Selasa, 17 Juni 2008 03:39

Green Babel menghijaukan Pantai Wisata

Tanjungpandan(WP), Indonesia menguasai sekitar 40-50 % produksi timah dunia sehingga Indonesia cukup Powerfulll dalam mengontrol harga timah dunia ( Provider). Timah itu adalah bahan tambang yang tidak bisa diperbaharui. Karenanya kita harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Salah satunya dengan melakukan penambangan yang ramah lingkungan,” ujar Marwan, Humas Yayasan Babel Hijau sebagaimana dipulikasikan di situs internetnya. Dalam struktur organisasi Yayasan Babel Hijau (Green Babel) Dirut PT.Timah, Tbk, Wachid Usman adalah Pembina bersama dengan Ir.Eko Maulana Ali, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Menurut UU NO 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 14 “kerusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan”. Lantas bagaimana cara melakukan penambangan yang ramah lingkungan ? PT.Timah sendiri beberapa bulan yang lalu telah menggelar Pelatihan Good Mining Practise di Ruang Setda Kabupaten Belitung. Perusahaan cenderung membiarkan jaminan reklamasi yang ditetapkan pemerintah, karena biaya reklamasi di bekas tambang memang cukup besar tentu akan mengurangi keuntungan mereka. Pemilik TI lebih memilih membiarkan Biaya Reklamasi yang mereka setor ke pemerintah dibandingkan harus mereklamasi sendiri. Keuntungan bisa besar, bisa kecil bahkan bisa membuat masyarakat miskin. Itu belum dihitung nilai kerugian lingkungan. Biaya operasional TI pun tak kalah besar, 1 set mesin (mesin pompa dan semprot) mencapai Rp.25 juta ditambah biaya pemakaian alat berat yang kini bisa mencapai RP.600.000 per jam. Jika dioperasikan dari jam 8 sampai 2 siang, membutuhkan 40 liter dengan 3 orang pekerja. “ Karena itu satu kolong minimal harus bisa menghasilkan 10 kg sehari untuk mendapatkan keuntungan Rp.500.000. Tapi dalam 1 minggu satu lokasi tambang bisa menghasilkan 1 ton 7 kwintal bisa dibayangkan dengan OC rendah (kirasan OC 62-63) saja yang dihargai Rp.90.000 pemilik TI bisa meraup untung, tentu sebagai pekerja tambang kami juga kecipratan. Biasanya per kg upah kami Rp.18.000 . Saat ini (11/6) harga 1kg timah dgn OC 68 seharga Rp.98.500, OC 70 seharga Rp.102.000. “ jelas Andi Pertumbuhan ekonomi dan keberhasilan pemilik Ti tentu tidak bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Tetapi kerusakannya terlihat semua orang. ”Maraknya aktivitas tambang inkonvesional (TI) pada awalnya karena desakan dan tuntutan ekonomi. Upaya recovery lingkungan harus segera kita lakukan dan itu memerlukan partisipasi semua pihak “ kata Bupati Belitung pagi itu. Faisal Madani, selaku Koordinator Daerah Green Babel, Kabupaten Belitung mengulang ucapan Bupati bahwa dana reklamasi perlu dimanfaatkan dan Green Babel bisa saja memanfatkan dana reklamasi tersebut. “ Kita mendorong masyarakat menanam pohon yang akan kita bagi kepada warga Tanjungpandan. “ ajak Faisal. Nantinya kita juga akan melakukan pembibitan tambah Faisal. Menurut Joniarsyah anggota Koordinator Daerah Belitung Green Babel, dana reklamasi yang dikelola Yayasan Green Babel mencapi 1 milyar lebih. Dihadiri Bupati Belitung,Ir.Darmansyah Husein, Ketua DPRD, Drs,Suhardi, Camat Tanjungpandan, Azhar,SIp dan unsur Muspida Belitung, melakukan penanaman 100 pohon mahoni di Pantai Wisata Tanjungpendam secara simbolis dan demo penggunaan kompor berbahan bakar buah jarak dalam acara “Road Show Green Babel dan Penanaman Pohon Mahoni oleh Yayasan Green Babel Koordinator Daerah Belitung” pada tanggal 1 Juni 2008 padi di Pantai Wisata Tanjungpendam, Tanjungpandan. “ Tidak usah demo kenaikan BBM “ kata Ketua Yayasan Green Babel, Ir. Syahidil kepada Warta Praja. “ Kenaikan 30% BBM ini akibat kondisi dunia dan ada kesenjangan harga BBM Indonesia dengan negara lain. Yang paling penting kita harus menciptakan solusi dari kesulitan yang dialami masyarakat” katanya . “Kompor ini seharga Rp. 60.000, dengan 200 gram biji jarak dapat memasak selama 1 jam. Jika diasumsikan 4 kali memasak biaya yang dikeluarkan bahkan kurang dari seribu rupiah perhari, bandingkan dengan minyak tanah “ jelas anggota Green Babel. Muhammad Dadi, Bagian Olah Pasar Green Babel mengungkapkan minyak jarak ditambah metanol dan bahan kimia lain dapat menghasilkan biodiesel untuk bahan bakar mobil, pengganti solar mesin TI dan sebagainya. Green Babel berupaya memotivasi masyarakat untuk melestarikan lingkungan dan kita melatih anggota kita untuk menghasilkan produk ramah lingkungan seperti pembuatan kompor minyak jarak ini dan mengembangkan budidaya tanaman lidah buaya (aloe vera) “ tambah Muhammad Dadi. Pada awal April 2008 yang laku, Green Babel telah menandatangani MoU kerjasama dengan PT Green Solutions mengenai Pilot Project Penanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas) dan tanaman penghasil minyak potensial lainnya seluas +100 Ha yang tersebar di beberapa wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (fithrorozi). Sumber: