The Origin of Man’.  Al-quran sebagai media pembuktian ini pernah diungkapkan kembali oleh Tarmizi Taher, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia pada Harian Replubika dua tahun yang lalu.

Dalam rangka merayakan Nuzulul Quran Tahun 1429 H ini,  Panita Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Belitung menghadirkan penceramah dari Jakarta, Ustadz Nanag Mubarok dari Ikatan Da’i Indonesia.    

Salah-satu keutamaan Bulan Ramadhan adalah diturunkannya permulaan Al-Qur’an, berupa perintah “membaca” atau iqro’. Perintah “membaca” ini bila ditelaah lebih jauh memiliki makna yang sangat luas untuk menyikapi berbagai fenomena alam dan kehidupan manusia.

Pengertian “membaca” secara luas, bukan sekadar pemahaman terhadap rangkaian aksara sebagai simbol pengertian, tetapi lebih jauh hendaklah juga kita maknai sebagai upaya merenungi, mengkaji dan memahami berbagai fenomena,   dalam   kaitannya   dengan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi, di bawah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Peran ke-khalifah-an tersebut tidak mungkin dapat dilaksanakan secara baik dan benar, tanpa kita memahami semua fenomena kehidupan ini secara sempurna melalui aktivitas membaca dalam pengertian yang luas.

Oleh karena itu, momentum peringatan Nuzulul-Qur’an ini hendaklah sama-sama kita jadikan titik-balik untuk  mengaktualisasikan makna iqra’ dalam menyikapi fenomena kehidupan kita.

Hal tersebut disampaikan Penjabat Bupati Belitung, Haryono Moelyo,SE,MA ketika memberikan sambutan peringatan Nuzulul Quran di Mesjid Jamiek Al Mabrur, Tanjungpandan, Selasa (16/9) (Syafei).
Sumber: