Rabu, 18 Maret 2009 08:11

Pekan Promosi Wisata se- Propinsi Bangka Belitung Menyambut Babel Archi 2010

Dampak atau efek lain yang acapkali muncul akibat berkembangnya sektor kepariwisataan adalah "Syok atau Geger Budaya". Istilah ini ditandai dengan ditinggalkannya nilai-nilai serta norma agama dan sosial yang baik. Hal ini tidak bisa dihindarkan tapi dapat dikurangi dampaknya dengan membangun keteguhan mental spiritual serta kesadaran yang tinggi untuk senantiasa menerapkan budaya lokal yang sarat dengan nilai dan norma kebaikan.

Karena itu, selain melakukan pembangunan prasyarat fisik bagi perkembangan kepariwisataan seperti akomodasi, transportasi dan fasilitas lainnya, hal utama yang harus dipersiapkan secara matang adalah membangun mental spiritual yang teguh, sehingga dapat menangkis setiap dampak negatif yang ditimbulkan dari berkembangnya sektor pariwisata. Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan guna keseimbangan pembangunan itu sendiri, sekaligus sebagai filter agar budaya lokal  ketimuran yang positif tidak tercerabut dari akarnya.
   
Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Bupati Belitung, Sahani Saleh, BA pada saat memberikan sambutan pada Pekan Promosi Wisata se Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, bertempat di Dusun Balitung-Kecamatan Sijuk, Jumat siang pukul 14.00 WIB, tanggal 18 Maret 2009.

Pelaksanaan kegiatan ini bertepatan dengan perayaan Galungan, Nyepi dan Kuningan bagi Umat Hindu di Kabupaten Belitung. Dusun Balitung merupakan perkambungan migran Bali di Kabupaten, yang sebagaian besar komunitasnya beragama Hindu.

Replika kebhinekaan dan pluralisme yang ada di Indonesia, juga dapat dijumpai di Kabupaten Belitung. "Alhamdullilah, setiap komponen masyarakat yang ada di Kabupaten Belitung dengan latar-belakang agama, suku, budaya dan adat istiadat tersebut dapat hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa dijaga dan dipertahankan keutuhannya", imbau Sahani Saleh.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa perbedaan tersebut dapat dianalogikan sebagai guratan tinta warna-warni yang memberikan nuansa keindahan pada sebuah lukisan maha karya. Keindahan inilah yang akan dijadikan daya tarik para pelancong untuk datang ke Belitung khususnya, serta Kabupaten/Kota se- Propinsi Kepulauan Bangka Belitung umumnya. Sehingga pada akhirnya, dengan paduan dan kolaborasi yang memikat, dapat mendukung potensi wisata alam yang ada dan selama ini dikembangkan.

Kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat dipandang sebagai suatu potensi, modal dasar sekaligus aset penting bagi pembangunan. Walaupun realitasnya, masih saja ada segelintir orang yang memanfaatkan kemajemukan dan segala perbedaan tersebut untuk memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. Namun demikian, Sahani Saleh tetap menghimbau kepada seluruh masyarakat agar senantiasa melihat sisi positif dan berpikir optimis terhadap realitas yang ada, agar setiap potensi yang dimiliki tersebut dapat didayagunakan secara optimal demi pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan ini: Wakil Gubernur Propinsi Kepulauan Bangka Belitung: H. Syamsudin Basari, beserta para Kepala Dinas dan Bagian di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Belitung. **** (Zakina).
Sumber: Humas Setda