Jum'at, 23 Mei 2008 04:50

Rencana Kenaikan Harga BBM, Dunia Usaha Terancam

TANJUNGPANDAN, POS BELITUNG - Rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 28,7 persen, bakal secara langsung memukul dunia usaha yang berimbas pada kemampuan daya beli masyarakat. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Belitung Sudirman Norman SSos memperkirakan harga-harga barang kebutuhan akan beranjak naik sebesar 15 hingga 20 persen akibat imbas rencana kenaikan BBM ini. “Itu tentu saja sangat memberatkan masyarakat karena efek domino dari kenaikan harga BBM yang akan ditanggung oleh masyarakat. Angka tersebut masih bisa naik karena walaupun saat ini pemerintah belum mengumumkan kenaikan harga BBM, tapi harga-harga kebutuhan sehari-hari sudah naik,” kata Sudirman yang akrab dipanggil Dulen kepada Grup Bangka Pos, Kamis (22/5). Ia menjelaskan, berbagai barang kebutuhan pokok dan pekerjaan pembangunan di Belitung selama ini sangat disokong oleh kelancaran arus barang yang masuk ke Belitung melalui jalur transportasi laut. Harga ongkos angkutan untuk mendistribusikan barang kebutuhan juga ikut berpengaruh. Oleh karena itu, mau tidak mau para pelaku bisnis akan menaikkan harga jual barang. Imbas kenaikan harga BBM ini, menurut Dulen, juga membuat kontraktor proyek pemerintah resah. Pasalnya, ada beberapa kontraktor yang sudah menerima pekerjaan pembangunan dengan harga BBM sebelum pengumuman kenaikan harga, namun jika dihitung-hitung dengan situasi kenaikan harga barang belakangan ini, kontraktor diperkirakan akan mengalami kerugian cukup besar. Kerugian ini akibat naiknya harga material dan ongkos angkutan barang. “Bahkan barang bangunan seperti semen mengalami kenaikan harga yang cukup banyak dari Rp 37.000 menjadi Rp 50.000 per sak. Barangnya pun saat ini tidak ada karena memang dari Jakarta tidak ada pengiriman. Mungkin menunggu kenaikan harga agar mereka bisa menyesuaikan dengan harga penjualan. Ini yang memukul para kontraktor karena mereka dikejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan proyek,” kata Dulen. Menilik kondisi ini, ia berharap pemerintah juga bertindak bijak dengan memperhatikan eskalasi kenaikan harga BBM dengan nilai pekerjaan proyek. Dulen mengungkapkan masalah juga bakal terjadi di sektor perhotelan. Sektor ini juga ikut terpukul dengan tingginya tarif multi guna yang diterapkan PLN karena kenaikannya bisa berkisar hingga 40 persen. Sementara itu tingginya harga tiket pesawat berimbas pula pada tingkat hunian hotel sebab para wisatawan akan memperhitungkan ongkos yang harus dikeluarkan jika melancong ke Belitung. “Dengan usaha yang sudah ada saja akan banyak kesulitan untuk tetap eksis dengan kondisi seperti ini, apalagi investasi yang baru. Mungkin akan masuk lagi ketika perekonomian sudah mulai stabil lagi. Saat ini yang mungkin bertahan adalah sektor UKM, karena itu kami minta pihak bank dapat memberikan kredit kepada sektor ini,” kata Dulen. Perubahan HSU Menyikapi kenaikan harga BBM yang diikuti dengan naiknya harga barang ini, Pemkab Beltim berencana mengubah harga satuan umum (HSU) yang nantinya disesuaikan dengan harga pasaran sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan yang sudah dianggarkan dalam APBD tahun anggaran 2008. “Nanti akan ada perubahan HSU dan disesuaikan dengan harga pasaran. Bila HSU berupa yang sudah dianggarkan di dalam APBD pun akan terjadi perubahan, sehingga perlu dilakukan pembahasan lagi,” jelas Sekda Kabupaten Beltim Ir Syahrudin kepada Grup Bangka Pos, Kamis (22/5). Kenaikan harga BBM nanti, menurut Syahrudin, bakal mempengaruhi beberapa investasi di daerah terutama investasi di luar sektor pertambangan. “Untuk investasi pertambangan kemungkinan tidak besar pengaruhnya, karena adanya perubahan kontrak. Kalau untuk di luar pertambangan pengaruh dari kenaikan BBM ini akan berdampak,” kata sekda. Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKD) Peris Nainggolan SE menambahkan, masalah kenaikan harga BBM terkait dengan pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah akan dibahas nantinya bersama tim anggaran dalam penyusunan kebijakan umum anggaran sementara tahun 2009 maupun saat penyusunan perkiraan plafon anggaran sementara tahun 2009. “Masalah ini akan kita bahas dalam pembahasan perubahan APBD 2008. Diharapkan ada yang sudah menjadi rencana kegiatan maupun program satuan kerja dalam APBD 2008 dapat dilaksanakan sesuai rencana,” kata Peris. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Beltim Arpandi juga menilai anggaran yang sudah ditetapkan perlu disesuaikan guna menyikapi kenaikan harga BBM yang diikuti dengan kenaikan harga barang. HSU yang sudah ditetapkan sebelumnya sudah tidak sesuai lagi dengan adanya kenaikan BBM nanti. “Dalam perubahan ini dilihat juga kemampuan keuangan daerah untuk membiayai kegiatan atau program yang direncanakan oleh pemerintah daerah,” kata Arpandi. Penggunaan anggaran untuk pelaksanaan kegiatan atau program harus berdasarkan skala prioritas. “Suka tidak suka, mau tidak mau harus seperti ini, karena melihat perkembangan situasi kenaikan harga barang saat ini. Selain itu penghematan penggunaan anggaran,” ujarnya seraya berharap penyaluran dana BLT kepada masyarakat miskin nantinya dapat tepat sasaran. BBM ke Desa Susah Dampak lain dari rencana kenaikan BBM yang bakal diterapkan pemerintah adalah terjadinya kelangkaan bahan bakar, khususnya BBM eceran, di Belitung. Kondisi tersebut tentu saja meresahkan warga masyarakat yang belakangan ini sudah kesulitan menghadapi kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari. Masyarakat yang berada di desa-desa yang jauh dari stasiun pengisian BBM paling merasakan dampak dari menghilangnya BBM eceran ini. “Karena jauh, BBM ini akhirnya sulit didapat. Masyarakat yang sangat menggantungkan hidupnya pada pemakaian BBM untuk mobilitas sehari-hari menjadi terganggu. Bahkan ada yang tidak dapat bekerja karena kendaran mereka tidak memiliki bensin. Kalau sudah begini, walaupun harga kebutuhan tidak naik, mereka tetap susah untuk makan karena tidak punya uang,” kata Rizal, warga Sijuk, kepada harian ini, Kamis (22/5). Beberapa minggu terakhir, warga di desanya sangat kesulitan mendapatkan bensin eceran untuk kendaraan. Di desa sudah tidak ada lagi yang menjual bensin eceran, hingga ada warga yang nekad membeli bensin di Tanjungpandan. Sayangnya, di ibukota Kabupaten Belitung yang berjarak sekitar 25 kilometer dari desa mereka ini, tetap saja sulit menemukan penjual bensin eceran. “Sekarang ini warga menggantungkan hidup mereka kepada pemilik mobil atau angkutan yang sempat mengantre bensin di Tanjungpandan. Kalau pengemudi angkutan ini pulang ke Sijuk, dipastikan rumah mereka jadi ramai seperti pasar. Warga mengantre di sekeliling mobil,” kata Rizal. Warga sangat membutuhkan BBM untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan. Beberapa warga terpaksa ada yang tidak berangkat kerja ke lokasi tambang inkonvensional (TI) karena sepeda motor mereka kehabisan bensin. “Solar untuk bahan bakar TI saat ini juga sangat sulit didapat. Kalaupun ada harganya cukup tinggi, berkisar Rp 145.000 per jeriken yang isinya 18 literan. Bahkan kabarnya ada yang sudah mencapai Rp 200.000,” kata Rizal. Mahalnya harga solar ini tentunya akan menambah beban masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pelaku usaha TI, kendati saat ini harga pasir timah mencapai Rp 107.000 per kilogram dengan OC 74. (gus/bev) Sumber: www.bangkapos.com