Kamis, 26 Februari 2015 16:00

SOSIALISASI CIRI-CIRI KEASLIAN UANG RUPIAH DAN KEBANKSENTRALAN DI BELITUNG

Tanjungpandan -- Bank Indonesia Provinsi Bangka Belitung terus berupaya untuk lebih memperkenalkan ciri-ciri keaslian rupiah kepada masyarakat. Kali ini, selain memaparkan bagaimana sebetulnya membedakan antara uang palsu dan asli, juga akan dipaparkan kebanksentralan Bank Indonesia agar masyarakat lebih dekat dengan salah satu pemegang kuasa rupiah ini.
 
 
Handiro Kusuma, Deputi  BI Provinsi Bangka Belitung mengatakan, kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan rutin yang telah diagendakan BI, sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan ciri-ciri keaslian uang, untuk meminimalisir peredaran uang palsu dikalangan masyarakat. Selain itu, hal ini juga menyangkut salah satu tupoksi BI di bidang Moneter dimana BI harus menjaga kestabilitasan rupiah seperti misalnya dalam sistem pembayaran jual beli di pasar yang secara tidak langsung akan memperngaruhi peredaran uang dengan kondisi pecahan uang yang dibutuhkan masyarakat terpenuhi.
 
 
Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia memaparkan secara jelas kepada peserta sosialisasi tentang pentingnya mengenali keaslian rupiah. Mulai mengenali ciri yang dapat dilihat dengan mata telanjang sampai dengan ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dengan menggunakan alat, seperti penggunaaan sinar ultra violet untuk melihat ciri khusus yang tertera dalam uang rupiah asli.
“Cara mudah untuk mengetahui uang tersebut asli atau palsu mudah saja karena Rupiah memiliki rahasia sendiri, dengan teknik 3D (Dilihat, Diraba dan Diterawang)” ujar Handiro.
 
 
Teknik 3D dimulai dari Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Pertama, Dilihat. Warna uang terlihat terang dan jelas. Terdapat benang pengaman yang ditanam pada kertas uang dengan suatu garis melintang atau beranyam dan berubah warna.
Pada sudut kanan bawah terdapat lingkaran yang warnanya dapat berubah apabila dilihat dari sudut pandang berbeda atau biasa dikenal OVI (Optical Variable Ink).
 
 
Kedua, Diraba. Pada setiap uang terdapat angka, huruf, burung garuda, dan gambar utama bila diraba akan terasa kasar atau dikenal sebagai Cetak Intaglio. Dan ketiga dengan diterawang. Pada setiap uang terdapat tanda air berupa gambar pahlawan dan terlihat jelas bila diterawangkan ke arah cahaya atau biasa dikenal Water Mark.
 
 
Selain memperkenalkan ciri-ciri keaslian uang, BI juga turut mensosialisasikan mengenai fungsi dan tanggung jawab Bank Indonesia sebagai bank sentral yang bertanggung jawab untuk mencapai dan memelihata kestabilan nilai rupiah serta posisinya pasca terbentuknya OJK kepada para peserta. Handiro berharap, sosialisasi ini dapat memberi informasi dan dapat melakukan suatu sinergi yang baik dalam pengembangan perekonomian daerah di Belitung.
 
 
Sementara itu, Bupati Belitung yang diwakili oleh Asisten III Bidang Administrasi Darma Bakti S.Sos dalam sambutannya mengatakan, saat ini uang palsu banyak beredar ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut kita harus mampu membedakan uang yang asli dan uang yang palsu.
 
 
Lebih jauh lagi, terkait pengenalan uang rupiah serta perbedaan uang palsu dan asli, masyarakat harus dapat mengenali keasliannya dengan cara memperhatikan bahan yang digunakan, termasuk desain, ukuran serta teknik cetaknya. Pasalnya ciri-ciri uang rupiah juga dapat dilihat dari cetakannya yang timbul jika diraba. Kalau uang asli diraba akan terasa kasar di sudut atas bawah dan selanjutnya dapat diketahui juga melalui runtutan huruf yang ada di uang tersebut serta angka yang memudar jika dilihat di bawah sinar ultra violet.
“Kepada masyarakat jika menemukan dan meragukan keaslian uang yang beredar dapat melaporkannya kepada pihak perbankan untuk nantinya ditindak lanjuti ke pihak yang berwajib” himbau Bupati. (Nie)
 
 
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung