Kamis, 14 Januari 2010 02:14

BUPATI: BELITUNG LAYAK KEK

Tanjungpandan, Bupati Belitung Ir. H. Darmansyah Husein mengatakan, jauh sebelum Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disahkan tanggal 19 September 2009, Pemerintah Kabupaten Belitung sudah menetapkan kebijakan yang memungkinkan daerah ini menjadi salah satu lokasi pengembangan KEK di Indonesia.

Kebijakan itu dimulai dengan penetapan kawasan industri seluas 500 hektar di Dusun Suge, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, yang dikenal sebagai Kawasan Industri Suge (KIS). Rencana Detail Tata Ruang telah ditetapkan dengan Perda Kabupaten Belitung Nomor 15 Tahun 2001, dengan lahan cadangan pengembangan seluas 5000 hektar.

Menyampaikan paparan di hadapan Komisi IX DPR RI, Anggota DPD dan DPR RI Daerah Pemilihan Bangka Belitung, dan Sekretaris Tim KEK Menteri Koordinator Perekonomian di Jakarta hari ini, Rabu (13/1) Darmansyah Husein menjelaskan, untuk mendukung pengembangan KIS sejak 2001 Pemerintah Kabupaten Belitung secara bertahap membangun Pelabuhan Tanjung Batu di kawasan ini, dimulai dengan pembebasan lahan seluas 100 hektar dan penetapan status pelabuhan ini sebagai pelabuhan samudera melalui Keputusan Bupati Belitung Nomor 13 Tahun 2001.

Didukung dana APBN dan APBD Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, pembangunan Pelabuhan Tanjung Batu dapat terlaksana sesuai tahapan. Pengerjaan coast way sepanjang 401 meter sudah selesai pada tahun 2008, disusul pengerjaan dermaga sepanjang 204 meter pada tahun 2009.

Seperti daerah-daerah lain di Indonesia, jelas Darmansyah, salah satu persoalan investasi dan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Belitung adalah energi listrik. Selama ini, untuk mencukupi kebutuhan listrik di Kabupaten Belitung PT. PLN (Persero) Cabang Tanjungpandan hanya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), yang kondisinya sudah cukup tua dan memerlukan pemeliharaan ekstra.

Untuk mengatasi persoalan itulah Pemerintah Kabupaten Belitung bersama PT. PLN (Persero) berupaya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2x16,5 MW di Dusun Suge, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau. Diharapkan, PLTU ini tidak saja dapat memenuhi kebutuhan energi listrik KIS, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Kabupaten Belitung yang sampai saat ini masih mengalami kekurangan.

Dimulai dengan penandatanganan kontrak joint operation antara PT. PLN (Persero) dengan PT. Poeser Indonesia and Shandong Machinery Equipment pada 11 Juni 2008, saat ini pembangunan PLTU Suge sudah memasuki tahap land clearing & leveling work, setelah sebelumnya dilakukan tiga tahap pekerjaan yakni pleminari topography, borehole & soil investigation, dan bathymari data. Diharapkan PLTU Suge dapat segera beroperasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Belitung.

Selain infrastruktur pelabuhan dan energi, papar Darmansyah, untuk menunjang pengembangan KIS Pemerintah Kabupaten Belitung juga sudah membangun jalan tembus dari Dusun Air Malik, Desa Bantan, Kecamatan Membalong, ke Dusun Suge; dan jalan tembus Bandara HAS Hanandjoedin ke Dusun Suge melalui Desa Buluh Tumbang, Dusun Air Mungkui, dan Dusun Petikan. Jalan tembus ke bandara ini juga dimaksudkan sebagai jalan akses KIS ke wilayah Kabupaten Belitung Timur.

Sementara itu, jauh-jauh hari, Pemerintah Kabupaten Belitung sudah menetapkan zonasi daerah melalui Perda Nomor 18 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belitung Tahun 2005-2015. Melalui Perda ini, Kecamatan Membalong ditetapkan sebagai zonasi agropolitan, Kecamatan Tanjungpandan sebagai central business district (CBD), Kecamatan Badau sebagai Kawasan Industri dan Pelabuhan Samudera, Kecamatan Sijuk sebagai kawasan pariwisata, dan Kecamatan Selat Nasik sebagai kawasan kelautan dan perikanan.

Penetapan zonasi ini tidak terlepas dari potensi Kabupaten Belitung disektor pertanian, perdagangan, industri dan pertambangan, pariwisata, serta kelautan dan perikanan. Pada tahun 2007, misalnya, volume ekspor Kabupaten Belitung mencapai lebih dari 239,5 juta ton dengan nilai lebih dari 24,6 miliar dolar AS — meliputi komoditi kaolin, pasir besi, hasil perikanan, dan biji timah. Negara tujuan tidak hanya negara-negara Asia seperti Singapura, China, Jepang, Banglades dan Pakistan, tapi juga Uni Eropa dan Amerika. Dari angka itu, eskpor hasil perikanan mencatat angka tertinggi, dengan volume lebih dari 846 ribu ton dan nilai lebih dari 1,3 juta dolar AS.

Melihat besarnya potensi Kabupaten Belitung di sektor kelautan dan perikanan, Pemerintah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Perda Nomor 2 Tahun 2009 menetapkan daerah ini sebagai lokasi etalase kelautan di propinsi ini. Sementara itu, melihat besarnya potensi daerah ini di sektor industri, Menteri Perindustrian melalui Surat Kepala Balitbang Industri Departemen Perindustrian Nomor 403/BPPI/II/2009 tangal 14 Juni 2009, mendukung pengembangan kawasan industri di Kabupaten Belitung.

Di sisi lain, Kabupaten Belitung sendiri terletak di wilayah yang sangat strategis. Disamping berada di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), sabuk tengah pelayaran ASDP, dan segitiga pelayaran Singapura/Batam-Belitung-Jakarta, daerah ini juga berada di jalur pelayaran internasional.

Dengan potensi yang dimiliki, kesiapan infrastruktur, dan geoekonomi yang sangat strategis, Darmansyah yakin Kabupaten Belitung sangat layak ditetapkan menjadi salah satu lokasi KEK di Indonesia. (syafei)

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung