Selasa, 30 Maret 2010 09:25

PETIR DI BELITUNG BISA BERMANFAAT SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF

Tanjungpandan-Pulau Bangka Belitung merupakan salah satu daerah yang berpotensi tinggi terjadinya petir. Hal ini akibat banyaknya kandungan material logam yang terkandung dalam tanah, hingga mengakibatkan Babel memiliki potensi tinggi tersambar petir bila cuaca mendung atau hujan.

Masyarakat Babel khususnya Pulau Belitung dihimbau agar waspada terhadap fenomena ini dengan tidak menyepelekan keadaan ini, karena tak jarang petir bisa mengancam dan membahayakan keselamatan jiwa manusia. Namun, ternyata petir juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif seperti energi listrik yang dihasilkan solar cell system (sistem pembangkit listrik tenaga surya). Kandungan logam yang terkandung didalam tanah ditengarai merupakan penghantar listrik yang bagus bagi arus listrik sebagai energi alternatif dimasa datang.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Buluhtumbang Tanjungpandan, C Priyanto pada Grup Bangka Pos, pada Sabtu, 27 Maret 2010. Ia menghimbau kepada masyarakat khususnya pelaku penambangan timah agar waspada terhadap fenomena ini, jelasnya.

Menurutnya, letak topografis area penambangan umumnya terbuka, ditambah banyaknya material logam yang terkandung di daerah tersebut, sehingga memacu petir mengarah ke tempat tersebut. Sebaiknya pelaku tambang jangan melupakan safety saat bekerja, awan gelap jangan dianggap mendukung kegiatan penambangan karena menggagap tempat kegiatan akan menjadi sejuk dan tidak panas. Tetapi awan gelap tersebut merupakan awan konvektif yang membawa petir, bila ada awan gelap ini lebih baik segera menghindar dan berteduh, imbaunya.

Namun, selain membahayakan bagi keselamatan manusia, petir juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Besarnya potensi petir yang terjadi di Belitung dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, seperti pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Keadaan ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik seperti solar cell system tapi menggunakan petir sebagai sumber energi, karena listrik yang terkandung di dalamnya sangat besar. Disaat kita kekurangan listrik mungkin ini bisa dimanfaatkan sebagai alternatif,” katanya.

Petir menurutnya, tidak bisa dicegah namun bisa ditangkal menggunakan penangkal petir agar tidak mengenai peralatan logam di rumah maupun manusia. Pemantauan terjadinya petir menggunakan ligthing detector pada tanggal 25 Maret 2010 lalu, paling banyak terjadi petir di daerah perbukitan yakni ditengah-tengah Pulau Belitung yang membujur dari utara ke selatan. Hal ini bisa menjadi pertimbangan untuk pemasangan penangkal petir di daerah tersebut. Kekuatan listrik yang terkandung di dalam petir biasanya terbuang setelah mengenai penangkat tersebut sehingga kekuatan listrik menjadi sia-sia karena terbuang percuma, jelas Priyanto.

Mungkin jika suatu saat kita memiliki sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk menampung energi yang dihasilkan oleh sambaran petir yang kemudian dapat kita manfaatkan untuk kebutuhan manusia. Tentunya energi ini akan menjadi sumber energi alternatif yang sangat luar biasa dan berguna bagi kehidupan manusia.

Penduduk dunia dan tentunya di Indonesia mungkin tidak akan di pusingkan lagi dengan masalah krisis listrik yang berdampak pada kenaikan harga BBM, berlanjut dengan kenaikan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Mungkin hal ini perlu kita kaji dan pikirkan lebih jauh, bayangkan saja sekali sambar, petir rata-rata menghasilkan arus listrik sebesar 30 kiloampere (kA). Jika memang image petir sebagai perusak yang menakutkan bisa berubah menjadi suatu hal yang mendatangkan banyak manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dimasa datang, mungkin tidak ada salahnya kita mencoba.
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung