Sabtu, 24 Mei 2008 02:37

Menikmati Lepat Belangkai di Prepat

MARAS TAUN PEREPAT Membalong (WP), Seperti daging, lepat belangkai (besar Red) yang dipersiapkan dengan berat 75 kg, diiris dengan penuh tenaga. Syamsudin Basari, Wagub Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didaulat untuk memotong sekaligus menyerahkan lepat besar kepada tokoh masyarakat. Simbol melayani ini sekaligus memberi makna penghargaan kepada dukun kampong yang telah menjaga wilayah perdukunan Dusun Rejosari dan Dusun Prepat. Maras (potong bahasa Indonesia) tahun diartikan sebagai momentum masyarakat kampung memulai tahun baru berusaha. Tanda syukur atas keberhasilan panen padi sudah ada sejak puluhan tahun yang lampau ketika masyarakat mengenal pertanian. Lahan yang subur dan ketersediaan sumber air menjadi titik pusat kegiatan masyarakat. Cluster terkecil dalam tata ruang tradisional disebut Kubok. Satu kubok ditempati beberapa keluarga yang mengolah lahan padi ladang untuk menghasilkan beras baru. Dengan adanya istilah beras baru bukan berarti beras lama yang telah disimpan tidak dimanfaatkan. Masyarakat bukan saja mencadangkan pangan untuk masa-masa sulit tetapi juga mencadangkan lahan untuk ditanami buah-buahan. Lahan tersebut dikenal dengan sebutan Kelekak. Selain menghasilkan buah, kelekak dimanfaatkan sebagai kawasan cadangan air (catchment area). Kepala Desa Prepat, Hasbi Rachman menjelaskan, dahulu produksi panen padi kami paling tinggi 4 ton/hektar per musim tanam, tetapi pada Agustus 2007 produksi pertanian menjadi 6.3 ton/hektar per musim tanam dan Februari 2008 meningkatn menapai 7,8 ton/hektar per musim tanam. Ini berkat adanya teknologi PTT Padi Terpadu dan bimbingan dari Tim Prima Tani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Memang tidak semua lahan di Belitung ini yang sesuai untuk pertanian, tetapi kita meski mampu mensiati kondisi” ujar Bupati Belitung,Ir.Darmansyah Husein di depan para peternak dan petani. Beberapa komoditas seperti manggis yang disebut-sebut ratunya buah bahkan bisa kita ekspor. Namun seiring dinamika sosial dan ekonomi yang semakin cepat, aktivitas utama masyarakat tidak lagi bertumpu pada lahan pertanian. Pengamat Sejarah Belitung, Salim YAH melihat ada perubahan fungsi, makna dan cara penyelenggaraan Maras Taun. Dulu maras taun tidak mengenal istilah lepat besar bahkan istilah lepat pengiring, lepat laki dan lepat bini seperti yang disebut protokol acara Maras Taun pun jarang terdengar. Dengan adanya Maras Taun diharapkan bukan saja seni tradisional menjadi terpelihara tetapi juga memberikan penekanan kesinambungan strategi ketahanan pangan. Sumbangan beras ketan bahan baku lepat sebagian bagian yang tidak terpisahkan dari ritual Maras Taun yang mengidikasikan adanya kebersamaan, rasa saling mengenal dan simbol produktivitas. Pada tahun ini setiap wilayah menyumbang 100 lepat dan 20 lepat dari warga masyarakat. Beras yang menjadi lepat inilah yang akan dimakan bersama-sama pada saat puncak acara maras Taun. Selain aneka hiburan, juga dihidangkan aneka makanan tradisional seperti emping beras, lepat yang dibungkus kantong semar atau ketakong (nepenthes Hasbi Rachman, Kepala Desa Prepat yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Maras Taun menjelaskan hiburan rakyat yang ditampilkan dalam maras tahun ini ditujukan untuk mengangkat seni barik (seni tradisional) lama antara lain, Beripat-Beregong, Drama tradisional Muluk, Lesong Panjang dan Organ Tunggal. Hiburan rakyat ini diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam dari tanggal 17 hingga 23 Mei 2008. Diiringi musik Sebelum ritual dimulai pembaca acara menyampaikan pengumuman bagi warga yang pindah atau ingin meminta sesuatu karena kendala berusaha diharapkan menemui dukun dan menjelaskan prosesi ritual maras tahun mulai dari memanjat doa selamat, ritual mengunci kampong, nyucor aik sembilan hingga menampilkan hiburan tradisional. Tepat pada pukul 14.00 wib ritual maras taun pun dimulai “ Ndak banyak nok dapat kamek sampaikan, takut ade nok Salah” ujar Dukun Kampong Prepat Jemain didampingi dukun muda pada saat menerima seserahan sejumlah makan oleh tokoh masyarakat. Ritual maras tahun bertempat di rumah Dukun Kampong. Dalam masyarakat Belitung dikenal dua aliran perdukunan, yakni aliran perdukunan Setara Guru dan Dukun Malaikat. Diakhir acara Wakil Gubernur menyerahkan potongan lepat besar kepada dukun kampung, Bupati Belitung, Ir.Darmansyah Husin, Camat Membalong, Anas Nashito, SH, Anggota DPD MPR-RI, Fajar Fachiri Husni, tokoh masyarakat Mahdani Miram, tokoh budaya Salim YAH. Maras tahun kali ini selain meresmikan Kampong Ternak Rejosari juga ditampilkan hasil produksi masyarakat dalam bentuk pameran yang juga ditinjau oleh unsur Muspida. Ritual Maras Taun hendaknya mendorong pengembangan dunia kepariwisataan di Kabupaten Belitung” ungkap Bupati. Sepanjang bulan April dan Mei ini ritual Maras Tahun diselenggarakan mulai dari Kecamatan Selat Nasik, Membalong dan Badau bahkan Perawas dan Buluh Tumbang, dua desa yang berada di kecamatan Tanjungpandan ikut melaksanakan Maras Tahun. Ini menunjukkan tingkat kepedulian masyarakat dalam melestarikan seni budaya tradisional semakin hari semakin meningkat. Keinginan untuk menjadikan maras tahun sebagai agenda wisata daerah juga disampaikan Hasbi Rahman Kepala Desa Prepat melalui pantun. Tanam Telase Bela Dapur Sekatkan Tiang Berene Paku Terimakasih kasih baginda Wakil Gubernur Selamat Datang Warga La Menunggu Berase ketan nyaman de Lida Beras bebumbun be basoan la Uda Bila berkenan Tuan Baginda Maras Taun mohon di agenda Beras betimbun sedeka gawekan Panen raya padi tuaikan Maras Taun la Dilaksanakan Peran Baginda kami mohonkan Sumber: