Kamis, 8 April 2010 09:02

PABRIK BIOETANOL AKAN SEGERA DIDIRIKAN

Tanjungpandan --- Pabrik Bioetanol yang direncanakan akan dibangun pada pertengahan tahun 2010  di Desa Pegantungan Kecamatan Badau ini merupakan salah satu program dari Kementrian Perindustrian Republik Indonesia melalui Dirjen Industri, Agro dan Kimia.

Bioetanol adalah salah satu jenis bahan bakar cair dari hasil pengolahan tumbuhan atau biasa dikenal dengan istilah biofuel. Bahan bakar ini sudah mulai dikembangkan pemerintah sejak tahun 1998 sebagai salah satu solusi kenaikan harga BBM dan keterbatasannya persediaan bahan bakar minyak nasional.

Perkembangan rencana pembangunan pabrik ini sudah memasuki tahap persiapan penandatanganan nota kesepahaman. Kepala Dinas Perdagangan, Industri dan Koperasi Kabupaten Belitung, Hendra Caya dalam harian pagi Pos Belitung 8 April 2010 mengatakan “MoU antara Bupati dengan Kementrian Perindustrian melalui Dirjen Industri Agro dan Kimia sudah disiapkan, tinggal ditandatangani saja oleh kedua belah pihak. Nanti kita share dengan mereka. Pabriknya mereka yang bangun, tendernya juga mereka lakukan sendiri dengan anggaran kurang lebih Rp. 6 Miliar. Sedangkan kita hanya menyiapkan lahan dan bahan bakunya.”

Untuk pembangunan pabrik ini, telah disiapkan lahan seluas 2 hektar di Desa Pegantungan, 50 hektar untuk perkebunan inti dan plasma di beberapa desa seperti di Desa Pegantungan, Sungai Samak, dan juga Cerucuk. Perkebunan ini diharapkan sebagai penyuplai bahan baku pabrik bioetanol.

Sementara itu bahan baku utama dari bioetanol ini nantinya menggunakan singkong, dikarenakan singkong cenderung lebih mudah dikembangkan di Belitung. ”Minimal nanti per harinya kita butuh empat ton singkong atau sekitar empat truk untuk menghasilkan satu ton bioetanol. Singkong yang digunakan pun adalah singkong yang memiliki kadar alkohol seperti singkong karet. Selain menyiapkan bibit untuk inti, kita juga akan membagikan bibit kepada petani plasma, itu yang kami rencanakan,” ujar Hendra.

Setelah dibangun, menurut Hendra pabrik bioetanol ini selanjutnya akan diberikan kepada Pemkab Belitung. ”Nanti yang mengelolanya adalah BUMD atau Koperasi yang ditunjuk oleh Bupati langsung. Kementrian juga akan mengirimkan tenaga ahli yang akan memberikan pelatihan pengelolaan pabrik bioetanol selama satu tahun. Hasil dari penjualan bioetanol ini akan masuk ke PAD setelah dikurangi ongkos produksi”. tegas Hendra.
Sumber: Humas Setda Kab. Belitung