Kamis, 18 September 2008 03:27

HET Daging Perlu Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat

Tanjungpandan (WP),   Pada tahun 2007 terdapat 20 tukang potong daging di Kabupaten Belitung yang terdaftar di Dinas Pengelolaan Pasar dan Kebersihan. Mereka menjadi pemasok  di pasar daging Tanjungpandan. Pasokan daging di Belitung selain berasal dari peternak lokal juga didatangkan dari sejumlah daerah terutama dari Madura dan Lampung. “ Dari seekor sapi yang bisa menghasilkan daging 100 kilo, pedagang harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp.10 juta “ kata salah seorang pedagang yang ikut menghadiri Rapat Harga Eceran Tertinggi (HET) Daging dan Penempatan Lokasi Pasar Menjelang Lebaran nanti.

Toni Batubara mengusulkan HET daging sapi sebesar Rp.80 ribu, mengingat kondisi stok pada Hari Raya mendatang cukup tersedia. tahun 2007  yag lalu ada 429 ekor sapi dan yang dipotong sebanyak 197 ekor. Tahun 2008 saja di Tanjungpandan tercatat terdapat 332 ekor sapi, belum termasuk 200 ekor didatangkan dari Madura, 36 ekor dari Lampung dan 35 ekor dari Prepat, Membalong. ”Jadi jika melihat ketersediaan stok sapi di Belitung, perlu dipikirkan untuk mendatangkan sapi dari luar “ himbau Toni Batubara  didepan para pedagang sapi.

Kalaupun stok tersebut ada, tidak semuanya bisa dipotong, mengingat para peternak sudah memiliki jadwal potong (memenuhi pesanan) tersendiri. Berarti sapi luar masih dibutuhkan. Seperti Asmat, peternak sapi yang kini memastikan akan mendatangkan 6 ekor sapi dari luar Belitung, dari sapi yang dimilikinya. Kami mengusulkan HET  sebesar Rp.85.000 dikarenakan sapi luar itu sudah dipesan bahkan sudah ada di Belitung.

Rapat HET Daging dan Penempatan Lokasi Pasar pada siang (16/9) dari 14:00 hingga 17:00 di Ruang Sidang Pemkab Belitung dihadiri oleh anggota DPRD Mintarsih Arsidi, Kadin Pengelolaan Pasar dan Kebersihan Hilman,SH, Kadin Perindagkop MZ. Hendra Caya,SE,MSi, Kadin Pertanian dan Perkebunan Ir. Toni Batubara, SE,MT dan Kakan Sospol dan PP Ansyorini, Kabag Ekonomi Mustafa, Staf Karantina Pertanian, Lurah Parit Subei dan perwakilan pedagang daging dan pedagang kaki lima.

Desakan yang cukup kuat dari pedagang daging sapi di Pasar Tanjungpadan ini setidaknya menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara pasar dan kemampuan pasokan lokal “ Desakan dan ketergantungan komoditas dari luar Belitung ini menunjukkan ketahanan pangan masih permasalahan bagi pemerintah yang juga mengkhawatirkan masyarakat “ kata Kadin pertanian dan Kehutanan Ir.Toni Batu Bara SE,MT.

Menurut Kadin Perindagkop Penetapan HET mempertimbangkan dua sisi yakni keuntungan pedagang dan daya beli masyarakat. Harga Eceran tertinggi ini adalah batas maksimal, jadi masyarakat masih berharga harga lebih rendah dari yang ditetapkan. Selain itu tingginya harga HET yang nanti akan dipulikasikan ke masyarakat dikhawatirkan mendorong tingginya inflasi dan kemungkinan pemasok lain yang mengakibatkan harga daging turun drastis. “ kami berharap HET yang ditawarkan pedagang lebih rendah lagi” ujar Kabag Ekonomi Setda Kabupaten Belitung Mustofa.

