Kamis, 25 Maret 2010 09:22

MENGENAL LEBIH DEKAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

Tanjungpandan—Sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sehingga belum ada sebuah PLTN pun yang dapat dioperasikan untuk mengurangi beban kebutuhan energi listrik yang saat ini semakin meningkat di Indonesia. Padahal energi nuklir saat ini di dunia sudah cukup berkembang dengan menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Pada era pemanasan global yang semakin mengancam bumi, ditambah dengan sering bergejolaknya harga minyak, argumen untuk segera beranjak ke PLTN memang mendapatkan gaung baru. Sebelumnya perlu dikemukakan bahwa PLTN dalam wacana politik energi dunia memang mengalami pasang surut. AS yang sudah mengoperasikan 104 PLTN dengan total agregat 101 Gigawatt (GW)n listrik memang tidak membangun PLTN lagi sejak tahun 1970. namun, minat untuk kembali ke PLN kini mulai hidup, sementara Eropa yang sejak kecelakaan Chernobyl tahun 1986 dilanda ketakutan, seperti halnya Swedia menempuh langkah ekstrem untuk menutup PLN.

Kali ini, seperti disebutkan dalam Kompas, edisi Rabu, 24 Maret 2010 yang berbicara dalah Jepang. Para ahli Jepang yang hadir di Jakarta dan berceramah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang kini dikuasainya. Kecanggihan bukan saja dalam desain pembangkitan daya, tetapi juga sistem pengamanannya dan mengingat kondisi Indonesia sama dengan Jepang yang rawan Gempa Bumi. Pembicara pun membahas panjang lebar tentang perlindungan PLTN dari ancaman gempa.

Fenomena lain tampak di ekonomi yang beberapa waktu terakhir mengalami pertumbuhan cepat, seperti Rusia, India, dan China. Jepang sendiri punya 53 PLTN (situs Japan Nuclear menyebut 55) dengan gaya total sebesar hampir 50 GW. Sekedar melengkapi latar belakang, World Nuclear Association, maret 2009, menyebutkan saat ini ada 436 PLTN yang dioperasikan di 30 negara dengan total pembangkitan listrik sebesar 372 GW. Kontribusi nuklir terhadap pembangkitan energi dunia sebesar 15 persen.

Indonesia sebenarnya serius mewacanakan penggunaan PLTN sejak dekade 1980-an, bahkan taksiran daya dan pemasok pun sudah disebut-sebut. Akan tetapi, seperti yang disaksikan, hingga kini belum ada satu pun PLTN yang beropersai di Tanah air. Bahkan, keputusan tegas dari Pemerintah mengenai kapan dan apa jenis pembangkit listrik yang akan dipakai pun belum ada. Padahal energi nuklir sudah disebut dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang RI 2005-2025, juga dalam UU No 10/1997 tentang Energi Nuklir. Boleh jadi pemanasan global dan pengalaman dipecundangi oleh harga minyak akan membulatkan tekad Pemerintah Indonesia suatu hari nanti.

Prinsip kerja PLTN
Pada dasarnya sama dengan pembangkit listrik konvensional, yaitu: air diuapkan di dalam suatu ketel melalui pembakaran. Uang yang dihasilkan dialirkan ke turbin yang akan bergerak apabila ada tekanan uap. Perputaran turbin digunakan untuk menggerakkan generator, sehingga menghasilkan tenaga listrik. Perbedaannya pada pembangkit listrik konvensional bahan bakar untuk menghasilkan panas menggunakan bahan bakar fosil seperti : batu bara, minyak dan gas. Dampak dari pembakaran bahan bakar fosil ini, akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (S02) dan nitrogen oksida (Nox), serta debu yang mengandung logam berat. Sisa pembakaran tersebut akan teremisikan ke udara dan berpotensi mencemari lingkungan hidup, yang bias menimbulkan hujan asam dan peningkatan suhu global.

Sedangkan pada PLTN panas yang akan digunakan untuk menghasilkan uap yang sama, dihasilkan dari reaksi pembelahan inti bahan fisil (uranium) dalam reaktor nuklir. Sebagai pemindah panas biasa digunakan air yang disalurkan secara terus menerus selama PLTN beroperasi. Proses pembangkit yang menggunakan bahan bakar uranium ini tidak melepaskan partikel sperti C02, S02, atau Nox, juga tidak mengeluarkan asap atau debu yang mengandung logam berat yang dilepas ke lingkungan. Oleh karena itu PLTN merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian PLTN, adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas ini untuk sementara bias disimpan di lokasi PLTN, sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari, seperti dilansir dari Majalah Pengetahuan Teknologi Populer MEDIA KITA-BATAN.

Wacana PTLN di Babel
Di Bangka Belitung wacana tentang rencana pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berhembus kencang dan menjadi isu dikalangan masyarakat. Sepertinya bukan hanya sebuah wacana, melainkan menjadi mimpi yang merupakan rencana strategis jangka panjang bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setidak-tidaknya hal tersebut yang disampaikan oleh Kepala Distamben Babel yang dikutip dari koran lokal bahwa PLTN ini tetap menjadi impian jangka panjang kita dan bahkan Gubernur Babel telah memberi sinyal akan hal tersebut.

Krisis kelistrikan tampaknya menjadi pemicu munculnya ide membangun reaktor PLTN. Bahkan Survei, diskusi, atau studi banding telah dilakukan pemerintah untuk memperoleh gambaran tentang keuntungan yang diperoleh dari pelaksanaan rencana ini. Hasil studi banding ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Babel merasa percaya diri sebagai salah satu pusat reaktor pembangkit listrik untuk Babel yang mensuplai listrik hingga Pulau Sumatera dan Jawa. 

Rasanya keseriusan Pemerintah Daerah dalam mendukung PLTN merupakan hal penting yang harus dijelaskan kepada masyarakat sebagai wujud pendidikan dan kepedulian kita atas rencana tersebut, menyangkut kehidupan manusia di masa yang akan daerah. Namun segala sesuatunya tentu harus mulai kita pikirkan dengan matang terutama menyangkut plus minus pembangunan PLTN karena hal ini tidak hanya terbatas pada anggaran,pembangunan fisik, masalah buangan limbah dari PLTN dan pertimbangan lainnya serta menyangkut resiko yang akan dihadapi perlu perhatian secara detail dan penelitian lebih mendalam baik dari segi ekonomi, maupun kompensasi psikologi sosial masyarakat. Namun tidak ada salahnya kita turut mendukung jika benar PLTN ini memang layak dan strategis dalam upaya mensejahterakan masyarakat. 
Sumber: Dari berbagai sumber