Rabu, 7 April 2010 09:35

PEREDARAN MIRAS DIPERKETAT

Semakin Maraknya peredaran minuman keras (miras) di Kabupaten Belitung sangat meresahkan sebagian masyarakat. Karena itu, pengawasan peredaran miras atau minuman beralkohol ini harus lebih diperketat. Peredaran miras ini banyak kita jumpai di tempat yang tidak semestinya, seperti di warung kecil, bahkan konsumsi minuman keras ini sering dilakukan dipinggir jalan.

Informasi yang dipaparkan harian Pos Belitung edisi Rabu, 7 April 2010 menyatakan bahwa berdasarkan Perda Kabupaten Belitung Nomor 12 Tahun 2008 tentang pengawasan, pengendalian, dan perizinan minuman beralkohol menyebutkan , minuman beralkohol hanya diizinkan dijual di hotel, restoran bertanda talam kencana dan talam selaka, bar, pub dan klub malam.

Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Belitung H. Mochtar Motong atau yang biasa disapa Tare mengatakan, diperlukan kesungguhan untuk pengawasan peredaran minuman beralkohol di Kabupaten Belitung. Agen yang tidak menempelkan label atau lages diberi sanksi.

Tidak hanya itu, Tare menilai beberapa pasal pada Perda tentang Minuman Beralkohol perlu direvisi. Menurut Tare, harus ada pengertian bar, pub, maupun klub malam dengan standar yang jelas. “Menurut saya harus ada standar yang jelas yang namanya bar atau klub malam dan sejenisnya,” Ujar Tare Kepada Grup Bangka Pos Senin 29 Maret 2010 lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Belitung, MZ Hendra Caya menjelaskan, Perda Minuman Beralkohol tidak perlu direvisi. Semua yang berkaitan dengan minuman keras, maupun tempat menjual minuman tersebut tercantum dalam Perda Nomor 12 Tahun 2008.

Tidak hanya itu pengetian bar, pub maupun klub malam juga tercantum jelas dalam Perda tersebut. Bahkan dalam Perda dijelaskan dimana bar, pub maupun klub malam boleh berdiri. Izin apa saja yang harus dilengkapi juga tercantum dalam Perda tersebut.

Terbitnya Perda ditambahkan Hendra, karena ada Undang-undang yang lebih tinggi. Didalamnya tercantum pengertian bar, pub, klub malam, restoran talam kencana dan restoran talam selaka. Pada saat pembuatan Perda pun, semua pihak terkait juga dilibatkan.

Hendra menilai Perda tersebut sudah efektif. Bahkan setidaknya sampai saat ini sudah ada lima café yang mengajukan diri mengubah status menjadi bar.

Tentang pemberian label pada minuman beralkohol yang masuk ke Kabupaten Belitung menurut Hendra, hal tersebut sudah dilakukan sesuai Perda. Pemasangan label tersebut dimaksudkan untuk mengawasi peredaran minuman beralkohol di Kabupaten Belitung.

Didalam Perda, pada awalnya mencantumkan biaya untuk setiap minuman beralkohol yang masuk ke Kabupaten Belitung. Namun ternyata hal tersebut tidak diperbolehkan oleh pusat, sebab minuman beralkohol sudah dikenakan cukai.

Kepala Kantor Pelayanan Satu Pintu Kabupaten Belitung, Gustono mengatakan, latar belakang perubahan status café menjadi bar adalah hasil rapat evaluasi tim penertiban pada tanggal 25 Mei 2009 lalu. Namun tidak ada paksaan bagi pengusaha untuk mengubah café menjadi bar.

Selanjutnya ditambahkan Gustono, kantor Pelayanan Satu Pintu Kabupaten Belitung menerbitkan HO ataupun SITU bila sebuah café ingin berubah status menjadi bar, pub maupun klub malam.

Sumber: Humas Setda Kab. Belitung