Minggu, 21 September 2008 05:16

Hikmah Ramadhan : Nuzulul Qur’an mengajak kita Kembali Meraih Petunjuk Hidup

Tanjungpandan (WP),   Jika dalam pertandingan bola, kedua belah pihak  memiliki aturan yang berbeda tentu akan menyusahkan wasit. Bayangkan jika hal ini terjadi pada umat. Masing-masing ingin menggunakan aturan sendiri dalam menjalankan hidup. Padahal tujuannya sama yakni ingin hidup berbahagia, kaya dan senang.

Kita mungkin banyak mengetahui sudah ada  aturan yang mendahului kitab Al-qur’an, seperti Zend Avesta yang  sudah dipatuhi orang-orang Persi. Ada Gita dan Sri Krisna yang dipatuhi orang-orang India yang beragama Budha, ada lagi Konghochu yang dianut oleh di daratan China. Kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa  untuk kaum Bani Israil, kemudian Zabur untuk umat nabi Daud ataupun Injil bagi bangsa Ibrani. Kitab atau pedoman hidup itu diturunkan sesuai dengan masa dan bangsa sesuai tingkatan pemikiran orang pada waktu itu yang kesemuanya berbicara tentang hubungan ketuhanan dan hubungan kemanusiaan.

Karena kebutuhan yang berkembang dan  pemikiran yang meningkat mereka merasa terikat dengan kitab-kitab itu. Lalu mereka rubah sesuai dengan aspirasi mereka sendiri. Hingga buku-buku itu tercemar di mata Allah Jadi kitab itu bersifat lokal untuk bangsa itu sendiri.

Setahun demi tahun sesuai perkembangan zaman, mulailah terasa perlu adanya kitab panutan yang berlaku untuk semua umat (universal) sepanjang zaman. Sebuah ayat atau pengajaran tidak turun dengan mudah kepada seorang manusia. Tentunya Allah akan memilih pribadi yang berkeyakinan, berpengaruh di dalam masyarakat.

Muhammad sejak  kecil sudah memperlihatkan kelebihan baik dalam pribadi, akhlak dan pemikiran dari manusia lain sebelum akhirnya menjadi manusia terpilih untuk menyampaikan wahyu,  Suatu ketika beliau mengasingkan diri kesatu tempat-tempat mencari pemikiran-pemikiran yang baru. Ketika berumur 40 tahun beliau sempat mengasingkan diri di Gua Hira. Disaat itulah datang wahyu pertama yang mengagetkan, Iqra …..lqra …..Iqra. Begitu kagetnya Beliau karena sadar tidak bisa membaca tetapi diperintahkan untuk membaca yang begitu jelas diterimanya.

Perintah itu berulang-ulang hingga sampai 5 ayat. Itulah ajaran yang pertama yang diterima Muhammad SAW. Hari demi hari, ayat demi ayat turun baik melalui jibril, maupun dikarenakan ada permasalahan hidup yang membutuhkan tuntunan . Dalam dalam 22 tahun 2 bulan 22 hari wahyu Allah itu turun yang terdiri dari  114 surah. 86 surah diantaranya turun di Makkah dan 28 surah terakhir turun di Madinah pada waktu Rasulullah hijrah ke Madinah.

Hingga akhirnya turunlah wahyu, “ Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah : 3) Ayat tersebut turun di Padang Arafah ketika Rasullulah melaksanakan Haji Wadah.

Demikianlah ayat-ayat  Al-qur’an telah menjadi pedoman atau petunjuk bagi seluruh umat yang ingin mempelajari tentang cara hidup yang benar. Seandainya ayat-ayat Al-qur’an tidak turun apakah yang akan terjadi ?. Sementara dengan perintah dan pedoman yang jelaspun, seringkali manusia berpaling. Sesungguhnya peringatan Nuzulul Qur’an menjadikan kita untuk kembali dari berpaling hati menginggalkan Al-Quran yang diturunkan pada Malam Lailatul Qodar. Jika peringati Nuzulul Qur’an didasarkan pada saat turunnya ayat suci Al-Qur’an tentunya kita merajut hati dengan malam Lailatul Qadar bukan pada tanggal 17 Ramadhan. Semoga Al-quran tidak sekedar mengingatkan kita terhadap  Wahyu Allah SWT turun tetapi mengingatkan kita bahwa jalan yang kita tempuh sudah jauh berpaling dengan Al-Quranul Kariim, Amien.

Hikmah Nuzulul Qur’an ini disampaikan H.Sjachroelsiman di Mesjid Al Ihsan Air Raya 16 Septemer 2008.


Sumber: