Jum'at, 12 Maret 2010 09:30

SAMBUT TAHUN BARU SAKA, MASYARAKAT BALITUNG RAYAKAN MELASTI

Tanjungpandan-Menyambut Tahun Baru Saka 1932/2010 Masehi, Ribuan umat Hindu di Tanah Air menggelar kegiatan Melasti atau Mekyes. Tidak terkecuali masyarakat Hindu Bali di Kabupaten Belitung yang sebagian besar bermukim di Kampung Balitung, Kecamatan Sijuk juga turut menggelar perayaan melasti yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 13 Maret 2010, pukul 09.30 WIB bertempat di Pantai Wisata Marina, Tanjung tinggi, Kecamatan Sijuk.

Kegiatan Melasti merupakan salah satu rangkaian peringatan Tahun Saka yang dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) dalam bentuk ritual upacara Melasti/Mekiyis atau disebut juga Melis yang intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dana bhuana agung (alam semesta ini).

Saat tiba perayaan Hari Raya Nyepi yang tahun ini jatuh pada tanggal 16 Maret mendatang, warga Hindu benar-benar hening melakukan Catur Brata Penyepian dengan menjalankan empat larangan bagi umat Hindu, diantaranya, larangan untuk tidak menyalakan api (Amati Gni), tidak bepergian (Amati Leluangan), tidak bersenang-senang (Amati Lelanguan), dan tidak bekerja (Amati Karya).

Rangkaian penyelenggaraan Tradisi Melasti biasanya diawali dengan persembahan tarian Rejang Dewa oleh sejumlah penari perempuan, dilanjutkan dengan sembahyang dan melarung ke laut secara simbolis. Melalui tradisi Melasti, umat Hindu berharap seluruh bumi kembali suci dan bersih, sehingga saat memasuki Tahun Baru Saka akan tercipta kedamaian di muka bumi. Hikmah dari keselurahan rangkaian Nyepi sesungguhnya merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai.

Kegiatan Melasti ini merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan, sebagai wujud keragaman budaya daerah yang merupakan bagian terpenting bagi kebudayaan nasional Bangsa Indonesia. Oleh karenanya tak jarang, ritual semacam ini mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan menyaksikan perayaan ini sebagai moment wisata religi. Dan tak jarang masyarakat setempat ataupun para fotografer tak ingin ketinggalan dan ambil bagian untuk sekedar menyaksikan atau mengabadikan momen tersebut dengan mengapresiasikannya dalam sebuah karya berupa foto/gambar yang menarik dan bernilai seni tinggi. (dari berbagai sumber).
Sumber: Dari berbagai sumber