Senin, 8 Maret 2010 11:11

WUJUDKAN MIMPI BEBAS DBD

The dream must be come true, dream (baca= mimpi) untuk membuat Belitung terbebas dari penyakit menular Demam Berdarah (DBD) nan latah ini. Saya mencatat, dalam sepekan terakhir berita tentang penyakit satu ini  tiap hari diberitakan dalam berbagai media nasional maupun lokal, cetak maupun elektronik. Tentunya berita ini didasarkan pada fakta akan banyaknya penderita dan meluasnya penyebaran DBD ketimbang hanya pilihan dari agenda media tertentu (agenda setting) dalam memuat berita mana yang layak. Korbannya bisa dari dari orang awam hingga intelektual, miskin hingga kaya, jelek rupa hingga rupawan, anak-anak sampai orangtua, laki-laki maupun perempuan dan seterusnya. Saya pun jadi tertarik untuk menulisnya dalam artikel pagi ini dari sudut redaksi Humas. Just to inform (hanya untuk menginformasikan), istilah pandangan awalnya. Syukur-syukur dari artikel ini makin banyak diantara kita yang semakin peduli akan sanitasi lingkungan.

Seperti yang disebutkan dimuka banyak media menjadikan berita DBD sebagai Headline. Sebut saja KOMPAS misalnya, dengan judul yang sama memuat artikel khusus tentang penyakit yang satu ini. Sebelumnya, saya pun sering mendapatkan pesanan khusus dan langsung sebagai public relation di Pemkab Belitung untuk senantiasa menayangkan spot iklan tentang penyakit DBD. Hebat betul penyakit ini, hingga jadi artis sekian pekan di berbagai media. Publik pun jadi dibuat ekstra hati-hati terhadap penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Agypty ini. Betapa tidak karena kemampuannya dapat mematikan puluhan, ratusan bahkan jutaan penderita pada cakupan waktu dan tempat yang berbeda dan atau serentak. Dan untuk di suatu wilayah jika sampai ada penderita yang meninggal maka dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa.


Beberapa kali saya juga dipesankan untuk membuat script writer (naskah) iklan radio dan naskah sambutan Eksekutif terkait dengan langkah-langkah antisipatif dan reaktif untuk menanggulangi penularan penyakit DBD di Kabupaten Belitung yang telah termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa. Setiap ada kesempatan, Ir.H. Darmansyah Husein  dan Sahani Saleh, S.Sos. selaku pasangan Bupati dan Wakil Bupati Belitung selalu menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan agar dapat menghindari dari berbagai penyakit meluar.

Pagi ini, Senin 8 Maret 2010, Darmansyah juga menghimbau kepada para PNS di Lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Belitung untuk dapat bekerjasama dan peduli untuk menjaga sanitasi lingkungan, bukan hanya dalam rangka meraih kembali Adipura. Lebih penting dari itu, menurut Darmansyah karena kita tidak ingin banyak korban berjatuhan akibat penyakit menular seperti DBD. ”Mari bersama-sama kita gotong-royong, kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan, setidaknya setiap Jum’at usai melakukan olahraga di Kantor Bupati”, pinta Darmansyah didampingi Sahani Saleh saat memimpin dan memberi pengarahan Apel Pagi di Halaman Kantor Bupati, Senin Pagi Pukul 07.30  WIB.

Gerakan Tiga ”M” masih menjadi andalan pemerintah untuk memberantas penyakit yang satu ini, yaitu dengan cara Menguras, Membersihkan dan Mengubur setiap sumber air bersih tempat nyamuk bersarang dan berkembang biak. Jadi, paling tidak hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk memutus mata rantai perkembangbiakan penyakit DBD adalah dengan memberantas nyamuk di tempat-tempat tumbuh kembangnya sebagai vektor penyakit.

Nyamuk Aedes Agyti suka banget dengan kondisi alam dan iklim negara kita. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia dikenal dmemiliki musin hujan dan kemarau. Iklim khas khatulistiwa ini kerap mengundang daya pikat bagi turis manca negara untuk berkunjung ke Indonesia. Tidak hanya itu, ternyata nyamuk pun terpikat untuk berkembang biak. Akibatnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kian marak terjadi serta menelan relatif banyak korban jiwa.

Berasal dari bahasa Swahii, dengue berarti penyakit dari setan. Karena penderitanya merasa sakit tulang. Serasa mau patah-patah, disebut break bone fever yang menjadi gejala umum selain panas tinggi. Berdasarkan informasi dari situs Depkes RI, penyakit DBD selalu terjadi setiap tahun, dan acapkali menyebabkan kematian. Ada dua penyebabnya, yaitu perubahan iklim dan kurang pedulinya masyarakat terhadap kesehatan dan kondisi lingkungan. Tak heran karena dua penyebab itu, dari anak-anak hingga orangtua pun bisa mengalaminya. Yang memprihatinkan, DBD paling banyak terjadi pada masa pancaroba. Karena tidak ada seorangpun yang dapat mengelak dari cuaca ini. Cuaca yang berganti dengan cepat dari panas ke hujan lalu panas lagi dalam sehari atau dua hari menjadi kondisi yang memungkinkan bagi jentik nyamuk Aedes Agypti berkembang pesat.

Karena begitu berbahayanya penyakit menular ini, tidak heran Depkes menerapkan indikator kesehatan masyarakat dari Kejadian Luar Biasa DBD. Bahkan tepat di tahun ini, pemerintah berharap agar angka kematian karena DBD, tidak lebih dari satu persen dari jumlah penderita demam berdarah.

Perlu untuk diketahui, dari uji statistik yang dilakukan Litbang Depkes menunjukkan buangan limbah kamar mandi melalui saluran tertutup (tidak mengalir) mempunyai resiko 1,4 kali lebih besar terhadap kejadian DBD. Penyebabnya karena kualitas air yang tidak layak untuk diminum dan buangan air limbah yang kurang benar.

Tidak hanya itu, perlu pula dilakukan upaya preventif, agar senantiasa memeriksa tempat-tempat penampungan air di lemari es, bak kamar mandi, pot-pot bunga, dan kolam. Selain sanitasi lingkungan patut dijaga, daya tahan tubuh pun harus pula senantiasa dijaga dengan selalu merapkan pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan cukup istirahat. Bila perlu minum suplemen makanan yang dilengkapi dengan angka kecukupan gizi. Walau terkesan klasik, tapi kita harus mengimplementasikan pola hidup sehat ini dimanapun berada.
***( Zakina)
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung