Jum'at, 6 Februari 2015 09:00

WAKIL BUPATI BELITUNG SELESAIKAN PERMASALAHAN TAMBAT LABUH DI KAWASAN WISATA TANJUNGPENDAM

 

Permasalahan tambat labuh, serta perbaikan kapal nelayan yang lebih dikenal dengan docking di kawasan wisata Tanjungpendam, menimbulkan permasalahan antara pihak nelayan dengan pengelola UPTD Tanjungpendam. Hal tersebut menimbulkan reaksi Wakil Bupati Belitung, Drs. H. Erwandi A Rani untuk menyelesaikan masalah tersebut, dengan mempertemukan kedua belah pihak,  bertempat di Pos TNI AL Tanjungpendam, Jum’at (06/02).

 

Pihak nelayan yang diwakili oleh Yuli, selaku juru bicara, memberikan alasan mengapa mereka melakukan tambat labuh serta perbaikan kapal di kawasan wisata tersebut. Yuli menjelaskan saat ini pelabuhan nusantara ataupun pelabuhan perikanan tidak mampu menampung banyak kapal  yang merapat dikarenakan angin barat. “  Kami selaku putra daerah memang bangga dengan keberadaan kawasan wisata Tanjungpendam yang saat ini ramai dikunjungi wisatawan, akan tetapi sebelum Tanjungpendam sehebat saat ini , aktivitas tambat labuh atau perbaikan kapal sudah terlebih dahulu dan ini bukan baru terjadi,  tetapi sejak beberapa tahun yang lalu.

 

Kepala UPTD Tanjungpendam, Sugianto memaparkan akar pemasalahannya dengan para nelayan, Sugianto menjelaskan bahwa  nelayan yang menambatkan kapalnya di kawasan Tanjungpendam tidak mempunyai itikad baik dan sering adu mulut dengan security kawasan wisata. Terlebih nelayan sering ugal-ugalan saat naik motor menuju pelabuhan dan tidak menghargai keberadaan penjaga karcis serta memakai pakaian yang kurang sopan saat perbaikan kapal pada hari-hari libur yang ramai dikunjungi wisatawan.

 

Lebih lanjut Sugianto menjelaskan, “ Kami di tugaskan di  UPTD Taman hiburan ini berdasarkan SK Bupati, dan mempunyai tanggung jawab dalam mengelola, baik kebersihan , keamanan dan lain sebagainya. Kawasan wisata ini seharusnya bukan tempat tambat labuh atau perbaikan kapal. Kami bukan menolak keberadaan para nelayan akan tetapi kami mohon saling menghargai dan mengerti, kami mengerti cuaca saat ini buruk dan kapal- kapal di pelabuhan penuh sehingga tidak tertampung semuanya. Kita lihat apa yang telah dilakukan para nelayan di kawasan ini, bekas- bekas kapal berserakan, tali tambat perahu menggunakan pohon yang ditanam di kawasan ini sehingga pohon tersebut ada yang roboh, serta ada yang membawa minuman dan berjudi, dan sampah yang ditimbulkan baik didarat atau dilaut “,jelas Sugianto.

 

Selaku penengah dalam arahannya Erwandi mengatakan “ Saya sudah menangkap pokok permasalahan dari kedua pihak, intinya harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain, jika ada pengertian sebagai contoh, tidak mungkinlah setiap harinya pihak UPTD meminta pungutan karcis kepada nelayan. Berkenaan dengan aktivitas nelayan tersebut, mungkin pihak UPTD akan berbaik hati serta memberi toleransi kepada para nelayan apabila nelayan mengikuti aturan- aturan yang ada. Silahkan pihak UPTD mendata nama-nama pemilik kapal dan berapa jumlah kapal nelayan di kawasan ini. Kemudian adakan perjanjian tertulis antara kedua belah pihak sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nelayan juga harus mempunyai koordinator untuk saling mengingatkan terkait aktivitasnya. “ ujar Wabup. 

 

Sumber: Humas Setda Kab.Belitung