Menyikapi kemungkinan pedagang menderita kerugian, Syaroni yang berprofesi sebagai pemotong sapi memberikan alasan bahwa harga di pasaran Jakarta untuk daging beku saat ini saja sudah mencapai Rp.72.000 belum termasuk ongkos kirim (Rp. 3 ribu per kg) dan penyusutan berat sebesar 15%. “Setidaknya daging beku akan dijual seharga Rp. 80.000 per kg nantinya“ kata Syaroni. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan daging segar yang di diusulkan (Rp.85.000). Inilah yang membuat pedagang tidak khawatir akan persaingan yang dianggap merugikan pedagang lokal.

Menurut juru bicara pedagang daging, Siriyanto, usulan HET daging Rp.80.00 per kg dinilai terlalu rendah. Bagi pedangang tahunan harga tersebut tidak sesuai dengan ongkos  kirim, biaya pemeliharaan, jika tidak diperhitungkan lebih cermat dikwatirkan pedagang akan merugi. Hal ini berbeda dengan pedagang harian yang sudah memiliki pelanggan dan bisa menjual bagian-bagian tubuh sapi seperti tulang dan babat. “ Kami mohon Rp.85.000 dan hati Rp. 70.00. dapat ditetapkan menjadi HET” kata Siri.

Setelah melewati pembahasan yang cukup alot, akhirnya disepakati HET untuk daging dan hati sapi  yang diusulkan pedagang, namun untuk bagian tubuh sapi lidah, hati hingga tulang diturunkan sebesar Rp.5.000 per kg dari usulan semula. HET daging ini berlaku mulai H-5 Hari Raya Idul Fitri 1429 nanti.

Perkembangan Harga Eceran Tertinggi Daging Per Kg
Tahun 2007 dan 2008 di Kabupaten Belitung

 

No

Komoditas

2007 (Rp)

2008 (Rp)

Kenaikan Rp (%)

1

Daging Sapi

75.000

85.000

10.000(13,3)

2

Hati

65.000

70.000

5.000(7,7)

3

Lidah

40.000

50.000

10.00(25,0

4

Paru

35.000

40.000

5.000(14,3)

5

Babat

35.000

40.000

5.000(14,3)

6

Buntut

35.000

35.000

0 (0,0)

7

Limpa

35.000

35.000

0 (0,0)

8

Kaki

20.000

25.000

5.000 (25,0)

9

Tulang

30.000

35.000

5.000(16,7)


Sumber : Dinas Pengelolaan Pasar dan Kebersihan

Dibandingkan daging dan hati sapi, komoditas lain merupakan komoditas ikutan atau substitusi sehingga kemungkinan mengalami kenaikan penurunan harga lebih besar dibandingkan relatif Komoditas yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah lidah dan kaki sapi.sementara terendah adalah hati sapi.

Dipastikan pada Lebaran nanti akan masuk 1,7 ton sapi beku yang sudah dipesan melalui kelompok arisan dimasyarakat. Untuk mengantipasi penyimpangan distribusi dan berbagai penyakit hewan,  Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Belitung nantinya akan menempatkan 2 dokter untuk mencegah beredarnya daging yang tidak layak dikonsumsi. Sementara Stasiun Karantina Kelas II Tanjungpandan menekankan pada kelengkapan dokumen pendukung dan jumlah yang sapi yang didatangkan dari luar seperti Surat dari MUI setempat atau kelengkapan izin pemasukan ke tempat tujuan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Belitung.

Sementara Pemkab menawarkan dua lokasi dari 3 lokasi yang diusulkan yakni di dekat bantaran sungai siburik dan pelataran parker untuk menampung kurang lebih 20 pedagang. Tuntutan pedagang kaki lima di Jalan Kimting dan Jalan Martadinata sebelumnya sempat memicu konflik antar pedagang. Dan sempat melakukan demo di DPRD menyusul kegagalan bertemu Penjabat Bupati. Mereka menuntut Pemkab dapat memberikan kesempatan pada pedagang untuk kembali menempati ruas Jalan Kimting yang sudah ditertibkan. ” Setidaknya 5 hari  menjelang Hari Raya” kata Syaroni yang juga perwakilan dari Forum Pedagang Kaki Lima Gang Kimting (fithrorozi).

Sumber: