Sabtu, 3 Mei 2008 12:58

Reuni Akbar SPG Nasional Tanjungpandan

Tanjungpandan,WP, tidak seperti Hari Bumi dan Hari Buruh Internasional yang diperingati dengan berbagai unjuk rasa. Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei diperingati alumni Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Nasional Tanjungpandan yang jumlahnya kurang lebih 3.000 orang dengan menggelar Bhakti Sosial, Donor Darah, Seminar Sehari, Jalan Santai dan Ramah Tamah antar alumni. Meski SPG Nasional sudah dibubarkan sejak tahun 1989, namun kepedulian perkembangan dunia pendidikan dari sejumlah alumni patut dihargai. Seminar Sehari yang bertema “Sinkronisasi Kebijakan Dan Peningkatan Profesionalisme Guru” pada tanggal 3 Mei 2008 yang rencananya dilaksanakan di Gedung Nasional, Tanjungpandan akhirnya dapat dilaksankan di Restoran Dinasty, Jalan Soesilo Tanjungpandan yang sanggup menampung 900-an peserta yang hadir. Program dan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah Kabupaten Belitung mengarahkan pembangunan bidang pendidikan pada tiga pilar, yakni 1) perluasan akses pendidikan pada semua jenjang pendidikan dengan fokus utama pada penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun; 2) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; dan 3) efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan pendidikan dan pencitraan publik, ungkap Bupati Ir.H.Darmansyah Husein dalam sambutannya. Terkait dengan program tersebut profesionalisme guru menjadi kebutuhan. Pembangunan Information, Communication Technology (ICT), perbaikan sarana dan prasarana fisik yang meningkat dari 33,69% (2005) ke 46,00% (2006) dan menjadi 60,60% tahun 2007 bukan hanya terkait dengan amanat UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, tetapi juga sebagai upaya mencari solusi peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat Belitung. Selain memang standarisasi guru seperti yang ditekankan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 dimana syarat menjadi guru minimal D-IV atau sarjana (S1) dan memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran. Tahun 2004 Guru SD yang sudah memenuhi kualifikasi pendidikan S1 sebesar 0,94%, SMP 59,13%, dan SM 87,59 %. Tahun 2007 meningkat, SD 6 %, SMP 73% dan SM 91%. Berbagai upaya yang telah kita tempuh dalam menuntutaskan Program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun ternyata pada tahun 2006 mendapat penghargaan Widyakrama Presiden RI. Ini menjadi pegangan kita untuk mewujudkan Wajar 12 tahun, ajak Bupati Belitung dalam sambutannya. Seminar dibagi dabagi 3 materi yang disampaikan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI), Fajar Fairy Rusni,SH membahas masalah “Sinkronisasi Kebijakan Dalam Rangka Peningkatan Profesionalisme Guru Untuk Mewujudkan Pendidikan Yang Berkulitas, Dra Zuriati,MPd (mantan yang bekerja di Dinas Pendidikan Nasional) mengulas masalah Sertifikasi dan Implementasinya dalam Mewujudkan Pendidikan Yang Berkualitas sedangkan Drs.Rusli Mahari SE,MM mengulas masalah Perubahan dan Kreativitas. Fajar berharap setelah seminar ini ada tindakan nyata dari alumni terkait dengan kualitas guru dalam sebuah Forum. Selain PGRI memang ada beberapa lembaga pendukung yang sudah terbentuk seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Gugus TK dan SD, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) serta Dewan Pendidikan. Permasalahannya adalah bagaimana organisasi yang sudah ada itu dibenahi sebagaimana harapan dari Halil Asen, alumni SPG yang saat mengajar di SDN 6 Sijuk. Kita menyadari 10 komponen portofolio yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 18 Tahun 27 tidak mudah diwujudkan, yakni kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawasan prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan, keluh Fajar. Untuk itu perlu solusi pragmatis yang bersifat sementara yakni dengan memperbesar kuota agar para guru dipercepat mengikut ujian kompetensi/sertifikasi dan masa kerja harus menjadi pertimbangan dalam meningkatkan standar pendidikan S1 para guru. Kompleksnya masalah dunia pendidikan tidak hanya masalah realisasi Anggaran Belanja 20% dan bagaimana pemanfaatannya, tetapi juga bagaimana UU Sistem Pendidikan Nasional yang menuntut profesionalisme, standar kualifikasi minimum, kualifikasi akademik dan sertifikasi bisa kita penuhi jelas Dra.Zuryanti,MPd dalam paparannya. Guru hendaknya memiliki semangat entreprenuer, ujar alumni angkatan 1975, Drs.Rusli Thamrin SE,MM. Entrpreneruship (semangat berusaha) itu membutuhkan percaya diri, orientasi tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, orientasi masa depan, keorsinilan (inovatif dan kreatif) dan fleksibel dalam menghadapai dunia yang sedang berubah. Pertemuan ini juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Belitung, Drs. Suhardi yang merupakan alumni SPG Nasional, Kadin Pendidikan Kabupaten Belitung, Drs.Sumardi, mantan Guru SPG, Mahdani Miram. Ketua Umum Reuni SPG Nasional, Deraman S.Pd.SD berharap kegiatan ini menumbuhkan senagain interakti antar alumni menyikapi permasalah kualitas dan kuantitas guru. Hal senada diungkapkan koordinator Acara, Hasrun, S.Pd.SD menyikapi kondisi guru SD yang mirip piramida terbalik. Kekurangan sumberdaya guru dapat menjadi inspirasi untuk membangun Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (fiet). Sumber: